
''Fatur mana?'' tanya Tari, seraya membawa minuman sebanyak enam gelas, namun mereka sisa berempat, karna Fatur dan Naya sudah pulang.
''Udah pulang,'' jawab Ibnu.
‘’Kenapa nggak di sruh tinggal aja, Pa?'' tanya Tari, andai saja dia ada saat Fatur pulang, mungkin dia akan menahan anak itu untuk tinggal saja.
''Nggak akan mau, Ma. Makan malam aja papa udah Bersykur dia datang,'' ucap Ibnu, yang sudah mengetahui watak anaknya itu.
Tari tidak membalas ucapan suaminya lagi. Bahkan, Fatur datang makan malam bersama dengan mereka membuat Ibnu tidak percaya, jika anaknya itu akan datang atas permintaanya.
Fatur belum bisa mw menerima semuanya, jadi wajar saja jika dia masih cuek dengan keluarga Ibnu.
''Oleh-oleh untuk kamu bawa pulang,'' ucap Tari, menunjuk kearah paper bag yang dia letakkan diatas meja.
Ada dua paper bag, satunya untuk Naya, namun karna gadis itu sudah pulang, maka Nanda yang akan mengambil kedua paper bag berisi kue itu.
‘’Makasih, Tan,'' ucap Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Tari.
Ting...
Ponsel Nanda bergetar, menandakan adanya pesan masuk.
“Kata mama, lo makan malam di rumah teman lu. Sekarang lu share lock lokasinya, gue bakalan jemput.”
“Chatnya langsung di balas, jangan di diemin. Gue ini Abang lo, bukan fans lu.”
Nanda tertawa kecil membaca pesan yang di kirim Boy padanya. Sepertinya Boy pulang cepat. Karna dia ingin menjemput Nanda di
sini.
Ardian yang melihat Nanda tertawa, berpikir jika gadis itu sedang berkirim pesan pada Gerald.
Nanda langsung meng-share lock lokasinya pada Boy.
“Tunggu gue, dalam waktu lima menit gue bakalan sampai.”
Nanda membaca pesan dari kakanya itu, tanpa berniat membalasnya.
''Tante, om, nggak lama lagi Nanda akan pulang,'' ucap gadis itu.
''Kenapa cepat sekali?'' tanya Ibnu.
‘’Padahal tante masih mau kamu ada di sini. Tapi nggak apa-apa. Lain kali kamu kesini lagi, kamu tinggal kabarin tante aja, biar Ardian yang akan jemput kamu,'' ucap Tari dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.
‘’Biar Ardian yang antar kamu pulang, ini sudah malam. Karna Ardian juga yang jemput kamu,'' ucap Ibnu, dan dibalas anggukan setuju oleh Tari.
''Nggak usah, Om. Saya bakalan balik sama kakak saya,'' ucap gadis itu. ''Nggak lama lagi dia bakalan sampai,'' lanjutnya sehingga Tari dan Ibnu hanya mengangguk saja, karna Nanda sudah ada yang jemput.
Ting...
Nanda membaca pesan yang di kirim oleh Boy, rupanya pria itu sudah di depan, menunggu dirinya.
''Saya pamit dulu, om, tante. Kakak saya udah ada di luar,'' pamit Nanda, seraya berdiri dari kursi sofa yang dia duduki.
Menyalami punggung tangan Tari dan Ibnu, lalu gadis itu mengambil dua paper bag berisi kue untuk dia bawa pulang.
''Gue anter sampe luar,'' ucap Ardian berdiri dari tempat duduknya, membuat Tari tesenyum melihat Ardian.
Nanda ingin menolak, namun melihat senyuman Tari membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
Ardian sengaja mengantar Nanda sampai luar, dia hanya ingin memastikan, apakah gadis itu di jemput dengan Boy, atau hanya sekedar fiktif belaka saja.
''Mama tanyain lo soal yang gue bahas di mobil tadi?'' tanya Ardian, berjalan beriringan dengan Nanda untuk menuju gerbang.
Nanda yang sudah tahu maksud Ardian langsung mengangguk mengiyakan ucapan cowok itu.
‘’Terus lo jawab apa?'' tanya Ardian penasaran.
''Sesuai yang lo bilang,'' jawab gadis itu.
‘’Kalau mama lo sakit hati, jangan kasi masuk gue yah,'' ancam Nanda.
‘’Kalau nggak mau lihat mama gue sakit hati, mending kita jadian beneran,‘' ucap Ardian santai, namun Nanda hanya memutar bola matanya malas.
Dia baru kenal dengan Ardian, tidak semudah itu dia akan menberikan hatinya untuk cowok.
Ardian legah, melihat seseorang itu dari dalam mobil, dia membuka kaca mobilnya, sehingga Ardian bisa melihat jika yang datang benaran Boy.
Boy menatap Ardian sejenak, lalu kemudian menatap Nanda menentang dua paper bag.
‘’Gue duluan,'' pamit Nanda seraya membuka pintu mobil.
Ardian mengangguk mengiyakan ucapan gadis itu.
Lalu, mobil milik Boy langsung pergi meninggalkan gerbang rumah milik kedua orang tua Ardian.
''Sejak kapan Salsa berubah jadi Ardian?'' sindir Boy membuat Nanda cengengesan.
Karna, saat Nanda membawa kue dari rumah Ardian, Boy bertanya kue itu dari Mana, Nanda menjawab kue itu dari salsa.
Dan Boy tadi melihat isi paper bag itu, sama seperti kue yang di bawa Nanda saat itu.
‘’Gue nggak larang lo dekat sama Ardian. Cuman, Gerald tau nggak kalau lu dekat sama sahabatnya?'' tanya Boy membuat Nanda menggelengkan kepalnya, karna Gerald tidak tahu, jika akhir-akhir ini dia dekat dengan Ardian, lebih tepatnya cowok itu yang mendekatinya dan sempat menembak dirinya.
‘’Fokus sekolah dulu,'' ucap Boy, padahal mereka sedang tidak membahas mengenai sekolah, namun pria itu langsung mengucapkan kata untuk fokus sekolah dulu.
‘’Gue juga tahu,'' balas Nanda.
‘’Paper bag yang satunya lo simpan di mobil gue aja,'' ucap Boy membuat Nanda bergedik ngeri dengan ucapan saudaranya itu.
‘’Soalnya, kuenya enak,'' lanjut Boy dengan tawa kecil.
''Iya-iya.''
''Lo ambil ilmunya mamanya Ardian, biar bisa lo terapin di rumah, kue enak seperti mamanya Ardian,'' ucap Boy pada adiknya itu. ''Biar kalau gue sarapan nggak perlu di rumah sakit lagi,'' lanjutnya membuat Nanda tertawa dengan ucapan kakaknya barusan.
''Gue bakalan terapin,‘' ucap Nanda.
''Ok, gue tunggu janji lo itu.''
Mobil milik Boy telah memasuki pekarangan rumah, Nanda menyimpan paper bag yang satu di dalam mobil Boy, lali gadis itu turun dari mobil Boy.
Boy tersenyum melihat paper bag itu, besok jika kerumah sakit dan bertemu Greta, dia akan menberikan paper bag berisi kue itu untuk Greta.
‘’Kalau Ara sampai tahu, bisa habis gue di ledekin,'' gumam Boy seraya menggelengkan kepalanya kecil.
Boy turun dari mobil untuk segera masuk kedalam rumahnya, untung saja Gina menelfonya tadi, dengan alasan rindu, membuat Boy mencari keberadaan adiknya itu.
Dan Gina mengatakan, jika Nanda kerumah Ardian untuk makan malam. Karna kebetulan dia pulang cepat, jadi Boy sendiri yang menjemput adiknya, agar menghindari Ardian yang akan modus dengan adiknya.
Nanda membawakan paper bag berisi kue itu ke dalam kamar Gina, dia kembali mengatakan jika kue ini Buatanya bersama dengan mamanya Ardian.
Nanda sudah jujur saat itu, jika dia buat kue di rumah mamanya Ardian, bukan di rumah Salsa. Gina memperingati anaknya itu agar tidak mengulanginya lagi.
Pantas saja Gina merasa, saat memakan kue itu, membuatnya mengingat sahabatnya yang pandai buat berbagi jangan kue kering.
__ADS_1
Mengenai Nanda yang kemarin malam, ke rumah sakit tanpa memberitahukan Gina, wanita itu belum mengetahuinya, Boy juga tidak memberitahukannya.
‘’Kelihatanya kamu dekat sama Ardian,'' tebak Gina, seraya memakan kue itu, cita rasanya mengingatkanya kepada sahabatnya.
''Nggak juga sih, Ma. Ara lebih dekat sama Gerald aja,'' elaknya kepada Gina, dan dibalas anggukan oleh wanita itu, meski dia tidak yakin dengan ucapan Nanda.
''Kakak kamu mana, Ra?'' tanya Gina.
''Mandi kali,'' jawab Nanda.
Gina dan Nanda menikmati kuenya, seraya megobrol kecil, tiba-tiba Nanda mengingat papanya, membuat Gina menghentikan kue yang ingin dia masukkan kedalam mulutnya.
''Papa kapan pulang, Ma?''
Gina tersenyum kearah anaknya, ‘’entahlah.''
Jawaban dari Gina, membuat Nanda merasa jika mamanya tidak menunggu kepulangan suaminya sendiri.
''Ma...''
Gina mengusap rambut anaknya. Entahlah, sampai mana dia bisa menyembunyikan hal ini pada anaknya, biarkan saja Nanda mengetahuinya sendiri tanpa harus menceritakannya kepada anaknya.
Karna lambat laun nanti, Nanda akan mengetahui semuanya.
''Kamu tidur ya, Ra. Mama juga mau tidur,'' ucap Gina membuat Nanda mengangguk kecil.
‘’Selamat istirahat, Ma,'' ucap Nanda seraya mencium pipih milik Gina.
Gina juga mencium puncak kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
Nanda berpisah dengan mamanya, dia berjalan menuju kamarnya, pikiranya di penuhi dengan tanda tanya.
''Sebenarnya mama sama papa baik-baik aja nggak sih.'' Nanda bergumam, seraya membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur empuknya.
Menatap langit-langit kamarnya sebelum tidur, memikirkan mengenai papa dan mamanya. Beberapa hari ini, Nanda curiga kepada papanya, mengapa dia tidak pernah ke rumah baru mereka. Selama mereka pindah ke Jakarta.
Yang kedua, saat Nanda menelfon papanya. Sosok wanita yang mengangkat telfonya, membuat Nanda menjadi curiga saat itu.
Ketiga. Hari Valentine, papanya tidak datang memberikan mamanya hadiah atau sekedar jalan-jalan.
Dan yang ke empat, Nanda bertanya mengenai papanya tadi, jawaban Gina seakan-akan tidak mengharapkan kehadiran suaminya itu, untuk pulang kerumah.
Huft
Nanda menghembuskan nafas berat, dia semakin yakin, jika mama dan papa nya tidak baik-baik saja, namun Gina tidak bercerita mengenai ini.
''Baiklah. Gue yang bakalan cari tahu sendiri,'' gumam gadis itu.
Masalah keluarga, percintaan dan juga persahabatan. Menjadi satu dalam pikiran gadis itu.
Ardian mengatakan cinta padanya, entah itu serius atau hanya bualan semata. Dan sahabatnya Gerald, cowok itu menembaknya namun dia menolaknya. Baginya, Gerald itu sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri, dia tidak ingin merusak hubungan itu dengan kata pacaran.
Berulang kali gadis itu menghembuskan nafas berat.
‘’Cepat atau lambat, semua bakalan terjawab. Ma, Pa. Ara harap, mama sama papa, hubungannya baik-baik aja.'' Gadis itu memohon, meski dia sudah yakin jika doanya itu sudah meleset jauh.
Nanda mulai memejamkan matanya, dan mulai tertidur.
🦋
Kesya memohon kepada Iksan dan Raisa, agar hari ini dia berangkat ke sekolah. Dia sudah jenuh di rumahnya, dia ingin kembali ke sekolah bertemu dengan sahabatnya.
''Ayolah, Ma. Papa aja udah ngizin aku buat ke sekolah. Masa mama nggak mau,'' ucap gadis itu membuat Raisa mengembuskan nafas berat.
''Ma...'' Kesya merengek kepada Raisa, namun tetap saja Raisa tidak mengizinkan anaknya itu untuk ke sekolah hari ini.
Kesya melirik papanya, yang sedang meminum coffe dengan santai, seraya membaca koran.
''Pa....'' panggil Kesya dengan manja kepada papanya.
Iksan yang sudah tahu maksud Kesya, melirik istrinya yang asik bermain ponsel, sibuk chek out barang melalui aplikasi di ponselnya.
‘’Biarkan Kesya ke sekolah hari ini. Kondisi dia juga sudah membaik. Kasihan Kesya kalau kelamaan di rumah. Dia ingin ketemu sama teman-temanya,'' ujar Iksan, sehingga Raisa langsung melirik suaminya itu.
Kesya tersenyum bahagia, melihat papanya ingin membujuk mamanya, agar dirinya ke sekolah hari ini.
‘’Seharusnya kamu dukung aku, Mas. Karna aku larang Kesya ke sekolah karna kebaikannya juga,'' ucap Raisa kepada suaminya itu.
Karna apa yang dia lakukan memang untuk Kesya semata, dia tidak ingin melihat anaknya itu sakit, apalagi karna perbuatan orang lain.
''Kamu nggak kasihan lihat Kesya. Dia nggak semangat kalau terus-terusan di rumah,'' ucap Iksan membuat Raisa menarik nafasnya itu.
‘’Kesya boleh ke sekolah hari ini. Dengan satu syarat.'' Raisa memberikan syarat kepada suaminya. Agar Kesya hari ini ke sekolah.
Kesya menaikkan alisnya sebelah, seharusnya kalau ada syarat di ajukan padanya, bukan kepada papanya.
Tapi bodoh amatlah, yang penting dirinya ke sekolah pagi ini. Sayang banget, kan kalau sudah rapih begini, namun tidak jadi ke sekolah.
‘’Syaratnya apa?'' tanya Iksan, membuat Raisa tersenyum penuh arti kepada suaminya itu.
''Aku mau, kamu yang mengantar Kesya ke sekolah, sampai dia masuk ke dalam kelasnya.''
Iksan diam dengan syarat di ajukan oleh istrinya itu. Raisa tersenyum penuh arti kepada suaminya itu.
‘’Kenapa? Kamu nggak bisa, kan?'' tanya wanita itu, karna dia tahu suaminya tidak ingin mengantar Kesya ke sekolah, alasanya cukup kuat, karna dia tahu anak bungsunya sekolah di sekolah yang sama dengan Kesya. Dan di tambah lagi, mereka satu kelas. Namun Raisa tidak tahu, apakah anaknya itu berteman dengan anak suaminya di dalam kelas atau hanya sebatas orang asing saja.
''Ayolah, Pa. Cuman itu syarat yang mama ajuin untuk papa. Cuman anterin Kesya ke sekolah sampai Kesya masuk kedalam kelas,'' ucap Kesya, agar papanya mengiyakan permintaan mamanya itu.
‘’Lagian. Papa belum pernah anterin Kesya ke sekolah,'' tambah gadis itu, dengan suara yang sedikit lirih, karna memang kenyataanya seperti itu, Iksan tidak pernah mengantar dirinya.
Raisa yakin, suaminya saat ini bimbang.
Iksan takut, jika Nanda melihat dirinya ada di sini bukan di luar kota. Dia tidak mau, jika anak gadisnya itu membenci dirinya, seperti Boy yang sudah membenci dirinya dengan sepenuh hati.
‘’Ayolah, Pa. Nggak lama lagi Kesya bakalan masuk nih,'' ucap gadis itu, seraya mengecek jam di pergelangan tanganya.
‘’Kesya. Lebih baik kamu istirahat di kamar kamu. Hari ini kamu nggak ke sekolah. Papa kamu nggak akan mampu menuruti permintaan mama,'' ucap Raisa, menyuruh Kesya untuk kembali keatas kamarnya.
Karna dia yakin, Iksan tidak akan mengantar Kesya ke sekolah.
‘’Ayolah, Pa. Lagian. Papa juga nggak pernah nganterin Kesya ke sekolah. Sekali ini aja yah, Pa. Anterin Kesya ke sekolah, biar Kesya nggak tinggal di rumah,'' mohon gadis itu.
Iksan tidak tahu harus apa, di sisi lain dia takut jika Nanda akan melihat dirinya, di sisi lain, Kesya ingin ke sekolah. Iksan juga tidak pernah mengantar Kesya ke sekolah.
Jika Iksan berani mengantar Kesya ke sekolah, dia harus menerima segala konsekuensinya, jika dirinya akan ketahuan oleh anaknya sendiri. Yah, dia harus siap dengan kemungkinan besar ini yang akan terjadi.
Iksan tidak siap melihat Nanda membenci dirinya, cukup Boy yang membuatnya kepikiran keras mengenai anaknya itu, yang sudah membenci dirinya.
''Yaudah, kalau papa nggak mau,'' ucap Kesya dengan lesuh. Karna Iksan hanya diam saja, tidak menolak ataupun mengiyakan ucapan Raisa.
Kesya bersiap ingin pergi dari ruangan kelurga itu, meninggalkan mama dan papanya untuk segera ke kamarnya, namun Iksan langsung menghentikan langkah kakinya.
‘’Papa akan antar kamu.''
Ucapan Iksan sukses membuat Raisa melirik suaminya itu. Apa dia tidak salah dengar jika suaminya ingin mengantar Kesya?
__ADS_1
‘’Kamu serius?'' tanya Raisa.
''Aku serius,'' jawab Iksan, mengambil kunci mobil untuk segera mengantar Kesya ke sekolah.
Kesya juga anaknya, dia tidak tega melihat Kesya sudah rapi dengan baju sekolahnya, harus melepaskan seragamnya.
‘’Makasih, Pa.'' Kesya langsung memeluk papanya itu.
Kesya menyalami tangan Raisa.
''Kamu harus ingat syarat tadi, Mas. Kamu harus nganterin Kesya juga sampai dia masuk kedalam kelasnya,'' peringat Raisa.
Iksan tidak mengangguk, namun dia langsung melenggang pergi.
Meski tidak bisa melihatnya, namun Raisa yakin jika suaminya itu akan mengantar Kesya sesuai yang dia Katakan.
Dirinya sudah mengenal Iksan lebih dulu, ketimbang Gina.
Mobil milik Iksan langsung meninggalkan pekarangan rumah, untuk segera mengantar Kesya ke sekolah.
Jangan lupa, gadis itu memberikan kabar ini kepada sahabatnya, jika dia sudah bisa ke sekolah.
Suasana kelas IPA...
''Gys,'' panggil Pute.
Ke tiga temanya menatap gadis itu, tanda ada apa.
''Kesya hari ini udah ke sekolah, dia juga udah di jalan,'' ucap Pute. Dengan senyuman mengambang di wajahnya itu.
''Kesya udah di kasi izin sama tante Raisa buat ke sekolah?'' tanya Salsa, karna setahunya Raisa belum mengizinkan Kesya untuk ke sekolah.
Namun mendengar kabar dari Pute. Membuat mereka heran saja. Apa lagi mereka tahu, jika Raisa sangat memanjakan Kesya.
‘’Berubah pikiran kali,'' ujar Pute. ''Lo, kan tahu Kesya bakalan suntuk kalau di rumah terus,'' lanjut Pute dan dibalas anggukan setuju oleh Salsa.
Sementara Nanda hanya diam saja, karna dia belum tahu mengenai bagaiamana watak teman-temanya, dia hanya mendengarkan saja apa yang di katakan Pute.
Puri, gadis itu belum juga masuk kedalam kelas, padahal sudah sepuluh menit dia izin ke toilet, namun belum balik juga.
Mereka kembali fokus dengan ponsel mereka masing-masing, seraya menunggu kedatangan Kesya.
Sementara Cika sibuk dengan bukunya, sedari tadi Cika hanya diam saja tidak mengucapkan sepatah katapun, membuat Nanda melirik gadis itu, seperti ada yang beda.
Nanda tahu, jika Cika itu malas ngomong kalau bukan hal penting, namun melihat Cika hanya diam saja, membuat Nanda menebak jika gadis itu punya masalah.
''Cika,'' panggil Nanda.
Cika mendengar Nanda memanggilnya, namun dia tidak menggubris panggilan gadis itu, dia pura-pura tidak mendengar panggilan Nanda.
''Cika,'' panggil Nanda lagi, namun Cika belum menyahut.
Meski Nanda memanggil Cika dengan suara pelan, namun Nanda yakin Cika masih bisa mendengar panggilannya itu.
''Ci, lo kenapa?'' tanya Nanda membuat Cika langsung melirik gadis itu.
Dengan pura-pura, gadis itu melirik Nanda lalu berkata. ''Lo manggil gue?'' tanya Cika dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.
''Ihk, Cika. Dari tadi loh Nanda manggil kamu. Tapi kamu mendadak tuli,'' ucap Salsa membuat Cika hanya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.
‘‘Gue sibuk baca buku,'' elak gadis itu.
Salsa kembali fokus memainkan ponselnya, karna guru yang mengajar hari ini belum juga masuk.
''Ada yang mau lo omongin?'' tanya Cika kepada Nanda.
''Nggak ada,'' jawab Nanda.
Cika mengangguk kecil, lalu gadis itu kembali fokus membaca bukunya.
''Ci, lo kenapa?''
Pertanyaan itu kembali di lontarkan Nanda, sehingga Cika kembali melirik Nanda. ''Gue kenapa?'' tanya Cika dengan tawa kecilnya.
''Kayak beda aja hari ini,'' balas Nanda dengan kikuk.
‘’Gue ada masalah dari rumah, jadi bawanya kayak gini,'' bohongnya membuat Nanda langsung percaya dengan apa yang di katakan oleh gadis itu.
Nanda sudah tidak bertanya lagi, jika sudah menyangkut keluarga. Pantas saja Cika murung.
Dirinya saja yang memikirkan papanya membuatnya tidak nafsu makan.
Memikirkan mengenai keluarga, membuat Nanda menjadi takut, jika apa yang dia pikiran memang benar-benar terjadi.
Namun Nanda berusaha menghilangkan pikiran itu, dia berusaha berpikir positif mengenai Gina dan juga Ibnu.
Puri masuk kedalam kelas, ikut duduk bersama dengan Pute, sehingga Cika duduk seorang diri.
''Lama banget sih lo di toiletnya,'' ucap Pute sehingga Puri meliriknya.
“Ngantri,'' balas Puri membuat Pute terkekeh.
''Mau buang air aja harus antri,'' gumam Pute, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
“Kesya udah kasi tau lo, kalau hari ini dia udah kesekolah?'' Tanya Pute kepada Puri.
Sehingga Puri menaikkan alisnya sebelah kearah Pute. ''Maksud lo, Kesya udah ke sekolah hari ini?'' tanya Puri memastikan dan dibalas anggukkan kepala Oleh Pute.
''Kok itu anak nggak kasi tau ke gue sih!'' kesal Puri.
''Coba lo cek hp lo. Lo, kan ke toilet nggak bawa hp,'' peringat Pute kepada sahabatnya itu.
Akhirnya Puri mengecek ponselnya, benar saja ada bebarapa panggilan tak terjawab dan pesan dari Kesya.
Puri hampir saja marah dengan Kesya, dia pikir gadis itu lebih dulu menghubungi yang lainya ketimbang dirinya.
''Di hubungi lo, kan?'' tanya Pute dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.
''Makanya jangan langsung emosi aja.'' Pute memutar bola matanya malas membuat Puri terkekeh kecil.
''Yah, gue kirain dia nggak kasi tau gue,'' jelas Puri.
Mereka kembali mengobrol kecil, seraya menunggu Kesya datang.
Sementara Iksan berulang kali menghembuskan nafas berat, tidak lama lagi dia akan sampai di sekolah Kesya.
Kesya melirik papa nya yang nampak gelisah. ''Papa kenapa, sih?'' Tanya Kesya yang sedari tadi melihat papanya begitu gelisah.
Iksan membalas tatapan anaknya. ''Nggak apa-apa,'' jawab Iksan.
Kesya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Iksan, meski ia tidak percya dengan ucapan papa nya barusan.
Sedari, Ibnu memikirkan wajah anak nya yaitu Nanda Raisa Arabela. Dia tidak tahu, apakah hari ini Nanda ke sekolah atau tidak.
Namun, Iksan berharap Nanda tidak ke sekolah hari ini, meski kemungkinannya hanya kecil, karna kenyataanya Nanda ke sekolah dan berada di dalam kelasnya menunggu kedatangan Kesya.
__ADS_1