
"Jadi menurut lo gue udah tua, gitu?"
Lagi-lagi Nanda tertawa dengan ucapan Boy. Jadi, Boy berpikir jika dia masih muda?
"Umur gue boleh tua, tapi muka gue masih cocok peranin anak SMA," cerocos Boy, karna apa yang dia katakan barusan memang benar.
Sudah di katakan bukan, jika ketampanannya ini menurun dari papa Iksan.
"Iya deh."
"Yaudah, lo istirahat sekarang. Udah jam 10." Pria itu memperingati adiknya untuk segera tidur.
"Ardian mau tinggal, bang?" tanya Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Boy.
"Dia bakalan tiduran di sofa." Boy menunjuk sofa panjang yang tersedia di dalam kamar ini.
"Kalau lo tidur dimana?" tanya Nanda. "Padahal, gue bisa pulang malam ini. Biar gue istirahat di rumah." Nanda memanyunkan bibirnya, karna Boy yang menahannya untuk istirahat di rumah sakit.
"Jangan banyak protes. Gue lakuin ini demi kebaikan lo." Tangan kekar Boy bergerak mengusap rambut adiknya itu.
Nanda mulai memejamkan matanya untuk segera tidur, sementara Boy berjalan menuju sofa panjang, membaringkan tubuhnya disana. Karna sejujurnya, dia juga capek.
Ting...
Baru saja Boy ingin memejamkan matanya, bunyi notifikasi membuatnya harus membuka ponsel.
"Ch!" Boy berdecih, saat membaca pesan dari sang papa.
Boy hanya membaca pesan dari Iksan, tanpa berniat membalas pesan dari papa nya itu. Boy juga tidak tahu, bagaiamana Iksan tahu jika Nanda masuk rumah sakit.
Boy melirik Nanda di brankar sana, rupanya adiknya itu sudah tertidur. Boy bisa melihat dari sini, hembusan nafas adiknya yang tertidur.
Ceklek.
Boy melihat kearah pintu yang dibuka, rupanya yang masuk adalah Ardian.
"Nanda baru tidur?" tanya Ardian dan dibalas anggukan kecil oleh Boy, tanpa melirik kearah cowok itu.
"Lo mau tinggal di sini 'kan?" tanya Boy.
"Iya," jawabnya.
__ADS_1
Lalu kemudian Boy melirik cowok itu. "Yaudah, lo tidur dibawa," ucap Boy santai, menyuruh Ardian tidur dibawa, beralaskan karpet bulu.
"Gue tidur di sofa, lo sendiri yang bilang sama Nanda tadi. Kalau gue tidur di sofa," balas Ardian dengan datar.
"Oh... Jadi lo ngintip?" Boy menyipitkan matanya kearah Ardian.
"Cuman bagian itu doang yang gue dengar. Nggak ada pentingnya juga gue nguping pembicaraan yang nggak berfaedah," terang Ardian dengan suara yang amat santai.
Boy menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskan nafas berat.
"Gue tidur di sini sofa. Lo tidur dibawa sa--"
"Greta ada diluar, dia lagi nungguin lo." Ardian langsung memotong ucapan Boy.
Dengan gerakan kilat, Boy langsung berdiri dari sofa. Bersiap meninggalkan Ardian.
"Jagain adik gue. Jangan curi kesempatan lo!" ancam Boy lalu pergi.
Ancaman dari Boy tidak membuat sosok Ardian takut. Ancaman dari seseorang tidak akan membuat nyalinya ciut.
Ardian melirik Nanda yang sudah tertidur, lalu kemudian dia membaringkan tubuhnya keatas sofa.
Memikirkan kenyataan yang menimpa sahabatnya, rasanya Ardian ingin beteriak sekencang-kencangnya dan berharap semua ini hanya mimpi belaka, jika sosok sahabatnya bernama Gerald sudah tidak berada di rumah sakit ini, sahabatnya sudah pergi meninggalkan mereka.
Ardian benci pada dirinya sendiri, dia tidak tahu apa yang menimpa sahabatnya kemarin sore. Dia baru tahu hal ini dari dokter di rumah sakit ini. Yah, Ardian tahu dari dokter yang bekerja di rumah sakit ini, dia adalah dokter Sasa.
Andai saja, kenyataan ini kemarin dia dapatkan. Dia akan ke Bandung bersama para sahabatnya, untuk mengantar Gerald ke tempat peristirahatannya.
Sekarang dia hanya bisa menyesal! Kemungkinan besar, sahabatnya yang lain belum tahu hal ini.
"Sial!" Cowok itu mengusap wajahnya kasar. Dia bimbang, apakah dia harus mengatakan kenyataan ini pada sahabatnya atau menyimpannya saja?
Lalu mata tajam Ardian melirik Nanda, gadis itu tengah tertidur. "Kemungkinan besar, Nanda juga nggak tahu hal ini." Ardian menghembuskan nafasnya, berusaha menetralkan detak jantungnya, "bagaimana kalau Nanda tahu? Gue nggak mau buat dia makin down."
"Biar gue simpan rahasia ini dari mereka."
***
Rafael langsung membuang ponselnya diatas sofa. Untung saja dia tidak membantingnya dibawa lantai.
Dia baru saja menelfon Ardian, menanyakan tentang Fatur. Benar saja, ternyata gadis itu berada di rumah Ardian bersama Fatur membuat cake.
__ADS_1
Dan sialnya, dia terus-terusan memikirkan hal itu. Apa Rafael mulai cemburu? Cowok itu langsung menggelengkan kepalanya, menunggu Salsa dua jam lebih, membuat moodnya naik turun. Selama ini, dia tidak pernah menunggu, hingga selama ini.
Dan sekarang, dia menunggu sosok gadis yang selama ini mengusik hidupnya.
Rafael kembali berjalan menuju lantai dua, lebih tepatnya berjalan menuju kamar Salsa.
Kali ini, dia akan Mengotak-atik pasword kamar gadis itu.
Rafael mulai memasukkan berbagai angka seraya berdengus kesal. Hal ini, mampu membuatnya emosi. Dan kenapa pula dia harus bodoh soal ini?
Rafael mengusap wajahnya, sudah berbagai angka dia masukkan, namun belum ada satupun yang tembus.
Tangan Rafael kembali bergerak menekan beberapa angka, ini percobaan yang terakhir akan dia coba. Tadinya dia ragu menekan deretan angka itu. Namun melihat pintu kamar Salsa terbuka membuatnya tertegun.
Sedetik kemudian, senyumam terbit di wajah Rafael, "gue nggak nyangka, pasword kamar Acca tanggal ulang tahun gue. Seharusnya gue lakuin ini dari tadi."
Rafael melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Salsa. Indra penciumannya langsung di suguhkan harum stroberi, wangi yang identik dengan Salsa, karna gadis itu menyukainya.
Ini pertama kalinya Rafael menginjakkan kaki di kamar perempuan, apa lagi kamar milik Salsa.
Matanya menelusuri kamar besar Salsa, kamar yang begitu rapi di penuhi banyak poster yang membuat Rafael tidak menahan senyuman lebarnya.
Yah, kamar Salsa di penuhi dengan foto milik Rafael, mulai dari foto saat dia SD, SMP hingga foto Rafael beranjak dewasa. Semuanya lengkap di dalam kamar Salsa. Padahal, Rafael saja tidak mengoleksi foto-fotonya, apa lagi foto lama. Namun berbeda dengan Salsa yang senang hati mengoleksi foto Rafael.
"Kurang kerjaan lo, Ca." Meski ucapannya seperti itu, namun hatinya mengatakan senang, senyuman itu belum luntur dari wajah Rafael.
Rafael mengelilingi kamar Salsa, menelusuri setiap inci isi kamar ini.
Lalu dia behenti di meja belajar Salsa. Tangannya bergerak membuka album foto diatas meja itu.
Rafael mulai membuka album foto tersebut.
Jleb...
Hatinya tersentil melihat foto masa kecilnya bersama Salsa, di foto mereka berdua begitu kompak. Rafael merangkul Salsa di foto itu membuatnya gemas sendiri dengan tindakan nya di masa kecil.
Bukan hanya fotonya saja berdua dengan Salsa, ada juga foto Salsa bersama dengan Fatur.
Itu semua membuat Rafael kalut, lalu di lembaran terakhir fotonya bertiga dengan Salsa dan Fatur. Dengan Salsa berada di tengah, di sisi kanan dan kiri ada Rafael dan Fatur. Rafael mencium pipi kanan Salsa dan Fatur yang menatapnya tajam. Mereka berdua merangkul Salsa, hanya saja Rafael tidak ingat hal ini, jika dia pernah melakukan tindakan mencium pipi Salsa saat mereka bermain bersama.
jangan lupa like dan komen 😘mksihhhh
__ADS_1