ARDIAN

ARDIAN
Hadiah dari Ardian


__ADS_3

Ardian menatap Nanda, membuat gadis berambut kecoklatan itu masih bingung.


''Hadiah dari gue.'' Ardian memberikan tiga bungkus permen karet tiga rasa kepada Nanda.


Nanda belum menerima permen karet itu, dia masih menatapnya. Dia bingung, mengapa Ardian memberikanya permen karet.


''Thanks,'' ucap Nanda mengambil tiga bungkus permen karet tersebut, lalu pergi meninggalkan Ardian dan Izam di parkiran.


Nanda bingung, mengapa cowok yang dia sebut preman itu memberikanya hadiah. Dalam rangka apa?


Izam berjalan mendekati Ardian. ''Lu suka sama dia?'' tanya Izam, melihat Ardian masih memandangi punggung Nanda yang sudah menjauh.


Ardian melirik Izam, lalu tersenyum. ''Gue kasi permen karet itu, karna kita udah berhasil culik, Dika,'' jelas Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Izam.


Leo, Rafael dan Gerald datang dan mengambil motor mereka masing-masing untuk segera ke markas.


Nanda sudah masuk kedalam mobil, dengan membawa permen karet yang di berikan Ardian padanya.


Pak Budi langsung menjalankan mobilnya untuk segera pulang.


''Kita kerumah sakit dulu, pak,'' kata Nanda, seraya memasukkan permen karet kedalam tasnya.


''Kita langsung pulang, Non. Mamah Non lagi sakit,'' balas pak Budi membuat Nanda menjadi khawatir.


‘’Mamah sakit apa?'' tanya gadis itu.


''Pusing, Non. Sudah ada Boy di sana,'' balas pak Budi lagi.


Nanda menyuruh pak Budi menjalankan mobilnya lebih cepat, hari ini dia tidak jadi kerumah sakit menemui Dika, karna mamahnya sedang sakit.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dibawa pak Budi masuk kedalam pekarangan rumah. Nanda langsung turun dengan cepat, membuka pintu utama rumahnya.


''Mamah!'' panggil Nanda, seraya menaiki anak tangga.


Pintu kamar Gina terbuka, membuat Nanda langsung masuk kedalam kamar mamahnya.


Nanda sudah melihat Gina menyandarkan punggungnya di sandaran kamar.


Nanda langsung memeluk Gina , sementara Boy sedang menerima Telfon di balkon kamar Gina.


Gina mengusap punggung anaknya yang memeluk dirinya.


''Mamah kenapa bisa sampai sakit?'' tanya Nanda seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah pucat milik Gina.


Tidak ada infus terpasang di tangan Gina, namun dia bisa melihat wajah mamahnya itu pucat.


''Mamah kurang tidur,'' balas Gina, membuat Nanda semakin mengeratkan pelukanya.


''Mah...apa sih yang mamah pikirin, sampai sakit kayak gini,'' ucap Nanda dengan senduh.


Gina menoel hidung anaknya itu, ''bunga-bunga mamah,'' canda Gina membuat Nanda memanyunkan bibirnya.


''Nanda pijit kepala mamah, ya,'' pintah gadis itu dan dibalas anggukan kepala oleh Gina.

__ADS_1


Terlebih dahulu, Nanda melepaskan tas sekolahnya dan melepaskan sepatunya. Naik keatas tempat tidur Gina lalu mulai memijat kepala Gina.


Boy tersenyum melihat Nanda memijat kepala Gina, pria berumur 26 tahun itu langsung menghampiri adiknya.


''Anak yang baik,'' ujar Boy membuat Nanda langsung tertawa kecil.


''Kalau mamah sakit, gue nggak bisa lakuin apa-apa. Mamah adalah kelemahan gue sekaligus penyemangat gue,'' tutur Nanda dengan serius membuat Boy tertawa dengan ucapan adiknya itu.


Sementara Gina memejamkan matanya, seraya tersenyum tipis mendengar obrolan kedua anaknya itu.


''Bang,'' panggil Nanda. ''Kita mggak Telfon papah, buat pulang. Bilang sama papah, kalau mamah lagi sakit. Gue yakin, dia bakalan ninggalin pekerjaannya demi mamah,'' ucap Nanda dengan yakin, membuat Gina membuka matanya.


''Tidak usah,'' sanggah Gina. ''Jangan buat papah kamu khawatir dengan kondisi mamah. Lagian, mamah hanya sakit kepala biasa,'' lanjutnya membuat Nanda ingin protes, namun langsung di gagalkan oleh Boy.


''Papah berh—''


''Gue udah Telfon papah,'' potong Boy.


''Apa kata papah?'' tanya Nanda.


''Biasa aja tuh.'' Boy mengangkat kedua bahunya, membahas Iksan membuatnya ingin lupa ingatan. Agar melupakan nama yang sudah menyakiti surganya.


Nanda tentu saja tidak percaya dengan ucapan Boy.


''Habisin pijitin, mamah. Kasi obat ini,'' perintah Boy meletakkan obat diatas nakas.


''Iya-iya,'' balas Nanda membuat Boy langsung mengacak rambut adiknya itu.


Boy pamit keluar sebentar, dia ingin mencari tahu mengenai istri kedua papahnya.


Dia hanya sedikit kepo, dia penasaran bagaiamana wajah pelakor yang berhasil merebut papahnya.


''Gue penasaran. Secantik apa sih wajah j*l*ng itu,'' gumam Boy, seraya keluar dari kamar Gina.


''Ganti baju dulu, besok bajunya mau di pakai lagi,'' perintah Gina kepada putrinya itu.


Nanda mengangguk. ''Mamah nggak apa-apa Nanda tinggalin?'' tanya gadis itu, dan dibalas gelengan kepala oleh Gina.


''Ini hanya sakit kepala biasa, besok sudah membaik,'' ucapnya dengan yakin.


''Mamah harus ingat kata-kata bang Boy tadi,'' ucap Nanda seraya turun dari tempat tidur Gina. ''Jangan mikirin hal yang tidak penting.''


''Iya anak cantiknya mamah,'' balas Gina.


Nanda mengambil tas sekolah miliknya dan sepatu, lalu melangkah keluar dari kamar Gina untuk berganti pakaian.


Nanda melempar tasnya diatas tempat tidur, menyimpan sepatunya dibawah lantai kamar. Lepas itu, dia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidurnya yang empuk.


Dia menatap langit-langit kamar, seraya memikirkan Ardian. Yah, Ardian masih berada dalam pikiran Nanda.


Gadis itu masih bingung, mengapa Ardian memberikannya permen karet.


''Hadiah apa?'' gumanya.

__ADS_1


Gadis cantik itu, tidak melepaskan seragam sekolahnya lebih dulu.


Dia merogoh saku baju sekolahnya, mengambil ponsel miliknya untuk menelfon papahnya.


Nanda mulia menekan nomor papahnya, deringan pertama dan kedua tidak di angkat oleh Iksan, membuat gadis itu mencoba sekali lagi.


Nanda tersenyum bahagia, saat papahnya sudah mengangkat telfonya.


''Papah!'' panggil Nanda di ujung Telfon, membuat wanita bernama Raisa di ujung Telfon tersenyum penuh arti.


''Kamu Nanda, yah.'' Raisa mulai angkat suara membuat Nanda terkejut.


Karna yang menjawab telfonya adalah suara orang wanita, saking terkejutnya dia langsung bangun dari tempat tidurnya.


''Ini siapa?'' tanya Nanda dengan hawatir.


Dia takut...


Nanda menggeleng, papahnya tidak akan seperti itu. Dia tau, papahnya sangat mencintai mamahnya.


''Ak—''


Belum sempat Raisa meneruskan ucapanya, Iksan langsung datang merebut telfonya.


''Ini siapa? Papah gue mana?'' Rentetatan pertanyaan di layangkan Nanda.


Iksan berjalan menjauhi Raisa.


''Halo!'' panggil Nanda di ujung Telfon.


''Nanda.'' Suara Iksan membuat Nanda mengembuskan nafas dengan kasar.


''Yang angkat Telfon Nanda tadi siapa, pah?'' tanya gadis itu dengan seksama di ujung Telfon.


''Dia....dia sekretaris papah,'' balas Iksan dengan memijit pelipisnya.


Mengapa pula Raisa menjawab Telfon dari Nanda, dan dirinya yang bicara.


''Sekretaris?'' tanya Nanda dengan bingung di ujung Telfon.


''Iya, dia mengangkat Telfon dari kamu karna papah yang menyuruhnya. Karna papah sedang rapat tadi, pas papah tau kalau kamu yang menelfon. Papah langsung mengambil ponsel papah,'' terang Iksan, meski dia ragu jika anak perempuannya akan mempercayai nya.


Meski mereka tidak berhadapan, Nanda mengangguk. Meski di hatinya ada kejanggalan.


''Pah, mamah sakit.''


***


Jangan lupa mampir di novel teman aku, di jamin ceritanya seruh


Luka Dalam Pernikahan


__ADS_1


__ADS_2