ARDIAN

ARDIAN
Kesya egois


__ADS_3

“Lo serius, Ri?” Kesya menanyakan keseriusan Puri, saat sahabatnya itu mengatakan, jika Gerald kecelkaaan, dan sekarang terbaring di rumah sakit, dia di nyatakan Koma, dalam waktu yang tidak bisa di tentukan oleh dokter.


Puri mengangguk, mengiyakan ucapan Kesya, jika yang dia katakan ibu benar.


Puri mengatakan pada Kesya, jika saat ini Gerald berada di rumah sakit, dia di nyatakan koma karna kecelakaan motor yang menimpanya semalam.


Saat itu Puri berada di kamar Kesya, sejak pembulliyan di lakukan pada Kesya waktu itu, dia mulai tidak ke sekolah lagi.


Dia juga tidak memegang ponselnya, tidak berani membuka sosial media miliknya, karna berita mengenai dirinya sudah tersebar luas.


Akun Sosmed juga di serang oleh orang-Orang.


‘’Bagus dong,'' ucap Kesya dengan senyuman mengambang di wajahnya. ''Kalau dia mati, udah nggak ada osis caper lagi di sekolah. Yang ikut campur.'' Kesya mengepalkan tanganya, matanya menggelap karna Gerald selalu saja ikut campur mengenai masalahnya.


Bahkan, Gerald juga yang menghapus video Greta yang susah payah Kesya sebarkan hingga dia membayar orang-orang.


''Kok lo ngomong gitu sih, Sya,'' protes Puri. Meskipun dia jahat, namun Puri tidak pernah mendoakan orang yang dia benci mati.


Apa lagi ini Gerald. Seharusnya mereka berdoa agar Gerald di beri kesembuhan. Namun nyatanya, Kesya malah sebaliknya, dia merasa senang jika Gerald mati.


''Lo harapin apa dari mulut gue?'' tanya Kesya dengan suara sangar pada Puri.


''Seharusnya kita doain Gerald buat sembuh, bukan malah minta dia mati. Lo sadar nggak sih omongan lo tadi udah kelewatan tau nggak. Sebenci-bencinya gue sama orang, gue nggak pernah doain dia cepat mati, kalau dia dapat masalah. Apa lagi kita tahu, Gerald itu baik.'' Jelas Puri panjang kali lebar kepada Kesya. ‘’Gue kesini mau ngajakin lo kerumah sakit buat jengukin Gerald, lihat respon lo kayak gini, udah tentu lo nggak mau.''


‘’Mendingan lo pergi deh!'' usir Kesya, menunjuk kearah pintu kamarnya, agar Puri pergi dari sini.


''Lo sama Salsa dan Cika, sama aja!'' bentak Kesya. Dia pikir Puri selalu mendukung apapun yang dia ucapkan.


''Ok, gue pergi!'' Puri mengambil tasnya yang dia simpan diatas sofa. Lalu pergi meninggalkan Kesya.


Sebelum Puri memutar handel pintu, lebih dulu dia menatap Kesya. ''Kalau mau ngomong, di pikir dulu, Sya. Jangan sampai omongan lo malah balik ke diri lo sendiri.'


Kesya mengepalkan tanganya, ucapan Puri barusan membuatnya paham apa yang gadis itu katakan.


‘'Lo doain gue mati, begitu?'' marah Kesya, Puri mengabaikan ucapan Kesya, dia langsung melenggang pergi meninggalkan Puri Kesya yang sedang menatapnya marah.


Puri langsung pergi, menelfon Pute untuk segera menjemputnya di rumah Kesya.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya Pute datang, Puri langsung masuk kedalam mobil milik Pute dengan wajah yang sangat sulit Pute tebak.


‘’Kesya mana?'' tanya Pute, karna Kesya tidak ada.


‘’Jalan aja,'' perintah Puri.


''Oh, Ok.''


Pute menjalankan mobilnya untuk segera kerumah sakit, malam ini mereka berdua akan menjenguk Gerald.


''Kesya makin hari makin gila!'' gerutu Puri setelah sekian menit terdiam.


Pute melirik Puri lalu tersenyum kecil. ''Baru nyadar?'' tanya Pute seraya tersenyum kecil kearah sahabatnya itu.


‘’Gue kenal Kesya itu manusia paling egois. Makin hari makin egois,'' ucap Pute lagi. ''Dia suka sama Ardian, gua aja kaget pas tahu kalau selama ini dia suka sama Ardian. Pantas aja dia sama Greta musuhan.''


Puri menatap keluar jendela, tiba-tiba saja dia merindukan Cika dan Salsa. Dia malu minta maaf kepada kedua sahabtanya, di tambah lagi sama Nanda.


''Lo marahan sama, Kesya?'' tanya Pute sehingga Puri melirik sahabtanya, lalu gadis itu mengangguk mengiyakan pertanyaan Pute barusan.


''Lo tahu nggak, apa yang buat gue kesel sama, Kesya?'' tanya Puri, dan dibalas gelengan kepala oleh Pute.


‘’Karna dia doain Gerald mati.''


Kesya terkejut. ''Serius?''


''Iya, Put. Kesya masih dendam sama Gerald, karna cowok itu selalu mengusik Kesya. Yang paling Kesya benci, karna video Greta yang di sebarkan itu di hapus sama Gerald. Lo dengar sendiri'kan yang dibilang sama Kesya. Kalau dia susah payah buat itu semua, namun Gerald menghapusnya dengan kecerdasan yang cowok itu punya.'' Puri menjelaskan panjang kali lebar kepada Pute.


Pute menggeleng kecil. ‘’Segitunya,'' gumam Pute.


''Itu yang buat kesel sama dia. Gue emang nggak suka sama Gerald, tapi denger berita Gerald yang koma, hati gue teriris tau nggak. Tapi Kesya malah doain dia mati. Saking kesalnya gue sama dia, gue bilang sama dia, nggak boleh ngomong kayak gitu, jangan sampai omonganya itu balik sama dia. Eh, dia malah marah, dia kira gue doain dia mati.'' Puri mengoceh membuat Pute hanya tertawa kecil.


Tidak butuh waktu lama, mobil milik Pute sampai di rumah sakit. Lebih dulu dia memarkirkan mobilnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, kedua gadis cantik itu langsung masuk kedalam rumah sakit, untuk segera menjenguk Gerald.


''Itu Nanda'kan?'' tunjuk Puri kearah gadis yang sedang duduk bersama wanita, mereka tebak jika itu adalah orang tua Gerald.

__ADS_1


''Nanda!'' panggil Pute, sehingga Nanda langsung melihat kedua gadis itu.


''Hai, Tan,'' sapa Pute kepada Jia, dan dibalas anggukan oleh wanita itu, di sertai dengan senyuman hangat oleh Jia.


''Na, gimana kondisi Gerald?'' tanya Pute.


‘’Masih koma.''


Puri dan Pute ikut duduk di dekat Nanda, sementara Jia pamit lebih dulu untuk menemui suaminya.


''Na, gue mau minta maaf sama lo.'' Puri bicara dengan tulus kepada Nanda. ''Kalau lo nggak mau maafin gue, nggak apa-apa.''


''Gue maafin.''


‘’Thanks.''


''Cika sama Salsa nggak ada?'' tanya Pute.


''Pulang sekolah mereka tadi kesini, Cika bilang mau kesini lagi sama Salsa. Mungkin nggak lama lagi mereka datang.''


Puri dan Pute mengangguk pelan.


Ketiga gadis itu melihat Boy datang menghampiri mereka, lebih tepatnya lagi Nanda.


''Ra, lo dari kemarin belum mandi. Buruan gih lu mandi, ini baju gue beli di luar tadi.'' Boy berkata seraya memberikan paper bag pada Nanda.


‘’Gue malas mandi, bang,'' ucap Nanda membuat Boy berkacak pinggang.


''Mandi, atau lo pulang malam ini di rumah, nemenin mama,'' ancam Boy membuat Nanda mau tidak mau mengambil paper bag itu.


''Ini kunci ruangan gue. Lo mandi di sana,'' lanjut Boy.


''Iya-iya!'' Nanda langsung melenggang pergi menyisahkan senyuman pada wajah Puri dan Pute.


“Temanya adik gue?” tanya Boy dan dibalas anggukan kepala oleh dua gadis itu.


__ADS_1


__ADS_2