ARDIAN

ARDIAN
Jauhi nih cowok


__ADS_3

Ardian merebahkan tubuh nya diatas tempat tidur. Pikirannya sedikit tenang habis mandi. Dia melirik jam di dinding kamar, masih pukul 1 siang. Masih lama jika ia harus menunggu pulang sekolah.


Akhirnya, Ardian memutuskan untuk tidur saja.


Cek lek.


Baru saja cowok itu memejamkan matanya, seseorang langsung masuk kedalam kamar milik nya tanpa permisi lebih dulu.


"Ngapain lo di sini?" tanya Ardian, saat membuka matanya dia melihat Fatur ada di sini, masih mengenakan seragam SMA.


Cowok itu tentu saja bolos, karna ini masih jam sekolah, dia sudah berada di rumah.


Fatur tidak menjawab pertanyaan Ardian, cowok itu berjalan menuju kursi sofa lalu mendudukan tubuh nya diatas sofa empuk itu.


"Gue nerima tawaran lo."


Ardian kembali memejamkan matanya, mood nya sedang tidak baik-baik saja untuk membahas hal ini.


"Lo denger, 'kan, apa yang gue bilang!" Fatur berdesis, karna Ardian hanya diam saja. Seakan-akan dia tidak mendengar apa yang barusan ia katakan. Padahal suaranya dan kata-kata nya sangat jelas untuk adik nya itu.


"Lain kali aja bahas nya," kata Ardian tanpa membuka matanya, "gue lagi malas."


"Gue tahu kenapa lo malas. Karna cowok baru itu, 'kan?" Suara Fatur nampak meremahkan.


"Apa urusannya sama lo?"


Skakmat...


Fatur terdiam, mendapatkan balasan menohok dari Ardian.


Ardian bangun dari tempat tidurnya, tadinya dia ingin tidur. Namun kedatangan Fatur telah menganggu dirinya.


Ardian berjalan menuju lemari, mengambil kaos oblong lalu memakai nya. Untuk pertama kalinya, Fatur melihat jelas otot-otot tubuh Ardian yang sangat kekar, bahkan cowok itu lebih berotot dari nya. Pantas saja cowok itu tidak mudah di jatuhkan. Itu yang di pikir Fatur.


"Udah tahu, 'kan, apa alasannya nggak bisa ngalahin gue dari dulu sampai sekarang." Ardian berbalik, menatap Fatur. "Untung aja lo cowok."


Fatur menaikkan alisnya sebelah, tidak paham dengan apa yang barusan Ardian katakan. "Maksud lo... Emangnya kenapa kalau gue cowok?"


"Kalau lo cewek, udah jelas lo bakalan jatuh cinta sama gue. Jadi cowok aja, lo kagum sama gue." Ardian menaik nurun kan alisnya.

__ADS_1


"Kurang ajar lo!" geram Fatur, terlihat jelas wajah marah cowok itu.


Ardian hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sementara wajah Fatur sudah merah padam.


Ardian berjalan mendekati Fatur, lalu duduk di sebelah mantan musuh nya itu.


"Ngapain lo di sini!" Fatur mendelik tidak suka.


"Ini kamar gue, kalau lo lupa."


Ardian menanggapi dengan santainya, dia tahu dari dulu. Jika Fatur itu punya emosi yang bisa meledek-ledak kapan saja.


Mereka berdua bertatapan, dengan Fatur menatap Ardian dengan penuh emosi, sementara Ardian hanya santai saja.


"Gue mau jadi asisten gue," kata Fatur lagi. "Lebih tepatnya lagi, pelayan gue."


"Gue udah bilang, gue nggak mood buat bahas hal yang kurang penting." Ardian mengambil rokok elektrik nya, "gue tawarin lo tadi meja makan, karna mood gue baik."


Fatur mengepalkan tangannya, "maksud lo apa, hah! Lo sendiri yang kasi gue tawaran! Dan lo sendiri bilang ini hal kurang penting!" Lama-lama Fatur akan menghajar wajah tampan di samping nya ini.


Ardian menarik sudut bibir nya berbentuk senyum, "segitunya lo mau buat gue tunduk?" Ardian tersenyum jenaka. Seraya menyembulkan asap rokok elektrik nya di depan wajah Fatur.


Fatur mengepalkan tangannya, hingga urat-urat tangannya terlihat jelas. Sudah jelas dia sedang menahan emosi yang sudah berada di puncak.


Fatur bersumpah, akan membuat perhitungan pada Ardian, jika cowok itu sudah tunduk padanya.


"Awas aja lo kurang ajar!" Fatur berdiri lalu pergi dari kamar Ardian.


Jangan lupa, cowok itu membanting pintu kamar Ardian begitu keras, sehingga menimbulkan bunyi benturan.


Ardian yang melihat tingkah Fatur hanya tersenyum tipis saja.


"Lumayan. Ada hiburan di saat gue lagi pusing," gumam Ardian tersenyum tipis, lalu kembali mengisap rokok elektrik nya.


***


Huft...


Nanda menghembuskan nafas lelah. Sudah satu jam dia berada di toilet, membersihkan toilet cewek dan cowok yang bau nya membuat perut gadis itu mules.

__ADS_1


Ini adalah hukuman yang di berikan oleh seorang guru, karna Nanda lambat masuk pelajaran ke-dua. Jadinya, dia sampai di hukum seperti ini.


Membersihkan toilet cewek dan cowok yang membuat tenaga nya terkuras.


"Gue capek." Nanda menghapus peluh pada wajah nya, berkeringat mengerjakan hukuman dari guru. Seumur hidup nya, dia belum pernah membersihkan toilet di rumahnya, di kamar mandi nya juga begitu.


Namun apa sekarang, dia membersihkan toilet yang di tempati oleh murid-murid di sini.


Gadis itu tidak di bebaskan dari hukuman nya, jika toilet cewek dan cowok belum bersih.


Nanda berkacak pinggang, melihat hasil kerja nya membersihkan toilet. Dia masih butuh waktu setengah jam untuk menyelesaikan semua ini.


"Bahkan gue mau muntah, bau badan gue sendiri," kesal Nanda setelah mengendus-ngenduskan hidungnya di baju nya itu. Bau tidak sedap tentu nya, sudah bercampur aduk dengan keringat nya.


"Minum dulu, biar lo nggak haus."


Seseorang menyodorkan Nanda sebotol air minum.


"Makasih," kata Nanda seraya mengambil air itu, karna ia juga sangat haus. "Gimana luka lo?" tanya Nanda melihat memar memenuhi wajah cowok itu, karna bekas baku hantam dari Ardian.


"Cuman sedikit perih," jawab Veer dan dibalas anggukan oleh Nanda.


Nanda siap ingin membuka botol air mineral itu. Namun seseorang langsung merampas nya dengan cepat. Sudah pasti bukan Ardian, kan cowok itu lagi bolos wkwk.


"Lo ambil air yang ini." Ethan mengambil tangan Nanda, lalu memberikan gadis itu air mineral. Lalu dia membuang air mineral yang di berikan Veer di tempat sampah.


Nanda tidak tahu, sejak kapan anak ARIGEL ada di sini. Apa mereka tidak belajar?


"Nggak usah ambil pemberian dari cowok lain, Nan," kata Izam. "Kalau lo butuh apa-apa, lo tinggal bilang sama kita-kita," jelas Izam menggebu-gebu. "Apa lagi sama cowok ini." Izam melirik Veer tidak suka. Sosok anak baru yang sudah cari masalah dengan bos mereka.


"Yang dibilang Izam benar, Nan. Meskipun Ardian udah pulang duluan. Masih ada kita di sini jagain lo. Biar nggak di terkam sama nih anak satu. Yang kita nggak tahu, apa. tujuan sebenarnya!" timpal Ethan membuat Nanda tidak paham.


Namun dia tidak punya energi untuk bertanya, karna energinya sudah ia habiskan untuk hukuman ini.


"Lo harus jaga jarak sama nih cowok." Kini giliran Rafael yang angkat bicara, "itupun, kalau lo nggak mau lihat cowok lo marah."


Veer menatap ke empat cowok itu satu persatu, "urusan gue bukan sama kalian!" Veer langsung pergi.


"Urusan lo sama Ardian, sudah pasti itu urusan kita juga!" kini Leo yang berteriak agar cowok itu mendengar nya. Sebenarnya, Leo hanya ingin diam saja, namun mendengar ucapan Veer tadi membuat nya kesal.

__ADS_1


__ADS_2