
Jawaban yang di berikan Boy membuat Nanda menaikkan alisnya sebelah, lalu kemudian berkata, ''kenapa kita ngga kerumah sakit, bang? Di sana nggak ada yang jagain mama,'' kata Nanda membuat Boy melirik adiknya di belakang, lalu kemudian pria itu fokus kembali menyetir.
‘’Bang!'' Nanda kembali memanggil nama Boy, dengan suara kesal, bagaiamana tidak jika Boy hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan dari nya.
‘’Mama bukan di rumah sakit Indonesia.''
''Ha?'' Suara terkejut milik gadis itu, menyapa gendang telinga milik Boy. ‘’Maksud lu apa sih bang, mama di rumah sakit mana? Maksud lo di rumah sakit luar angkasa? Kalau bukan rumah sakit Jakarta, lu bawa mama kerumah sakit man—''
''Luar negeri.''
Ucapan Nanda terpotong, suara gadis itu tercekat, tatkala Boy mengucapkan kata tersebut.
Dari kaca mobil, Boy bisa melihat wajah merah padam milik Nanda, membuat pria itu langsung tertawa keras.
''Nggak udah bercanda, hidup gue nggak bisa di bercandain,'' kesal Nanda, setidaknya dia bernafas legah, karna melihat Boy tertawa.
''Kita pulang ganti baju lo dulu, terus lo mandi, badan lo udah bau,'' kata Boy membuat Nanda memanyunkan bibirnya.
Tidak butuh waktu lama, mobil milik Boy memasuki pekarangan rumah mewah milik kedua orang tuanya.
__ADS_1
‘’Buruan, gue tunggu di sini,'' kata Boy setelah Nanda keluar dari mobil miliknya.
Boy memgambil ponselnya, lalu kemudian pria itu menelfon Gina, mamanya.
''Halo, Boy.'' Suara lembut itu menyapa gendang telinga Boy, saat Gina mengangkat telfonya.
''Ma...'' Suara itu adalah milik Boy, memanggil mamanya di ujung Telfon.
Terdengar suara tawa kecil di ujung telfon, membuat Boy tersenyum tipis.
''Kamu nggak kesini Boy? Kenapa malah nelfon mama?'' tanya Gina di ujung Telfon, wanita itu tengah berbaring di atas brankar, dengan dua perawat yang sudah di utuskan Boy, untuk menjaga mamanya, selama dia berada di luar.
''Boy...Kamu nggak ngomong apa-apa sama Ara 'kan? Mengenai kondisi mama?'' tanya Gina memastikan.
''Iya, Ma. Boy nggak ngomong apa-apa sama Ara,'' jujur Boy.
''Baguslah, mama nggak mau buat adik kamu, semakin stres. Adik kamu lagi nanggung beban yang berat. Mikirin papa kamu dan sahabatnya Gerald. Mama nggak mau buat adik kamu semakin pusing, kalau dia tau kondisi mama,'' jelas Gina di ujung Telfon. ''Mama cuman mau, lihat kedua anak mama bahagia, sebelum mama per—''
''Jangan di terusin, Ma. Boy nggak mau dengar ucapan itu lagi. Ucapan adalah doa, Ma. Harus ucapin hal yang baik-baik aja,'' potong Boy membuat Gina tertawa kecil.
__ADS_1
''Iya-iya.''
''Tapi kamu nggak lupa sama janji kamu 'kan?'' tanya Gina memastikan.
Boy yang sudah tau maksud mamanya, langsung membalas. ''Iya, ma. Boy nggak lupa, akan Boy usahain bulan ini akan terjadi. Mama nggak perlu mikirin itu lagi, biar Boy yang urus. Mama hanya perlu istirahat,'' jelas Boy.
''Boy matiin telfonya dulu, Ma. Ara udah datang,'' kata Boy, lalu kemudian pria itu mematikan ponselnya.
''Lo nelfon mama? Kok Telfon gue dari pagi nggak di jawab, tapi giliran lo yang nelfon gercep banget mama ngangkat nya,'' dengus Nanda membuat Boy mengusap rambut adiknya.
‘’Namanya juga anak Kesayangan, jadi wajar aja,'' sombong Boy.
***
Masih ada nggak sih pembaca aku yang setia nungguin cerita “ARDIAN” 😭😭😭
Jangan lupa tinggalin jejak klian ya, seperti like dan komen, karna komen dan like itu gratis heheh. Biar author update tiap hari,
Maaafin ya sebulan nggak update. Soalnya sakit. Alhamdulliah udah sembuh beberap hari lalu. Dan baru skrng update 🖤
__ADS_1