ARDIAN

ARDIAN
Sikap manis


__ADS_3

Ucapan salsa membuat Rafael tersenyum kecil. Lalu dia menatap gadis itu lalu berkata.''Itu bukan Cinta tapi obsesi,'' Ucap Rafael membuat salsa tersenyum Masam.


Dia tidak tahu membedakan, antara Cinta dan obsesi karena pada intinya, dia tetap mencintai Rafael meskipun cowok itu selalu menolaknya dengan berbagai macam cibiran, Salsa tidak akan menyerah dengan begitu saja dia akan mengejar Cinta Rafael.


Salsa akan menyerah sendiri, jika dia sudah capek, dan akan menyuruh hatinya untuk berhenti. Makanya, dia ingin lupa ingatan saja. Siapa tau aja dengan cara seperti itu akan membuatnya melupakan Rafael.


‘’El,'' panggil Salsa, yang tidak di gubris oleh Rafael, cowok itu fokus menatap kedepan. ''Aku pengen banget lupain perasaan suka aku ke kamu, andai aja bisa, supaya kamu nggak risih ke aku lagi. Tapiiiiii, semuanya nggak bisa. Udah berulang kali aku ngomong akan ngubur perasaan aku ke kamu, tapi nyatanya aku nggak bisa,'' jelas Salsa lagi, Rafael hanya diam saja membuat Salsa memanyunkan bibirnya. ''Makanya, aku pengen banget ketemu Peri,'' lanjut Salsa membuat Rafael menaikkan alisnya sebelah, karna menurutnya ucapanya Salsa sangat aneh untuk dia dengarkan saat ini.


''Peri?'' menolog Rafael dan dibalas anggukan kepala oleh Salsa.


‘’Kenapa?'' tanya Rafael penasaran, ucapan Salsa mampu membuang Rafael pensaran, sehingga dia bertanya pada gadis itu.


‘’Supaya aku bisa minta sama peri itu, buat lupa ingatan saja. Biar aku lupain kamu, meski dengan cara lupa ingatan,'' jelas Salsa menggebu-gebu membuat Rafael menahan tawa, dia tidak mau jika Salsa tau, jika dia menahan tawa.


Salsa berpikir, mungkin suasana hati Rafael saat ini sedang baik, karna dia melihat cowok itu tidak mengusirnya. Dan jangan lupa, Rafael bertanya padanya, yang merupakan suatu hal yang sangat langkah untuk di percaya.


Salsa sibuk memperhatikan wajah Rafael, karna cowok itu kembali memejamkan matanya.


Rafael emamg ganteng, tipikal cowok langkah buat di dapetin. Aku aja yang cantik tertatih-tatih mengejarnya.


Salsa sibuk mengagumi ketampanan Rafael, seraya melihat cowok itu. Salsa seperti sedang mimpi, bagaimana tidak jika dia ada di sini berdua dengan Rafael, tanpa embel-embel cowok itu mengusirnya.


''El,'' panggil Salsa lagi, ''kamu ganteng banget.'' Kata-kata itu sudah biasa Rafael dengar dari mulut gadis di sampingnya. ''Oiya, El. Tumben-tumbenan kamu nggak usir aku,'' kata Salsa seraya cengengesan membuat Rafael berdengus kecil.


''Mau lo apa?''


Jleb...


Rafael langsung menatap Salsa membuat gadis itu gelagapan dengan perkataan Rafael. Ahk, lebih tepatnya lagi suara milik Rafael.


''Suara kamu kayak ngajakin berumah tangga,'' balas Salsa dengan jantung berdetak tidak karuan saat ini.


Dia menyesal mengatakan hal tadi, yang dimana Salsa mengatakan tumben-tumben Rafael tidak mengusir dirinya ini.


''Ch!'' Rafael berdesis lalu kembali menatap kedepan.


Hening.


Keduanya di selimuti keheningan, Salsa yang diam karna takut cowok itu akan mengusirnya dari sini.


'Ngapain lo masih di sini? Emangnya lo nggak belajar?'' Keheningan itu pecah, saat Rafael bertanya tanpa melihat kearah Salsa.


''Kamu tanyain aku?'' tanya Salsa yang masih tidak percaya, jika Rafael sedang bertanya padanya, mengapa dia masih di sini dan tidak masuk kedalam kelas.


''Bukan,'' jawab Rafael dengan malas membuat Salsa mendengus kecewa, dia pikir cowok itu sedang bertanya kepadanya.


‘’Gue tanya sama lo, kita cuman berdua di sini,'' kata Rafael lagi membuat Salsa bahagai dengan ucapan cowok itu barusan.


''Aku di sini nemenin kamu,'' jawab gadis itu membuat Rafael meringis dengan jawaban gadis itu. ''Aku nggak masuk kelas, karna kebetulan aku bolos,'' lanjutnya tanpa dosa membuat Rafael menggelengkan kepalanya pelan.


''Hari ini lo Aman, karna Gerald nggak ada. Kalau Gerald ada, lo bakal di garap keruangan osis,'' terang Rafael, entah sejak kapan cowok itu mau bicara panjang kali lebar pada Salsa, cowok itu saja masih belum sadar.


''Tap—''


''Kata siapa Aman?''


Jleb...


Salsa meneguk salivanya susah payah, tatkala mendengar suara milik Dio, sang wakil ketua osis. Sementara Rafael hanya santai saja, selagi bukan Gerald dia tidak akan patuh dengan peraturan osis, berbeda lagi jika Gerald.


Dio langsung menghampiri Rafael dan Salsa, cowok itu berpatroli keliling sekolah, siapa tau aja ada teman sekolahnya sedang bolos, dan dia menemukan Salsa dan Rafael di taman sekolah.


‘’Keruangan osis sekarang,'' kata Dio, menyuruh kedua sijoli untuk keruangan osis, selama Gerald tidak ada, Dio sebagai wakil ketua osis akan mengambil alih untuk sementara.


Salsa hanya pasrah saja. ''Iya. Aku sama Rafael bak—''


''Lo aja sendiri, nggak usah ajak-ajak gue,‘’ potong Rafael ketus, berdiri dari kursi yang dia duduki, menatap Dio sekilas dengan tatapan tajam, lalu dia pergi dari taman sekolah, tanpa mempedulikan teriakan Dio memanggil Rafael untuk keruangan osis, namun cowok itu hanya abai saja.


Salsa melihat punggung Rafael semakin menjauh, lalu gadis itu memanyunkan bibirnya. ''Rafael nggak solid banget sih,'' kata Salsa, dia di tinggal sendiri.


Salsa melirik Dio. ''Kamu mau ngapain aku?'' tanya Salsa, membuat Dio nampak berpikir sejenak.


Karna ini pertama kalinya Salsa bolos, karna Dio sudah menghapal nama-nama tukang bolos di sekolah ini menggunakan buku osis, dan dia tidak pernah menemukan nama gadis itu.


‘’Karna ini pertam kalinya lo bolos, lo harus hormat di depan tiang bendera, Sampi bell pulang sekolah bunyi,'' perintah Rafael membuat Salsa menjadi lesuh, bagaiamna tidak jika matahari sedang terik-teriknya, dan dia harus hormat di depan tiang bendera.


''Apa nggak ada hukuman lain?'' tanya Salsa dan dibalas gelengan kepala oleh Dio.


‘’Yaudah, aku ikhlas kulit aku yang putih mulus terkena sinar matahari,'' dumel gadis itu lalu melenggang pergi dari taman untuk melaksanakan hukumannya. ''Andai aja aku di hukum sama Rafael, terik matahari ngggak masalah buat aku, selama aku sama Rafael. Rafael sih malah ngehindar dari hukuman,'' dumel gadis itu berjalan menuju iya tiang bendera.


Salsa mulai menjalankan hukumannya, entahlah dia harus berterimakasih pada Tuhan, karna dia bisa berduaan dengan Rafael tanpa cowok itu mengusirnya, meski ucapanya masih pedas untuk Salsa.


Terik matahari siang ini mampu membakar kulit putih milik Salsa, gadis itu hormat di depan tiang bendera sampai bell pulang bunyi, sesuai perintah Dio.


''Panas banget,'' gumam Salsa. ''Kalau sahabat aku tau, pasti mereka langsung mendumel, kenapa aku di hukum seperti ini.''


Sudah lima menit gadis itu menjalankan hukumannya, keringat langsung membanjiri wajahnya yang cantik itu. Salsa mengusap keringatnya seraya mengipas wajahnya menggunakan tanganya. ''Panas banget, andai Rafael datang, payunin aku di sini, biar aku nggak kepanasan,'' harapnya.


Deg…


Jantung Salsa berdetak kencang, baru saja dia berharap ada orang memayuninya di sini, agar terik matahari tidak membakar wajahnya, hingga terciptanya keringat. Karna, seseorang memayuninya, menghalangi matahari membakar kulit gadis itu.


''Rafael....'' Salsa membalikkan tubuhnya, dia pikir Rafael yang datang sebagai super heronya, ternyata dugaannya salah.


Karna saat dia membalikkan tubuhnya, bukan Rafael ternyata, padahal dia sudah berharap lebih Rafael yang memberikanya pelindung.


''Kak Fatur,'' menolog gadis itu lalu Fatur menatap Salsa.


''Lo harap gue, Rafael?'' tanya Fatur dan dibalas anggukan polos oleh Salsa.


Salsa menatap Fatur, dia tidak tau kenapa bisa Fatur ada di sini. Padahal, cowok itu tidak sekolah di sini.


''Kamu kok bisa di sini? Kamu 'kan nggak sekolah di sini,'' terang Salsa, sementara Fatur masih setia memegang payung untuk melindungi Salsa.


''Baru mau pindah,'' jawab Fatur membuat Salsa mengangguk kecil.


Salsa kembali menghadap kedepan, hormat di depan tiang bendera, dengan Fatur yang memayunginya saat ini. Padahal, dia berharap orang itu adalah Rafael, namun harapanya pupus, saat dia membalikkan tubuhnya dan melihat Fatur.


Setidaknya, ada yang melindunginya dari terik matahari, yaitu Fatur dengan setia memayuni Salsa.

__ADS_1


‘’Makasih udah repot-repot,'' kata Salsa kepada Fatur, tanpa melihat kearah cowok itu.


Fatur tidak membalas ucapan Salsa, dia hanya fokus pada wajah cantik yang dulu setiap saat dia buat menangis. Mata indahnya mampu membuat Fatur jatuh cinta, di mata indahnya pula itu, Fatur membuat Salsa menangis.


Senyuman terbit diwajah Fatur, lagi-lagi dia jatuh cinta pada Salsa, gadis itu membuatnya jatuh cinta sejak kecil. Dia hanya mampu menbuatnya menangis agar dia dan Salsa saat itu dekat.


''Kak Fatur kesini sama siapa?'' tanya Salsa.


‘’Papa gue,'' jawab Salsa.


''Om Ibnu?''


''Iya.''


Salsa tidak membalas ucapan Fatur lagi, hingga mereka sama-sama diam saat ini, hingga Fatur bertanya pada Salsa.


''Kenapa bisa lo di hukum?'' tanya Fatur.


''Gara-gara bolos,'' jawab gadis itu.


Fatur terkejut mendengar jawaban Salsa, dia pikir Salsa tidak akan bolos pelajaran, ternyata dugaannya salah.


Rafael yang ingin masuk kedalam kelas menghentikan langkah kakinya, saat melihat Salsa tengah di hukuman di lapangan sekolah, hormat di depan tiang bendera.


Lalu Rafael melihat seseorang berpakaian hitam memayuni Salsa, Rafael seperti tidak asing dengan cowok itu, hingga dia mengingatnya. ‘’Fatur?'' Rafael tidak menyangka jika Fatur sampai di sini.


‘’Ngapain dia di sini?'' menolog Rafael melihat Fatur melindungi Salsa membuat sesuatu bergejolak pada diri cowok itu. Entah mengapa dia tidak suka melihat Fatur seperti seorang pahlawan untuk Salsa.


''Nggak mungkin.'' Rafael menggeleng, seraya mengusir pikiran anehnya itu.


''Rafael.'' Guru yang mengajar di dalam kelas cowok itu memanggil Rafael, karna dia hanya diam di ambang pintu, tidak segera masuk.


‘’Sudah lambat malah bengong di depan pintu,'' kata guru itu lagi, sehingga para sahabat Rafael langsung melihat kearah pintu kelas.


Benar saja, Rafael tengah berdiri di ambang pintu, entah apa yang sedang dia lihat, cowok itu tidak langsung masuk kedalam kelas.


‘’Rafael kenapa?'' colek Izam pada Ethan.


''Nggak tau, dari yang gue lihat, Rafael sedang mengamati sesuatu,'' balas Ethan memperhatikan Rafael dari sini.


Ucapan Ethan dibalas anggukan setuju oleh Izam, karna dia berpendapat yang sama dengan Ethan.


Sementara Leo dan Ardian sedang menunggu cowok itu untuk segera masuk.


''Rafael!'' suara guru itu naik beberapa oktaf membuat murid-murid di dalam kelas terkejut, karna teriakan guru di depan mereka.


Rafael hanya melirik guru itu sejenak, lalu kemudian melenggang pergi, bukanya masuk kedalam kelas membuat Guru itu melotokan matanya.


‘’Main pergi aja tuh anak,'' gumam Izam.


Rafael langsung berjalan menuju lapangan sekolah, langkah kakinya membuat Fatur memutar sedikit kepalanya, lalu dia melihat sosok cowok yang selalu menyakiti Salsa dengan ucapanya, tengah melangkah kearah mereka.


Ngapain Rafael kesini?


Fatur dan Rafael saling bertatapan, sementara Salsa belum sadar ada Rafael di sini. Kedua cowok itu saling bertatapan tajam, seakan-akan sedang mengobrol melalu matanya.


Rafael tersenyum tipis kearah Fatur, yang membuat Fatur langsung mengepalkan tanganya itu.


Deg...


Jantung Salsa berdetak tidak karuan, saat melihat kesamping ada Rafael. Dia pikir Rafael tidak akan melaksanakan perintah dari Dio mendapatkan hukuman karna bolos.


''El, aku pikir kamu nggak bakalan jalanin hukuman dari Dio. Ternyata dugaan aku salah,'' kata Salsa seraya tersenyum kearah Rafael, sementara Rafael tidak menatap Salsa sama sekali.


Melihat kehadiran Rafael di sini dan beridiri di sampingnya, membuat gadis itu ikhlas jika di hukum setiap hari, asal bersama Rafael.


Andai Rafael dari tadi di sini, Salsa tidak akan mengeluh karna terik matahari, karna adanya Rafael disampingnya.


''Mau jadi pahlawan lo!'' sindir Fatur membuat Rafael menyungkirkan senyuman devil.


''Kalau lo nggak tau apa-apa, Mendingan lo diam,'' balas Rafael ketus membuat Fatur mengepalkan tanganya. ''Asal lo tau, gue bukan mau jadi pahlawan buat cewek di samping gue. Gue berdiri di sini karna hukuman gue, bukan karna ingin jadi pahlawan buat Salsa. Nggak kayak lo,'' sindir Balik Rafael membuat Fatur makin panas.


''Nggak usah sok lo!'' desis Fatur.


‘’Mendingan lo diam, udah gue bilangin, Mendingan lo diam kalau lo nggak tau apa-apa,'' kata Rafael lagi.


‘’Mendingan lo fokus pegang payung lo itu. Karna yang sok pahlawan itu lo, bukan gue,'' Rafael menekan setiap perkataanya, tanpa mengalihkan pandanganya dari depan.


''Udah, nggak usah rebutin aku. Karna pemenangnya adalah orang yang aku suka,'' ucap Salsa dengan tawa kecilnya, membuat Rafael langsung melirik Salsa.


''Kalau jadi cewek, nggak usah terlalu pd, kalau nggak mau malu sendiri,'' kata Rafael membuat Salsa memanyunkan bibirnya.


''Nggak ada manis-manisnya dikit jadi cowok,'' dumel Salsa.


''Kalau lo mau di perlakuin manis, Mendingan lo sama orang yang suka sama lo, jangan beharap sikap manis pada cowok yang nggak suka lo sama sekali,'' jelas Rafael yang sangat menusuk untuk Salsa. ‘’Kalau lo minta perlakuan manis, dari cowok yang nggak suka lo balik, maka lo harus siap-siap patah hati setiap saat. Karna bukan perlakukan manis yang lo dapat. Tapi perlakuan pahit bercampur hinaan,'' lanjut Rafael seraya melirik Salsa, sehingga mata mereka berdua berada dengan Fatur yang menjadi saksi.


Ucapan Rafael barusan sangat jelas, namun mengapa hatinya sekeras batu, menolak kata-kata tersebut.


Rafael kembali menatap kedepan, dengan tanganya yang hormat.


Tring....


Bell pulang sekolah berbunyi, untung saja Salsa dan Rafael tidak lama berjemur, begitupun dengan Fatur yang setia memegang payung untung Salsa.


Andai saja Fatur tidak ada, Salsa bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, yaitu pingsan.


Ardian, Leo, Ethan dan Izam termangu melihat Rafael sedang di hukum bersama Salsa, yang membuat mereka tertarik karna adanya Fatur di tengah-tengah mereka, dia bisa melihat Fatur dengan setianya memang payung, agar Salsa tidak kepanasan.


‘’Tumben-tumbenan tuh anak mau di hukum, padahal Gerald nggak ada,'' gumam Leo, karna mereka hanya patut pada osis bernama Gerald. Kenapa harus Gerald? Karna Gerald adalah sahabatnya.


‘’Mungkin hatinya juga ikutan panas, karna lihat ada Fatur ada di sini,'' timpal Ethan.


''Oiya, Ar. Lo tau kenapa saudar lo itu ada di sini?'' tanya Izam kepada Ardian.


''Dia bakalan sekolah di sini,'' jawab Ardian.


Dio dan Nita datang, menyuruh Rafael dan Salsa untuk berhenti menjalankan hukumannya, karna bell pulang sudah berbunyi.


Rafael menghentikan langkah kakinya di dekat Dio. ''Gue jalanin hukuman ini, bukan karna gue dengerin omongan lo. Asal lo tau, nggak ada anak osis yang di patuhi anak ARIGEL kecuali Gerald, ketua osis lo.'' Rafael menekan setiap perkatanya pada Dio yang tidak di gubris oleh cowok itu.

__ADS_1


Sementara Salsa menatap punggung Rafael yang sudah menjauh, lalu Salsa melirik Fatur yang masih berada di sini.


''Makasih,'' kata Salsa lalu pergi meninggalkan Rafael.


''Gue suka sama lo sejak kecil, Sal.'' Andai saja kata-kata itu berani Fatur utarakan untuk Salsa.


Jika dia mengutarakan perasaannya pada Salsa, sudah pasti gadis itu akan menolaknya dengan alasan dia sudah mencintai seseorang, siapa lagi kalau bukan Rafael.


''Fatur,'' panggil Ibnu, yang sedari tadi mencari anaknya itu.


Fatur membalikkan tubuhnya, melihat Ibnu menghampirinya. ‘’Dari tadi papa nyariin kamu, ternyata kamu ada di sini,'' ucap Ibnu.


''Kapan Fatur boleh masuk sekolah?'' tanya Fatur.


''Kamu sudah bisa ke sekolah besok,'' balas Ibnu.


Ardian pamit pada sahabatnya untuk menghampiri papanya di lapangan sekolah, karna pria itu menghampiri Rafael di lapangan sekolah.


''Pa,'' panggil Ardian.


Ardian mencium punggung tangan papanya itu, dia sudah tau apa tujuan Ibnu kesini.


‘’Pulang nanti, kamu keruangan papa. Ada yang ingin papa bicarakan,'' kata Ibnu dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.


''Ar, besok Fatur sudah masuk ke sekolah. Papa harap, kalian nggak menciptakan masalah, karna kalian adalah saudara,'' peringat Ibnu seraya menatap satu persatu anaknya itu.


Ardian mengangguk kecil sebagai jawaban, berbeda dengan Rafael yang hanya diam saja, karna cowok itu belum menerima, jika Ardian adalah adiknya. Apalagi geng Ardian dan gengnya itu bermusuhan dan harus berdamai karna mereka adalah saudara.


Fatur meninggalkan Ibnu dan Ardian, lebih dulu Fatur pergi.


''Papa pulang duluan ya. Jangan lupa keruangan kerja papa kalau kamu sudah sampai di rumah.'' Iksan kembali mengingatkan putranya seraya menepuk pundak anaknya itu.


''Iya, Pa.''


Ibnu langsung melenggang pergi, sementara Ardian berjalan menuju kelas Nanda, dia akan mengajak gadis itu pulang bareng.


''Lo dari mana sih, Sal?'' tanya Puri dan sahabatnya yang lain, karna gadis itu bolos pelajaran terakhir.


''Aku di hukum,'' jawab Salsa, seraya memakai tasnya itu.


''Di hukum?'' beo ke empat sahabatnya dan dibalas anggukan kepala oleh Salsa.


''Gara-gara aku ketahuan bolos,'' jelas Salsa.


''Yang hukum lo siapa? Gerald 'kan nggak ada,‘’ucap Puri.


''Lo pikir dengan Gerald nggak ada, anggota osis lainya bakalan diam.'' Cika memberikan pernyataan yang ada benarnya juga.


''Tapi aku bahagia di hukum, karna bukan cuma aku doang yang di hukum, ada Rafael juga, karna aku bolos bareng,'' kata Salsa dengan senyuman merekah di wajahnya membuat ke empat sahabatnya terkejut.


‘’Gimana bisa?'' tanya Sahabat Salsa dengan kepo.


''Lo nggak ngarang 'kan?'' Puri menyipitkan matanya kearah Salsa membuat Salsa berdengus kesal.


''Aku nggak bohong, aku serius. Aku aja heran, kenapa Rafael mau-mau aja di hukum sama Dio, padahal dia cuman dengerin omongan Gerald doang sebagai ketua osis,'' jelas Salsa lagi. ''Apa mungkin karna aku di hukum, dia jadi mau di hukum juga supaya aku nggak sendiri.'' Salsa tertawa renyah.


‘’Tunggu...Tungu...Lo sama Rafael bolos bareng?'' tanya Puri memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Salsa.


Bukanya pulang, para gadis itu malah asik ngobrol di dalam kelas.


''Kok bisa?'' heran Cika.


''Mungkin hati Rafael udah sedikit terbuka buat aku. Sampai-sampai saat aku nyamperin dia di Taman, dia nggak usir aku, padahal tujuan aku keluar tadi pengen buang air kecil, meski dia nggak usir aku di taman, tapi mulut Boncabe Rafael masih tetap sama,'' kata Salsa membuat Puri tertawa keras. Sementara Cika memutar bola matanya malas.


‘’Gue pulang duluan ya, Abang gue udah nungguin gue diluar,'' pamit Nanda lebih dulu pada teman-temanya.


‘’Hati-hati, Na!''


''Iya! Dah!'' Nanda langsung pergi, seraya melambaikan tanganya pada ke empat temanya itu.


Nanda hampir saja menubruk tubuh Ardian, saat dia keluar kelas bertepatan dengan kedatangan Ardian.


‘’Gue antar pulang,'' kata Ardian.


Nanda melewati Ardian, karna dia buru-buru. ''Nggak usah, Boy udah jemput gue,'' tolak Nanda membuat Ardian mendengus kecewa.


''Hati-hati pulangnya, kalau udah sampai kabarin gue!'' teriak Ardian setelah Nanda melangkah jauh.


''Ok!''


Hanya kata itu saja yang Nanda balaskan, lalu Ardian kembali memutar tubunya, berjalan di tengah-tengah lapangan dengan angin menyapu wajah tampanya itu.


Ardian berjalan sendiri menuju parkiran, karna sahabatnya lebih dulu ke parkiran dan menunggunya di sana.


Gue terima lo karna gue kesepian.


Jangan berharap lebih, lo tau ‘kan apa alasan gue nerima lo jadi pacar gue.


Ardian mengingat kata-kata Nanda, alasan mengapa mereka sampai berpacaran.


Izam, Leo, Rafael dan Ethan melihat Ardian sedang berjalan kearah mereka, hanya saja cowok itu sendiri tidak bersama Nanda.


''Cie datang sendiri, pacarnya mana?'' goda Izam membuat Rafael menggelengkan kepalanya.


Izam tidak ada takut-takutnya pada Ardian hingga dia menggoda cowok itu. Sudah melihat Ardian datang sendiri, dia malah bertanya pacarnya mana.


''Minta di geplak lo, Zam. Sama Ardian,'' ucap Leo.


''Nanda pulang bareng sama dokter Boy.'' Hanya itu saja yang Ardian katakan, lalu cowok itu memakai helmnya.


''Kita nggak ke markas?'' Tanya Leo.


''Ke markas dong, Le. Masa gitu aja lo nanya,'' ucap Izam membuat Ethan langsung mencomot bibir cowok itu menggunakan tanganya.


''Tangan lo bau terasi, Sethan!'' teriak Izam.


‘’Gue nggak ke markas dulu,'' kata Ardian seraya menyalakan mesin motornya, sehingga sahabatnya meliriknya.


‘’Kenapa?'' tanya mereka bersamaan.

__ADS_1


''Ada yang mau di omongin papa gue.''


__ADS_2