
Cika dan Salsa sedang melihat Kesya duduk diatas bansal, di suapi makanan oleh mamanya Raisa.
Cika dan Salsa menyalami tangan Raisa. ''Puri, Pute sama teman baru kamu mana?'' tanya Raisa.
''Namanya Nanda, Tan. Entar malam dia baru kesini, soalnya nggak ada yang nemenin mamanya di rumah,'' ucap Salsa. ''Kalau Puri sama Pute bentar lagi kesini,'' lanjutnya dan dibalas anggukan kepala oleh Raisa.
''Sya, gimana keadaan lo?'' tanya Cika menghampiri sahabatnya itu.
''Gue udah baikan,'' jawabnya dengan senyuman tipis, meski bibirnya masih agak pucat.
Salsa dan Cika langsung memeluk Kesya, bagaimanapun kesalahan yang Kesya lakukan, mereka tetap sahabat.
Cika dan Salsa akan membahas ini, setelah Kesya lebih membaik dari ini.
''Mama tinggal dulu ya, Sya. Sahabat kamu udah ada di sini. Mama mau keluar sebentar,'' ucap Raisa dan dibalas anggukan kepala oleh Kesya.
Raisa keluar dari ruangan Kesya, bertepatan dengan munculnya Boy, membuat wanita itu terkejut.
Boy bersedekap dada kearah Raisa. ‘’Gimana rasanya jadi pelakor?''
Pertanyaan itu langsung di ajukan Boy kepada Raisa.
''Mau apa kamu kesini, Hah.''
''Saya sudha menyuruh kepala rumah sakit ini, agar bukan kamu yang menangani anak saya!'' geram Raisa.
‘’Santai aja,'' ucap Boy dengan meledek kearah Raisa.
''Pergi kamu dari sini!'' usir Raisa dengan suara keras, membuat ketiga gadis itu menatap satu sama lain.
''Biar gue cek,'' ucap Cika, lalu melenggang untuk segera keluar.
Ceklek
Pintu ruangan Kesya dibuka oleh Cika, sehingga Cika bisa melihat mamanya Kesya masih berada di sini.
‘’Dokter,'' gumam Cika, melihat ada dokter Boy di sini.
Boy tersenyum ramah kearah Cika. ‘’Gimana kondisi sahabat kamu?'' tanya Boy.
''Kondisi Kesya udah baik, dok,'' jawab Cika.
''Yasudah, saya pamit dulu. Disini panas,'' ucapnya dengan sinis, seraya melirik Raisa dengan tatapan sinisnya untuk pelakor.
Disini dingin, namun Dokter Boy mengatakan panas. Boy langsung pergi, begitupun dengan Raisa, lalu kemudian Cika kembali masuk kedalam ruangan Kesya.
''Ada apa diluar, Ci?'' tanya Salsa dengan rasa penasarana, karna dia mendengar dengan jelas suara milik Raisa tadi.
''Dokter Boy,'' jawab Cika. ''Mungkin lagi ngomongin kondisi Kesya,'' jawab Cika dan dibalas anggukan kepala oleh Salsa.
''Gue tidur dulu, gue ngantuk,'' ucap Kesya dan dibalas anggukan kepala oleh Cika dan Salsa.
Ceklek
Kesya, tidak jadi menutup matanya, Cika dan Salsa langsung melihat kearah pintu yang dibuka.
__ADS_1
Rupanya yang datang adalah Puri dan Pute.
‘’Kalian udah dari tadi di sini?'' tanya Pute.
''Baru-baru kok,'' jawab Salsa.
Sementara Puri menatap Salsa dengan tatapan sinis, membuat gadis itu tersenyum hangat kearah Puri, dia pikir gadis itu sudah melupakan soal kemarin, namun ternyata dia salah.
''Ri...'' Salsa menghampiri Puri di kursi sofa, sementara Pute mengobrol kecil dengan Kesya, lalu gadis itu mulai tidur.
''Kamu masih marah sama aku?'' tanya Salsa, seraya duduk di dekat Puri.
''Menurut lo?'' bukanya menjawab, Puri malah balik bertanya.
‘’Jangan marah terlalu lama, Ri. Gimanapun kita adalah sahabat,'' ucap Salsa membuat Puri tersenyum sinis.
''Nggak ada sahabat yang belaian rival sahabatnya sendiri,'' sindir Puri.
Salsa memilih untuk diam, jika membahas mengenai hal ini. Dia tidak mau berdebat dengan Puri seperti kemarin.
''Intinya, aku minta maaf. Soal kamu maafin aku atau nggak, itu kembali dari kamu lagi. Yang pasti, aku tulus minta maaf sama kamu, karna gimanapun kita adalah sahabat, Ri.''
🦋
Ardian mengacak rambutnya frustrasi, sudah satu jam dia mencari Tari, namun dia belum menemukan dimana Tari.
''Gue dapat petunjuk.'' Leo datang menghampiri sahabatnya, saat ini mereka sedang di markas.
‘’Buruan bilang,'' tuntut Ardian dengan tidak sabaran.
‘'Lu serius?'' tanya mereka berempat, dan dibalas anggukan kepala oleh Leo.
''Mama lo di bekap di gudang lama.'' Lepas itu, mereka langsung meninggalkan markas.
Sedari tadi Ardian mengepalkan tanganya, nama Fatur sukses membuat darahnya mendidih saat ini.
Jangan tnya, dimana Leo mengetahuinya. Dia mampu menghac ponsel milik Fatur, sehingga dia tahu mengenai ini.
‘’Lo yakin ini tempatnya?'' tanya Rafael, setelah mereka sampai di depan gedung luarnya sudah terbengkalai.
''Iya,'' jawab Leo.
Lalu mereka melepaskan helmnya, lebih dulu Ardian berjalan. Mereka berlima bisa melihat tangan Ardian terkepal hebat.
''Fatur! Keluar lo!''
Teriakan Ardian masuk kedalam gendang telinga milik Fatur dan Tari. Fatur tersenyum sinis, karna Ardian bisa tahu keberadaannya di sini.
''Fatur emang vngke, masa mamanya Ardian yang di culik. Padahal yang punya urusan kita sama dia,'' decak Izam.
''Sih Fatur emang cari kelemahan, dasar anak...'' Izam langsung membekap mulut Ethan, agar cowok itu tidak meneruskan ucapanya.
BRAK...
Ardian menendang pintu usam itu, sehingga pintu tersebut langsung terbuka dengan satu kali tendangannya.
__ADS_1
Ardian mengepalkan tanganya, saat melihat Fatur, lalu matanya melirik kearah kiri, mamanya ada di sana, di kursi dengan tubunya di ikat tali.
''Ardian,'' panggil Tari.
Dia bisa melihat di wajah anaknya itu penuh dengan kemarahan, apa lagi Fatur sudah menculik namanya.
''Akhirnya lo datang juga, tanpa gue minta,'' ucap Fatur seraya bersedekap dada membuat Izam menghentakkan kakinya kesal.
Rafael juga menatap tajam Fatur, mamanya Ardian sudah baik padanya, setiap dia masuk rumah sakit, kedua orang tua Ardian yang datang dan mengurus semuanya.
‘’Banyak omong lo!'' Ardian melangkahkan kakinya mendekati Fatur.
BUGH....
Fatur sampai terlempar karna tendangan Ardian, membuat Tari melotokan matanya dengan tindakkan Ardian.
Fatur meringis, tubuhnya menubruk benda usam yang ada di gudang ini. Ardian melangkahkan kakinya mendekati Fatur, tanganya masih terkepal hebat, sementara Rafael dan yang lainya melepaskan ikatan Tari.
‘’Tante nggak apa-apa?'' tanya Rafael dan dibalas gelengan kepala oleh Tari.
''Tante baik-baik aja, nak,'' jawab Tari.
''Gerald, kamu hentikan Ardian ya. Jangan sampai mereka berdua terluka satu sama lain,'' pintah Tari membuat Gerald diam sejenak lalu kemudian mengangguk mengiyakan ucapan Tari.
''Anak sialan lo!''
BUGH
Fatur langsung memberikan bogeman pada wajah Ardian.
Tari menutup mulutnya, saat Fatur memukul wajah Ardian.
BUGH
Tentu saja Ardian tidak tinggal diam, dia membalas pukulan Fatur lebih pedis lagi.
BUGH...
BUGH...
BUGH...
Ardian dan Fatur memberikan pukulan satu sama lain, Ardian berhasil membuat Fatur di bawa kungkuhanya.
Mereka bergantian dibawa, namun rupanya Ardian sangat bar-bar, membuat Fatur kewalahan.
Gerald hanya diam, karna kode dari Rafael.
Biarkan Ardian memberikan pelajaran kepada Fatur, karna cowok itu sudah menyekap mamanya di sini.
Wajah Fatur dan Ardian sudah sama-sama lebam. Namun, wajah Fatur jauh lebih lebam dari wajah Ardian.
''Ardian, hentikan!'' Suara Ibnu, tidak mampu membuat pergerakan tangan Ardian terhenti.
‘’Hentikan Ardian, dia kakak mu!''
__ADS_1