
Kepala sekolah sampai turun tangan, membubarkan saat tahu siapa yang adu jotos di lapangan sekolah. Murid-murid sudah pada bubar, atas intruksi guru-guru dan kepala sekolah.
Berita ini sudah tersebar luas, jika Ardian berantem dengan murid baru, yang baru masuk di sekolah ini.
Sementara Veer sudah dibawa oleh Lika menuju UKS, gadis itu sampai meninggalkan makananya di kantin, saat tahu berita ini.
Nanda sudah membawa Ardian entah kemana, menarik tangan cowok itu menjauhi kerumunan orang-orang.
"Rafael, Leo, Izam dan kamu Ethan! Kenapa kamu cuman lihat sahabat kamu berantem! Kenapa kamu tidak lerai mereka!" Kepala Sekolah memarahi ke empat cowok tampan itu.
Saat ini, mereka berada di ruangan kepala sekolah. Berhadapan langsung dengan kepala sekolah. Dulu, jika ada masalah seperti ini, maka Gerald lah yang turun tangan.
"Kami nggak berani bu," jawab Izam membuat kepala sekolah menatap Izam.
"Dia sahabat kamu, tidak sepatutnya kamu takut padanya!" tegas kepala sekolah lagi, menatap satu persatu mereka.
"Apa alasan kami supaya tidak takut dengan Ardian, bu? Dia kalau marah, dia nggak nganggep orang-orang di sekitarnya. Mau sahabat dia atau bukan. Karna kita sahabat nya Ardian, jadi kita tahu apa yang perlu kami lakukan, bu. Kalau kami sampai nekad, bukan cuman murid baru itu yang di hajar sama Ardian, tapi kita juga yang berani lerai dia!" jelas Leo panjang kali lebar kepada kepala sekolah di hadapan nya ini.
"Ibu saja tidak berani turun tangan kalau menyangkut Ardian," celetuk Rafael santuy, dengan senyuman jenakanya, "ibu selalu nyuruh Gerald buat nyelesain semuanya. Karna ibu juga takut." Pernyataan yang di berikan Rafael langsung menohok sang kepala sekolah..
Kepala sekolah menyandarkan kepala nya di kursi kebesaran nya. Dia tidak mengelak saat Rafael berkata demikian.
"Jadi ibu tetap mau hukum kita?" tanya Ethan menunggu kepala sekolah menyuruh mereka keluar.
Cek lek.
Pintu ruangan kepala sekolah terbuka, muncullah ibu Susi Wali kelas mereka.
Ibu Susi menatap mereka satu persatu, lalu tersenyum tipis.
"Berikan hukuman untuk anak wali mu," perintah Ibu kepala sekolah tanpa terbantahkan.
"Baik, bu." Bu Susi mengangguk paham dengan perintah yang di berikan kepala sekolah.
Mereka keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Jadi ibu beneran mau kasi kita hukuman?" celetuk Izam pada bu Susi, setelah mereka keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Bagaiamana ya, sebenernya ibu tidak mau. Karna ibu tahu ini bukan kesalahan kalian," ucap Ibu Susi, "tapi kepala sekolah memberikan perintah untuk saya memberikan kalian hukuman. Kalian tenang saja, kalian hanya perlu membersihkan kelas kalian."
__ADS_1
Hukuman yang sangat ringan, akhirnya mereka mengangguk mengiyakan ucapan Ibu Susi untuk membersihkan kelas mereka.
Sementara di UKS, Lika sedang meng omelin Veer yang baru sadar, setelah di tangani oleh dokter di UKS ini.
"Lo sih, bertindak terlalu cepat," kata Lika mengomel, sembari mengobati lebam milik Veer.
"Biar cepat selesai," balas cowok itu sembari meringis.
"Nggak ada yang cepat selesai. Malahan lo bonyok. Lo nggak ingat apa kata dia, kita harus hati-hati sama Ardian," kata Lika lagi sembari menjauh dari Veer saking kesal nya dengan cowok itu.
"Lo terlalu gegabah, Veer. Kalau berita ini sampai di telinga nya, dia bakalan marah sama kita. Dia larang kita lakuin kekerasan. Dia nggak mau lo. Aduh jotos sama dia. Dia nyuruh kita misahin pake otak, bukan pake otot," greget Lika membuat luka Veer makin sakit saja mendengar gadis itu mengoceh.
"Gue juga udah bilang sama lo. Habis UAS kita bakalan bertindak," jelas Lika lagi.
"Nggak usah ngomel lo, nggak tau kalau gue lagi sakit," kesal Veer.
Lika menghembuskan nafas berat, "lain kali jangan lo ulang."
"Nggak janji," gumam cowok itu yang masih di dengar jelas oleh Lika.
"Veer.... "
"Terserah lo aja. Nggak ada seminggu lo di sekolah ini. Lo bakalan di larikan kerumah sakit, kalau bertindak gegabah."
Veer meringis mendengar ucapan Lika, andai saja tubuh nya tidak kuat, dia yakin dia sudah di larikan kerumah sakit karna pukulan dari Ardian.
Jujur saja, ini pertama kalinya Veer merasakan pukulan yang sakit seperti ini.
***
Nanda membawa Ardian menuju kantin. Untung saja kantin sudah sepi, hanya ada mereka berdua saja, karna jam pelajaran kedua sudah masuk.
Gadis itu mulai mengompres luka Ardian menggunakan air dingin. Bekas darah di hidung Ardian juga di bersihkan oleh Nanda.
Nanda memberikan salep pada luka cowok itu. Dia mengobati nya dengan telaten, sementara Ardian sibuk menatap manik mata gadis itu.
Tidak ada rasa sakit yang ia rasakan.
Deg...
__ADS_1
Mata tajam Ardian bertemu dengan mata milik nya, membuat Nanda menghembuskan nafas berat.
"Kenapa lo berantem?" tanya Nanda, setelah mengobati luka cowok itu.
"Lo kenal sama dia?" Bukannya menjawab, Ardian malah balik bertanya pada gadis itu.
Nanda diam, dia masih ingat jelas wajah cowok yang menghampiri nya di pasar malam. Dan dia lihat cowok itu kembali, beradu jotos dengan Ardian di lapangan sekolah.
"Jawab kalau gue nanya," kata Ardian lagi, karna Nanda hanya diam saja.
"Gue nggak kenal," jawab Nanda, tidak ada artinya juga jika dia mengatakan dia kenal cowok itu di pasar malam.
Lagian, mereka berdua tidak akrab.
"Lihat gue," perintah Ardian, dengan suara dingin membuat siapapun akan merinding, raut wajahnya juga semakin datar.
Nanda berani menatap manik mata Ardian, yang seperti ingin menguliti kulit-kulit nya.
Ardian memegang dagu Nanda pelan, "lo serius, 'kan? Lo nggak bohongin gue?" tanya Ardian tanpa membiarkan Nanda membuang muka, tatapannya tajam pada gadis itu. Seakan-akan tatapan mata itu berkata, 'jangan coba-coba bohong sama gue'.
"Gue nggak bohong," jawab Nanda dengan yakin.
Ardian masih mengunci mata gadis itu, lepas itu dia melepaskan tangannya pada dagu Nanda.
"Gue mau pulang," kata Ardian berdiri dari kursi yang ia duduki.
"Lo bisa bawa mobil?" Tanya Nanda sedikit khawatir, melihat kondisi Ardian yang baru selesai berantem.
Ardian menatap Nanda, "gua habis berantem, bukan lumpuh total," jelas cowok itu lagi.
"Hati-hati." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Nanda.
Nanda akhrinya membiarkan Ardian pergi, sudah jelas kalau Ardian tidak akan mengantarkan nya ke rumah sakit. Karna cowok itu akan istirahat.
Nanda akan mengubungi pak Budi, mengantarnya ke rumah sakit nanti.
Ting...
Ponsel Nanda bunyi, menandakan ada nya pesan masuk.
__ADS_1
"Pulang sekolah gue bakalan anter lo ke rumah sakit. Gue nggak lupa sama janji gue. Nggak usah khawatirin gue. Gue bakalan baik-baik."