ARDIAN

ARDIAN
Ancaman


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Boy pamit pada sang mama untuk mengantar Greta pulang.


Mereka berdua mencium punggung tangan Gina, lalu berlalu pergi saat perawat datang untuk menemani Gina.


Boy mengatakan pada mama nya, jika sebentar malam dia akan kembali, namun Gina mengatakan tidak perlu, karna ada perawat yang akan menjaganya. Gina menyuruh Boy untuk menjaga adiknya saja di rumah.


Greta masuk kedalam mobil Boy, lalu mobil pria itu melaju meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan tidak ada yang mengeluarkan suara.


Setelah ucapan Gina yang membuat Greta menjadi sedikit syok. Seharusnya dia tidak syok begini, karna ia sudah tahu dari Boy, jika mereka akan menikah secepatnya, tidak menunggu dirinya lulus.


"Mikirin ucapan mama?" tanya Boy melirik Greta sebentar, lalu matanya kembali fokus menyetir, "seharusnya kamu nggak syok begitu, karna kamu sudah tahu dari saya," lanjut Boy dengan tawa kecilnya. "Karna mama saya menginginkan saya menikah cepat."


Yah, Greta tahu. Hanya saja mendengar dari mulut Gina secara langsung membuat nya sedikit awakrd.


Greta hanya diam, tidak menggubris ucapan Boy lagi. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di rumah sederhana yang di tempati gadis itu.


Boy langsung melajukan mobilnya kembali untuk segera pulang, sudah tiga jam lamanya dia meninggalkan rumah.


Mobil pria itu memasuki pekarangan rumah, dia masih melihat mobil teman adiknya masih ada di sini. Itu berarti teman adiknya masih di dalam.


"Teman-teman Ara tinggal, Bi?" tanya Boy setelah masuk kedalam rumah, melihat Bibi sedang memasak makan malam.


Pria itu mengambil minuman didalam kulkas, lalu dia meneguk nya hingga tandas.


"Mereka tinggal," jawab Bibi, masih setia meracik bumbu untuk membuat ayam opor. "Makanya Bibi masak banyak, untuk makan malam," lanjut Bibi.


"Kalau gadis yang pakai jepitan rambut itu udah pulang atau belum? tanya Boy, pria itu mendudukkan tubuhnya diatas kursi kayu meja makan.

__ADS_1


" Iya. Semuanya masih lengkap. Namanya itu Kesya. Biar Bibi ingatin kalau lupa. Cewek cantik kok malah namanya di lupa terus," kata Bibi dengan tawa kecilnya, niatnya sih bercanda.


Bibi itu memang tahun soal pernikahan sang tuan, hanya saja wanita baya itu tidak tahu jika itu adalah anak Iksan dari istri keduanya.


"Namanya nggak penting, bi," jawab Boy acuh. Lalu kemudian pria itu beranjak dari tempat duduk nya.


Ia berjalan menaiki anak tangga, dia akan mandi karna tubuhnya sangat lengket.


Baru saja Boy ingin membuka pintu kamarnya, dia melihat gadis yang ia benci keluar dari kamar Nanda.


Siapa lagi kalau bukan sih Kesya, anak dari pelakor yang Boy benci.


Boy menatap Kesya, begitupun sebaliknya. Sehingga mereka berdua beradu pandang. Meski mereka masih saudara, namun Boy tidak sudih untuk mengakui Kesya sebagai adiknya juga, adiknya hanya satu. Hanya Nanda saja.


Boy bersedekap dadah kearah Kesya, "jangan macam-macam lo sama adik gue." Suara Boy pelan, namun tidak mengurangi ketegasan nya dalam berbicara.


Tanpa berniat membalas ucapan Boy, gadis itu langsung berjalan melewati Boy. Namun tangannya langsung di cekal oleh Boy.


Dalam jarak yang sangat dekat, Boy mengunci mata Kesya, memberikan peringatan pada gadis itu agar tidak macam-macam.


"Apa yang lo rencanain anak pelakor!"


Kesya merasakan sakit di pergelangan tangannya, karna Boy memegang nya begitu erat.


"Lepasin tangan gue!" Keduanya berusaha tidak bersuara keras, agar mereka di dalam kamar Nanda tidak mendengar nya.


"Apa yang lo maui hah? Jangan ganggu adik gue dengan rencana lo nanti! Gue izinin lo nginjek rumah ini, bukan berarti gue diam!" Boy menatap manik mata Kesya yang menatap nya tanpa rasa takut. Dia melihat mata gadis itu sama seperti mata milik Nanda, mata yang jika di tatap membuat lawan bicara nya akan luluh. Boy langsung menghempaskan tangan Kesya dengan kasar. Pikiran dan matanya bermasalah, hingga dia melihat yang di miliki Nanda ada Kesya juga.

__ADS_1


Gadis itu mengusap pergelangan tangannya yang perih, cekalan tangan Boy yang kuat, sukses membuat tangannya memerah.


"Gue nggak punya niatan apa-apa! Terserah kalau lo nggak percaya. Emangnya lo siapa yang harus gue tunjukin dengan bukti, kalau gue nggak rencanain sesuatu buat adik kesayangan lo itu!" gerundel Kesya dengan menahan sakit di pergelangan tangannya. Jangan lupa, gadis itu menekan kata 'adik kesayangan' dia juga tidak menganggap Boy sebagai kakak. Karna ia tahu, pria itu tidak sudi mengakui nya.


Kesya tidak peduli itu, selama dia mempunyai Iksan dan Raisa, dia tidak membutuhkan siapa-siapa, termasuk kakak dan adik yang ia punya.


"Lo itu cuman aib di dunia ini. Lo itu tercipta dari hubungan yang haram. Semesta nggak harapin kehadiran lo di dunia ini. Karna kehadiran lo di dunia ini, suatu aib yang sangat besar. Aib yang seharusnya di kubur, tidak menampakkan diri!" Boy tidak peduli, jika gadis itu terluka. Karna itu yang ia harapkan. "Anak haram kayak lo, nggak pantas nginjek rumah ini."


"Lo sama nyokap lo yang ***** itu, nggak punya harga diri buat di hargain," lanjut Boy dengan menekan kata-katanya itu.


Wajah Boy memerah, ucapan Kesya yang tadi sudah terbukti, jika gadis itu punya niatan buruk untuk Nanda.


Jika wajah pria itu selalu ramah, kini wajah itu menahan emosi yang memuncak untuk Kesya. Andai saja Kesya bukan perempuan, sudah di pastikan Boy sudah menghajar nya.


Tapi setidaknya dia merasa sedikit legah. Meski dia tidak bisa menyakiti Kesya dengan kekerasan, namun dia berhasil menghina gadis di depan nya.


Wajah Kesya pun sama merahnya, Boy menghina nya atas kesalahan orang tuanya. Dia tidak memikirkan perasaannya.


Sudah ia katakan, jika tidak ada yang peduli padanya. Hanya Iksan dan Raisa saja.


"Kalau lo macam-macam sama Nanda. Lo bakalan berurusan dengan gue!" lepas itu Boy langsung masuk kedalam kamarnya, membuat Kesya mengepalkan tangannya.


"Bukan cuman Nanda adik lo, gue juga adik lo." Mata Kesya memerah menahan tangis. Dia tidak peduli jika Boy tidak menganggap nya, karna ia tahu dia hanya aib di dunia ini.


Tapi apakah perlu menekankan kata seperti itu, smentara ia juga seorang adik?


Kesya menarik nafasnya panjang, melirik tangannya sejenak lalu kembali melangkah.

__ADS_1


Gadis itu ingin mengambil minum di dapur, dan tidak sengaja ia bertemu Boy saat pria itu ingin masuk kedalam kamarnya. Andai saja Kesya bisa menahan beberapa menit, mungkin dia tidak bertemu Boy dan tidak akan menerima asupan menyakitkan dari pria itu.


__ADS_2