
Koper milik Salsa tengah di masukkan kedalam mobil, ada sebanyak lima koper besar dan satu koper kecil berisi alat perawatan milik gadis itu. Tak henti-hentinya Salsa melirik ke rumah sebelah, siapa lagi kalau bukan rumah Rafael.
Apa yang gadis itu harapkan, jelas-jelas dia melihat Rafael berangkat sekolah. Padahal ia sangat-sangat berharap cowok itu mengantarnya menuju bandara. "Rafael nggak ada manis-manisnya," cemberut Salsa.
"Apa sudah tidak ada barang yang lain?" tanya sang supir, orang kepercayaan kedua orang tua Salsa untuk mengantar sang anak menuju bandara.
"Udah nggak ada, pak," jawab Salsa dan dibalas anggukan paham oleh sang supir.
"Satu jam lagi pesawat yang mengantar nona ke jepang akan lepas landas," ujar sang supir membuat Salsa hanya mengangguk saja.
Salsa juga sudah siap dengan styles menuju bandara, gadis itu memakai celana jeans di padukan sepatu berwrna coklat senada dengan baju rajut mahal yang dia kenakan, styies yang sederhana tapi barang yang ia pakai merupakan barang branded. Kacamata hitam ia jadikan separti bando diatas kepalanya, siap untuk ia pakai, tas berwarna coklat yang ia pakai berisi ponsel, atm, paspord dan kartu identitas lainya. Rambutnya yang panjang ia gerai membuat gaadis itu makin cantik.
"Kalau non Acca udah sampai jepang, jangan lupa kabari bibi ya, non," pinta wanita paruh baya yang sudah mengurus Salsa dan rumah yang ia tempati sejak Salsa kecil.
"Ia, bi." Slsa langsung memeluk sang bibi, membuat wanita paruh baya itu menitihkan air matanya.
Salsa akan ke jepang, itu berarti tugasnya sudah selesai di sini, rumah mereka di jakarta akan mereka jual, karna keluarga Salsa akan menetap di jepang.
"Bibi juga ya, kalau bibi udah sampai di kampung, jangan lupa kabari aku," kata Salsa dan dibalas anggukan kepala oleh sang bibi.
Sementara sang supir masih menunggu kedua perempuan menyudahi obrolanya.
"Kapan non Acca pulang ke indonesia?" suara bibi bergetar hebat, sebagai wanita yang sudah dekat dengan Salsa, tentu saja dia merasakan ketidakrelaan gadis itu pergi. Kemungkinan besar gadis itu tidak akan balik ke indonesia lagi, karna rumah yang mereka tempati akan segera di jual.
Salsa hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sang bibi, dia melepaskan pelukanya lalui memegang pundak wanita paruh baya itu. "Aku nggak tahu kapan aku balik kesini lagi," kata Salsa dengan suara menahan tangis, "tapi aku janji sama bibi, aku akan kesini nemuin bibi, sahabat aku dan...." Salsa menjeda ucapanya lalu tersenyum lebar, " orang yang aku cintai, Rafael."
__ADS_1
Salsa menatap rumahnya yanng akan dia tinggali, gadis itu berharap orang yang membeli rumahnya bukan seorang wanita yang mempunyai anak gadis. Sungguh, Salsa tidak rela jika kamarnya kelak di pakai oleh gadis lain yang berhadapan langsung dengan kamar Rafael, karna Salsa yakin, siapapun permpuan yang melihat Rafael akan jatuh cinta.
Lalu kemudian Salsa menatap rumah Rafael, "bi, kalau Rafael udah balik sekolah, kasi ini ke Rafael ya bi." Salsa mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Salsa langsung memberikan sebuah jam tangan pada bibi, untuk dia berikan pada Rafael, "bibi harus pastiin jam tangan ini di ambil sama El. Jangan sampai jam tanganya malah di buang," kata Salsa dengan tawa renyah.
"Baik, non." Bibi langsung mengambil jam tangan itu.
Salsa tinggal menunggu kedatangan para sahabatnya, karna sosok sahabat yang akan mengantar nya menuju bandara, padahal dia berharap Rafael mengantrnya juga, jangan `kan mengantrnya, mengucapkan selamat tinggal saja tidak, sangat miris bukan?
Senyuman di wajah gadis itu terbit, saat melihat mobil Cika singgah di depan pagar rumahnya, ketiga gadis di dalam mobil itu turun dengan cepat, lalu dia menubruk tubuh Salsa dengan pelukan erat.
"Sal, lo beneran jadi pindah ke negara orang?"Puri langsung menangis sesegukan di dalam pelukn Salsa, "gue pikir, lo cuman bercanda, Sal."
"Gue nggak nyangka, lo bakalan pindah sekolah ke negeri orang," timpal Pute seraya mengusap air matanya itu.
"Bukan kok, aku pindah karna mama sama papa pekerjaanya udah netap di jepang," jawab Salsa jujur, jika boleh jujur Salsa tidak rela pergi dari sini, apa lagi dia belum mendapatkan cinta sahabatnya itu.
Sementara Cika masih diam, karna semalam dia sudah menangis karna sepupu keras kepala nan polos itu akan pergi meninggalkanya, mereka tiak ingin melepskan pelukanya dari Salsa.
"Kalian jangan lupain aku ya," kata Salsa seraya tersenyum nakal.
"Kata-kata itu seharusnya buat lo, Sal," ujar Pute seraya mengusap air matanya, "make up gue sampai luntur gara-gara nangisin lo, awas aja lo lupain kita," ancam Pute.
Mereka lagsung tertawa, namun tidak dengan hatinya.
__ADS_1
"Ci," panggil Salsa karna sepupunya itu sedari tadi hanya diam saja.
Cika langsung memeluk Salsa, air mata yang sedari tadi dia tahan, mendobrak untuk segera di keluarkan, padahal semalam Cika sudah latihan agar tidak cengeng di depan sahabatnya. Tentu saja latihanya hanya sia-sia, karna saat ini ia tengah menangis tanpa suara, lebih tepatnya lagi suara tangis Cik nampak samar, tidak seperti tangis milik Pute dan Puri.
"Gue masih nggak rela lo ninggalin gue, Sal. Nggak ada lagi orang yang buat darah gue mendidih," kata Cika sesegukan membuat ketiga sahabatnya tertawa, tentu sajan mereka paham dengan ucapan Cika barusan.
Ini pertama kalinya mereka melihat Cika menangis. Cika melepaskan pelukanya, lalu mengusap air matanya dengan kasar.
"Make up aku juga luntur gara-gara kalian," tawa Salsa dengan air mata menampung di kelopak matanya.
"Janji ya, Sal, jangan lupain kita," kata Puri lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Salsa.
Rasanya sangat berat Salsa meningglkan sahabat terbaiknya, tapi ini semua demi kebaikanya, menurut sang mama dan papa.
"Kesya nggak ikut ya," kata Salsa dengan lesuh dan dibalas gelengan kepala oleh Pute.
"Gue udah ajak, tapi dia malas ikut," kata Pute dan dibalas anggukan paham oleh Salsa.
Salsa menatap ketiga sahabatnya, sepertinya ada yang kurang tapi Salsa lupa.
"Lo nyariin Nanda?" tebak Cika membuat Salsa langsung tahu apa yang kurang saat ini.
"Iya, kok dia nggak ikut, apa hari ini dia nggak ke sekolah lagi?" tanya Salsa memastikan dan dibalas anggukan kompak ketiga gadis itu.
"Udah tiga hari dia nggak ke sekolah, nggak ada kabar dari dia juga. Gue sama yang lain udah hubungin Nanda, tapi nomornya nggak aktif, sosmednya juga terakhir aktif tiga hari yang lalu. Bahkan pesan wa yang kita kirim ke Nanda masih setia centang satu," kata Puri, karna Nanda seperti hilang dibawa angin.
__ADS_1
"Kalian nggak kerumah nya? Siapa tahu aja dia sakit,"kata Salsa.
"Tadi kita kerumah Nanda, buat ajakin dia ngantar lo ke bandara, tapi rumahnya kosong," timpal Cika.