
Sweater berbahan kasmir lalu rok plisket midi berwarnada senada dengan sweater putih yang di pilih Nanda di dalam lemari, pakainya tidak terlalu terbuka, berbeda dengan styles Puri yang memperlihatkan paha mulusnya itu.
''Lo anggun banget, Nan," puji Puri pada penampilan Nanda saat ini. Penampilan gadis itu nampak anggun, dia tidak memperlihatkan tubuhnya terekspos seperti dirinya.
Nanda hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Puri, mereka semua sudah siap, sisa menunggu Kesya keluar dari dalam kamar mandi.
"Kesya lama banget sih!" Puri nampak kesal, karna saat ini mereka sisa menunggu Kesya saja. "Gue yakin banget, kak Boy udah kesal nungguin kita, ini udah lewat dari waktu yang tentukan Boy.
"Sabar aja kali, Ri, kayak nggak pernah lama aja lu kalau ganti baju," celetuk Pute, karna sedari tadi Puri mengoceh. Karna dia sudah tidak menyukai Kesya, jadi apapun yang gadis itu lakukan akan membuat Puri mengeluh.
"Iyain deh, yang ngebela Kesya mulu." Puri membuang muka tidak menatap Pute.
"Sok imut banget sih lo kalau cemberut," sahut Cika yang sedari tadi hanya menyimak saja.
Puri meghentakkan kakinya kesal, "ngejek mulu lo, Ci. Udah ketularan Rafael aja lo," ujar Puri.
"Ini Kesya benar-ben--"
Tok...Tok...Tok...
Ucapan Puri terputus, karna ketukan pintu dari luar.
"Gue yakin itu kak Boy, kita udah kelamaan di sini," oceh gadis itu, yang tida di tanggapi oleh teman-temanya.
Sementara Nanda berjalan membuka pintu kamar.
Ceklek.
Nanda membuka pintu, muncullah sosok abang yang sudah siap, dengan kaos polos berwarna putih di balut dengan jaket denim dengan celana jeans pendek, di padukan dengan sepatu sneakers.
Nanda bisa melihat wajah kusut Boy, sudah jelas Boy sudah menunggu mereka lama.
__ADS_1
"Omg, kak Boy ganteng banget anjr!" Puri memekik tertahan melihat Boy makin tampan, dengan styles yang sangat cocok untuk dirinya, wajah miliknya tidak menunjukkan jka dia laki-laki yang sudah berumur 26 tahun. "Andai aja dia mau sama gue."
Cika hanya memutar bola matanya malas, menanggapi ucapan Puri barusan. Memang sih Boy tampan, Cika juga mengakuinya namun dia tidak selebay Puri.
"Kak Boy juga punya tipe kali, Ri, nggak mungkin dia mau sama bocah ingusan," seloroh Pute.
"Gue cuman bilang andai, Put, nggak usah baper deh," balas Puri tak ingin kalah.
"Kalian lama sekali," kata Boy, dia berusaha menahan kesalnya pada gadis-gadis remaja itu.
"Maaf kak, Boy. Namanya juga cewek," kata Pute seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Boy menatap mereka di dalam kamar satu persatu, mereka semua nampak cantik, mereka semua sudah siap dengan styles terbaik mereka. Mata Boy mencari satu gadis yang tidak ada di dalam kamar ini, ya Boy tidak melihat Kesya di sini. Lalu matanya menatap Nanda dari bawa sampai atas, adiknya begitu cantik.
"Gue tebak, kak Boy pasti nyariin Kesya `kan," tebak Puri dan dibalas anggukan malas oleh Boy. "Tau tuh Kesya, dia lama banget ganti bajunya, kita udah jamuran nungguin dia.
"Kalian turun kebawa, tunggu saya di sana," kata Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Puri, Pute dan juga Cika.
Ketiga gadis itu sudah keluar,hanya menyisahkan Nanda dan Boy saja.
"Nggak, gue nggak mau kalau abang sam--"
"Percaya kali sama gue, Ra."
"Gimana mau gue percaya sama lo bang, lo aja nyakitin Kesya sampai segitunya. Tanganya sampai memar itu semua gara-gara lo `kan." Nanda menyipitkan matanya kearah Boy, dia sudah yakin jika Boy yang melakukanya.
"Gue juga nggak sengaja kali, Ra," cetus Boy.
Yudah lo turun kebawa gih," perintah Boy dan dibalas gelengan kepala oleh Nanda.
"Nggak," tolaknya tanpa terbantahkan.
__ADS_1
Boy menarik nafasnya panjang, sebenarnya dia gengsi ingin mengatakan ini, "gue mau obatin luka sih anak pelakor itu." Boy mengangkat salep yang akan ia pakai untuk mengobati luka Kesya. "Sekarang lo tunggu gue dibawa, lo ngga mau `kan, sampai luka anak pelakor itu nggak di obatin."
"Yaudah lo obatin aja, biar gue tetap di sini. Gue nggak mau ya bang, kalau lo sampai lukain Kesya lagi. Bukan cuman gue adik lo bang, Kesya juga."
Boy memutar bola matanya malas. "Kalau lo nggak mau, gue nggak akan kasi salep ini sama anak pelakor. Lo tahu, ini salep limit edition, Ra," dramanya membuat Nanda memutar bola matanya malas.
"Yaudah kalau lo nggak mau ninggalin gue sama tuh anak pelakor. Biar tuh memarnya makin parah," ancam Boy, agar Nanda meningglakan dirinya di sini.
Nanda menarik nafasnya panjang, "ok, lo harus buktiin ucapan lo." Lepas itu Nanda pergi meninggalkan Boy.
Tidak lama kepergian Nanda, pintu kamar mandi di buka. Muncullah sosok Kesya dengan rok mini hitamnya, berbahan kulit di padukan dengan crop sweater warna dusti.
Wow, bahkan Kesya lebih seksi dari Puri yang Boy lihat tadi.
Mata Boy dan Kesya kembali beradu, membuat gadis itu menahan nafas. Buat apa Boy di sini? Itu yang ada di dalam benak Kesya saat ini.
"Bibit pelakor memang kayak gini," kata Boy, dia berjalan menghampiri Kesya.
Memar di pergelangan tangan gadis itu di tutupi oleh sweater panjang yang Kesya kenakan, Boy yakin mengapa gadis itu memilih sweater, guna menutupi lukanya. Jika tidak, sudah pasti dia mengenakan tank top sekalian.
"Ngga usah ceramah lo, penampilan gue bukan urusan lo," ketus Kesya berjalan melewati Boy, namun tanganya kembali di cekal oleh pria itu, membuat Kesya meringis karna tangan yang luka yang Boy cekal, dengan cepat cowok itu melepaskanya.
"Gulung lengan sweater lo itu," perintah Boy pada Kesya membuat Kesya menaikkan alisnya sebelah, dia tidak tahu apa maksud Boy menyuruhnya untuk menggulung lengan sweaternya.
"Buat?" tanya Kesya membuat Boy menatapnya kesal.
"Nggak usah sok cool lo." desisnya pada gadis itu. "Gulung atau gue buat memar lo makin parah, biar lo nggak bisa pake baju kurang bahan lagi,' ancamnya membuat Kesya mau tidak mau langsung menggulung lengan sweaternya itu.
Boy tertegun, melihat luka di pergelangan Kesya yang lumayan para, dia tidak menyangka jika cekalan tanganya akan membuat luka lumayan parah.
Kesya tersentak saat Boy mengobati pergelangan tanganya dengan telaten, ada rasa berharap sedikit di benak Kesya, namun pikiran itu langsung ia singkirkan saat Boy berkata. "Nggak usah geer lo, gue lakuin ini bukan berarti gue berhenti benci sama anak pelakor kayak lo. Gue lakuin ini murni karna gue adalah dokter, yang harus nyembuhin orang." Padahal, Boy pernah mengatakan ingin membiarkan Kesya makin parah, saat gadis itu masuk rumah sakit.
__ADS_1
Mata mereka berdua beradu dalam jarak yang sangat dekat. Lagi, Boy melihat mata Kesya sama seperti mata milik Nanda.
Tidak ingin larut dengan itu, Boy berlalu pergi meninggalakan Kesya. Kesya menghembuskan nafas gusar lalu berjalan keluar dari kamar.