
Pute hanya menatap punggung Leo yang sudah hilang, dari ambang pintu. Sekarang, dia sendirian di rumah yang besar ini.
Baru saja dia merasakan kasih sayang, namun itu hanya bersifat sementara saja, membuat Pute kehilangan sesuatu berharga dari hidupnya.
‘’Leo....'' Pute hanya bergumam, seraya berjalan menuju balkon kamarnya, hujan sudah mulai sedikit redah, sudah tidak selebat saat mereka beradu diatas tempat tidur.
Huft...
Gadis itu menghembuskan nafas berat, menatap kearah depan. ‘’Gue lupa bilang sama Leo, kalau gue suka sama dia. Siapa tahu aja, dia bakalan berubah setelah gue kasi sesuatu yang seharusnya buat suami gue kelak. Gue bodoh juga, tapi menginginkannya juga.'' Pute berpikir, mengapa dia bisa memberikanya. Padahal dia dan Leo tidak mempunyai hubungan apa-apa. Hanya sekedar teman mabar saja.
Leo menuruni anak tangga rumah Pute, dia sempat menghentikan langkah kakinya sebelum dia melanjutkannya, dia tahu jika gadis itu sendirian di rumah besar ini. Pute sudah biasa tinggal sendiri, Leo berharap sahabat Pute ada yang akan menemaninya di rumah besar ini.
Leo menggeleng, melihat Rafael duduk di ruangan tamu, dia menaikkan kakinya diatas meja padahal ini rumah orang.
‘’Lewat mana lo masuk?'' tanya Leo, dia menghampiri cowok itu. Padahal dia menelfon Izam untuk datang menjemputnya, yang datang hanya Rafael, tidak masalah bagi Leo.
''Pintu utama,'' balas Rafael dengan santai.
Leo hanya manggut-mamggut saja.
''Rumah ini sepi,'' ucap Rafael, menatap keseluruh penjuru rumah. ''Kedua orang tua Pute mana?'' lanjut Rafael menatap Leo.
''Mamanya udah lama meninggal, kalau papanya lagi sibuk kerja,'' jawab Leo.
''Jadi...Lo cuman berduaan di sini?'' tanya Rafael lagi.
''Yoi,'' jawab Leo dengan santai dan dibalas tatapan tajam oleh Rafael.
''Kita bahas di mobil aja, Raf. Nggak enak tahu, ini rumah orang.'' Leo lebih dulu meninggalkan Rafael, lalu kemudian cowok itu menyusul Leo.
Rafael membawa mobil, karna diluar masih hujan. Leo ingin masuk kedalam mobil, namun tanganya langusng terhenti membuka pintu mobil, karna dia melihat Pute diatas balkon kamarnya. Mata mereka berdua beradu.
Dara jarak jauh, Leo tersenyum hangat pada Pute, lalu cowok itu masuk kedalam mobil. Dari atas, Pute meremas pagar pembatas, saat melihat Leo masuk kedalam mobil.
Pute juga melihat Rafael, cowok itu menatapnya dari bawah, membuat Pute langusng memalingkan wajahnya.
Gue yakin, Leo udah melangkah jauh.
Rafael masuk kedalam mobil, menyalakan mesin mobilnya untuk segera kerumah sakit. Malam ini,mereka akan kembali kerumah sakit, sesuai yang mereka sepakati tadi.
***
Boy di usir keluar dari ruangan Gerald, yang mengusirnya adalah Nanda, adiknya sendiri, Nanda tidak mau jika seseorang melihatnya menangis.
Tentu saja dia akan menangis.
Nanda menutup pintu, mewanti-wanti Boy agar tidak masuk.
Nanda menarik nafasnya panjang, matanya masih dia pejamkan, dia sudah mengumpulkan keberaniannya untuk melihat Gerald, sebenarnya dia takut, namun dia juga merindukan Gerald.
Nanda berjalan pelan, menuju bansal milik Gerald, dadahnya sesak, indra pendengarnya langsung di suguhkan bunyi monitor, dia kembali memejamkan matanya.
Berani melangkah, mendekati Gerald, padahal niat Boy baik padnaya, ingin menemaninya karna takut jika gadis itu tidak sanggup melihat kondisi Gerald.
Boy tetap menunggu Nanda di luar, dia tidak akan pergi dari sana. Nanda ingin melihat Gerald seorang diri, tanpa harus di temani siapapun di sini.
''Rald,'' panggil Nanda dengan suara bergetar, dia kembali melangkah mendekati bansal Gerald, dia harus melawan rasa takutnya.
Kakinya bergetar, bahkan dia tidak bisa menopang tubuhnya sendiri, melihat kondisi Gerald yang sudah satu minggu ini di rumah sakit, berbaring lemah diatas bansal.
Beberapa alat melekat di tubuh milik Gerald.
Yang pertama, Ada monitor untuk memonitor kinerja organ tubuh, misalnya detak jantung, kadar oksigen dalam darah, atau tekanan darah.
__ADS_1
Yang kedua, Ventilator, dapat membantu Gerald untuk bernapas. Alat ini dihubungkan dengan selang yang bisa dimasukkan melalui hidung, mulut, atau tenggorokan.
Yang ketiga, Defibrilator, atau alat kejut jantung digunakan untuk memulihkan detak jantung normal jika tiba-tiba detak jantung Gerald berhenti. Alat ini bekerja dengan cara mengirimkan kejutan listrik ke jantung Gerald, agar jantung bisa berfungsi kembali.
Yang ke empat, Selang makanan.
Selang makanan digunakan untuk memasukkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh selama Gerald dalam kondisi koma dan tidak bisa makan sendiri. Alat ini dimasukkan melalui hidung dan diarahkan menuju lambung.
Yang kelima, Infus berfungsi untuk memasukkan cairan, nutrisi, serta obat-obatan melalui pembuluh darah vena.
Dan yang terakhir adalah keteter, karna tentunya Gerald tidak akan buang air kecil sendiri, selama di koma.
Melihat itu semua, membuat Nanda menjadi ngilu sendiri.
''Sesakit apa yang lo rasa, Rald,'' gumam Nanda, dia memandang tubuh kurus milik Gerald, duduk di kursi mencium tangan Gerald dengan penuh penyesalan.
Sahabat masa kecilnya sedang terbaring koma, dia tidak tahu harus melakukan apa.
‘’Ayok, bangun.'' Nanda mengajak Gerald mengobrol, meski dia tahu cowok itu tidak akan merespon nya, namun dia berharap jika suaranya sampai pada hati Gerald.
''Aku janji, kalau kamu bangun. Aku bakalan jadi pacar kamu, Rald,'' gumam Nanda, masih setia menggenggam tangan milik Gerald.
Dia sudah memikirkan ini, seharusnya dia tidak menolak cinta sahabanya sendiri, yanh mencintainya sedari kecil begitu tulus.
Bahkan, Gerald tidak tertarik pada gadis manapun, kecuali dirinya. ''Aku sayang sama kamu, Rald. Kamu bangun, ya. Aku janji, nggak akan nolak kamu lagi. Aku janji, aku nggak akan buat kamu cemburu, aku janji sama kamu juga, aku nggak akan jalan lagi sama cowok manapun kecuali sama kamu.'' Nanda mengusap air matanya kasar, entah mengapa dia merasa jika omongannya barusan itu percuma, karna Gerald tidak akan mendengarnya.
''Kamu dengar aku kan'Rald?'' Nanda bertanya pada cowok itu, mengusap rambut Gerald, matanya yang indah itu masih terpejam, wajah yang selalu Nanda lihat dingin, kini terbaring tanpa daya.
''Aku sayang sama kamu, Rald. Ayok bangun. Aku nggak mau, ya. Kalau kamu ninggalin aku selamanya, kamu tidur satu minggu lebih aja, udah buat aku lesuh kayak gini.'' Nanda mencium kening milik Gerald, air matanya menetes di wajah milik Gerald.
''Kamu selalu denger omongan aku, Rald. Jadi, aku minta dan dengarkan aku untuk sekarang ini, aku cuman minta kamu bangun. Apa kamu rela, sahabat kamu ini, di miliki orang lain? Kamu nggak mau'kan? Maka dari itu, kamu harus bangun. Pokoknya kamu harus bangun, aku kangen sama wajah dingin kamu. Aku cuman punya sahabat satu, yaitu kamu, Rald. Kalau kamu ninggalin aku. Aku nggak tahu, harus percaya siapa lagi,'' Nanda memeluk Gerald dengan erat, air matanya menetes di wajah milik Gerald.
''GERALD, BANGUN!!! HIKSSS!!'' Nanda memeluk erat Gerald, air matanya turun membasahi kedua pipinya dan wajah milik Gerald.
Boy langusng memeluk Nanda dengan erat, mengusap rambut adik perempuannya itu, ini alasan Boy mengapa dia ingin menemani Nanda untuk masuk karna ini.
Dua perawat datang, memperbaiki alat yang Nanda geser dari tubuh Gerald, karna tidak sengaja, dia memeluk erat Gerald.
''Bang...'' Nanda memeluk erat Boy. Dia menangis dalam pelukan Boy. ''Lu'kan dokter, masa nggak bisa buat Gerald sadar, bang,'' oceh Nanda dalam pelukan Boy.
Boy tidak membalas ucapan Nanda, dia hanya membalas pelukan adiknya, sembari mengusap rambut milik Nanda.
''Bang....'' Nanda kembali memanggil, karna Boy hanya diam saja.
''Nggak bisa, Ra,'' balas Boy. ‘’Andai aja bisa, nggak akan ada manusia yang akan mati, kalau dokter bisa lakuin hal itu,'' lanjut Boy membuat Nanda semakin terisak.
Boy membawa adiknya duduk diatas sofa, memeluk adiknya dengan erat.
Boy melepaskan pelukanya, memegang kedua pundak adiknya, sehingga kakak adik itu beradu tatapan.
''Lo harus kuat,'' ucap Boy dengan serius. Tidak ada wajah bercanda yang dia pasang di wajahnya. Boy tidak mau. Jika Gerald akan pergi akan membuat Nanda akan tersiksa.
''Nggak bisa,'' balas Nanda, gadis itu kembali memeluk Boy dengan erat. ''Gue sayang sama Gerald, bang. Dia sahabat gue, orang yang gue percaya,'' lanjut Nanda membuat kakanya menghembuskan nafas berat.
Boy tidak membalas ucapan Nanda lagi, dia membiarkan adiknya itu memeluknya dengan erat, ingus menempel di baju miliknya, namun itu bukan masalah buat Boy.
''Dari kedua masalah, mana yang buat lo tersiksa, Ra. Papa atau Gerald?'' Boy melontarkan pertanyaannya, membuat Nanda mendongak, sehingga keduanya saling bertatapan.
Boy tersenyum pada adiknya, ini yang kedua kalinya dia melihat Nanda menangis, jujur saja melihat Nanda menangis begini membuat Boy gemas sendiri dengan adiknya itu.
''Gue lebih tersiksa melihat Gerald, bang. Gue tersiksa lihat alat-alat itu melekat di tubunya, entah bagaiamana dia bisa melawan rasa sakit itu,'' ucap Nanda seraya mengusap air matanya. Menatap Gerald dari sini, dengan perawat yang sudah memperbaiki alat yang sempat dia geser, karna memeluk Gerald dengan erat tadi. ''Kalau papah....'' Nanda tersenyum getir, mengingat apa yang menimpah keluarganya. ''Gue nggak peduli lagi, mau papa peduli sama kita atau nggak. Lagian, dia udah punya keluarga yang lebih dia sayang, ketimbang kita. Gue cuman minta sama Tuhan, Gerald cepat sadar. Kalau Gerald sadar, dia yang bakalan peluk gue, kalau tiba-tiba ingat, papa,'' ujar Nanda membuat Boy langusng memeluk Nanda dengan erat.
Boy tidak bisa mengatakan, bagaimana kondisi Gerald saat ini, Gerald hanya mempunyai peluang 1% untuk hidup dari 100%. Nanda akan semakin tersiksa, jika mengetahui hal ini.
__ADS_1
Perawat itu pamit pada Boy setelah mengerjakan tugasnya.
''Gue mau tinggal di sini, bang,'' ucap Nanda, suaranya nampak memohon pada Boy.
''Gue harus pulang, gitu?'' tanya Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda, karna jika Boy tidak pulang, siapa yang akan menemani Gina di rumah?
''Ok.'' Kali ini Boy mengalah saja, dia akan pulang cepat dari biasanya, besok dia akan kesini lagi bersama dengan Gina.
''Gue kangen sama Gerald, andai aja waktu itu gue terima Gerald jadi pacar gue,'' ucap Nanda, masih setia berada dalam pelukan Boy.
Boy tidak heran lagi, jika sosok sahabat Nanda bernama Gerald itu mengutarakan isi hatinya kepada adiknya, karna dia sudah tahu lebih dulu, jika Gerald menyukai Nanda. Hanya saja, Boy sudah mengatakan pada Gerald, untuk tidak berpacaran dengan Nanda, karna dia tahu musuh anak ARIGEL itu banyak, dia takut jika musuh anak ARIGEL mencari kelemahan mereka. Boy tidak mau, masa lalu terulang kembali pada keluarganya.
Boy mengusap rambut Nanda, pria berumur 26 tahun itu sibuk dengan pikiranya, di tambah lagi dia tidak jadi liburan ke Swiss.
***
''Ch, gue nggak percaya sama lo, kalau lo nggak ngapa-ngapain!'' sinis Rafael kepada Leo, cowok itu hanya tersenyum tipis saja.
''Secara di rumah itu sepi, nyokap sama bokap Pute nggak ada. Kalian cuman berdua, nggak mungkin kalau lo di sana cuman sebatas numpang doang,'' lanjut Rafael seraya melirik Leo.
''Gue juga numpang, nitip benih gue sama Pute,'' balas Leo dengan santai, membuat Rafael langsung menginjak kaki Leo.
''Lo bilang nggak mau pacaran, tapi....'' Rafael menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan Leo. Dia pikir cowok itu hanya sebatas Playboy saja.
Leo melirik Rafael, cowok itu fokus menyetir. ''Yang bilang, gue pacaran sama Pute siapa?'' tanya Leo dengan mimik wajah tidak bersalah.
''Jadi...'' Rafael menunggu kelanjutan ucapan Leo.
''Lo tahu aja, apa yang di lakuin cowok sama cewek kalau cuman berduaan.'' Leo menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
''Brengsek lo emang, lo nggak takut, kalau sampai anak orang hamil,'' sinis Rafael membuat Leo terkekeh kecil.
‘’Nggak akan,'' balas Leo.
''Lo yakin?'' Rafael tersenyum sinis, saat Leo hanya diam saja.
Leo berpikir, apakah dia mengeluarkan di dalam atau di luar? Ck, kenapa dia tiba-tiba lupa.
''Tunggu aja, sampai waktu dua bulan, lo tanya sama tuh cewek, kalau dia nggak halangan, fix dia hamil anak lu.'' Rafael menakut-nakuti Leo.
''Nggak akan,'' balas Leo lagi. ''Gue baru pertama kali lakuin nya. Jadi nggak bakalan kebobolan,'' lanjut Leo, meski sepenuhnya dia tidak yakin.
''Siap-siap aja lu jadi bapak,'' ucap Rafael lagi dengan tawa kerasnya membuat Leo berdengus kearah cowok itu.
‘’Antar gue balik aja, Raf. Gue nggak enak badan,'' perintah Leo, seraya memejamkan matanya. Apa yang dia katakan emang benar, jika saat ini dia tidak enak badan.
''Lo nggak mau kerumah sakit?'' tanya Rafael dan dibalas gelengan kepala oleh Leo.
Mobil milik Rafael tidak mengarah pada jalan kerumah sakit, lebih dulu dia mengantar Leo untuk pulang.
Drt..
Ponsel milik Leo berdering, kebetulan cowok itu menyimpan ponselnya di dekat Rafael, membuat Rafael melirik ponsel Leo.
''Pute nelfon lu,'' ucap Rafael, Leo hanya membuka matanya sebentar lalu kemudian memejamkan nya kembali.
‘’Biarin aja, gue nggak enak badan. Malas ngomongnya,'' ucap Leo membuat Rafael menggeleng.
Benar kata orang, biasanya yang diam itu menghanyutkan, contohnya saja Leo saat ini, setelah mengambil segalanya dia seperti bersikap bodoh amat, atau hanya perasaan Rafael saja.
Sekarang Rafael yakin, jika Pute itu mencintai Leo. Seorang gadis tidak akan memberikan sesuatu yang berharga pada laki-laki yang tidak dia cintai.
__ADS_1
Mampir di karya ku yg di atas yah. Di jamin bakalan buat kalian ketawa😂 POSESIF GIRL. Novel berunsur komedi