ARDIAN

ARDIAN
Beraksi menculik Dika


__ADS_3

Salsa turun dari mobil Cika, lalu melambaikan tangannya kepada Sahabtnya.


''Hati-hati.''


Cika membunyikan klakson mobilnya, lalu berlalu pergi, dia akan mengantar Nanda pulang.


''Nan,'' panggil Cika, matanya fokus menyetir mobil.


''Lo yakin nggak sih, kalau suatu saat Rafael bakalan suka balik Salsa? Gue takut aja sama tuh anak, jangan sampai harapannya nggak sesuai yang dia inginkan. Gue takut, dia bakalan lakuin hal bodoh,'' lanjut Cika membuat Nanda nampak berpikir.


Nanda sudah duduk di depan, atas perintah Cika.


''Selama ini, ada cewek yang dekat sama Rafael selain Salsa?'' tanya Nanda memastikan.


''Nggak ada yang suka Rafael senekad Salsa,'' jawab Cika. ''Banyak cewek yang suka Rafael, tapi mereka nggak berani mengutarakan perasaan mereka secara terang-terangn kayak Salsa.''


Nanda mengangguk kecil. ''Nggak ada yang tau isi hati orang. Rafael hari ini nolak Salsa mentah-mentah. Dan jadi beberapa waktu kedepan, Rafael bakalan mulai terbiasa dengan kehadiran Salsa.''


''Tapi...Kita nggak boleh berharap lebih. Jangan sampai, Rafael benar-benar nggak punya perasaan ke Salsa sedikitpun,'' lanjut Nanda.


''Gue juga nggak habis pkir dengan Rafael. Bisa-bisanya dia nolak cewek secantik Salsa. Bukan cuman wajahnya yang cantik, dia juga sopan dan baik.'' Nanda menggeleng pelan tak habis pikir.


''Mungkin aja Salsa terlalu wow untuk Rafael,'' kata Cika dengan tertawa kecil, membuat gadis itu semakin manis jika tertawa.


Mobil Cika sudah sampai di depan rumah Nanda, pagar rumahnya menjulang tinggi keatas.


''Makasih udah nganterin gue,'' ucap Nanda seraya menutup pintu mobil Cika.


''Sama-sama,'' balas Cika.


Cika mulai menjalankan mobilnya untuk segera pulang.


Sepanjang perjalanan, Cika selalu berpikir mengenai perasaanya ke cowok yang dia sukai.


Ini pertama kalinya, dia menyukai cowok apa lagi cowok yang dia suka notabenenya susah di dapatkan. Dia hanya bisa mengaguminya saja.


Cika juga belum memastikan, jika dia menyukai cowok itu atau hanya sekedar rasa kagum saja.


''Biarin perasaan ini tumbuh seiring berjalanya waktu. Biar gue bisa pastiin sama diri gue sendiri, ini sebenarnya rasa suka, cinta, atau hanya rasa kagum saja,'' menolog gadis itu dengan dirinya sendiri.


***


Raisa, mamah Kesya menatap amplop berwana putih diatas meja, yang dibawa oleh Kesya.


Dia baru pulang dari luar kota, langsung di sambut oleh amplop berwarna putih.


Tangan lentik Raisa bergerak membuka amplop tersebut, putrinya Kesya duduk di hadapanya.

__ADS_1


''Panggilan orang tua?'' Raisa mulai membaca isi amplop tersebut.


''Mamah bisa datang, kan, jangan sampai Kesya di scorsing karna mamah nggak datang.'' Kesya memastikan kepada mamahnya itu.


''Besok mamah akan ke sekolah kamu.''


Senyuma mengambang di wajah Kesya, dia langsung memeluk mamahnya. ''Mama yang terbaik.''


Raisa mengusap rambut anaknya. ''Iya sayang.''


Kesya kembali duduk di sofa, ''papah mana, Mah?'' tanya Kesya.


''Besok papah akan datang, papah masih di luar kota,'' jawab Raisa dan dibalas anggukan kepala oleh Kesya.


***


Malam haripun tiba, rumah sakit tempat Boy bekerja masih banyak orang-orang berlalu lalang di koridor rumah sakit.


Mereka berenam tidak membawa motor mereka masing-masing. Sesuai rencana mereka.


Mereka berenam masih berada di dalam mobil. Gerald yang duduk di kursi pengemudi, di sampingnya ada Ardian.


Di kursi tengah ada Izam dan Ethan, kursi paling belakang ada Rafael dan Leo.


Izam melirik Ethan, cowok itu masih saja lesuh. Semenjak putus dengan Vani, dia banyak diam. Bahkan, wajahnya sangat lesuh, seperti seseorang yang sudah menemui jalan buntu.


Karna setiap hari, dia akan beradu mulut dengan Ethan. Melihat Ethan yang diam-diam begini membuat Izam merasakan ada yang kurang.


''Jangan galau terus,'' ucap Izam. ''Lo diam-diam kayak gini, seperti bukan Ethan yang kita kenal.''


Gerald dan Ardian langsung melirik kebelakang, semenjak putus Ethan selalu saja diam, seperti manusia yang tidak mempunyai semangat hidup lagi.


“Yang dibilang Izam benar,” timpal Ardian. “Jangan cuman stuck sama satu cewek, masih banyak cewek diluaran sana.”


”Entar kita suruh Leo nyariin lu cewek, yang lebih cantik dari Vani, lebih **** dari Vani. Dan yang terbaik dari Vani.” Izam kembali angkat suara.


Leo mengangguk setuju. “Lo tenang aja, soal cewek serahin sama gue. Lo tinggal bilang, mau tipikal cewek gimana,” ucap Leo.


“Benar tuh kata Leo, siapa tau aja lo mau sama Pute,” lanjut Izam.


Gerald hanya senyum-senyum saja mendengar obrolan sahabatnya itu.


“Nggak usah pacaran,” sahut Rafael santai. “Cewek itu buat kita susah.”


Sementara Gerald hanya diam saja, seraya tersenyum menyimak obrolan sahabatnya memberikan nasehat untuk Ethan yang habis putus cinta.


''Kalian nggak akan ngerti,'' ucap Izam dengan loyo.

__ADS_1


''Buset dah ini anak, ngomong aja udah selembek ini. Begitu kencang kha putus cinta itu?'' dramatis Izam seraya menggeleng.


Leo tertawa, sementara Rafael berusaha menahan tawanya mendengar suara Ethan selembek itu.


''Udah gue bilang, nggak usah pacar-pacaran. Cewek itu ribet,'' jelas Rafael.


''Lo nggak mau di ganti posisi, Than?'' Ardian mengalihkan pembicaraan, membahas rencana mereka menculik Dika.


Ethan menatap Ardian dengan wajah lesuh, membuat Ardian tertawa kecil melihat sahabatnya itu.


''Efeknya kencang,'' ujar Gerald membuat mereka berlima tertawa dengan ucapan Gerald barusan.


Sementara Ethan hanya mendengus saja.


''Nggak usah,'' jawab Ethan, setelah tawa kelima sahabtnya redah.


''Ok.''


''Gue turun cek keadaan dulu,'' pamit Ardian keluar dari mobil, berjalan masuk kedalam rumah sakit.


Dengan wajah datar, Ardian menelusuri koridor rumah sakit, tanganya dia masukkan kedalam saku celananya.


Didalam mobil, Izam, Gerald, Leo dan Rafael memasang earphone mereka masing-masing untuk mendapatkan info dari Ardian.


''Pake, Than.'' Izam menggeleng, seraya memakaikan Ethan earphone.


Karna cowok itu tidak bergerak memasang earphone miliknya, Rafael hanya menggeleng melihat Izam memasangkan Ethan earphone.


''Gimana, Ar?'' tanya Izam, melalui sambungan earphone yang mereka gunakan masing-masing.


''Lo boleh turun, koridor udah mulai sepi. Ingat, lo harus hati-hati,'' peringat Ardian. ‘’Jangan sampai gagal.''


''Ok.''


Izam menarik nafasnya. ''Turun, Than. Kita mau ngerjain tugas,'' ucap Izam.


Izam keluar lebih dulu, lalu menggandeng tangan Ethan dari mobil.


''Vani,'' gumam Ethan saat mereka sudah berjalan meninggalkan mobil.


''Kita mau culik Dika, urusan Vani urusan belakang.''


Sementara Leo sedang menjalankan tugasnya, untuk mematikan cctv rumah sakit untuk sementara, saat mereka berhasil membawa Dika keluar, Leo akan menyalakan kembali CCTV.


Mereka tidak tau. Mengapa Ardian menyuruh mereka untuk mematikan Cctv. Mereka tidak membantah ucapan Ardian, mereka langsung menjalankannya.


Malam ini, mereka beraksi menculik Dika.

__ADS_1


__ADS_2