ARDIAN

ARDIAN
Sebuah Peringatan


__ADS_3

Lepas makan bubur, gadis itu langsung meminum obat yang di berikan dokter Ivan. Dia masih menunggu Boy, kata Ardian subuh tadi Boy pergi keruangan miliknya, mungkin dia ingin tidur-tiduran di sana.


"Gimana perasaan kamu, udah baikan?" tanya dokter Ivan seraya tersenyum memesona pada Nanda.


"Udah baikan dok," jawab Nanda tak kala ramahnya kepada Dokter tampan di depanya, "jadi aku bisa pulang sekarang `kan dok?" tanya Nanda, dia tidak ingin berlama-lama di rumah sakit.


Dia akan menjenguk sang mama, ketika infus di tanganya akan terlepas. Tidak mungkin `kan jika dia ke kamar mamanya dalam keadaan seperti ini, ingin mencabut selang infus itu seorang diri, namun dia takut jika Boy dan Ardian akan marah padanya.


"Kamu boleh pulang hari ini, jika abang kamu menyetujuinya," ucap dokter Ivan dengan senyuman jahil pada gadis itu, Baru sebulan ini, Dokter Ivan tahu, jika rekanya itu mempunyai adik secantik Nanda.


Nanda membalasny dengan tawa kecil, jika kondisinya tidak baik menurut Boy, maka dia akan tetap di rawat dirumah sakit. Nanda jujur, jika dia benar-benar sudah baikan sekarang, bukan bohongan belaka.


"Dokter Ivan nggak ada pasien?" tanya Nanda, karna sudah sepuluh menit lebih mereka mengobrol. Menurut Nanda, Dokter Ivan lumayan asik untuk diajak ngobrol.


"Nggak ada," jawab dokter Ivan. "Lebih tepatnya lagi dokter Sasa yang menghandel pekerjaan saya untuk satu minggu kedepan," jelas dokter Ivan dan dibalas anggukan paham oleh Nanda.


"Boy sudah tanya ke kamu, siapa itu dokter Sasa?" tanya Ivan membuat Nanda menaikkan alisnya sebelah. Sejauh ini, dia tidak pernah mendengar Boy membahas seorang wanit, terkecuali Greta.


Nanda kenal dengan dokter Sasa, meski mereka tidak akrab, setahunya dokter Sasa adalah rekan kerja Boy di rumah sakit ini. Tidak ada yang spesial dari dokter Sasa karna Boy tidak pernah bercerita mengenai wanita itu padanya maupun pada mama Gina.


"Nggak pernah, mungkin dokter Sasa bukan siapa-siapa untuk Abang aku, karna selama ini dia nggak pernah bahas soal dokter Sasa, dia cuman bilang kalau dokter Sasa itu rekan kerjanya drumah sakit, sama seperti dokter Ivan," jelas Nanda membuat Ivan mengangguk-angguk kecil. "Emang kenapa?" tanya Nanda dengan rasa penasaran.


"Dokter Sasa itu suka sama abang kamu itu, tapi Boy cuman acuh kalau dokter Sasa mendekatinya," jelas Ivan. "Saya pikir kamu sudah tahu."


Nanda baru tahu soal ini jika dokter Sasa menyukai abangnya  itu.


"Jelas aja abang aku nolak dokter Sasa, karna dia udah punya tunangan," kata Nanda membuat Ivan terkejut. Bagaimana bisa rekanya itu sudah bertunangan tapi tidak mengatakan hal apapun jika dia akan melepas masa lajangnya itu.


"Kamu serius?" Ivan masih tidak terlalu percaya.

__ADS_1


"Aku serius, mana mungkin aku bohong sama dokter Ivan," kata Nanda lagi.


"Tunanganya sama siapa?"


"Rahasia."


"Kok main rahasi--"


Ceklek.


Pintu ruangan Nanda terbuka, memunculkan sosok laki-laki yang beroaras tampan. Mata tajamnya menatap Ivan dengan tatapan intimidasinya, saat dia pergi ke apotek mengambil obat dia meninggan dokter Ivan di sini. Dia pikir saat dia pikir saat dia kembali dokter itu sudah tidak ada di sini. Ternyata dugaan Ardian salah, karna dia masih menetap di sini.


Sudah tiga puluh menit dia pergi, itu berarti selama itu juga dokter Ivan ada di sini . Apa saja yang mereka obrolkan selama itu?


"Pacar kamu sudah datang, saya tinggal dulu ya," pamit Ivan dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda di selingi dengan ucapan terimakasih itu.


Ivan bertatapan dengan Ardian, dia memberikan senyuman pada cowok itu, namun ekspresi wajah Ardian tetap datar. Untung saja dokter itu tidak mudah tersinggung sehingga dia masa bodoh. Tapi jujur saja, dia lumayan takut dengan tatapan tajam cowok tampn itu.


"Cuman basah basih doang," jujurnya pada Ardian.


"Kenapa lo nggak pulang? Hari ini kita sekolah, nggak ada libur," kata Nanda saat melihat Ardian menggeser kursi lalu cowok itu duduk di samping bansal kamar yang ia tempati.


"Mau jagain lo dulu. Lagian gue udah minta izin sama kepala sekolah," jawab Ardian dengan santai.


"Bolos sama alpa lo udah banyak, Ar."


"Iya, gue tahu."


"Gue juga udah baikan, jadi lo nggak usah khawatir," kata Nanda lagi.

__ADS_1


"Emangnya salah kalau gue khawatir sama lo? Lo nggak lupa `kan, kalau kita pacaran. Gue punya hak buat khawatirin lo."


Nanda menarik nafasnya panjang, lalu kemudian mengembuskanya perlahan-lahan, "lo nggak lupa `kan, kita pacaran karn--"


"Nggak usah di terusin, Nan, gue bakalan ingat itu, gue nggak akan lupa," ujarnya dengan bersungguh-sungguh.


"Gue harap lo nggak jatuh cinta sepenuhnya dengan gue, Ar. Gue khawatir, nggak bisa balas perasaan lo itu," ucap Nanda dengan suara pelanya, dia tahu ucapanya itu akan melukai Ardian.


"Perasaan gue bukan urusan lo, Nan. Yang gue khawatirin, lo yang akan jatuh cinta sama gue, dan gue takut diri lo nggak akan terima itu," ucap Ardian dengan senyuman hangat.


Pertama kalinya Nanda melihat senyuman hangat cowok itu, dan ucapan Ardian barusan sukses membuat Nanda bungkam. Bagaimana jika ucapan cowok itu benar? Dan dirinya nggak akan menerima itu semua.


Ardian berdiri dari kursi yang ia duduki.


"Lo mau kemana?" tanya Nanda melihat Ardian langsung main pergi saja setelah mereka mengobrolkan hal ini.


Ardian menghentikan langkah kakinya, lalu menatap gadis itu yang tengah menatapnya juga, "gue mau sarapan dulu, gue lapar, lo nggak apa- apa `kan gue tinggal sendiri?"


Nanda langsung menggeleng, tanda dia tidak apa-apa jika ia sendiri di sini.


Ardian melanjutkan langkah kakinya, saat ia keluar dari ruangan Nanda seseorang mencekal pergelengan tanganya, lalu Ardian melihat pelakunya.


"Lo buat perjanjian apa sama adek gue?" Boy bertanya dengan suara rendah, namun tidak mengurangi ketegasanya dalam berbicara. Karna saat ini, Boy sedang dalam mode serius karna ini menyangkut adiknya.


Jujur saja, dia tidak sengaja mendengar obrolan Nanda dengan Ardian, tadinya dia pikir pembicaraan mereka tidak serius, namun ternyata dugaanya salah.


"Yang jelas, bukan hal yang merugikan, Nanda," kata Ardian takkala seriusnya engan Boy.


"Gue nggak tahu, gimana proses lo dapetin adek gue," terang Boy, dia saja masih tidak percaya curut seperti Ardian akan mendapatkan hati adiknya, karna sejujurnya Boy tidak mendengar jelas obrolan mereka berdua, namun satu hal yang Boy ketahui, adiknya dan Ardian membuat suatu perjanjian saat mereka memutuskan untuk pacaran.

__ADS_1


Apa hubungan Nanda sama seperti hubungaya, salah satu dari mereka ada yang sangat beruntung. Boy tidak mau, jika sampai Ardian akan memanfaatkan adiknya.


Boy melepaskan tanganya dari pergelangan tangan Ardian, lalu berucap, "jangan manfaatin adik gue, di dalam hubungan kalian berdua, karna gue tahu gimana otak cowok bekerja menyangkut perempuan."


__ADS_2