
Nanda mengusap tangan kekar milik Gerald, yang sudah mulai kurus, sudah dua minggu lebih cowok itu memejamkan matanya.
Maminya Gerald bernama Jia, makanya sudah tidak teratur lagi, wanita itu makan hanya satu hingga tiga sendok saja, itupun di paksa oleh suaminya Raga.
Raga tidak tahu harus berbuat apa sekatang, saat ini dia hanya bisa pasrah, dia hanya bisa berdoa dan menyerahkan hidup dan matinya Gerald kepada sang pencipta.
Saat Gerald dinyatakan sudah tidak ada, perlahan-lahan Raga mulai mengikhlaskan anaknya, dia akan Bersykur jika anaknya akan bangun, meskipun kemungkinannya hanya 00,1% persen saja.
Raga menyerahkan semuanya pada sang pencipta. Sementara istrinya menangis terus menerus, berharap jika Gerald akan segera bangun, membuka matanya.
''Rald,'' panggil Nanda, seraya menggenggam tangan milik Gerald. Dia duduk di samping Gerald, dengan kursi yang sudah di sediakan di ruangan vvip ini.
''Kamu nggak capek tidur terus?'' tanya Nanda dengan senyuman tipis, meskipun Gerald tidak akan mendengar ucapanya, namun dia tetap mengajak cowok itu mengobrol.
''Kamu nggak mau lihat aku, Rald? Kamu nggak mau lihat senyuman aku lagi?'' Nanda tertawa kecil, hanya Gerald saja cowok yang paling dekat denganya, karna Gerald adalah sahabat masa kecilnya.
Dia juga tidak menyangka, jika sahabatnya itu menyukainya, dia pikir Gerald menyukainya antara adik dan seorang kakak, Nanda pikir Gerald menyayanginya seperti Boy.
''Aku kangen sama kamu, Rald. Ayok bangun ya. Aku mohon sama kamu. Buka mata kamu, jangan tinggalin aku ya,'' pintah Nanda, menggenggam erat tanya Gerald yang sudah mulai kurus.
''Kamu udah janji sama aku, kalau kamu bakalan buat aku bahagia. Kamu janji sama aku, kalau kamu nggak akan ninggalin aku. Kamu sendirikan yang janji, kalau kamu nggak bakalan biarin aku terluka dan nangis karna cowok lain. Tapi sekarang, cowok yang buat aku nangis adalah cowok yang ngucapin janji itu.'' Nanda mengusap air matanya, melihat wajah Gerald yang begitu tenang menbuat Nanda merasa jika Gerald saat ini sudah tidak ada.
''Rald, sebenarnya kamu ini masih ada kan?'' tanya Nanda, dia bertanya pada orang yang tidak akan memberikanya jawaban.
Nanda memeluk Gerald dengan erat, dia menangis sesegukan. Memeluk Gerald, serasa dia sedang memilik batang pohon yang tidak bernyawa.
''Rald, kamu masih ada'kan?'' Nanda memeluk Gerald dengan erat, kata-kata itu terus berputar dalam otaknya, dia takut jika Gerald yang dia peluk sekarang, jiwanya sudah pergi, dia memeluk raganya saja.
''Aku takut, Rald. Tubuh yang aku peluk jiwanya udah nggak ada.'' Air mata terus-menerus membanjiri pipi milik Nanda.
''Aku harap jiwa kamu masih ada, bukan hanya raga kamu yang aku peluk,'' ucap Nanda lagi. ''Aku takut, Rald. Kalau kamu udah pergi, tapi raga kamu masih ada di sini, buat aku berharap kalau kamu masih ada.''
‘’Semogah kamu dengerin aku, dan secepatanya bangun. Aku nggak tahu, hidup aku kedepanya seperti apa. Cuman kamu yang bisa tenang in aku, kala aku ingat papa. Kamu datang meluk aku. Pelukan kamu buat masalah terselesaikan, Rald. Obat yang aku perlukan kalau ada masalah, pelukan kamu. Aku takut, Rald. Hiksss...Aku takut kalau kamu nggak bisa meluk aku lagi. Jangan buat khawatir, kamu harus bangun. Jangan tinggalin aku juga.''
Nanda mengusap air matanya dengan kasar, matanya sudah sembab karna air mata, perlahan-lahan dia tidur sembari memeluk Gerald dengan begitu erat.
''Aku nggak tahu, apa orang yang aku peluk sekarang masih ada atau udah nggak ada.'' Perlahan-lahan Nanda mulai memejamkan matanya, lalu gadis itu tertidur seraya memeluk Gerald dengan erat, seakan-akan tidak ingin melepaskan cowok itu.
Nanda mengerjapkan matanya, perasaan dia tidur di memeluk Gerald. Kenapa saat bangun dia berada pada dunia yang hanya ada di dunia dongeng saja?
‘’Gue dimana,'' gumam gadis itu, seraya melihat sekelilingnya tidak ada orang di sini, hanya ada bunga-bunga di tempat ini.
Nanda menutup matanya menggunakan kedua tanganya, karna cahaya dari depan begitu mengusik matanya.
Perlahan-lahan Nanda melepaskan tanganya, saat merasa cahaya itu sudah hilang.
Nanda melihat kedepan dan...
Deg...
Jantung gadis itu berdetak kencang, saat melihat sosok cowok yang beberapa minggu ini, tertidur tanpa membuka matanya, dia sedang berada di depanya, dia menggunakan baju serba putih, wajahnya begitu bersinar, senyuman melekat di wajah cowok itu.
''Gerald.'' Nanda tidak percaya, jika orang yang dia lihat di depanya adalah Gerald.
Nanda memperhatikan Gerald dari bawa hingga ujung, dia melihat cowok itu menggunakan jubah berwana putih, senyuman merekah di wajahnya. Senyuman yang selama ini Nanda lihat.
''Rald, kamu...'' gadis itu tidak mampu meneruskan perkataanya, perlahan-lahan dia mendekati Gerald, namun dia merasa aneh, karna dia tidak bisa menggapai Gerald.
‘’Rald, kok aku nggak bisa pegang tangan kamu, Rald. Kenapa malah tembus,'' Nanda heran tentunya, Gerald hanya senyum saja membuat Nanda makin bingung.
''Kamu nggak bisa sentuh aku, Ra.''
Nanda menggeleng. ‘’Kenapa aku bisa nyentuh kamu, Rald?''
Gerald tersenyum lagi. ‘’Karna aku sama kamu sekarang sudah beda dunia,'' jawab Gerald dengan senyuman melekat di wajahnya.
Deg...
Nanda menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan apa yang Gerald katakan barusan.
''Aku nggak ngerti kamu ngomong apa, Rald,'' kata Nanda lagi.
''Kamu tau apa yang aku maksud, tapi kamu nggak bisa menerimanya, Ra. Kamu harus tahu, kalau aku sama kamu itu sekarang sudah beda alam. Aku udah nggak berurusan lagi sama urusan dunia, karna aku sudah kembali ke tempat yang sebenarnya,'' jelas Gerald panjang kali lebar, membuat Nanda menggeleng seraya menitihkan air matanya.
Tidak, ini sangat sulit untuk di cernah.
''Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, Rald. Aku yakin, kamu masih hidup,'' balas Nanda.
''Aku udah nggak hidup, Ra. Yang di rumah sakit itu hanya raga aku, jiwa aku udah pergi, aku tersiksa mereka nahan aku di rumah sakit. Aku harap, kami bisa ngomong sama orang-orang untuk Lepasin aku. Terutama orang tua aku, Ra. Aku mohon, kamu bantu dia buat ikhlasin aku.''
Nanda lagi-lagi menggeleng, dia tidak ingin menrima apa yang Gerald barusan katakan.
''Kamu masih hidup!'' tangis Nanda. ‘’Aku nggak mau kamu pergi, Rald. Aku nggak mau. Aku nggak mau kamu ninggalin aku. Seharusnya kamu berusaha buat bangun, demi aku, orang tua kamu dan demi sahabat kamu. Mereka semua lagi nungguin kamu buat sadar,'' tangis Nanda dengan piluh, tanganya bergetar, ini seperti nyata bercampur dengan rasa mimpi.
__ADS_1
''Ra, aku udah Ngak ada urusan lagi sama dunia kalian. Aku udah berusaha buat buka mata aku, tapi aku nggak bisa buka mata aku, Ra. Aku merasa terlempar kesakitan kalau aku usahain buat buka mata aku, Ra. Aku menyerah, Ra. Sekarang aku paham, kalau aku udah benar-benar pergi dan udah nggak ada.''
''Aku berusaha buat buka mata aku, demi kamu, demi orang tua aku dan demi sahabat aku. Tetap saja, aku nggak bisa, Ra. Aku kesakitan kalau aku berusaha membuka mata aku.''
Mendengar penuturan Gerald panjang kali lebar, membuat Nanda semakin terisak.
''Nggak mungkin,'' ucap Nanda dengan lemah, Gerald ingin sekali memeluk gadis itu, namun apa boleh buat, dia sudah tidak bisa menyentuh Nanda seperti saat dia di dunia. Dunianya dengan Nanda sekarang berbeda.
''Kamu harus jaga diri kamu baik-baik, Ra. Meskipun aku udah nggak ada lagi. Kamu harus tetap semangat jalanin hidup kamu. Aku dari sini lihat kamu. Aku bahagia kalau kamu juga bahagia,'' ucap Gerald lagi membuat Nanda langsung bersimpuh dibawa.
''Aku nggak bisa, Rald. Aku butuh kamu. Kamu jangan pergi, kamu jangan ninggalin aku. Kamu adalah pelukan ternyaman aku, Rald. Jadi tolong....Jangan pergi!'' tangis Nanda dengan suara bergetar hebat membuat Gerald ibah dengan tangisan gadis itu.
''Jangan pergi, Rald,'' ucap Nanda dengan tubuh bergetar hebat.
''Jaga diri kamu baik-baik. Kamu harus ingat pesan aku, tolong suruh mereka lepaskan aku. Aku ingin pergi dengan tenang,'' ucap Gerald.
''Nggak!''
''Aku pergi, Ra.''
''Gerald! Jangan pergi ninggalin aku hiks!'' tangis gadis itu pecah, saat melihat Gerald sudah menghilang di depanya.
''GERALD! JANGAN TINGGALIN AKU!!!''
''Mbak.'' Seorang perawat datang membangunka gadis itu, karna dia menangis memeluk Gerald.
Nanda membuka matanya, merasa seseorang sedang membangunkannya membuat gadis itu membuka matanya, dia melihat seorang perawat tengah tersenyum padanya.
‘’Mbaknya mimpi,'' kata perawat itu membuat Nanda mengusap air matanya.
‘’Makasih sudah bangunin saya,'' ucap Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh perawat itu.
Nanda mengusap air matanya kasar, dia hanya menangis dalam mimpinya, karna melihat Gerald yang sudah pergi meninggalkan dirinya.
Mimpinya itu seakan-akan nyata, seakan-akan apa yang di katakan Gerald dalam mimpinya adalah sebuah kenyataan dan sebuah permintaan.
Nanda melirik Gerald, air matanya kembali membasahi kedua air matanya, perawat itu sedang mengganti cairan infus Gerald yang hampir habis.
''Rald...'' panggil Nanda dengan suara serak. ''Apa ini petunjuk dari lo? Apa lo tersiksa di sini?'' Air mata gadis itu luruh di kedua pipinya, melihat Gerald yang masih memejamkan matanya membuat Nanda menjadi takut.
Dia takut, jika apa yang di katakan Gerald dalam mimpinya adalah sebuah petunjuk, jika dia sudah tidak ada di dunia ini. Raganya memang berada di sini, tapi jiwanya sudah tidak ada.
Nanda kembali duduk di kursinya, dia menggenggam tangan kurus milik Gerald, tangan kekar yang sudah kurus. Nanda terisak menggenggam tangan Gerald, dia menundukkan kepalanya menangis, membuat perawat itu menjadi ibah.
Perawat itu bisa menebak, jika gadis itu adalah pacar cowok yang saat ini koma.
Perawat itu lebih dulu pergi, setelah dia berhasil mengganti infus milik Gerald.
Nanda mencium punggung tangan Gerald, air mata masih setia membasahi kedua pipinya saat ini.
''Apa kamu menderita di sini, Rald?'' tanya Nanda, ‘’kamu jangan menyerah. Aku yakin, kamu pasti masih bisa hidup, aku yakin kamu bisa buka mata kamu, dan lawan rasa sakit kamu,'' ucap Nanda seraya menggenggam erat tangan Gerald.
Nanda mengusap air matanya. Dia mengingat mimpinya tadi, mimpinya itu masih jelas dalam ingatannya.
Dia mencium kening Gerald, lalu gadis itu pergi dari ruangan Gerald, dia akan menemui orang yang akan menjawab pertanyaannya, siapa lagi kalau bukan dokter Boy, kakaknya sendiri.
Nanda berjalan di koridor rumah sakit, dia akan menghampiri Boy di ruanganya.
''Ruangannya kekunci, itu berarti Boy nggak ada di dalam,'' gumam Nanda.
‘’Cari siapa?''
Nanda membalikkan tubuhnya, dia melihat seorang dokter yang bisa Nanda tebak, usiannya sama dengan dokter Boy, kakaknya sendiri.
''Saya sedang mencari dokter Boy,'' ucap Nanda dengan kikuk.
‘’Ada perlu apa?'' tanya lagi dokter itu, tatapannya saja membuat Nanda tidak nyaman.
Nanda bisa melihat nama dokter itu di name tag miliknya, namanya adalah dokter Sasa.
''Saya hanya ingin bertemu dengan kakak saya. Ada yang ingin sampaikan,'' balas Nanda dengan sopan, bagaimanapun wanita di depanya jauh lebih tua darinya.
Dokter bernama Sasa itu diam sejenak.
‘’Dokter Boy lagi di ruangan operasi,'' ucap dokter Sasa.
''Terimakasih, dok.'' Nanda mengucapkan kata Terimakasih, lalu melenggang pergi meninggalkan dokter Sasa.
Gadis itu berjalan menuju ruangan operasi, dia akan menemui kakaknya di sana. Dia akan mengajukan seluruh apa yang dia alami sekarang. Karna dia yakin, yang bisa menjawab pertanyaan nya adalah kakak nya sendiri.
Nanda sudah sampai di ruangan operasi, dia melihat suster yang keluar dari ruangan operasi, lalu gadis itu menghampirnya.
''Suster,'' panggil Nanda, membuat pergerakan kaki suster itu terhenti.
__ADS_1
Dia tersenyum hangat pada Nanda, tentu saja dia mengenal gadis itu, dia adalah adiknya dokter Boy.
''Ada yang bisa saya bantu?'' tanya suster itu membuat Nanda mengangguk.
''Iya, sus. Apa dokter Boy ada di dalam? Saya mau ketemu, kalau dia udah nggak kerja lagi,'' ucap Nanda, meski kemungkinannya kecil, karna kalau Boy sudah tidak kerja, maka pria itu akan kembali ke ruanganya, bukan malah stay di sini.
‘’Sebentar ya, saya masuk cek dulu. Siapa tahu saja pekerjaan nya sudah slesai,'' pamit suster itu dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.
‘’Dokter,'' panggil suster itu, bersaman dengan Boy melepaskan sarung tanganya, karna dia baru saja melakukan operasi pagi ini.
''Hmmm,'' balas Boy dengan deheman, karna dia sibuk membersihkan tanganya itu.
''Ada yang ingin bertemu dengan dokter, dia lagi menunggu di depan,'' ucap suster itu.
‘’Suruh temui saya saat jam istirahat, saya ingin istirahat dulu,'' balas Boy.
''Tapi dok, yang mau bertemu dokter adalah Nanda, adik dokter sendiri,'' jelas perawat itu membuat pergerakan tangan dokterBoy terhenti.
Dia menyuruh perawat itu menyuruh Nanda menunggunya di ruangannya. Lebih dulu dia memberikan perawat kunci ruanganya untuk di berikan pada Nanda, karna gadis itu akan menunggunya di ruangan nya.
Setelah mendapatkan kunci ruangan Boy, Nanda kembali berjalan menuju ruanga Boy, dia akan menunggu Boy di sana untuk meminta penjelasan yang lebih detail mengenai kondisi Gerald saat ini.
Nanda membuka ruangan Boy, lalu kemudian gadis itu berjalan menuju tempat tidur Boy yang kecil, cukup untuknya tidur sebentar saat jam istirahat.
Nanda memejamkan matanya, menghirup udara dalam-dalam, apapun jawabnya, dia akan menerimanya dengan lapang dada.
Mimpi yang dia alami seperti nyata, dan Gerald memberikan nya amanah, ini mimpi bukan berarti Nanda langsung ingin mempercayainya.
Ceklek.
Boy datang, lalu kemudian pria itu menutup pintu ruanganya, dia duduk di kursinya seraya melirik Nanda yang berbaring diatas tempat tidurnya.
''Mau apa nemuin gue?'' tanya Boy, seraya membuka laptopnya. ''Jangan bilang, kalau lo mau minta izin lagi, buat nggak ke sekolah lagi,'' lanjut Boy melirik Nanda dengan tatapan penuh selidik.
Gadis itu tidak membalas ucapan Boy, dia bangun dari tempat tidur lalu menghampiri Boy, menggeser kursi hingga dia duduk berhadapan dengan Boy.
''Gue mau ngomong serius, bang.''
Pergerakan tangan Boy yang mengetik terhenti, dia menatap adiknya yang sedang menatap nya dengan penuh keseriusan di balik wajahnya itu.
''Mau ngomong apa lo?'' tanya Boy lagi.
''Kalau gue ngomong, tolong fokus ke gue. Laptopnya di matiin dulu, bang,'' desis Nanda membuat Boy tertawa kecil, lalu kemudian pria itu menutup laptopnya.
‘’Sepertinya yang mau lu omongin serius banget. Sampai-sampai mulut lemes lo itu panggil gue Abang,'' ejek Boy membuat Nanda memutar bola matanya malas.
‘’Gue emang mau ngomong penting,'' jelas Nanda lagi.
‘’Tentang papa?'' Boy mengetuk-ngetuk tanganya di meja, seraya menebak apa yang Nanda ingin bicarakan padanya.
Boy bisa melihat, wajah adiknya itu serius ingin membicarakan sesuatu.
''Gue nggak pedulikan papa lagi. Kalau dia mau bahagia sama keluarga barunya, itu hak dia. Asal dia bahagia, kita nggak perlu urus dia lagi. Mungkin aja, kebahagia papa terletak di keluarga barunya itu,'' ucap Nanda panjang kali lebar, membuat Boy langsung mengusap rambut adiknya.
‘’Adik gue udah dewasa. Pikiranya bahkan lebih dewasa dari gue,'' gumam Boy membuat Nanda lagi-lagi mendengus.
‘’Gue kesini bukan mau omongin papa. Gue kesini mau ngomongin tentang Gerald,'' jelas Nanda membuat Boy menaikkan alisnya sebelah.
‘’Gerald kenapa?''
''Gerald belum sadar sampai sekarang,'' balas Nanda. Dia menatap Boy dengan lekat, membuat Boy tidak berkutik dengan tatapan adiknya itu.
‘’Gerald emang belum sadar, karna kondisi dia emang kritis—''
‘’Kritis atau Gerald udah nggak ada?''
Deg...
Jantung Boy berdetak kencang, adiknya langsung memotong ucapanya.
''Ra...''
‘’Gue serius bertanya, bang. Gue yakin, ada yang lu tutupin dari gue,'' ucap Nanda dengan mulut bergetar, dia yakin ada yang Boy sembunyikan darinya saat ini.
Tentu saja yang di sembunyikan Boy adalah tentang Gerald. Karna dokter lah yang mengetahui segalanya setelah Tuhan.
''Lo ngomong apa sih, Ra. Apa yang gue sembunyikan dari lo,'' balas Boy seraya menyandarkan kepalanya di kursi.
Boy bisa mendengar adiknya sedang terisak, namun dengan cepat Nanda langusng mengusap air matanya itu.
''Bang...Gue ini adik lo. Gue mohon, hal besar jangan rahasiakan lagi ke gue, bang. Cukup rahasia papa yang lo jaga sampai gue nggak tahu, sampai akhirnya gue tahu sendiri. Gue nggak mau, masalah yang di alami Gerald bakalan gue tahu sendiri lagi,'' tangis Nanda, dia menundukkan kepalanya.
''Gerald baik-baik aja, Ra. Nggak ada yang perlu—''
__ADS_1
‘’Gue mimpi, bang. Gerald tersiksa.”
Deg...