
Demi mengalihkan pikirannya dari Ethan, Puri memutuskan ke Mall saja, untuk mengalihkan pikirannya dari Ethan yang balikan dengan Vani.
Puri menghembuskan nafasnya berat, membawa barang belanjaannya menuju kasir. Setelah dia membayar belanjanya, gadis itu langsung menelfon Pute untuk segera pulang, karna sudah satu jam lebih mereka keliling di Mall ini.
Drt...
Ponsel milik Pute bergetar, membuat gadis itu lebih dulu mengangkat telfonya.
''Siapa?'' tanya Leo.
''Puri.''
Leo mengangguk.
''Halo, Ri,'' sapa Pute di ujung Telfon.
‘’Lu udah belanja? Kalau udah, kita balik gih,'' ajak Puri.
''Ok, gue udah jalan, mau nyamperin lu di tempat tadi,'' jelas Pute.
''Gue tunggu lu di parkiran aja.''
''Ok.''
Telfon mereka berakhir.
‘’Puri udah ajak gue balik,'' kata Pute setelah dia menyimpan ponselnya di saku bajunya.
Mereka berdua berjalan untuk segera menuju parkiran, Leo akan mengantar Pute sampai parkiran mobil.
Puri yang melihat kedatangan Pute bersama Leo menaikkan alisnya sebelah, pasalnya gadis itu baru saja menangis karna Leo, sekarang dia melihat gadis itu bersama Leo, seraya bercanda kecil, dapat Puri lihat.
''Hmmm.'' Puri berdehem setelah Leo dan Pute menghampirnya.
''Gue nggak sengaja ketemu Leo di dalam,'' bohongnya.
''Nggak usah di jelasin kali, Put. Itu urusan lo,'' balas Puri dengan tawa kecilnya. ''Asal dia jangan buat lo nangis lagi.''
Leo hanya tertawa kecil saja, lalu Puri masuk kedalam mobil lebih dulu, membiarkan Pute dan Leo mengobrol di luar lebih dulu.
''Hati-hati pulanganya.'' Leo memberikan perhatian kecil kepada Pute.
Pute mengangguk kecil. ''Iya, lu juga. Hati-hati pulangnya. Banyak kendaraan, jangan suka nyalip-nyalip, gue nggak mau kalau lu sampai kayak Gerald. Gue nggak mau,'' ucap Pute karna dia tahu, bagaimana Leo jika membawa motor.
''Iya, lo nggak usah khawatirin gue,'' kata Leo lagi.
Pute sekali lagi mengangguk. ''Gue duluan,'' pamit Pute.
''Kalau udah sampai kabarin, ya. Biar kita langsung mabar. Gue kangen mau main game sama lo,'' jelas Leo lagi membuat Pute tidak bisa menyembunyikan senyumannya itu.
Gadis itu langsung masuk kedalam mobil, setelah dia mengiyakan ucapan Leo, kalau dia sudah sampai, mereka berdua akan mabar. Hal kecil saja sudah membuatnya bahagia.
Meski mereka tidak pacaran, tapi setidaknya ini lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Setelah mobil Pute pergi, barulah Leo berjalan menuju motornya, cowok itu langsung memakai helm fullfecnya, lalu pergi dari parkiran Mall ini.
Cowok itu memang sengaja mengikuti Pute, dia sudah bertekad akan menjaga Pute, meski dia dengan Pute tidak pacaran, namun hal yang dia lakukan pada gadis itu, sudah kelewat batas.
Leo memang mulai suka pada Pute, namun cowok itu tetap tidak ingin pacaran. Meski dia sudah mulai menyukai gadis itu, tetap saja Leo tidak ingin pacaran.
Dia sudah bertekad, jika dia akan menikahi gadis itu setelah dia mendapatkan jabatan yang baik di kantor papa nya kelak, setelah pekerjanya sudah jelas, maka dia akan melamar Pute.
Cowok itu melajukan motornya untuk segera pulang kerumah, karna papa nya sudah sampai dari luar negeri.
Tidak butuh waktu lama, Leo sudah sampai di rumah nya, dia sudah melihat mobil yang menjemput papa nya di bandara sudah terparkir di depan rumah.
Cowok itu melepaskan helmnya, lalu berjalan masuk kedalam rumahnya,
Sedari tadi Pute tersneyum, itu semua tidak luput dari penglihatan Puri.
''Cie, ada yang lagi berbunga-bunga nih,'' celetuk Puri membuat Pute menjadi salting sendiri.
Mulai sekarang, Pute tidak ingin ikut campur pada Dunia percintaan para sahabatnya saat ini.
''Apa sih,'' tawa Pute membuat Puri ikutan tertawa.
‘’Jadi gimana?'' tanya Puri tidak jelas, membuat Pute langsung melirik sahabatnya itu.
‘’Apanya yang gimana?'' tanya balik Pute, karna dia tidak paham dengan pertanyaan Puri.
Puri memutar bola matanya malas. ''Lo sama Leo gimana? Udah jadian belum?'' tanya Puri membuat Pute menggeleng sebagai jawaban.
‘’Memang benar ya, kalau tuh cowok tetap berdiri pada pendiriannya,'' gumam Puri, karna hampir seluruh orang tahu di sekolah, kalau Leo itu tidak mau pacaran, secantik apapun gadis itu.
Pute mengangguk. ‘’Leo emang nggak mau pacaran,'' kata Pute lagi.
‘’Semogah aja sifat Playboy nya Leo bakalan hilang. Lo kan tahu, kalau Leo itu Playboy. Dia suka baperin cewek sana-sini, tanpa dia kasi kepastian,'' ucap Puri dengan tawa kecilnya.
''Termasuk gue,'' tawa Pute.
''Sadar juga lo.''
Laju mobil Pute melambat, saat lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah. Pute membuka kaca mobil nya, lalu matanya fokus kembali ke depan, melihat lampu lalu lintas berubah berwana.
__ADS_1
Suntuk dengan kemacetan sore ini, Pute melirik ke samping, sementara Puri sibuk dengan ponselnya.
Betapa terkejutnya Pute saat melihat sosok Ethan tepat di samping mobilnya, yang membuat Pute terkejut karna Ethan sedang berboncengan dengan gadis yang seragam sekolahnya sama dengan mereka.
Setahu Pute, cowok itu sedang dekat dengan Puri, namun mengapa cowok itu berboncengan dengan gadis lain.
'Ri,'' panggil Pute dengan suara pelan, takut jika Ethan dan gadis itu mendengar suaranya, Pute juga penasaran melihat siapa gadis yang di bonceng Ethan. Dari gestur tubuhnya Pute tidak asing, dengan gestur tubuh gadis itu.
''Hmmm,'' balas Puri dengan deheman, karna dia sibuk scrol Instagram.
''Lo lihat ke samping,'' pintah Pute membuat Puri mengangkat kepalanya, lalu dia melihat kedepan.
Deg...
Gadis itu melihat Ethan berboncengan dengan seseorang. Puri berusaha menetralkan detak jantungnya. Dia tidak boleh terlihat cemburu melihat Ethan dan Vani kembali berboncengan seperti dulu.
''Itu Ethan kan, dia boncengin siapa? Kok dia bisa boncengin cewek lain, padahal lo sama dia kan lagi dekat,'' kata Pute, sementara hanya acuh saja.
.''Itu Vani, mungkin mereka berdua lagi balikan,'' kata Puri pura-pura acuh, lalu gadis itu kembali fokus dengan ponselnya, meski pikiranya saat ini tidak fokus, bisa-bisanya dia melihat Ethan dan Vani kembali, padahal dia sudah menjadi saksi bisu gadis itu balikan.
''Kok lu santai gitu sih, Ri. Lu nggak cemburu?'' tanya Pute heran, karna dia bisa melihat raut wajah santai milik Puri, seakan-akan dia tidak cemburu melihat Ethan dan Vani.
‘’Gue kan jatuh cinta sama setiap cowok ganteng. Jadi, kalau mereka udah punya cewek, bukan berarti gue mau patah hati. Lo kan tahu, gue pecinta cowok ganteng. Lagian, bukan cuman Ethan aja cowok ganteng diantara anak ARIGEL. Ada Ardian, Leo, Izam, Rafael dan juga Gerald. Jadi, gue fine-fine aja lihat mereka. Lagian gue juga tahu, kalau mereka masih saling cinta,'' kata Puri dengan acuh, sementara Pute mengangguk percaya ucapan gadis itu, karna dia bisa melihat tanggapan Puri yang biasa-biasa saja, tidak terkejut sama sekali.
Lampu lalu lintas sudah berubah, gadis itu kembali melanjutkan perjalananya, Puri menatap kedepan, melihat Ethan dan Vani pulang bareng, dia bisa melihat Vani memeluk erat Ethan.
''Bagus deh, Ri. Kalau lo nggak cemburu lihat mereka. Gue pikir, lu bakalan patah hati, setelah melihat Ethan sama Vani. Karna yang gue tahu, lo sama Ethan itu dekat,'' kata Pute membuat Puri pura-pura tertawa padahal hatinya meringis.
''Nggak lah,'' balas gadis itu.
Puri meremas ponselnya, dia ingin segera sampai di rumahnya, dia ingin menangis seraya memeluk boneka di dalam kamarnya.
Tidak butuh waktu lama, mobil milik Pute sudah sampai di depan gerbang rumah Puri.
‘’Makasih tumpangannya, Put. Lo hati-hati pulangnya,'' peringat Puri.
''Iya-Iya,'' balas Pute, lalu dia kembali menjalankan mobilnya setelah Puri turun.
Dengan langkah cepat, Puri masuk kedalam rumahnya, dia menaiki anak tangga dengan cepat. Gadis itu membuka pintu kamarnya, membuang tasnya ke sembarang arah, lalu gadis itu menangis diatas tempat tidurnya.
‘’Kenapa sih gue harus jadi saksi mereka balikan,'' tangis gadis itu, dia tidak bisa menyalakan Ethan sepenuhnya, karna dia juga yang bodoh, yang mudah percaya dengan omongan cowok yang baru putus dari hubungan bertahun-tahun lamanya.
‘’Gue bodoh banget sih. Kenapa pula anak ARIGEL yang berhasil buat gue sama sahabat gue jadi sedih kayak gini. Kayak nggak ada cowok lain aja di sekolah!'' dumel gadis itu dengan menangis sesegukan.
***
Sedari tadi Nanda mengurung diri didalam kamar, setelah dia tahu kenyataan pahit mengenai Gerald, gadis itu lebih banyak diam di dalam kamar.
Huft ...
Tok..Tok...Tok...
''Ra,'' panggil Boy.
''Iya!'' sahut Nanda dari dalam.
''Mama manggil lo, Ra!''
''Ok. Bentar!''
Boy beranjak pergi dari depan pintu kamar Nanda.
Drt...
Ponsel pria itu bunyi, dia melihat nama yang tertera di hp nya, yaitu nama perawat rumah sakit tempat dia bekerja.
''Halo, dokter,'' sapa perawat itu di ujung Telfon saat Boy mulai mengangkat Telfon nya.
''Iya, ada apa?'' tanya balik Boy.
‘’Dokter, ada salah satu pasien yang harus di operasi 10 menit lagi. Kami butuh dokter Boy untuk kerumah sakit, karna Dokter yang lain nya sedang sibuk juga menangani pasien lain,'' jelas perawat itu di ujung Telfon membuat Boy menghembuskan nafas berat.
Baru saja dia pulang dari rumah sakit, dia kembali mendapatkan Telfon. Padahal, dia sudah meminta cuti untuk saat ini, karna kondis mama nya sedang jauh dari kata baik-baik saja.
Namun ini juga kewajiban nya, membuat pria itu merasa bersalah jika menolak ini semua.
''Baik. Saya akan segera kesana. Sepuluh menit lagi, saya akan sampai,'' kata Boy lalu panggilan mereka berdua berakhir.
Boy lebih dulu meminta izin kepada Gina, dan wanita itu langsung mengizinkan anaknya, karna ini adalah kewajiban anak nya sebagai seorang dokter.
Boy juga enggan meninggalkan sang mama, apa lagi dia tahu kondisi Gina saat ini, tidak baik-baik saja.
Namun wanita itu meyakinkan anak nya, jika dia baik-baik saja. Apa lagi Gina mengatakan, ada Nanda yang akan menjaganya.
Boy langsung pamit kepada mama nya, lalu pria itu menuruni anak tangga untuk segera kerumah sakit. Dia berjanji pada Gina, jika dia akan pulang setelah pekerjaan nya selesai.
Boy langsung melajukan mobil nya, meninggalkan pekarangan rumah, tanpa Boy perhatikan, sepasang mata memperhatikan nya. Lalu pria itu berjalan masuk pekarangan rumah Gina.
Pria itu sudah sampai di depan pintu utama, dia memencet bel rumah berulang kali, lalu dia menunggu sampai tuan rumah membukakan nya pintu rumah.
Nanda yang ingin berjalan menuju kamar mama nya, langkah kaki nya langsung terhenti. Dia ingin menyuruh bibi untuk membuka pintu rumah, namun dia sadar jika bibi sedang berada di taman belakang menyapu.
''Siapa juga yang datang bertamu, udah mau malam,'' gumam gadis itu, lalu langkah kakinya menuruni anak tangga, dia yang akan membuka pintu utama.
__ADS_1
Ceklek.
Nanda membuka pintu utama.
Deg...
Nanda terkejut melihat ada papa nya di depan.
''Papa,'' beo Nanda melihat ada Iksan di sini.
''Sayang,'' panggil Iksan dengan suara pelan, dia tidak bisa mendeskripsikan perasaan nya saat ini bertemu dengan Nanda, dia bahagia melihat anak gadis nya itu.
''Papa ngapain di sini?'' tanya gadis itu, dia mengalihkan pandanganya dari Iksan. Dia berusaha untuk melupakan kesalahan papanya yang menbuatnya harus hancur dan berbagi orang tua dengan manusia yang seegois Kesya.
''Papa rindu sama kamu, nak,'' ungkap Iksan.
Nanda menghembuskan nafas berat. ‘’Lebih baik papa pulang. Ara nggak mau kalau di rumah ini akan tercipta keributan lagi. Ara takut kalau istri papa bakalan datang kesini marah-marah nggak jelas, lalu dia nyalahin mama,'' kata Nanda lagi, dia mengusir papanya dengan cara halus.
Dia tidak mau, jika Raisa istri kedua papa nya datang kesini mengamuk seperti dulu, sampai-sampai wanita itu menampar dirinya dan juga mama nya. Hingga membuat Boy menjadi sangat marah saat itu.
Nanda tidak mau kejadian itu terulang lagi.
''Papa udah pastikan, Raisa tidak akan mengikuti papa sampai di sini. Dia sedang kumpul dengan teman-teman nya. Jadi kamu jangan khawatir.''
Nanda menatap papa nya. Berulang kali gadis menghembuskan nafas berat.
''Mungkin istri papa itu nggak akan kesini. Tapi papa tahu kan, gimana marah nya Boy kalau sampai dia tahu, kalau papa ada di sini dan nemuin aku,'' jelas Nanda lagi.
''Boy sedang keluar,'' kata Iksan membuat Nanda memilih untuk diam saja.
''Kamu tidak merindukan papa?'' tanya Iksan dengan senyuman miris di wajah nya. Dia tidak bisa membayangkan, jika kedua anak nya akan membenci nya.
Nanda tersenyum miris, kala Iksan mengatakan kata Rindu.
''Papa nggak tahu, setiap malam aku rinduin papa. Aku pikir, papa beneran keluar kota, sampai-sampai papa nggak bisa pulang. Aku rindu banget sama papa waktu itu,'' kata Nanda dengan senyuman kecewa pada wajah nya. ''Tapi itu dulu, Pa. Semenjak aku tahu kebenarnya, aku mulai melupakan papa dan membuang kata rindu untuk papa.'' Gadis itu membuang wajah nya ke samping, dia tidak bisa menatap wajah papa nya.
‘’Sebegitu benci nya kamu sama papa?'' tanya Iksan.
Nanda kembali menarik nafas nya panjang. ''Papa udah ketemu sama aku. Jadi, Silahkan papa pulang,'' Nanda menunjuk kearah jalan, membuat Iksan menggeleng.
''Jangan benci sama papa, nak,'' pintah Iksan, air mata nya jatuh membasahi wajah nya.
‘’Pergi Pa!'' usir Nanda.
''Sebenci-benci nya kamu sama papa. Papa tetap papa kamu. Kamu adalah anak darah daging papa, nak.'' Iksan mendongakkan kepalanya, agar air mata nya tidak jatuh. ''Papa mengaku salah. Ini adalah kesalahan papa. Papa pikir, dengan menikah lagi, papa hanya kehilangan mama kamu saja. Tapi papa salah, ternyata papa harus kehilangan kamu sama Boy.''
Nanda tidak membalas ucapan Iksan lagi. ''Kamu mau papa pulang?'' tanya Iksan, membuat Nanda menatap papa nya itu. Iksan tersenyum. ''Kalau kamu mau papa pergi dari sini. Papa cuman minta satu sama kamu. Peluk papa dengan erat, seperti saat kamu peluk papa, saat papa pulang dari luar kota. Bagaimana, apa kamu mau, Ara?''
Nanda nampak brpikir, dilihat nya Iksan merentangkan tanganya, menyuruh sang anak agar masuk kedalam pelukan nya.
''Apa anak papa yang satu ini, tidak merindukan pelukan papa nya?''
‘’Anak yang papa dulu gendong kalau nangis, sekarang dia yang buat papa nya menangis.''
Nanda langsung menghambur kedalam pelukan Iksan, dia rapuh jika melihat kesedihan di wajah papa nya itu.
''Pa...Ara juga rindu sama papa. Tapi papa udah buat aku, mama sama kak Boy kecewa sama papa,'' tangis gadis itu di dalam pelukan Iksan.
Iksan tidak mampu mengucapkan sepatah katapun, dia hanya menangis seraya mengusap rambut panjang milik anak nya itu.
''Maafin papa, nak.'' Hanya kata itu saja yang mampu Iksan katakan.
***
Cika berjalan di koridor rumah sakit, pulang sekolah gadis itu langsung kerumah sakit, dia akan menjenguk Gerald lagi.
Dia berharap, dia mendapatkan kabar baik mengenai kondisi Gerald saat ini. Cika selalu saja menantikan kabar baik itu, namun dia belum mendpatakan nya sampai sekarang ini.
''Cika.''
Cika menghentikan langkah kaki nya, saat seseorang memanggil nama nya. Dia membalikkan tubuh nya, dia melihat Izam, Rafael dan juga Ardian. Sementara Ethan dan Leo? Cika tidak tahu, kemana kedua cowok itu.
Cika sih Bersykur karna Leo tidak ada di sini, karna dia masih gedek dengan cowok itu, karna sudah membuat Pute menangis di dalam kelas, sehabis mereka ketemuan.
‘’Gue tebak, lo pasti mau jengukin Gerald kan?'' tebak Izam dengan tawa kecilnya.
Sejujurnya Izam agak canggung jika ingin membercandia Cika, apa lagi sikap gadis itu yang datar pada siapapun.
Cika hanya mengangguk kecil, tanpa ekspresi apapun.
''Lu nggak datang sama, Salsa?'' kini Ardian yang mengajukan pertanyaan pada Cika, membuat Rafael langsung melirik cowok itu.
''Ngapain lo nanyain, Salsa?'' Rafael menaikkan alisnya sebelah, penasaran mengapa Ardian mencari Salsa.
Ardian membalas tatapan Rafael. ‘’Kenapa kalau gue nyariin dia?'' tanya balik Ardian dengan senyuman mengejek.
''Aneh aja,'' balas Rafael.
''Gue cariin Salsa. Karna Fatur ada di rumah sakit ini juga,'' kata Ardian membuat ketiga orang itu menatap Ardian dengan tanda tanya.
Ardian tersenyum misterius.
''Fatur sodara lo itu kan? Apa hubungannya sama lo nyariin Salsa?'' tanya Izam.
__ADS_1
''Kalian nggak tahu, kalau Fatur itu, suka sama Salsa,'' jelas Ardian membuat Izam melototkan matanya.
Sementara Rafael langsung bungkam.