ARDIAN

ARDIAN
Anak diluar nikah


__ADS_3

Mereka semua tercengang dengan ucapan Rafael, cowok itu langsung main pergi saja, meninggalkan mereka semua, dengan santainya Rafael melangkah setelah berhasil menjatuhkan mental sosok gadis bernama Lika itu.


Izam menggelengkan kepalanya, sudah mereka katakan sejak dulu, Rafael itu tidak melihat lawan bicaranya, mau laki-laki ataupun perempuan. Cowok itu lalu menatap Lika yang masih mematung, "kalau mau ngatain orang, lo harus cari tahu dulu siapa lawan bicara lo," ucap Izam, "sayang banget cewek secantik lo harus mikirin ucapana Rafael barusan," lanjut Izam lagi. "Kalau kata Leo nggak usah di ambil hati." Kemudiandian Izam dan Ethan tertawa, sementara Leo hanya tersenyum tipis.


"Hmmm." Leo berdehem, sehingga seluruh atensi menatap kearah cowok tampan itu, "lo murid baru `kan?" tanya Leo pada Lika, sementara gadis itu masih diam, jujur saja ucapan Rafael sukses membuatnya diam seribu bahasa.


"Iya, dia murid baru." Bukan Lika yang menjawab melainkan Nita, karna gadis itu masih diam, sedetik kemudian Lika langsung pergi meningglkan mereka semua dengan tangan terkepal hebat.


Ethan menatap Nita, sedari tadi gadis itu hanya diam saja, padahal Nita selalu aktif jika menjalankan tugas seperti ini, dia tidak segan-segan beradu argumen dengan orang yang melanggar hingga menciptakan keributan, yang sering terjadi antara Nita dan Kesya and the geng.


"Lo harus kasi tahu secara detail ke dia, biar ini dia nggak buat kesalahan. Kasihan juga teman lo `kan sampai kena mental sama ucapan Rafael," ujar Ethan dengan santai.


"Tapi gue salut sama keberanianya, tapi mungkin ini keberanian yang terakhir yang dia punya," celetuk Leo dengan senyuman penuh arti membuat kedua sahabatnya tertawa.


"Mendingan kalian balik ke kelas," perintah Dio tanpa  terbantahkan.


"Siapa lo?" sewot Izam membuat Ethan makin tertawa keras.


"Lo nanya dia siapa? Dia itu wakil ketua osis, yang berdiri dibawa kaki Gerald," sembur Ethan dengan tawa keras, tanpa menyaringnya lebih dulu, "atau sebentar lagi jabatanya akan naik sebagai ketua osis, karna Gerald nggak ada. Terus yang murid baru nya jadi wakil ketua osis." Ethan dan Izam makin tertawa keras, sementara Leo hanya tersenyum saja.


"Udah ketularan sama cabenya Rafael lo," celetuk Leo pada kedua sahabatnya, mengabaikan keberadaan Nita dan Dio di sini.


Izam dan Ethan hanya tertawa menanggapi ucapan Leo, karna yang di ucapkan cowok itu tidak sepenuhnya salah juga.

__ADS_1


Dio sangat muak dengan anak ARIGEL, kecuali Gerald.


"Muka lo merah amat," celetuk Izam dengan nada santai menatap Dio, benar saja wajah cowok itu nampak memerah menahan tawa. Ahk, salah, maksudnya menahan amarah yang sudah memuncak siap untuk di tumpahkan.


"Kalau Ardian ada di sini, emang lo berani natap muka dia dengan wajah marah lo itu?" tanya Ethan, "belum jadi ekspresi wajah marah lo, Ardian udah tonjok muka lo itu." Ahk, Ardian memang terkenal cowok tukang pukul yang hebat, dia tidak segan-segan melayangkan bogemanya pada orang yang mengusiknya.


Maka dari itu, mereka takut dengan Ardian, di tambah lagi cara berpakain cowok itu seperti preman saja. Otot-otot tubuhnya yang berbentuk bak atletis, diantara para kelima sahabatnya, Ardian yang paling tinggi.


"Lo selamat hari ini, karna dia nggak ke sekolah," timpal Leo dengan senyuman merekah di wajahnya.


Nita langsung mengajak Dio pergi dari sini, karna anak ARIGEL memang pandai membuat emosi terpancing.


"Kita serahkan semuanya sama kepala sekolah."  Nita langsung menarik tangan Dio untuk segera pergi dari depan anak ARIGEL.


Ethan dan Izam makin tertawa keras, melihat kpergian Nita dan Dio.


"Palingan nyusul Salsa ke bandara,"  jawab Leo seraya berdiri dari kursi yang ia duduki, lalu kedua sahabatnya mengikutinya dari belakang.


Rafael melangkahkan kakinya menuju kelas IPA, lebih tepatnya lagi kelas milik Salsa.Dia ingin memastikan gadis benar-benar pergi atau tidak. Kehadiran Rafael di kelas IPA 1 membuat kaum hawa yang melihatnya menahan nafas, sangat jarang cowok itu muncul di sini, apa lagi dia datang sendiri, tanpa sahabatnya.


Kelas yang tadinya ribut berubah hening seperti kuburan, mata sinis Rafael menatap seluruh penjuru kelas, namun dia tidak melihat Salsa disini, di tambah lagi sahabat Salsa tidak ada. Kecuali Kesya yang menatap Rafael sekilas lalu fokus pada ponselnya kembali.


Mereka di dalam kelas menahan nafas, bahkan untuk menghembuskanya mereka ragu akan Rafael yang akan terganggu, apa lagi mereka sudah tahu Rafael tidak segan-segan menyiram mereka dengan mulut pedasnya itu.

__ADS_1


"Lo nyariin siapa?" ketua kelas IPA 1 satu datang lalu masuk kedalam kelas membawa buku tebal untuk mereka pelajari. Meski guru-guru sedang rapat bukan berarti mereka lolos akan peelajaran dan tugas.


Rafael melirik ketua kelas IPA 1 yang  ber-name tag Sagara.


"Salsa mana?" tanya Rafael to the point membuat seisi kelas makin bungkam. Rafael memang bertanya dengan Saga dengan suara pelan, namun tetap saja suaranya terdengar karna suasana kelas sedang hening-heningnya.


Mereka tentu terkejut, mereka tentu tahu bagaimana hubungan antara Rafael dan Slsa, cowok itu selalu menolak gadis cantik bernama Salsa tanpa perasaan. Dan sekaran cowok itu datang mencari Salsa, bahkan Kesya yang sedari tadi fokus dengan ponselnya menatap kearah Rafael, lalu kemudian dia tersenyum sangat tipis.


"Ch, gue lagi nanya ke lo. Kenapa lo nggak jawab!" sentak Rafael membuat Saga terlonjak kaget, bukan hanya Saga saja, tapi mereka di dalam kelas juga merasakan apa yang di rasakan Saga. "Tiba-tiba mulut lo bisu hah!"


"Nggak, Raf...."  jawab Saga terbata-bata. ''Salsa hari ini udah nggak ke sekolah lagi, hari ini dia ke luar negeri. Sahabat Salsa yang lain menuju bandara buat ngantar  Salsa,'' terangnya pada Rafael membuat jantung Rafael berdetak sangat kencang.


Apa dia terlambat? Gdis itu benar-benar pergi, itu yang di pikirkan Rafael.


"Sekarang lo nyesel `kan, sia-siain sahabat gue," sindiran itu berasal dari depan, membuat Rafael langsung menatap Kesya, gadis itu masih mengakui Salsa sebagai sahabatnya.


"Apa gue nyuruh anak diluar nikah kayak lo nyahut!" Rafael tak segan-segan menyindir  gadis itu dengan lantang, sementara Kesya langsung mengepalkan tanganya, hingga buku-buku tanganya terlihat jelas.


Ahk, kenapa Kesya sampai lupa, jika Rafael bisa saja membantingnya dengan sindiran elit cowok itu. Rafael langsung keluar kelas membuat mereka bernafas legah dengan kepergian cowok itu.


Lalu setelahnya, seluruh atensi di dalam kelas menatap Kesya dengan tatapan jijik.


BRAK....

__ADS_1


Kesya menggebrak mejanya dengan kuat, membuat mereka terkejut denga gebrakan hebat itu. Kesya berdiri mentap mereka di dalam kelas dengan tatapan membunuh.


"NGAPAIN KALIAN LIHAT GUE, HAH!" raung gadis itu dengan wajah merah padam.


__ADS_2