
Leo menegang, ucapan Nita sukses membuatnya bungkam. Kedua orang tuanya memang menjalin bisnis sedari lama, mereka memang bekerja sama sehingga perusahaan keduanya di kenal karna kerja sama mereka.
Leo menatap Nita, "lo terima?" tanya Leo, ia berusaha mengontrol dirinya. Beberapa hari yang lalu orang tuanya memang mengajaknya makan malam bersama orang tua Nita.
Namun ia menolaknya karna dia sibuk. Dia tidak menyangka jika acara itu mereka akan membahas perjodohan.
Nita menggeleng sebagai jawaban, membuat Leo bernafas legah.
"Gue sempet nolak, tapi mereka nggak Terima penolakan," jujurnya membuat Leo memijit pelipisnya.
"Emangnya lo mau di jodohin sama cowok modelan kayak gue? Lo tahu 'kan kalau gue itu playboy." Leo tersenyum tipis, agar Nita makin kalut agar dia menantang kedua orang tuanya.
Nita memicing, "makanya gue kesini buat ngajakin lo kerja sama. Karna gue nggak mau di jodohin sama cowok playboy kayak lo," terangnya membuat Leo tersenyum legah.
Cowok itu memasukkan tangannya di kantong celananya, dia rasa dia tidak akan khawatir dengan perjodohan ini. Apa lagi mereka berdua tidak mau. "Gue pikir, lo bakalan suka rela di jodohin sama gue," ucapnya dengan kekehan kecil.
"Lo mau ngajakin gue kerja sama kayak gimana?" tanya Leo seraya tersenyum memesona. "Gue nggak nyangka, teman sekelas gue ada secantik lo. Gue pikir cewek cantik cuman ada di kelas lain," godanya, cowok itu sengaja mencairkan suasana, apa lagi raut wajah Nita tidak bersahabat.
"Basi tahu nggak. Gue bukan cewek yang mudah jatuh cinta sama cowok playboy kayak lo!"
"Santai, nggak usah ngegas. Gue cuman bercanda," ujar cowok itu santai. "Kembali ke topik, lo mau ngajakin gue kerja sama kayak gimana?" tanya Leo lagi.
__ADS_1
"Orang tua gue sama orang tua lo, rencanain pertunangan kalau kita lulus dari sekolah." Ada jeda di ucapan Nita. "Setahun selesai pertunangan, mereka bakalan nyuruh kita nikah cepat. Biar ada yang urus perusahaan."
"Secepat itu?" gumam Leo.
"Gue mau, saat kita lulus. Lo nikah sama cewek yang udah lo tidurin itu."
Leo terdiam, bagaiamana bisa Nita tahu soal ini? Nita sama Pute itu tidak dekat.
"Ini kerja sama yang lo maksud?" suara Leo nampak kesal. "Prinsip gue tetap sama. Gue nggak akan nikah muda. Enak aja, gue yang kejebak lo yang lolos. Ujung-ujungnya gue yang bakalan kena amuk." Leo tidak mempertanyakan bagaimana Nita bisa tahu rahasianya yang itu.
Nita mengatur nafasnya panjang, "gue udah pikirin semuanya. Saat gue lulus dari sini, gue bakalan kabur ke luar negeri. Dan itu artinya, gue bakalan lolos dari perjodohan ini."
Leo tertawa renyah, "lo bodoh atau pura-pura bodoh?" tanya Leo. "Kalau lo kabur, otomatis perjodohan bakalan batal juga. Jadi, gue nggak usah buru-buru nikah," kata cowok itu dengan santai, karna dia sudah dapat solusinya. "Bdw, lo mau kabur ke negara mana?"
Tawa Leo redah, dia baru ingat jika Nita mempunyai seorang kakak. Itu berarti, jika Nita kabur dia belum lolos? Hanya gadis itu saja yang lolos.
Nita sengaja mengajak Leo kerja sama. Karna ia khawatir, kalau hanya dia yang tidak menginginkan perjodohan ini. Kalau Leo setuju, kemanapun Nita pergi cowok itu akan mengejar nya. Itu hanya pikirin Nita saja. Makanya dia memberikan solusi untuk Leo juga. Apa lagi, Nita butuh modal untuk kabur, jadi dia butuh Leo untuk kerja sama.
"Gue nolak saran lo buat nikah muda," tolak nya pada gadis itu. "Lo kabur aja, gue yang bakalan mikirin apa yang harus gue lakuin."
"Leo, gue butuh bantuan lo juga buat kabur. Lo pikir gue bisa dapat uang dari mana buat kabur? Lo pikir uang ratusan juta cukup di negeri orang?" kata Nita lagi.
__ADS_1
Leo melotot kan matanya, "jadi lo mau manfaatin gue?"
"Kalau lo nikah, otomatis bokap lo bakalan kasi lo perusahaan miliknya. Gue rasa, nyokap sama bokap lo nggak akan marah besar kalau semuanya batal. Karna gue yang kabur, bukan lo. Otomatis orang tua gue yang marah ke gue, karna gue yang kabur. Kalau orang tua gue tahu gue nolak perjodohan ini sampai kabur, fasilitas yang gue punya bakalan di tarik. Terus gue kabur pake duit apa?"
Leo menatap Nita garang, "lo pikir dengan gampang bokap gue kasi semuanya?"
"Lo bakalan di kasi semuanya, kalau lo nikah."
Leo kesal, "kalau lo kabur, gue tetep di jodohin sama kakak lo itu. Otak lo dangkal banget buat mikir, Nit."
"Kalau gue kabur, lo langsung nikahin Pute aja. Gampang 'kan. Kalau lo udah nikah, lo tinggal kenalin Pute sebagai istri lo di depan nyokap sama bokap lo."
"Lo pikir itu gampang? Lagian, gue nggak mau nikah muda. Keputusan gue udah bulat."
"Yaudah, kalau lo nggak mau. Gue tetap di sini. Dan perjodohan itu bakalan terjadi kalau gue kabur," ancam gadis itu.
"Gue yang kabur, bukan lo. Biar semuanya batal," jelas Leo lagi.
"Emangnya lo siap orang tua lo malu? Kalau tau lo kabur ninggalin gue? Orang tua pastinya nggak akan tinggal diam, karna anaknya di permalukan. Otomatis banyak perusahaan lain yang akan memutuskan kerja sama dengan bokap lo. Dan itu semua pengaruh dari orang tua gue." Leo diam dengan ucapan Nita. "Kalau gue yang kabur, palingan orang tua gue minta maaf sama orang tua lo. Dan kerja sama mereka tetap jalan. Lo tahu 'kan, orang tua gue dua langkah lebih unggul."
"Yang gue butuhin uang buat kabur dan biaya hidup gue di negeri orang."
__ADS_1
"Lo pikir, gue bisa biayain semua gaya hidup lo?" greget Leo, cowok itu berpikir keras, ucapan Nita membuat nya tidak bisa mengelek. Bisa-bisa perushaan orang tuanya hancur jika dia salah mengambil keputusan.
"Makanya gue bilang, lo harus nikah sama Pute. Biar perusahaan bokap lo itu, lo yang pegang," greget Nita pula, dia menjelaskan panjang kali lebar namun Leo tidak paham. "Lo nggak lupa 'kan, bokap Pute cewek lo itu, jauh lebih kaya dari orang tua gue sama orang tua lo. Kalau perusahaan bokap lo sama bokapnya kerja sama, lo nggak akan susah biayain hidup gue di negeri orang. Kalau Pute sampai tahu, gue yakin. Dia bakalan setuju, karna baginya lo lebih penting dari harta yang dia punya," lugasnya membuat Leo tidak tahu harus berbuat apa.