ARDIAN

ARDIAN
Perdebatan unfaedah


__ADS_3

Mereka berhenti di salah satu stand yang menjual  makanan bernama  gado-gado. Lebih tepatnya lagi mereka mengikuti Boy berhenti, lalu mereka melihat Boy berbicara dengan pedagang tersebut, mereka melihat pedagang gado-gado itu mengangguk mengiyakan ucapan Boy, mereka tidak tahu apa yang pria itu bicarakan, namun senyuman di wajah pedagang itu sangat ceriah, lalu ia pergi entah kemana.


Stand gado-gado itu tempatna di hiasi kursi plastik dan meja kayu, tempat para pembeli untuk maan.


"Ngapain berdiri, kalian nggak mau duduk?" tanya Boy karna mereka masih diam.


Greta lebih dulu duduk di kursi plastik tersebut, melihat Greta duduk membuat Izam melangkah mendekati Greta, karna ia akan duduk di samping gadis itu.


Baru saja Izam ingin mendudukkan bokkongnya di kursi plastik dekat Greta, namun tiba-tiba saja seseorang menarik jaket bombernya.


"Siapa yang menyuruh kamu duduk di situ?" tanya Boy santai, masih setia menarik jaket bomber milik cowo manis itu.


"Kemauan saya dokter Boy," jawab Izam.


"Kamu pindah duduk, jangan di sini duduknya," ucap Boy lagi membuat Izam mendengus dalam hati. Dia makin penasaran ada hubungan apa antara Greta dan dokter Boy.


Yang lainya segera duduk di kursi, mereka duduk saling berhadapan melihat dokter Boy dan Izam berdebat untuk tempat duduk. Kesya sedari tadi memperhatiakn tingkah Boy yang ingin duduk di samping Greta, karna gadis itu duduk di ujung meja.


Hanya satu meja panjang di stand ini, sehingga mereka saling berhadapan, untung saja kursinya pas untuk  mereka.


Greta tersenyum sinis kearah Kesya, membuat Kesya mengepalkan tanganya, sehinggaa urat-urat tanganya terlihat jelas. Kesya juga duduk di ujung meja, sehingga Pute yang duduk berdekatan denganya. Sehingga posisi Greta dan Kesya lumayan deket, duduk berhadapan dengan Greta membuat Kesya ingin menjambak Greta saat ini.


Namun ini bukan waktu yng tepat, dia yakin jika dia berbuat masalah, mereka yang lain akan memojokkan Kesya, karna ia yang mulai. Di tambah lagi hubungan Greta dan Boy sangat dekat, Kesya tidak tahu sejak kapan mereka dekat. Bisa-bisa Boy makin memakihnya, tapi mengapa Kesya harus memikirkan itu? Dia juga tidak tahu, mungkin karna Boy menakutkan di matanya.


"Saya duluan yang cop tempat duduk ini," kata Izam yang tidak ingin mengalah.


"Apa susahnya tinggal pindah?"Lama-lama Boy ikutan emosi dengan bocah SMA itu.


"Apa susahnya sih dokter Boy, ngalah sama yang lebih muda," balas Izam yang tidak ingin mengalah.


"Seharusnya kamu nurut sama yang lebih tua, mau durhaka kamu sama yang lebih tua?" Boy bahkan tak ingin mengalah dari Izam, "kamu pindah dari sini, karna saya yang akan duduk di sini, kamu duduk di dekat Cika yang masih kosong," jelas Boy, "kamu paham `kan? Sekarang kamu pindah di dekat Cika.''


"Ch, masalah tempat duduk saja di ributkan,'' Rafael berdecih tanpa melihat Boy dan Izam, telinganya cukup panas mendengar perdebatan unfaedah mereka.

__ADS_1


"Rafael." Boy menyebut nama Rafael dengan tegas, "kamu tidak ingat, jika saya ini dokter yang selalu menangani kamu jika masuk rumah sakit, tidak sopan sekali kamu ya,"lanjutnya dramatis sembari melihat tampang wajah sinis cowok itu, raut wajah Rafael `kan emang begitu.


"Makanya, suruh sahabat kamu ini pindah," katanya lagi.


Rafael tidak menggubris ucapan Boy lagi.


"Lama-lama gue  gebrak juga nih meja," cetus Izam, "esmosi gue lihatnya."


"Emosi woy, bukan esmosi," ralat Izam.


"Pindah aja lo, Zam,  ribet bener lo," dengus Ethan kepada sahabatnya membuat senyuman Boy mengembang.


"Lebay banget deh, cuman masalah kursi doang di ributin," kata Kesya yang muak  melihatnya. Dari banyaknya perempuan di muka bumi ini, kenapa harus Greta? Itu yang di pikirkan Kesya saat ini.


Boy langsung menatap tajam Kesya, namun ia tidak membalas ucapan gadis itu.


"Pindah aja, Zam," kata Leo membuat ia memanyunkan bibirnya, tidak ada sahabatnya yang membelanya agar tetap duduk di situ, padahal sahabatnya semua tahu, jika ia sangat suka dengan Greta sejak dulu.


Dengan berat hati, Izam melangkah pergi, membuat Boy tersenyum kemenanga, karna akhirnya Izam pergi.


"Ngapain lo lihat-lihat gue," ketus Cika, karna ia tahu jika Izam tengah memperhatikanya.


"Ngeri juga ya deket lo, tiada hari tanpa baca buku," kata Izam.


Cika kembali fokus membaca bukunya, tidak menggubris ucapan Izam lagi.


Melihat sang pujaan hati duduk berdekatan dengan Boy, membuat cowok itu menghentakkan kakinya dibawa sana, dapat di rasakan oleh Cika.


"Kita ngapain duduk di sini? Enakan juga nongki di cafe dari pada di sini," kata Puri yang tidak nyaman di sini, gadis itu beropang dagu dengan mimik wajah lesuh, andai saja Boy membawa mereka nongki di tempat estetik sudah sedari tadi Puri mengebadikan foto di ponselnya, lalu mengunggahnya di instagram.


Namun ini pasar malam, foto apa yang bisa Puri abadikan di tempat ini?


Puri menghembuskan nafas kecewa, "sangat mengecewakan, bintang satu," dramatis gadis itu.

__ADS_1


"Iya nih kak Boy, enakan ngajak kita ke mall, nonton di bioskop," timpal Pute dan dibalas anggukan kepala setuju oleh Puri.


Nanda hanya terkekeh melihat kedua temanya melayangkan protes pada abangnya. Dia juga tidak tahu mengapa Boy mengajak mereka kesini, setahunya Boy tidak punya waktu banyak untuk berkunjung di tempat yang tidak penting sama sekali.


"Emangnya mau nonton apa di sana?" tanya Leo pada gadis yang duduk di sampingnya itu.


"Jomblo fisabilillah, yang main tuh Ricky Harun, aktris favorit gue," jawab Pute dengan semangat empat lima.


Leo terkekeh, dia emang tahu jika Pute sangat fans dengan Ricky Harun, bahkan gadis itu hampir setiap hari stori foto Ricky Harun di ig nya, bahkan dia tidak segan-segan meng tag akun ig nya, yang tidak mendapatkan feedbeck sama sekali. Tidak masalah untuk Pute, namanya juga artis.


"Jadi lo mau jadi jomblo fisabilillah?'' canda Leo membuat Pute tertawa.


"Nggak  juga kali, gue mau nonton karna pemainya Ricky Harun," balas gadis itu.


"Bacot lo berdua!" sahut Izam yang emosi


"Emosinya sama doter Boy, kenapa gue yang di nyolotin," balas Pute.


"Nggak usah di gubris, dia lagi pms,"  celetuk Izam membuat mereka tertawa kecuali Rafael, Cika, Kesya dan juga Greta.


''Tujuan kita kesini apa coba," kata Puri lagi, mereka hanya duduk di sini tanpa melakukan apa-apa.


Boy mengetuk-ngetuk meja kayu. "Kita bakalan naik wahana di sini," ucap Boy sukses membuat bola mata Puri hmpir keluar dari tempatnya.


"ASTAGAH!" Hanya kata itu saja yang mampu di ucapkan Puri.


"Ri, ribut banget sih," tegur Pute.


"Gue syok, Put," balas Puri.


"Lebay lo!" kata Kesya.


Puri tidak menerima ucapan Kesya barusan, "kayak berani aja lo!"  balas Puri.

__ADS_1


"Gue emang berani!"


__ADS_2