ARDIAN

ARDIAN
Greta?


__ADS_3

Nanda langsung masuk kedalam mobil milik Boy, kakanya sudah menunggunya sedari tadi, sepuluh menit jam pulang sekolah, Boy sudah menunggu Nanda diluar.


Boy langsung melajukan mobilnya menuju sebuah cafe, dengan Nanda duduk di sampingnya.


''Siapa yang jagain mama?'' tanya Nanda, tanpa melirik kearah Boy.


''Mama gue bawa kerumah sakit,'' jawab Boy membuat Nanda langsung melirik Boy dengan raut wajah khawatir.


''Mama nggak apa-apa, gue sengaja bawa mama kerumah sakit, supaya dapat perawatan yang lebih intensif lagi,'' bohongnya membuat Nanda bernafas legah, setidaknya mama nya baik-baik saja.


Mobil milik Boy Langsung Terparkir di parkiranKafe yang dia tujuh. Kemudian Nanda menatap kafe di depannya, kafe yang tidak asing baginya baginya salah satu kafe milik sahabat Ardian, yaitu Ethan.


''Lo tahu kafe ini dari mana?'' Tanya Nanda kepada boy karena tidak pernah berkunjung ke kafeSeperti ini.


Boy melirik Nanda, lalu berkata'' Ini kafe milik Anak ARIGEL,'' Jawab boy.


''Iya gue tahu, gue tanya lo tahu dari mana kafe ini milik salah satu anak ARIGEL,'' Jelas Nanda membuat Boy menetap Nanda dengan tetapan aneh. Karena tidak biasanya Nanda mencari tahu hal sedetail ini dari mana dia tahu dia tahu.


''Ribet banget sih lo, Na,'' Kato boy membuat Nanda diam sejenak karena dia juga tidak tahu mengapa dia bertanya hal ini kepada padahal itu tidak penting.


''Ya gue takut aja kalo Erdian ada dalam,'' Ucap Nanda membuat boy menaikkan alisnya sebelah.


''Lah, emangnya kenapa kalau Ardian ada di dalam,'' Ucap boy lagi membuat tanda menggelengkan kepalanya, entah mengapa dia berubah menjadi bodoh seperti ini, karena pertanyaan yang seharusnya tidak diajukan, malah dia ajukan Membuat kesan aneh pada dirinya dan juga Boy.


''Mendingan, lo turun sekarang. Karena gue nggak punya banyak waktu, buat Ladenin pertanyaan bodoh itu,'' Kata boy membuat Nanda Ber Dengus kesal.


Nanda turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam paket tersebut. Sementara boy sedang menerima telepon dari seseorang.


Pelayan berada m datang menghampiri Nanda yang berada di meja nomor tujuh.


''Silahkan ini buku menunya,'' Ucap pelayan kafe itu dengan ramah seraya memberikan buku menu kepada Nanda.


Nanda di situ mulai memesan makanan yang dia sukai dan boy sukai, Karena kebetulan dia juga sangat lapar.


''Saya pesan es jeruk dua, sama roti bakar dua,'' Pesan gadis itu kepada pelayan kafe tersebut.


Nanda melihat ke arah pintu masuk, dia melihat sosok gadis yang sangat dia kenali.


''Greta,'' gumam Nanda, saat melihat Gretha masuk ke dalam kafe ini.


Nanda tersenyum simpul, kala melihat Greta berjalan menuju meja yang dia tempati sekarang.


''Udah lama lo nunggunya?'' Tanya Greta, Nanda mengangguk sebagai jawaban seraya tersenyum tipis, karena dia juga tidak tahu, mengapa Greta bertanya padanya Dan menghampirinya di sini.


''Oh iya, lu nungguin siapa?'' Akhirnya Nanda berani bertanya pada Greta karna dia juga penasaran.


''Boy,'' Jawab Greta Dengan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.


Nanda bungkam, saat Greta Menyebut nama boy.


Perasaan gadis itu tidak enak, dia yakin ada hubungannya dengan Boy yang mengajaknya ingin bertemu.


Orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga, yaitu Boy. Dia langsung berjalan menghampiri Nanda dan Greta, lalu Boy mulai duduk di kursi dekat Nanda.


''Ra,'' panggil Boy dengan suara pelan. ''Gue bakalan nikah.''


Deg...


Jantung Nanda berdetak kencang, saat Boy mengatakan jika dia akan menikah, tapi dengan siapa? Perasaan, Nanda tidak pernah melihat Boy dekat gadis manapun, dan tiba-tiba saja pria itu ingin menikah.


''Serius?'' tanya Nanda memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Boy. ''Sama siapa?'' lanjut Nanda lagi, bertanya sama siapa Boy akan menikah.


''Greta.''

__ADS_1


Jleb..


Satu nama yang mampu mengotak-atik pikiran Nanda saat ini.


''Greta?'' beo Nanda masih tidak percya seraya melihat Greta yang hanya diam saja. Saat Boy mengucapkan namanya.


''Bang....''


''Mama maksa gue buat nikah, Ra. Gue kasihan sama mama juga, udah lama dia nungguin gue nikah,'' ucap Boy membuat Nanda menghembuskan nafas berat. Dia ingin bertanya pada Boy, apakah dia yakin akan menikah dengan greta? Namun Nanda tidak enak hati, karna ada Greta di sini.


''Gue pamit ke toilet dulu,'' pamit Greta dan dibalas anggukan kepala oleh Boy, gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu pamit menuju toilet, dia sengaja membiarkan Boy dan Nanda untuk bercerita lebih dulu.


Setelah kepergian Greta, Nanda langsung menatap Boy.


''Lu yakin mau nikah sama Greta?'' Nanda kembali memastikan dan dibalas anggukan mantap oleh Boy.


''Gue udah yakin,'' kata Boy berterus terang, kalau dia sudah yakin untuk menikahi Greta.


''Bang, bukanya gue nggak suka Greta. Tapi lu harus mikir dulu, Greta itu masih sekolah, nggak mungkin juga dia bisa langsung kasi lo keturunan setelah lu nikah sama, karna dia sama kayak gue,masih duduk di bangku SMA,'' jelas Nanda lagi, bukan dia menolak Greta, dia hanya tidak ingin, hal yang tidak di inginkan akan terjadi. ''Lo tahu 'kan, mama nyuruh lu nikah juga, karna dia pengen punya cucu,'' lanjut Nanda lagi.


''Gue tau, Ra. Gue udah pikir semuanya. Kalau gue nikah sama Greta, dia bakalan hamil, sebelum tiga bulan kalian lulus SMA,'' jelas Boy lagi.


Nanda menghembuskan nafas berat saja. ''Apa mama udah tau, kalau lu mau nikah sama gadis yang sebaya dengan gue?'' tanya Nanda memastikan kembali, dan dibalas gelengan kepala oleh Boy.


‘’Gimana kalau mama nggak setuju?'' Nanda mengeluarkan kemungkinan yang akan terjadi, jangan sampai Gina menantang pilihan Boy.


Boy menggeleng, ''Mama nggak akan nantang pilihan gue, semalam gue udah nanyain ke mama. Mama bilang, dia nggak akan bantah pilihan gue,'' ucap Boy dengan yakin, karna semalam Boy sudah mengutarakan tentang pilihannya itu.


Nanda kembali menghembuskan nafas berat, sulit untuk di mengerti, mengapa Boy memilih menikah dengan gadis yang seumuran denganya.


‘’Lo suka sama Greta?'' tanya Nanda membuat Boy menjadi salting, Nanda yang melihat kesaltinan Boy memutar bola matanya malas. ''Kayak anak remaja aja lu, bang,'' lanjut Nanda membuat Boy terkekeh.


''Kalau di bilang suka, gue emang suka sama Greta. Lagian, umur bukan penghalang 'kan, saat pertama kali gue liha Greta, dia mampu hati gue berdesir, Ra. Entah kenapa gue bisa jatuh cinta sama anak SMA, padahal di rumah sakit ada banyak dokter muda, tapi gue nggak tertarik sama mereka, gue cuman tertarik sama Greta dong,'' dramatis Boy, yang dia ucapkan memang suatu kebenaran, jika dia benar-benar menyukai gadis bar-bar itu.


Boy berdengus kesal saat Nanda mengatainya pedofil, ''muka gue nggak tua, Ra. Masih bisa peranin anak SMA,'' ketus Boy.


''Jadi kapan lo bicara in sama mama, kalau wanita pilihan lo udah ada,'' kata Nanda seraya menyeruput es jeruk yang baru saja datang.


Boy diam sejenak, lalu kemudian pria itu menjawab. ‘’Entar malam. Mama udah nggak sabar lihat gue nikah, dia juga udah bilang, kalau dia terima siapapun wanita yang kelak jadi pendamping gue,'' jelas Boy lagi membuat Nanda manggut-manggut.


''Jadi, lo bakalan nikah setelah Greta lulus SMA,'' Nanda menberikan pernyataan pada Boy.


''Lo nggak paham maksud gue ngomong tadi, kalau Greta bakalan nikah sama gue, dia bakalan hamil sebelum tiga bulan lulus sekolah. Itu berarti, gue sama Greta bakalan nikah dalam waktu dekat ini,'' jelas Boy membuat Nanda melotokan matanya tidak percaya.


''Jadi lo mau nikahin anaknya orang, yang masih sekolah,'' Nanda tentunya syok dengan perkataan Boy itu.


''Gue udah bilang sama lo, mama nyuruh gue nikah cepat. Hal yang menyangkut Greta bakalan gue urus,'' jelas Boy lagi membuat Nanda tak habis pikir.


‘’Kenapa nggak coba ngomong sama mama, tunggu bentar lagi, nggak lama lagi 'kan lulus sekolah,'' jelas Nanda.


''Gue udah janji sama mama, bakalan nikah secepatnya,'' kata Boy lagi yang tidak di gubris oleh Nanda.


''Greta lama banget dari toiletnya,'' gumam Boy, yang menunggu kedatangan gadis itu kembali.


''Ra,'' panggil Boy.


''Hmmm.'' Nanda hanya membalasnya dengan deheman saja.


''Tapi lo setuju-setuju aja 'kan kalau gue sama Greta?'' tanya Boy dengan raut wajah serius membuat Nanda diam sejenak lalu kemudian Nanda mengangguk mengiyakan ucapan Boy.


''Kalau gue setuju aja lo sama Greta, gue hargain keputusan lo,'' ucap Nanda. Gadis itu berpikir, jika dia akan benar-benar hanya berdua dengan Gina saja, dirumah besar mamanya itu, jika Boy akan menikah.


Sudah pasti, jika Boy menikah dia akan membeli rumah, dengan uang yang sudah dia tabung untuk biaya nikahan dan juga beli rumah, dan sekarang sudah tiba.

__ADS_1


''Kalau lo nikah, lo tetap di rumah mama atau pindah?'' tanya Nanda membuat Boy diam, lalu dia menggenggam tangan adiknya itu.


''Gue bakalan beli rumah sendiri, Ra. Tapi lo tenang aja, gue bakalan selalu datang lihat lo sama mama, kalau gue udah nikah,'' kata Boy membuat mata Nanda memerah, melihat keseriusan Boy bicara membuat gadis itu sedih.


Hal yang selama ini dia tunggu akan terjadi, yaitu Boy akan pergi meninggalkan rumah.


‘’Tapi gue khawatir, kalau lo nikah, lo bakalan asik sama istri lo nanti, dan lupain gue sebagai adik lu, bang.'' Air mata yang sedari tadi Nanda tahan akhirnya lolos juga, membuat Boy langsung mengusap air mata adiknya dengan tawa kecil.


''Ngak akan, Ra. Lo itu adik kesayangan gue, wanita yang pertama gue sayang itu adalah mama, terus adik gue dan yang ketiga wanita yang akan jadi istri gue,'' jelas Boy lagi setelah dia mengusap air mata Nanda.


''Yakin nggak kebalik?'' tanya nanda dan dibalas gelengan kepala oleh Boy.


''Nggak akan,'' balas Boy. ''Udha jangan nangis, muka lo nggak cocok buat nangis,'' ejek Boy membuat Nanda berdengus kesal pada kakanya itu.


''Oiya, kenapa Greta mau nerima lu jadi suaminya? Karna yang gue tau, Greta itu suka sama Ardian,'' kata Nanda membuat Boy langsung memasang wajah kecut.


‘’Tanpa lo bilang, gue udah tau. Kalau Greta suka sama Ardian. Sebagai cewek normal-normal aja sih kalau suka Ardian, dia 'kan ganteng, jadi wajar aja kalau di deketin banyak cewek. Gue denger juga, Kesya laknat itu suka Ardian juga. Kalau gue sebagai Ardian, gue bakalan terima Kesya lalu mainin dia, biar dia nangis bombai,'' Boy berdecih.


''Itu sih maunya lu kali,'' Sosor Nanda menbuat Boy terkekeh pelan.


''Gue nanya sama lu, kenapa bisa Greta nerima lo jadi suaminya? Lo belum jawab,'' kata Nanda lagi membuat Boy diam, dia tidak tau harus mengatakan yang sejujurnya atau mengarang cerita saja.


Boy bernafas legah, karna dia berhasil menghindar dari pertanyaan Nanda saat ini, karna Greta sudah bergabung kembali dengan mereka.


Greta akhirnya kembali. ''Kamu bersemedi didalam toilet, Gre?'' tanya Boy dengan tawa kecilnya itu.


‘’Tadi saya ketemu teman saya, jadi saya sama dia ngobrol sebentar,'' bohongnya pada Boy dan dibalas anggukan kecil oleh Boy.


Makanan yang Boy pesan tadi, sudah datang, lalu pria itu menyuruh kedua gadis itu untuk makan.


Boy dan Greta makan dengan lahap, karna kebetulan dia lapar. Sekali-kali Nanda melirik Greta.


Apa Boy udha tau seluk beluk tentang Greta? Gue takut aja, kalau Boy Nggk nerima Greta apa adanya. Gue takut, saat mereka udah nikah baru Boy tau. Apa lagi tentang scandal Greta Satu bulan yang lalu, berciuman panas dengan seseorang.


Nanda menggelengkan kepalanya. Dia berharap Boy tidak akan tau hal itu. Jika Boy tau, Nanda berharap Boy menrima semuanya.


''Ra, lo kenapa?'' tanya Boy melihat adiknya itu menggelengkan kepalanya secara tiba-tiba, sehingga Greta langsung melihat Nanda juga.


‘’Gue nggak apa-apa,'' jawab Nanda, lalu dia tersenyum tipis pada Greta dan dibalas senyuman tipis oleh gadis itu.


Mereka kembali melanjutkan makanya, sebelum mereka pulang.


‘’Saya akan antar kamu pulang, Gre,'' ucap Boy dan dibalas gelengan kepala oleh Greta.


''Nggak usah, biar saya pulangnya naik taxi,'' balas Greta lagi.


''Biar saya antar pulang,'' putus Boy. ''Nggak ada penolakan, atau kamu yang bayar semua makanan ini, kalau kamu nolak,'' kata Boy lagi membuat Greta dengan terpaksa mengiyakan saja ucapan Boy.


Nanda masih pensaran, dengan alasan apa Greta mau menikah dengan orang yang usianya jauh lebih darinya. Nanda tentu saja penasaran, dapat Nanda amati gadis itu nampak terpaksa menerima Boy.


Baiklah, Nanda akan menanyakan hal ini pada Boy, setelah mereka sampai di rumah, Nanda yakin ada kesepakatan yang mereka buat dalam pernikahan ini.


Ketiganya sudah slesai makan, Boy meminta bil makanan mereka, lalu pria itu membayarnya dengan uang cash, lepas itu Boy mengajak Greta dan Nanda keluar.


Saat ini, Boy sudah berada di dalam mobil, tinggal menyalakan mesin mobil mereka akan jalan, hanya saja Boy berdengus kesal, karna Greta dan Nanda duduk di belakang, tidak ada yang duduk di depan membuat Boy seperti supir saja untuk dua tuan putri di belakangnya.


Boy menghembuskan nafas berat, lalu kemudian pria itu menjalankan mobilnya untuk mengantar Greta pulang.


Tidak butuh waktu lama, Boy sudah sampai depan rumah Greta yang sederhana, Greta mengucapkan Terimaksih pada Boy lalu Gadis itu melenggang masuk kerumahnya.


Setelah Greta masuk kedalam rumahnya, baru lah Boy memutar mobilnya untuk segera pulang kerumah.


''Kita nggak kerumah sakit, mama ada di sana,'' heran Nanda.

__ADS_1


''Nggak.''


__ADS_2