ARDIAN

ARDIAN
Good Night pacar


__ADS_3

Sekitar 15 menit dijalan mengendarai motor, akhirnya Ardian telah sampai di depan gerbang rumah Nanda.


Nanda turun dari motor Ardian, seraya melepaskan helmnya, lalu menyerahkan helm itu pada Ardian.


''Lo nggak mampir dulu?'' tanya Nanda saat melihat Ardian kembali menyalakan mesin motornya.


Ardian membalas ucapan Nanda dengan senyuman. ‘’Tumben,'' kata Ardian. ''Lain kali aja, gue baru-buru mau ker markas,'' kata Ardian membuat Nanda mengangguk.


''Gue dulu—''


''Gue mau jadi pacar lo.''


Nanda langsung memotong ucapan Ardian dengan lantang, membuat Ardian terkejut dengan ucapan Nanda barusan.


Saking tidak percayanya, Ardian mematikan mesin motornya, lalu melepaskan helm fullfecnya itu, menatap Nanda dengan tatapan tidak percaya. Lalu cowok itu turun dari motor miliknya, menatap gadis itu dengan tatapan tidak percaya.


''Serius?'' Ardian syok, dia masih tidak percaya dengan apa yang Nanda katakan. ''Gue nggak salah dengarkan?'' Ardian tidak bisa menyembunyikan kebahagianya saat ini, dia begitu sangat senang. Wajah serta mata Indah cowok itu bersinar memancarkan Kebahagian.


Perlu Nanda akui, bola mata Ardian begitu indah, jadi siapapun yang menatapnya akan jatuh cinta dengan tatapan mata cowok itu, ditambah lagi Ardian itu ganteng. Kata ganteng bukan lagi hal tabuh untuk di dengarkan oleh anak-anak ARIGEL.


Nanda lebih menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapanya itu. ''Lo masih ingat'kan obrolan kita di jalan trotoar tadi?'' Nanda lebih dulu memastikan dan dibalas anggukan mantap oleh Ardian.


‘’Emangnya lo mau gue terima sebagai pacar gue, dengan alasan gue kesepian?'' Pada dasarnya ini tujuan gadis itu, menerima Ardian karna dia merasa hidupnya mulai sepi.


Rumah tangga mamanya hancur, papanya sekarang bukan miliknya seutuhnya, Gerald yang selalu ada untuknya masih setia memejamkan matanya.


Senyuman di wajah Ardian perlahan-lahan menghilang.


''Gue udah tanya ke lo tadi, apa alasan lo suka sama gue,'' jelas Nanda dan dibalas anggukan kecil oleh Ardian. ''Dan jawaban lo itu kalau gue itu 'unik' .'' Nanda tertawa kecil, kala mengingat omongan Ardian tentang dirinya yang unik. ''Terus lo bilang ke gue, kalau lo belum pernah ketemu cewek kayak gue sebelumnya. Lo juga bilang, kalau cinta nggak butuh alasan,'' lanjut Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian, karna itu yang dia ucapkan saat Nanda mengatakan, apa yang membuatnya menyukai gadis itu.


Nanda tersenyum kearah Ardian. ''Kalau gue tanya, apa alasan lo pengen banget gue jadi pacar lo, apa jawaban lo?'' tanya Nanda lagi, sehingga Ardian berani menatap manik mata gadis itu.


''Jawaban gue simpel, karna gue suka sama lo. Alasan gue suka sama lo, udah gue jelasin juga,‘’ kata Ardian lagi membuat Nanda tersenyum tipis kemudian dia mengangguk.


''Gue udah terima lo jadi pacar gue. Apa lo mau terima, kalau gue nerima lo jadi pacar gue, dengan alasan gue kesepian?'' Mata Nanda dan Ardian kembali beradu.


Entah mengapa jawaban kata ‘kesepian' membuat Ardian sedang investasi menemani kesepian gadis itu. Bagaiamana jika Nanda sudah tidak kesepian, lalu dia tidak membutuhkan Ardian lagi, apakah gadis itu akan melapskan nya dengan alasan kalau dia sudah bahagia?


Ardian mengangguk mantap. ''Gue mau. Apapun alasanya lo nerima gue. Gue nggak peduli,'' terang Ardian membuat Nanda menepuk pundak cowok itu.


''Thanks, Ardian.''


Ardian langsung melirik tangan Nanda yang menepuk pundaknya.


''Malam ini, kita resmi pacaran,'' kata gadis itu. ''Gue masuk duluan, sampai ketemu di sekolah,'' pamit gadis itu lalu melenggang pergi meninggalkan Ardian yang masih terdiam.


Nanda menghentikan langkah kakinya, dia membalikkan tubuhnya, dia melihat Ardian masih berada di posisi tadi, jangan lupa tatapan mata cowok itu masih tertuju untuknya.


Nanda memaksakan senyum pada Ardian, lalu berkata. ‘’Good Night.'' Lepas itu, Nanda kembali melanjutkan langkah kakinya, ucapan 'good Night' untuk Ardian masih di dengar jelas oleh cowok itu.


Lalu kemudian Ardian tersenyum simpul. ‘’Night to, pacar,'' balas Ardian meski Nanda sudah tidak ada di sana, dan tidak mendengar apa yang barusan dia katakan.


Ardian kembali naik keatas motornya, menyalakan mesin motornya lalu melajukan motornya dari depan pintu gerbang rumah milik gadis yang baru saja menjadi pacarnya.


Ardian membelah kota Jakarta malam ini, dengan kecepatan rendah, malam ini dia resmi berpacaran dengan Nanda. Dengan alasan jika gadis itu menerimanya karna dia kesepian.


Nggak apa-apa lo terima gue dengan kata kesepian, Nan. Gue tahu, apa yang lo rasaian sekarang. Lo emang benar-benar kesepian, di satu sisi papa lo bukan milik lo seutuhnya lagi, karna lo harus berbagi dengan Kesya. Di sisi lain soal Gerald. Pastinya lo sangat sepi tanpa Gerald. Baik, gue yang akan menggantikan posisi mereka berdua. Meski sepenuhnya tidak akan sama. Tapi gue janji sama lo Nanda, gue bakalan buat lo bahagia, gue bakalan buat lo lupa apa itu kesepian.


Ardian membatin seraya tersenyum, dia sempat memikirkan mengapa Nanda ingin menerimanya dengan alasan dia kesepian, namun sekarang dia sudah tidak memikirkannya lagi, karna dia tahu seberapa sepi gadis itu sekarang.


Apa lagi Boy tidak akan bisa selalu ada untuknya, karna pria itu sibuk di rumah sakit. Ada kewajiban yang tidak bisa dia tinggalkan begitu saja dengan seenaknya.


Perjalanan menuju markas, Ardian tak henti-hentinya tersenyum, dia yakin tidak akan bisa menyembunyikan kebahagianya kepada sahabatnya. Apa lagi Izam, dia akan tahu, apa lagi cowok itu seperti sudah berguru bagaiamana ciri-ciri orang bahagia karna cinta.


Deruman motor Ardian memasuki markas membuat Rafael, Leo dan Izam bersamaan berucap.


''Ardian udah datang.'' Leo, Izam dan Rafael langsung keluar untuk menghampiri Ardian, karna cowok itu belum juga masuk, padahal sudah beberapa menit bunyi motor cowok itu terdengar di indra pendengaran cowok itu, namun Ardian belum menampakkan dirinya.


Apa lagi mereka juga tidak tahu, Ardian pergi kemana. Tari menelfon mereka menanyakan tentang anaknya itu.


Karna saat Ardian pergi. Dia tidak memberitahukan siapapun juga.


Ardian turun dari motornya, menatap wajahnya di kaca spion lebih dulu sebelum masuk kedalam.


Cowok itu berusaha memasang wajah cool, tetap saja senyum Kebahagian itu kembali muncul di wajahnya yang cool dan datar itu. Benar kata orang, Kebahagian itu tidak bisa di sembunyikan dengan menggunakan wajah cool nya itu.


''Ayok, Ar. Lo harus masang wajah kayak biasanya, bisa mati lo kalau di garap Izam,'' cowok itu latihan memasang wajah seperti biasa di kala Kebahagian melanda dirinya ini.


Leo, Izam dan Rafael saling menatap bingung di depan pintu, melihat tingkah Ardian yang ngaca di kaca spion motornya. Dengan gelagat aneh cowok itu.


''Itu anak kenapa?'' beo Leo melihat Ardian yang sedang sbuk dengan ekspresi wajahnya itu.


''Woy, Ar! Lo lagi ngapain!'' teriak Izam.


Jleb...


Rafael suntuk di rumah miliknya, akhirnya cowok itu kembali memutuskan kembali ke markas, padahal dia sudah berencana untuk tinggal di rumahnya, apa lagi senyuman bahagai yang menyambutnya saat dia pulang. Tanpa Salsa tahu saja, jika Rafael kembali pergi.


Ardian langsung kaku saat Izam meneriaki dirinya, sementara dia sedang latihan ekspresi wajah datar diatas kebahagian ini.


Ardian menatap ketiga sahabatnya yang sedang berada di ambang pintu, bersedekap dadah menatap kearahnya dengan tatapan berbagai macam.

__ADS_1


''Latihan apa lo di depan kaca spion!?'' teriak Izam lagi lalu melangkah mendekati ketiga sahabatnya itu.


''Dari mana lo, Ar?'' tanya Rafael dengan penuh selidik.


''Cari angin,'' jawab cowok itu membuat ketiga sahabatnya manggut-manggut.


''Mata lo nggak bisa bohong, Ar. Meskipun lo masang wajah datar lo itu, tetap aja lo nggak bisa nyembunyiinya dibalik mata lo itu,'' kata Leo membuat Izam dan Rafael mengangguk setuju mengiyakan ucapan Leo. Karna mereka juga merasa, ada sesuatu yang di sembunyikan Ardian dari mereka.


''Mata gue emang indah, nggak ada yang gue sembunyiin.'' Ardian langsung melenggang masuk meninggalkan ketiga sahabatnya membuat ketiga sahabatnya itu saling menatap satu sama lain.


Mereka yakin, saat ini Ardian sedang mengelak. Ada sesuatu yang di sembunyikan cowok ganteng itu.


''Gue yakin, ada yang di sembunyiin sama tuh anak,'' menolog Izam seraya berpikir, apa yang membuat Ardian bisa sebahagia ini.


''Sama,'' timpal Rafael kalau dia juga yakin, ada yang di sembunyikan Ardian saat ini.


''Yang jelas yang gue lihat, itu anak lagi mau main tebak-tebakan sama kita,'' tebak Izam.


Pletak...


Rafael langsung menjitak kening Izam. ''Sok tau lo,'' kata Rafael lalu masuk kedalam markas.


''Awas aja lo, Raf,'' gerutu Izam seraya mengusap keningnya itu, sementara Leo hanya cekikikan melihat Izam meringis.


‘’Kalau gue setuju sama lo, Zam. Gue juga yakin, kalau Ardian mau main teka-teki sama kita,'' kata Leo dengan sisa tawanya.


‘’Cuman tuh Rafael main jitak jidat orang aja,'' gerutu Izam.


''Lo tahu aja'kan Rafael kayak giman.'' Leo merangkul pundak Izam untuk segera masuk kedalam markas.


Kedua cowok itu melihat hanya ada Rafael di meja beserta domino didepanya.


''Ardian mana?'' tanya Leo seraya duduk di sofa bersama dengan Izam.


''Katanya ngantuk, dia mau tidur. Ardian pesan sama kita, nggak boleh ada yang gangguin dia tidur.'' Rafael menyampaikan apa yang Ardian pesankan padanya tadi, jika cowok itu ingin tidur lebih dulu tanpa gangguan siapapun itu.


Izam dan Leo semakin yakin, jika ada sesuatu yang benar-benar Ardian sembunyikan dari mereka. Tentu saja mereka penasaran, mereka tidak terlalu khawatir, karna wajah dan mata cowok itu tidak bisa di bohongi kalau dia begitu bahagia, hanya saja cowok itu berusaha menyembunyikannya dari para sahabatnya itu.


Mereka ingin bermain domino. Tapi mereka urungkan karna mereka hanya bertiga saja.


Pada akhirnya, ketiga cowok itu memilih bermain ponsel, Izam sibuk mengstalking akun ig Greta, sementara Leo sedang sibuk bermain game dengan Pute. Sementara Rafael? Cowok itu sedang sibuk dengan pikiranya, entah apa yang sedang cowok itu pikirkan saat ini.


''Dekat lagi lo ya sama, Pute,'' celetuk Izam seraya memejamkan matanya, dia sudah sangat mengantuk, namun enggan naik keatas lantai dua untuk tidur, karna kedua sahabatnya masih ada di sini.


‘’Sangat dekat,'' balas Leo dengan santai membuat Izam terkekeh dengan jawaban cowok itu.


Lalu Izam memperbaiki duduknya, lalu menatap Leo. ‘’Prinsip lo masih sama?'' tanya Izam memastikan membuat cowok itu langsung menonaktifkan mic game nya, dia tidak mau jika Pute mendengar obrolannya dengan Izam.


‘’Sifat Playboy lo sama cewek gimana?'' tanya Izam lagi.


Menurut Izam dua sahabatnya paling bodoh urusan perempuan, yaitu Leo dan Rafael. Cowok itu menolok gadis seperti Pute dan Salsa, yant menurut izam kedua gadis itu sudah sangat cocok untuk kedua sahabatnya.


''Gue udah blokir semua nomor cewek yang dekat sama gue. Gue udah bilang ke mereka, kalau gue udah punya pacar. Padahal kenyataanya nggak, karna gue emang mau lepas dari mereka, dan bakalan fokus mencintai Pute saja,'' jelas Leo membuat Izam tertawa.


''Gimana bisa lo fokus cinta sama Pute, kalau lo aja nggak pacaran sama dia,'' ejek Izam kepada sahabatnya itu. Izam tidak habis pikir dengan prinsip Leo, karna cowok itu tidak ingin pacaran. Dia hanya ingin dekat dengan gadis, tanpa mempunyai ikatan pacaran.


‘’Mencintai seseorang nggak selamanya harus pacaran,'' balas Leo membuat Izam terdiam, sementara Rafael tersenyum tipis. ''Karna pada kenyataanya. Percuma pacaran lama kalau lu sama dia nggak jodoh. Makanya, gue nggak mau pacaran. Gue mau langsung nikah aja. Gue udah nentuin gadis yang bakalan gue nikahin nanti, yaitu Pute, tanpa harus pacaran.''


''Yayaya.'' Izam mengalah, karna Leo selalu mendapatkan jawaban atas prinsipnya itu.


‘’Mendingan lu deketin Greta tanpa harus pacaran. Kalau lo sama Greta emang jodoh, tanpa pacaran kalian bakalan bersama ,‘’ jelas Leo yang tidak masuk di otak Izam yang dangkal itu.


‘’Gue mau hubungan gue sama dia itu jelas,'' Izam membuat Leo hanya manggut-mamggit saja.


‘’Gimana dengan, Ethan? Apa dia di rumah sakit?'' tanya Rafael dan dibalas gelengan kepala oleh Izam.


‘’Ethan tadinya mau kerumah sakit, tapi kedua orang tua Gerald bilang, malam ini mereka yang akan menemani Gerald sampai besok,'' jelas Izam. Karna itu yang Ethan sampaikan kepadanya.


''Dia nggak ke sini?'' Kini Leo yang bertanya pada cowok itu.


‘’Kayaknya sih nggak, dia bilang mamanya Vani nahan dia. Mungkin aja butuh bantuan sama Ethan,'' kata Izam. ''Gue juga kurang tahu. Gue udah nggak sesrek dulu ke Vani, pas pacaran sama Ethan. Dengerin mereka balikan aja gue nggak suka,'' kata Izam dengan wajah di tekuk. ''Lo tahu Kesya'kan, sikap Vani sama Kesya sebelas dua belas, kalau mereka sampai satu geng, mereka berdua bakalan adu keegoisan,'' lanjut Izam membuat kedua sahabatnya tertawa terbahak-bahak.


''Kalau Greta menurut lo gimana?'' tanya Rafael yang ingin memancing Izam, baru nama Greta saja mampu membuat cowok itu sumringah bahagia.


''Kalau Greta, gue kasihan sama dia.'' Senyuman di wajah Izam luntur, membuat kedua sahabatnya menaikkan alisnya sebelah, heran dengan ucapan Izam barusan.


‘’Maksud lo?'' tanya Rafael dan Leo hampir bersamaan.


‘’Karna gue udah sangat egois mengejar cinta Greta,'' ujar Izam.


***


Pukul 1 malam, membuat Leo, Izam dan Rafael memutuskan untuk naik keatas lantai dua, kembali ke kamar yang sudah di sediakan untuk mereka di markas ini.


Ketiga cowok itu melewati kamar milik Ardian.


''I Love you.''


Ketiga cowok itu menghentikan langkah kakinya, bagaiamana tidak jika dia mendengar suara Ardian dari dalam mengucapkan kata 'I Love You' ketiga cowok itu kembali bertatapan. Memberikan tatapan tanda tanya satu sama lain.


Apa lagi kamar mereka di markas ini tidak menggunakan kedap suara. Sehingga mereka bisa mendengar suara Ardian.

__ADS_1


''Dia mimpi atau sadar?'' beo Izam, ketiga cowok itu masih berada di depan pintu kamar Ardian.


‘’Gimana kalau kita cek aja,'' saran Leo membuat Izam dan Leo tersenyum.


‘’Gue setuju,'' kata Izam dan Rafael bersamaan.


Terlebih dahulu Izam menarik nafasnya panjang, sebelum membuka knop pintu kamar milik Ardian.


Klik...


Izam berhasil memutar knop pintu kamar Ardian, lalu kemudian ketiga cowok itu saling bertatapan lalu tersenyum.


Perlahan-lahan mereka masuk kedalam kamar milik Ardian, mereka melihat Ardian tengah tertidur diatas tempat tidur dalam keadaan tengkurap.


Mereka bisa mendengar dengan samar, Ardian terus-terusan mengucapkan kata I Love you pacar.


''I Love you pacar,'' ucap Ardian dalam keadaan masih menutup matanya membuat Leo, Izam dan Rafael saling bertatapan bingung.


‘’Pacar?'' beo ketiga cowok itu hampir bersamaan.


Ketiga sahabat Ardian menahan tawa, jangan sampai mereka ketahuan sama cowok itu, kalau dia sedang berada di sini.


Pftttt...


''Tahan tawa,'' bisik Izam, agar Rafael dan Leo tidak tertawa saat ini.


Bagaiamana tidak mereka ingin tertawa karna Ardian selalu mengatakan 'I Love You pacar'


Ini yang pertama kalinya mereka mendengar Ardian mengigau seperti ini. Apa lagi terdengar geli di telinga para sahabatnya.


‘’Ahha, gue tebak, ini pasti ada hubungannya dengan gelagat aneh Ardian tadi. Tapi dia bilang pacar, udah di pastikan dia sedang berpcaran dengan seseorang, tapi siapa?'' bisik Izam dengan suara pelan.


''Good Night, pacar.''


Rafael, Leo dan Izam tidak kuasa menahan tawa, lalu mereka bertiga memilih untuk keluar saja, daripada tertawa didalam sana, yang akan membuat mereka ketahuan.


***


Sementara di sisi lain, Nanda nampak sibuk dengan buku-buku di meja belajarnya, sudah jam 1 dini hari gadis itu belum juga tidur, dia sibuk mengerjakan tugas karna dia sudah berulang kali tertinggal pelajaran selama Gerald di rawat di rumah sakit.


Huft...


Gadis itu menghembuskan nafas berat, lalu kemudian dia meregangkan otot-otot tubuhnya, letih mengerjakan tugas sampai selarut ini.


Gadis itu menyandarkan kepalanya di sandaran kusi, seraya memikirkan cowok yang baru saja jadian denganya, siapa lagi kalau bukan Ardian.


Boy yang baru saja keluar dari kamar mamanya, tidak sengaja melihat pintu kamar Nanda terbuka, dari dalam kamar gadis itu nampak terang, menandakan Nanda belum juga tidur.


Boy melirik jam di pergelangan tanganya, sudah pukul 1 dini hari lewat, namun adiknya juga belum tidur, membuat Boy berjalan untuk menghampiri Nanda, untuk menyuruh gadis u itu untuk segera tidur, karna sudah larut malam begini.


Boy sudah di depan pintu kamar adiknya, dia ingin mengetuk kamar Nanda sebelum masuk, namun niatnya dia urungkan, karna dia mendengar Nanda sedang bermonolog seorang diri di dalam.


''Maafin gue, Ar. Gue takut kesepian,'' lirih gadis itu. ''Abang gue nggak selamanya milik gue sama mama. Ada saat Boy bakalan pergi ninggalin gue sama mama, dia udah dewasa, jika dia sudah menemukan jodohnya, dia akan menikah, tinggal bersama istrinya dan akan meninggalkan rumah ini. Gue dan mama akan kesepian. Papa juga bukan cuman milik gue sekarang, papa nggak sepenuhnya buat gue. Kondisi Gerald yang kritis buat gue makin khawatir,'' lanjut Nanda seraya mengusap air matanya dengan kasar.


Boy yang mendengar dengan jelas ucapan adiknya mendongakkan kepalanya menahan air mata, dia tidak menyangka jika pikiran adiknya itu akan sampai kesana. Sementara dia? Dia tidak memikirkan hal itu, apa lagi ucapan Nanda tadi semuanya benar, jika dia menikah, maka dirinya bukan milik keluarganya seutuhnya, dirinya akan menjadi milik istrinya kelak dan keluarga kecilnya nanti.


''Adik gue udah dewasa,'' menolog Boy lalu seraya menggelengkan kepalanya pelan. ‘’Gue sayang sama lo, Ra. Gue janji, saat gue nikah nanti, gue nggak akan buat kesepian di rumah ini, gue bakalan datang buat lo sama mama, Ra,'' lanjut Boy dengan yakin lalu melenggang pergi dari depan pintu kamar adiknya itu.


Boy langsung masuk kedalam kamarnya, mengempaskan tubunya diatas tempat tidur, seraya menatap langit-langit kamarnya, sudah tengah malam begini, matanya masih melek.


Pria itu sedang memikirkan antara ingin menikah dan tidak. Di satu sisi, dia takut jika suatu saat Nanda akan kesepian karna dia akan menikah. Apa lagi dia berprofesi sebagai dokter, sudah pasti dia akan semakin sibuk.


Di sisi lain dia memikirkan mamanya, mamanya sangat berharap dia menikah sebelum usianya memasuki 27 tahun.


Mamanya menginginkan dirinya untuk menikah, itu adalah permintaan Gina untuk dirinya.


''Gue nggak tahu, harus seperti apa,'' gumam pria itu. ‘’Gue udah nemuin gadis yang akan gue lamar, gue tinggal nungguin jawaban dari dia,'' lanjut Boy.


Dia tidak ingin jika Nanda akan benar-benar kesepian, papa, sahabat yang membuatnya kesepian seperti ini.


Boy bangun dari tempat tidurnya, berjalan menuju balkon kamarnya itu, angin malam langsung menyapa wajahnya.


Boy menghembuskan nafas berat, memikirkan adik dan mamanya. Dia tidak ingin egois mementingkan kebahagianya sendiri.


Drt...


Bunyi ponsel boy membuat lamunan cowok itu buyar, dia berjalan menuju nakas tempat dia menyimpan ponselnya itu.


Boy melihat nama yang terterah adalah nama mamanya, membuat pria itu dengan cepat keluar dari kamarnya, dia sudah mengatakan pada Gina untuk memanggilnya jika dia membutuhkan sesuatu.


Ceklek.


Boy membuka pintu kamar mamanya, dia melihat mamanya menangis membua pria itu langsung memeluk Gina.


''Ma, mama kenapa? Apa yang sakit. Boy bawa mama kerumah sakit ya. Peralatan medis di rumah nggak lengkap, Ma. Boy nggak mau lihat mama tambah parah,'' mohon Boy dan dibalas gelengan kepala oleh Gina.


''Mama nggak kenapa-napa, Boy,'' kata Gina seraya memegang wajah milik putranya itu. ''Kamu mau lihat mama sembuh'kan?''


Boy mengangguk mengiyakan mamanya, lalu dia mencium tangan mamanya itu. ''Boy pengen mama cepat sembuh, jangan banyak mikirin hal yang buat mama makin drop. Setiap 5 jam sekali Boy lihat kondisi mama, kondisi mama makin buruk,'' kata Boy. ‘’Jadi Boy minta—''


''Menikahlah Boy, kalau kamu nggak mau lihat mama sakit.''

__ADS_1


__ADS_2