ARDIAN

ARDIAN
Puri marah sama Ethan


__ADS_3

Hari senin pun tiba, dimana seluruh murid SMA Panca akan melakukan UAS untuk kenaikan kelas, lepas itu akan ada libur selama dua minggu lamanya.


Motor sport milik anak ARIGEL memasuki pekarangan sekolah, motor mereka langsung terparkir di tempat mereka biasanya memarkirkan motor.


Leo, Ethan, Izam dan Rafael melepaskan helm mereka. Pagi ini Ardian tidak gabung dengan mereka, karna cowok itu menyuruh nya untuk berangkat duluan saja.


"Gue deg-deg an banget, anjay. Bayangin aja, kita bakalan serius ngehadapin ujian kali ini." Izam mengusap rambut nya ke belakang, seraya menatap wajah manis nya di depan kaca spion motor.


"Sama, gue juga. Kali ini kita bakalan serius jawab soal UAS. Yang gue takutin, kalau selama ini gue bodoh benaran. Bukan karna asal ngisi soal," keluh Ethan membuat Leo dan Rafael tertawa mendengar ucapan Ethan barusan.


"Sadar juga lo, kalau selama ini lo beneran bodoh, bukan karna pura-pura bodoh!" sahut Rafael membuat Ethan semakin takut, bagaimana jika selama ini dia bodoh?


"Nggak usah terlalu jujur, Raf. Kasihan mentalnya sih Sethan!" Tawa Izam sangat keras, sehingga membuat pasang mata terarah pada ke empat cowok tampan itu. "Mental lo aman, Than?" tanya Izam seraya mencolek dagu milik Ethan dengan tawa khas yang masih terpatri di wajah nya yang manis.


"Kayak pintar aja lo!" sungut Ethan, dia tahu dia tidak sepintar teman nya yang lain, namun dia juga tidak bodoh seperti apa yang di pikirkan Ethan pada nya.


"Gue emang pintar kali!" balas Izam dengan bangga, "keturunan dari emak gue ini. Semuanya pada pintar -pintar. Termasuk gu--"


"Kecuali lo!" potong Rafael dengan cepat, sebelum Izam melanjutkan perkataan nya, yang menyombongkan diri itu.


Padahal Rafael tahu, otak Izam begitu-begitu saja, tidak terlalu pandai namun dia mudah memahami jika sang guru menjelaskan.


"Gue juga pintar kali, Raf," balas Izam tidak terima.


"Sok pintar aja lo. Asal lo tahu, otak gue sama lo itu cuman sebelas dua belas. Nggak jauh beda!" Ethan menoyor kepala Izam dengan gemas.


"Setidaknya gue nggak buta paham kayak lo!" balas Izam tidak terima, enak saja otak nya yang cemerlang di sandingkan dengan otak milik Ethan.

__ADS_1


"Nggak usah berdebat, cukup buktiin aja entar. Naik kelas atau nggak." Leo menengahi perdebatan antara sahabat nya itu.


"Denger tuh kata playboy cap buntung," cibir Rafael membuat Leo jadi malu.


Kemarin, dia kepergok berada di rumah Pute, mereka hanya berdua di dalam rumah megah itu. Tentu saja otak Rafael tidak bisa berpikir yang tidak -tidak, apa lagi jika keduanya sama-sama mau.


Rafael yakin, Pute tidak akan menolak apapun dari Leo. Semalam, Rafael memang melewati rumah Pute dan dia tidak sengaja melihat motor sport milik Leo terparkir tidak jauh dari gerbang rumah mewah itu. Bodohnya lagi, Leo tidak menutup gerbang rumah Pute.


Jadi, Rafael berinisiatif menghampiri Leo di rumah Pute, dia menelfon cowok mengatakan jika dia berada di luar rumah Pute.


Dengan tergesa-gesa, Leo turun menghampiri Rafael dan sialnya lagi, resleting celananya tidak tertutup membuat Rafael langsung menatap horor Leo. Otak Rafael tidak bisa berpikir positif untuk hal semalam.


"Kita nunggu Ardian di sini atau di dalam kelas?" tanya Ethan, sembari membuka buku nya. Dia benar-benar serius belajar, bahkan pesan dari Puri dari semalam hingga sekarang belum ia balas.


"Kita tunggu Ardian di kelas aja, mendingan lo tetap di sini," celetuk Leo pada Ethan, membuat cowok itu mendongak, bertanya melalui tatapan matanya, mengapa ia harus tetap di sini. "Karna Puri lagi jalan kesini," lanjut Leo membuat Ethan meneguk salivany susah payah, gawat, Puri akan mengomel sepanjang kereta api, gara-gara wa gadis itu ia anggurin.


Ethan menatap kearah yang di tunjuk oleh Leo, benar saja gadis yang ia kenali sedang berjalan kearah mereka.


Mereka tahu, jika semalam Ethan benar-benar fokus belajar, jadi wa Puri ia anggurin begitu saja, dan lihatlah akibat nya sekarang.


"Makanya, kalau mau pacaran habis UAS aja. Lo sih gegabah nembak cewek. Maunya habis UAS aja lo ajakin Puri pacaran." Rafael ikutan menyahut.


Izam makin tertawa, lalu mereka meninggalkan Ethan sendirian, mengabaikan wajah memelas cowok itu agar mereka tetap di sana.


"SETHAN!"


Suara itu adalah suara milik Puri. Ethan meneguk salivanya susah payah, entah sejak kapan Puri mulai memanggil nya dengan sebutan Sethan, sama seperti Izam?

__ADS_1


Bahkan, teriakan Puri masih di dengar oleh sahabat nya Ethan yang terkikik geli.


"Sayang?" suara Ethan sangat lembut, saat Puri sudah berada di depannya. Ternyata semua cewek itu sama saja. Sama-sama garang, Ethan pikir Puri itu kalem nggak kayak mantanya sih Vani itu.


"Apa lo sayang-sayang! Lo pikir lo itu seleb hah?!" marah nya pada Ethan.


"Bukan gitu sayang. Aku sibuk belajar buat hari ini. Aku kan pernah cerita sama kamu. Kalau otak aku nggak sepintar otak sahabat aku yang lain." Ethan berkata jujur, namun tidak berhasil membuat wajah Puri melunak, dia tidak mampu memadamkan kemarahan itu.


Sekarang, Ethan berharap bell masuk bunyi, agar ia bisa menghindar dari Puri untuk sementara. Jangan sampai, seluruh pelajaran yang ia pahami semalam, di gorok kasar oleh Puri untuk keluar dari otak nya yang pas-pasan itu.


"Setidak nya lo bilang! Apa sih susahnya ngetik. Nggak panjang juga penjelasan lo!" Rasanya, Puri ingin mencakar wajah tampan milik Ethan saat ini.


Pasal nya, dia sudah mengirimkan pesan manis untuk Ethan, kata-kata semangat untuk cowok itu belajar, karna ia tahu Ethan tidak sepintar sahabat nya, makanya Puri memberikan semangat melalui pesan yang ia kirim semalam.


Namun apa hasil nya, Ethan tidak membalas pesan nya hingga sekarang. Jadi semua pesan yang ia kirim semalam, tidak ada apa-apanya untuk Ethan karna cowok itu tidak membaca sama sekali pesan yang ia susun untuk semangat Ethan.


"Maaf, sayang. Aku benar-benar minta maaf."


Puri merajuk, membuat Ethan tersenyum kecut, seharusnya dia mendengar kan pesan sahabat nya, untuk mengajak Puri pacaran habis UAS.


Namun nasi sudah jadi bubur, dia harus menjalani nya. Lagian, dia juga benar-benar serius dengan Puri.


Puri masik merajuk, membuang muka. Berharap jika Ethan berusaha membujuk dirinya ini.


"Aku minta maaf. Sebagai bentuk permintaan maaf aku ke kamu. habis UAS aku ajak kamu liburan."


Wajah Puri langsung bersinar.

__ADS_1


"Serius?"


"Iya, sayang."


__ADS_2