ARDIAN

ARDIAN
Sejak kapan perasaan itu ada?


__ADS_3

Nanda menutup pintu kelas, lalu kemudian gadis itu mengunci pintu kelas nya. Pekerjaan ini seharusnya di lakukan oleh ketua kelas, namun ini bagian dari hukumnya, membuat nya keluar kelas terakhir.


Huft...


Nanda menghembuskan nafas berat, lalu memasukkan kunci kelas kedalam saku seragam sekolah nya.


Cika dan Pute ingin menunggu nya tadi, namun gadis itu menolak nya. Karna Nanda yakin teman nya itu punya kesibukan hari ini, jadi Nanda menolak.


Sekolah cukup sepi, hanya ada anak ekskul saja yang sedang latihan di sekolah. Nanda sendiri tidak mengambil ekskul apapun, karna tidak lama lagi mereka akan lulus..


"Ya ampun, gue sampai lupa!" Nanda memekik tertahan, dia sampai lupa, Ardian tengah menunggu nya di luar untuk mengantar nya kerumah sakit. "Gue udah buat Ardian nunggu!" Nanda berlari kecil menyusuri koridor sekolah, sudah setengah jam pulang sekolah, dia baru keluar kelas. Karna ini bagian dari hukuman nya, membersihkan kelas setelah teman kelas nya pulang.


"Nanda!"


Panggilan dari seseorang membuat langkah Nanda terhenti, di tengah koridor sekolah. Dia membalikkan tubuh nya melihat sosok cowok berjalan menghampiri nya.


"Lo buru-buru ya?" tanya cowok itu.


"Iya, gue lagi buru-buru. Emang kenapa?" tanya Nanda heran, pasalnya mereka tidak akrab, namun cowok itu berusaha mengakrabkan diri.


"Gue mau ngomong sesuatu," jelas Veer lagi. "Tapi ngomong nya di cafe aja, gimana?"


"Lain kali aja ya, gue buru-buru soal nya. Gue pamit duluan!" Nanda lalu berlalu pergi meninggalkan Veer, karna dia tidak mau membuat Ardian marah, dia sudah membuat cowok itu menunggu lama.


Kenapa dia sampai lupa sih? Nanda menggeruru dirinya sendiri. Ini semua karna hukuman yang di berikan oleh ibu guru pada nya, karna ia sampai bolos pelajaran.


Veer hanya menatap punggung Nanda yang sudah menghilang, karna gadis itu mengambil belokan sebelah kanan.


"Lo sama Ardian nggak cocok, Nan. Lo cocok nya sama sepupu gue," gumam Veer dengan sangat yakin, jika Ardian tidak cocok dengan gadis seperti Nanda.

__ADS_1


"Nggak bisa, 'kan. Gue udah bilang, Nanda sama Ardian itu tipe orang mahal. Nggak mudah buat tergoda. Apa lagi sama orang baru." Lika datang dari belakang.


Veer tidak membantah ucapan Lika, karna apa yang di katakan oleh Lika memang benar. Dia pikir, mencuri perhatian Nanda akan mudah, sama seperti yang ia lakukan pada gadis lainnya.


Namun ia salah, ternyata Nanda adalah gadis yang tidak mudah di dekati, apa lagi sampai caper pada nya.


"Lo ingat tujuan kita pindah di sini," ketus Veer masih setia menatap kedepan, sementara Lika sudah berada di samping nya. "Kita nggak akan balik ke Bandung, sebelum berhasil misahin Nanda dan Ardian. Gue nggak mau buat sepupu gue kecewa. Dia lagi berjuang. Berjuang bisa sembuh kayak dulu, biar bisa nemuin Nanda."


Lika menghembuskan nafas berat, "gue paham, Ve. Kita udah lihat, gimana Ardian sama Nanda. Mereka adalah orang yang susah buat di deketin. Gue aja yang belum melangkah deketin Ardian, udah kerasa kehempas sama aura cowok itu. Seolah-olah dia memasang tembok, yang nggak akan bisa di tembus."


"Gue bakalan usahain. Mereka bakalan pisah, sebelum sepupu gue kembali." Veer tetap pada pendirinya, lalu cowok itu melangkah meninggalkan Lika.


Ucapan Lika sungguh membuat Veer berpikir keras, karna apa yang di katakan gadis itu semua nya benar. Jika Nanda dan Ardian seperti memasang tembok yang tidak bisa di dekati oleh orang-orang.


"Tungguin gue, Veer!" teriak Lika, seraya berlari mengejar langkah besar milik Veer.


Lika akan melakukan tugas nya sebisanya, tapi untuk mendekati Ardian, gadis itu angkat tangan. Apa lagi saat tahu fakta mengenai Ardian membuat Lika meneguk salivan nya susah payah.


Lika tidak habis pikir, jika cowok itu punya pengaruh besar di sekolah ini, di tambah lagi satu fakta bahwa Ardian adalah anak pemilik sekolah ini.


Benar-benar sulit untuk di jangakau, Jangan 'kan untuk di jangkau, bertegur sapa sama orang yang tidak penting pun, merupakan hal yang sangat langkah.


***


Nanda ngos-ngosan, keluar gerbang sekolah. Dia menatap kiri- kanan nya, dan dia mendapatkan mobil milik Ardian yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah.


Nanda berjalan mendekati mobil Ardian dengan was-was. Entah mengapa, memikirkan wajah Ardian yang marah, membuat jantung nya tidak aman.


Nanda menghembuskan nafas lebih dulu, lalu tangannya bergerak mengetuk kaca mobil Ardian. Namun belum sempat dia mengetuk kaca mobil cowok itu, Ardian langsung menurunkan kaca mobil nya, sehingga terpampang lah wajah tampan itu.

__ADS_1


Nanda meneguk salivan nya susah payah, dia tidak bisa mendeskripsikan mimik wajah Ardian saat ini.


"Sory... Gue telat." Nanda angkat bicara, meminta maaf pada Ardian, karna ia yang salah, tidak mengabari cowok itu jika dia keluar terlambat.


Seharusnya dia tidak membuat Ardian menunggu, apa lagi sampai setengah jam laman nya. Bukan waktu sebentar untuk orang yang tidak suka menunggu.


"Masuk." Ardian menatap datar Nanda, menyuruh gadis itu untuk segera masuk kedalam mobil.


Dengan gerakan cepat, Nanda langsung masuk kedalam mobil Ardian.


Ardian langsung melajukan mobil nya menuju rumah sakit.


Di dalam mobil, hanya ada keheningan menyelimuti mereka. Sejak kapan perasaan ini tumbuh? Nanda tidak tahu, dia sibuk dengan pikiran nya, sekali-kali melirik Ardian yang tengah fokus membawa mobil.


"Gimna luka lo?" tanya Nanda setelah beberapa menit mereka berdiam diri.


"Gue baik. Nggak usah mikirin luka kecil kayak gini," jawab Ardian mantap. Tanpa mengalihkan pandangannya dari depan. "Luka kecil kayak gini, nggak ada apa-apa nya buat gue." Nanda membalas nya dengan anggukan kecil saja.


Nanda menyandarkan tubuh nya di sandaran mobil, sejak kapan dia peduli? Sejak kapan peduli basa-basi itu berubah serius? Sejak kapan dia perduli dengan perasaan cowok di samping nya?


Apa perasaan itu tumbuh secara instant untuk Ardian? Hingga karakter cowok di samping nya, mampu membuat perasaan itu berubah secepat kilat.


"Gue minta maaf." Nanda kembali angkat suara.


Ardian melirik Nanda, yang tengah fokus menatap kedepan.


"Karna buat lo nunggu lama," lanjut Nanda.


"Hal kecil nggak usah minta maaf," ucap Ardian santai, meski saat menunggu Nanda yang lama keluar membuat nya mengumpat seluruh nama bintang.

__ADS_1


Sikap Ardian bersama Nanda benar-benar berubah. Bisa di katakan ia pilih kasih. Jika sahabat nya dan orang lain yang membuat nya menunggu, maka dia akan memakai cowok itu.


__ADS_2