ARDIAN

ARDIAN
Perasaan bahagia


__ADS_3

Izam menghentakkan kaki nya kesal. "Lama-lama gue ikutan emosi! Pantas aja Ardian hilang kendali!" sungut Izam membara.


"Bukan ikutan emosi. Tapi lo udah emosi!" celetuk Ethan membuat Leo menahan tawa.


Ke empat cowok itu menatap Nanda, yang tengah meneguk air mineral yang dibawakan oleh salah satu cowok itu.


Keringat membanjiri wajah gadis itu, membuat nya semakin cantik saja jika berkeringat.


Bahkan, Izam sampai meneguk salivanya susah payah, saat Nanda mengusap keringat di keningnya. Keringat terus membanjiri wajah nya yang sudah capek!


Pletak....


Leo langsung menjitak kening Izam, membuat sang empuh meringis.


"Sakit, Lele!" geram Izam masih setia memegang jidatnya yang perih, karna pletakan dari Leo.


"Mau cari mati lo? Kalau sampai Ardian tahu, lo bakalan tamat," bisik Leo di telinga Izam membuat cowok itu menegang, lalu kemudian Izam cengengesan.


"Yah... Nggak gitu, Le. Namanya juga cowok normal. Jadi, wajar-wajar aja kali." Izam membalas membisik Leo membuat Leo menggelengkan kepalanya.


"Bisikan apa sih?" tanya Ethan penasaran, merapat kan diri di dekat Izam dan Leo.


"Idih! Kagak usah kepo lo!" sosor Izam membuat Ethan ingin mencomot bibir milik Izam sekarang juga.


Rafael memutar bola matanya malas, melihat tingkah Izam dan Ethan yang berujung perdebatan yang tidak berfaedah sama sekali.


"Yang hukum lo bersihin toilet siapa?" tanya Rafael, hal ini dia akan laporkan pada Ardian. Jika cowok itu tahu sekarang, mereka yakin Ardian akan datang ke sekolah.


Leo, Izam dan Ethan langsung menatap Nanda.


"Hm.. Kalau Ardian tahu cewek nya di hukum kayak gini. Gue yakin, dia bakal marah," timpal Leo juga.


Nanda memutar bola matanya malas, ucapan Leo barusan sangat berlebih-lebihan.


" Mendingan kalian pergi! Gue mau lanjut ngepel!" Nanda mengusir ke empat cowok itu, karna dia ingin melanjutkan hukuman nya.


Jangan sampai hukumnya tidak selesai saat bell pulang. Maka dia tidak boleh pulang, sebelum toilet ini bersih.

__ADS_1


Nanda mengambil kembali kain pell nya, berjalan memasuki toilet. Mereka memperhatikan Nanda menghembuskan nafas berat, lalu punggung gadis itu masuk kedalam bilik toilet.


Rafael tercengang, bisa-bisanya Nanda tidak menggubris ucapan nya.


"Untung pacar nya Ardian. Kalau bukan, gue udah yakin sih, kalau Rafael bakalan keluarin omongan cabenya," celetuk Izam membuat Rafael menatap Izam tajam.


"Bacot lo!"


"Santai bro. Jangan emosi!" Izam tertawa keras. Ethan hanya menahan tawa, mencari aman saja dirinya itu.


"Mau bantu Nanda tidak sih?" tanya Leo membuat ketiga cowok itu terdiam.


"Ya... Gimana ya... " Izam nampak berpikir sejenak dengan suara terbata-bata, jika dia sedikit menolak.


"Kalau Ardian tahu, lo biarin cewek nya di hukum, nggak kalian bantu. Gue sih yakin, Ardian bakalan tendang kalian dibawa jurang!" Leo menakut-nakuti mereka.


"Gue ambil pell dulu!" Ethan berlari untuk mengambil kain pell. Mendengar ucapan Leo saja membuat nya bergedik ngeri.


Ketiga cowok itu menunggu Ethan datang, membawa 'kan mereka kain pell.


Tidak butuh waktu lama, Ethan datang membawa empat kain pell, lalu sahabat nya mengambil satu persatu kain pell tersebut.


Sekitar 10 menit, Nanda keluar dari bilik toilet, dia terkejut melihat ke empat cowok yang tadi ia usir, masih berada di sini, mengepel lantai toilet.


"Udah be... res... Nan... " Suara terengah-engah ini adalah suara milik Izam. Terdengar lebay, namun menurut mereka membersihkan toilet lebih melelahkan ketimbang baku hantam dengan musuh mereka.


"Lebay lo! Cuman bersihin toilet lebay nya minta ampun!" Rafael berdesis, seraya mengusap peluh di wajah nya.


Izam tidak menggubris ucapan Rafael, membuang tenaga saja jika dia membalasnya. Tenaga nya sudah terkuras karna membersihkan toilet ini.


Leo tersenyum kearah Nanda, "lo baik-baik aja, 'kan?" tanya Leo, melihat wajah Nanda yang sedikit pucat, mungkin dia sudah sangat letih membersihkan toilet.


Nanda membalas senyuman Leo, "gue baik-baik aja. Makasih udah bantuin gue." Nanda menatap mereka satu persatu, hingga pergerakannya menjadi kikuk. Pasal nya, dia mengusir ke empat cowok itu.


"Sama-sama." Mereka serentak menjawab nya.


"Tunggu di sini dulu. Gue ke kantin dulu beli minum." Nanda melangkah meninggalkan ke empat cowok tampan itu.

__ADS_1


Mereka tidak mencegah, karna mereka butuh air mineral untuk membasahi tenggorokan nya yang kering.


Nanda memasukkan lima botol air mineral kedalam kantong plastik, beserta cemilan nya juga.


40 menit lagi, bell pulang sekolah akan berbunyi. Ardian akan menjemput nya, dengan kondisinya yang bau? Memikirkan itu saja, membuat Nanda yakin jika Ardian akan menutup hidung dan akan mengatakan jika dia sangat bau.


Mau bagaimana lagi, mau ganti baju sudah tidak sempat.


"Makasih, pak." Nanda mengucapkan kata terimakasih saat pegawai kantin memberikan nya permen karet.


Nanda tersenyum di setiap langkah nya, sudah lama dia tidak menikmati permen karet. Semua ini karna larangan sih Boy. Sih dokter yang hampir tahu segalanya, jika yang ia konsumsi tidak baik untuk kesehatan gigi nya itu.


Nanda berjalan mendekati ke empat cowok itu, mereka tengah duduk di bawa lantai bersih, lantai yang di lewati jika ingin ke toilet.


"Minum dulu." Nanda meletakkan air mineral dan cemilan dibawa lantai. Lalu gadis itu ikutan bergabung duduk dibawa lantai bersama ke empat cowok itu.


"Makasihh." Izam cengengesan.


Mereka mulai meneguk air yang dibawa oleh gadis itu.


"Segerrrr!" ucap Izam setelah air dingin itu membasahi tenggorokannya yang kering.


"Tau aja lo, Nan. Kalau nih makanan kesukaan kita." Ethan bahagia membuka cemilan yang dibawa oleh Nanda.


"Gue cuman asal ambil doang," balas Nanda.


"Asal ambil aja lo bener, Nan. Gimana kalau lo bener-bener milih," celetuk Ethan seraya memasukkan cemilan itu kedalam mulutnya.


"Kalau lo nggak asal-asalan. Mungkin lo juga nggak dapet Ardian." Ucapan Izam dengan tawa, lalu di siku oleh Ethan.


"Maksud lo, Nanda asal-asalan milih Ardian?" Ethan menyipitkan matanya kearah Izam. "Awas aja lo, gue laporin lo sama Ardian. Biar Ardian tendang lo di danau!"


"Gue cuman bercanda sethan!" Izam menendang kaki Ethan membuat cowok itu mengadu kesakitan. Sehingga mereka berdua kembali beradu mulut.


Nanda hanya tertawa kecil melihat Izam dan Ethan. Sangat lucu ya, punya teman kayak gini. Lebih asik dari pada punya teman cewek awok.


"Mereka berdua emang gila," celetuk Rafael tanpa hati, membuat Izam dan Ethan mengumpat Rafael dalam hati.

__ADS_1


Nanda lagi-lagi tertawa, melihat mulut Ethan dan Izam borkomat-kamit, dia sih yakin jika kedua cowok itu mengumpat Rafael dalam hati.


Perasaan bahagia? Itu yang Nanda rasakan. Pertama kalinya dia kumpul dengan mereka, membuat nya semakin melupakan masalah nya.


__ADS_2