
Rafael dan Leo masuk kedalam tong setan, mengecek kendaraan yang akan di pakai untuk melakukan atraksi di dalam tong ini.
Jangan lupa, cowok itu sudah mengenakan jaket ARIGEL yang dibawa oleh orang suruhan Ardian, membawa nya menuju pasar malam.
Rafael dan Leo mengecek kendaraan tersebut, apakah ada kerusakan atau kekurangan. Setelah mengecek motor aman, kedua cowok itu kembali mengecek lintasan.
Selain kendaraan, lintasan juga hal yang perlu di perhatikan. Di lintasan tong setan biasanya ada garis kuning yang di sediakan untuk para penjoki.
Hal ini diperlukan supaya para pengendara tetap aman dan memperhatikan lintasan serta ketinggian jarak yang di tentukan yang bertujuan demi keamanan penjoki
"Aman 'kan. Gue udah bilang, tong milik gue semua nya aman. Nggak perlu ada yang kalian takutin."
Seseorang datang menghampiri Rafael dan Leo. Meski pemilik tong itu sudah mengatakan hal tadi sebelum nya, tetap saja ke-dua cowok itu harus memastikan nya langsung.
"Diam aja lo!" sinis Rafael pada cowok yang satu tahun lebih tau dari nya.
"Santai," kata pemilik tong itu seraya angkat tangan, lalu tertawa kecil.
"Sok asik lo!" Rafael langsung meninggalkan pemilik tong itu.
"Gue Leo." Leo memperkenalkan dirinya pada cowok pemilik tong itu.
Cowok itu dengan senang hati menyambut uluran tangan Leo. "Gue Adit. Gue senang anak ARIGEL pada mampir kesini."
Leo hanya tersenyum kecil, karna kebetulan saja mereka berada di sini.
Leo dan Adit berjalan beriringan meninggalkan tong tersebut, lalu kedua cowok itu berpisah.
"Semua aman 'kan?" tanya Ardian seraya menyembul kan asap rokok nya.
Kelima cowok itu duduk di kursi yang di sediakan oleh Adit, dengan satu meja bundar.
"Aman," jawab Leo..
"Kita harus live, kalau udah mulai," kata Ethan. "Pasti fans-fans anak ARIGEL senang kalau kita live," lanjut Ethan dengan menggebu-gebu. "Iya nggak, Zam." Ethan menyiku lengan Ethan, karna sedari tadi cowok itu hanya bengong saja.
__ADS_1
"Ha iya," jawabnya linglung.
"Lo kenapa dah?" tanya Ethan, menatap Izam dengan intens, sedari tadi cowok itu hanya diam. "Lo ada masalah? Emak lo nggak kasi lo duit jajan ke sekolah?" tanya Ethan lagi membuat Izam memutar bola matanya malas.
"Gue lempar juga nih asbak di muka lo," kesal Izam membuat Ethan mengedikkan kedua bahunya acuh.
"Siapa suruh lo bengong mulu. Mau keserupaan lo di tempat ini." Ethan berkata lagi.
"Lo nggak tau masalah gue, Than. Gue patah hati. Dan mungkin nggak akan bisa sembuh lagi." Izam berkata dramatis membuat Ardian tersenyum tipis.
"Sabar aja, Zam. Greta jodohnya dokter Boy. Bukan jodoh nya Izam," kata Leo sukses membuat Ardian dan Ethan melirik kearah cowok itu.
"Kalian nggak tahu ya. Kalau dokter Boy sama Greta bakalan nikah minggu ini. Dia bilang sama kita tadi. Dia ngancam kita, kalau ada yang sampai sebarin berita ini sama pihak sekolah, dokter Boy bakalan nyariin kita," jelas Leo panjang kali lebar membuat Ethan langsung menepuk pundak Izam.
"Gue terkejut dengar berita ini, Zam. Tapi gue bakalan lebih terkejut kalau lo yang nikah sama Greta." Ethan berusaha menghibur Izam.
"Jangan sampai tinju gue ini, kena muka lo, Sethan. Biar Puri ilfil punya cowok jelek!" Izam menggebu-gebu membuat mereka tertawa.
Mereka tahu apa yang Izam rasakan saat ini.
"Gimana. Berapa menit lagi baru mulai?" tanya Ardian.
"Kata Adit, nunggu 15 menit lagi," jawab Leo.
"Lo tahu, gue nggak suka namanya menunggu. Kenapa kalian nggak ambil alih? Sekalian beli tong nya," kata Ardian santai.
"Orang kaya mah beda," kata Izam lalu Ardian menyembul kan asap rokoknya diwajah Izam, karna kebetulan cowok itu duduk di depannya.
"Gue temuin Adit duly." Leo berdiri dari kursinya untuk bertemu dengan Adit.
"Untuk aja lo, Ar. Andai lo Ethan, udah dari tadi gue tinju," dengus Izam, karna Ardian menyembul kan asap rokok nya di wajah milik nya.
"Itu baik buat cowok patah hati," ejek Ardian. "Lebih baik lo sama Cika," lanjut Ardian dengan tawa kecil nya membuat para sahabat nya ikutan tertawa.
"Lebih baik gue jomblo dari pada pacaran sama Cika. Dia tuh cewek yang pacaran sama bukunya. Mau kemana pun dia, dia pasti bawa buku. Udah pasti kalau dia pacaran sama buku-buku nya itu. Ke pasar malam aja baca buku." Izam bergedik ngeri, bagaiamana jika dia dan Cika pacaran? Dia malas berurusan dengan buku, sementara Cika sangat senang. "Lagian, Cika itu sukanya sama Gerald."
__ADS_1
"Lo tikung lah Gerald," sahut Rafael santai. "Kalau lo dapetin Cika, lo yang beruntung. Sementara Cika bakalan apes dapetin lo," kata Rafael membuat Izam makin mendengus.
"Kalian ya, nggak ada prihatin nya sama sahabat sendiri," cemberut nya pada sahabat-sahabatnya itu.
"Nanda sama teman-temanta mana?" tanya Rafael, karna mereka ada semua di sini.
"Mereka lagi ngumpul di sana." Tunjuk Ethan pada empat gadis yang sedang mengobrol kecil, entah apa yang mereka obrolkan.
Banyak pasang mata cowok menatap ke empat gadis itu dengan tatapan takjub, itu semua tidak lepas dari tatapan mata anak ARIGEL. Dia tahu, ke empat gadis itu kehadiran nya sangat mencolok di antara orang-orang...
***
Suara isakan tangis terdengar jelas di pendengaran Fatur, dia mencari suara isakan itu. Membuat bulu kuduk nya meremang.
Cowok itu melepaskan helm nya, menyimpan helm nya diatas motor, lalu turun dari atas motor sport milik nya.
Secara kebetulan, cowok itu berkunjung di pasar malam. Fatur emang suka tempat seperti ini, selalunya dia pergi bersama sahabatnya menonton atraksi di tong setan di pasar malam.
Cowok itu mencari asal suara tersebut, lalu dia berhenti di pohon rindang membuat bulu kuduk nya meremang.
Suara tangis itu terdengar jelas di balik pohon tersebut, tidak jauh dari parkiran.
"Nggak adil banget Tuhan kasi gue takdir kayak gini!" isakan itu terdengar jelas.
Fatur bernafas legah, dia tidak perlu takut jika itu setan. Karna dia mendengar tangis itu dan suara itu milik perempuan, suara yang penuh keputus asaan.
Fatur melangkah mendekat, dilihat nya sosok gadis yang mengenakan rok kulit berwarna hitamhitam, terduduk di bawa pohon sembari memeluk erat tubuhnya.
"Gue pikir hantu yang nangis, ternyata cewek."
Suara itu menyapa gendang telinga gadis tersebut. Dia mendongak dan menatap wajah Fatur yang tampan. Tubuh cowok itu di balut jaket kulit.
Mereka berdua saling bertatapan. Lalu gadis itu kembali menangis.
"Lo Kesya 'kan?"
__ADS_1