ARDIAN

ARDIAN
Gue suka sama lo (Ardian)


__ADS_3

‘’Kayak nggak senang aja lo, kalau gue di sini,''gerundel Ardian bisa melihat Nanda gelisah dirinya ada di sini.


''Bukan kayak gitu,'' balas Nanda.


''Terus apa?'' tanya Ardian sedikit nyolot kepada Nanda.


Baru kali ini, ketampananya seperti tidak ada apa-apanya untuk Nanda.


Nanda menghembuskan nafas berat. ‘’Gerald bakalan kesini,'' ucap gadis itu. ''Gue nggak mau, sampai dia lihat lo ada di Sini,'' jelas Nanda kepada Ardian.


‘’Emang kenapa kalau gue ada di sini? Ada yang salah dengan kehadiran gue Disini, kalau Gerald ada?''


''Gue nggak mau, sampai Gerald berburuk sangka sama gue,'' jelas Nanda lagi kepada cowok itu.


Entah mengapa, Ardian bukan seperti Ardian yang Nanda kenal, jika berdua cowok itu sangat menyebalkan membuat Nanda ingin menendang Ardian dari sini.


‘’Mending lo pergi,'' usir Nanda dengan kesal.


‘’Tanpa lo minta, gue bakalan pergi!'' Ardian berdiri dari kursi sofa yang dia duduki.


‘’Nyesel gue udah suka sama lo.''


Nanda menaikkan alisnya sbelah, ‘’maksud lo?'' tanya Nanda yang tidak mengerti dengan ucapan Ardian barusan.


''Gue suka sama lo.''


Deg


Nanda merasakan jantungnya berdetak kencang, memang Ardian mengucapkan kata itu dengan emosi, namun Nanda bisa melihat ketulusan di mata Ardian saat cowok itu mengatakan rasa suka.


Ardian langsung pergi dari rumah Nanda, dengan penuh kekesalan.


''Baru kali ini ada cewek yang ngusir gue,‘’kesal Ardian, seraya menyalakan mesin mobilnya prgi meninggalkan pekarangan rumah Nanda.


Cowok itu pulang dengan penuh kekesalan yang di berikan gadis bernama Nanda itu.


Tari sudah siap dengan styles ya yng cantik, wanita itu menuruni anak tangga. Dia kecewa dengan Ibnu, saat suaminya mengatakan tidak bisa pulang karna Pekerjaan di kantor menumpuk.


Akhirnya, Tari ingin pergi sendiri menemui Fatur. Meski bermodalkan foto saja, Tari yakin bisa mengenali anak itu.


Gina langsung mengambil kunci mobil, lalu dia melenggang prgi meninggalkan rumahnya. Lima menit kepergian Tari, mobil milik Ardian masuk.


Ardian menutup pintu mobilnya dengan kesal, nama Nanda terus saja dalam pikiranya. Gadis itu semakin membuatnya jatuh kedalam.


‘’Sial! Kenapa bisa gue suka cewek yang lebih dulu di sukai sahabat gue!'' Ardian mengacak rambutnya frustrasi.


Ardian berjalan masuk kedalam rumahnya, dia belum sadar jika mobil milik Tari tidak ada di garasi.


Drt...


Ponsel Ardain berdering, menandakan adanya yang menelfon, sehingga tanganya yang ingin membuka pintu utama terhenti.


Dia merogoh saku celananya, lalu melihat siapa yang menelfon. ''Papa?'' gumam Ardian,


Ardian langsung menggeser ikon hijau itu, untuk mengangkat Telfon dari Ibnu.


‘’Halo, Pa,'' sapa Ardian di ujung Telfon.


''Mama mana, Ar?'' tanya Ibnu.


‘’Didalam rumah, emang kenapa?'' tanya Ardian membuat Ibnu memijit pelipisnya.


''Coba cek dulu. Kalau mama nggak ada, kamu langsung Telfon papa,'' perintah Ibnu.


''Iya, Pa.''


Panggilan di akhiri, membuat Ardian bingung laku cowok itu masuk kedalam rumah.


''Ma!'' panggil Ardian.


''Mama!''


Ardian tidak mendapatkan respons, membuat Ardian memeriksa kamar mamanya, mamanya tidak ada di dalam membuat Ardian langsung menelfon papanya.


Setelah ponselnya tersambung, barulah Ardian mengatakan jika mamanya tidak ada di rumah. Ibnu menyuruh anaknya itu mencari mamanya, membuat Ardian bertanya ada apa.


Namun Ibnu hanya membalas dengan menyuruhnya mencar mamanya.


Ardian langsung menelfon sahabatnya, dia ingin menyuruhnya untuk membantunya mencari mamanya.


Sementara Ibnu langsung meninggalkan kantor.


🦋


Didalam kamarnya, Nanda sibuk dengan isi pikiranya, ucapan Ardian tadi sukses membuatnya menjadi berpikir keras.


Gue suka sama lo


Kata-kata itu, terus-terusan menghantui pikiran Nanda. ‘’Sialan!'' Nanda membuang boneka pandanya kebawa lantai kamar.


Ardian mengucapkan kata suka emang penuh dengan emosi dan kekesalan. Namun entah mengapa Nanda trus-terusan mengingat ucapan Ardian.


Huft


Gadis itu menghembuskan nafas gusar, lalu dia tersenyum tipis melihat kearah buket berisi coklat Silverqueen yang dibawa oleh Ardian, atas perintah dari mamanya itu.

__ADS_1


‘‘Gue terperangkap,'' gumam gadis itu seraya menggelengkan kepalnya, mengusir nama Ardian dalam benaknya saat ini.


Gadis itu berjalan menuju laci dekat lemari pakainya, lalu dia membuka pacu tersebut. Disana ada permen karet yang siap dia eksekusi.


Jika seperti ini, dia membutuhkan permen karet, untuk menjernihkan pikiranya saat ini.


Gadis itu mulai mengunyah permen karetnya, seraya berjalan menuju balkon kamarnya yang berhadapan langsung dengan jalanan.


Dia tidak bisa menyembunyikan senyumanya, mengingat kembali momenya di rumah Ardian bersama mamanya saat itu.


Padahal, dia hanya ingin menemui Ardian karna menculik Dika, namun ujung-ujungnya membuat kue bersama dengan Tari.


Apa lagi saat itu Tari mengatakan, ini pertama kalinya Ardian membawa gadis kedalam rumahnya, jadi sebelumnya Ardian tidak pernah membawa perempuan dengan sebutan pacar ke rumahnya?


Mustahil sih untuk di percaya, namun Nanda menghilangkan kata mustahil itu, karna yang mengatakanya adalah mamanya Ardian.


Nanda bisa melihat, binar di mata Tari saat itu, saat dirinya datang.


''Ngapain gue pikirin Ardian? Astagah, Gerald aja belum kelar,'' decak gadis itu.


''Nggak boleh kayak gini, Nan. Lo harus fokus dengan masa depan lo itu, agar kelak dapat suami yang sepadan,'' gumamya seraya tertawa kecil dengan ucapanya barusan itu.


‘’Tiba-Tiba gue kangen sama papa,'' ucap gadis itu dengan lirih, dia berjalan menuju tempat tidurnya, ponselnya dia letakkan di atas kasur.


''Ini hari Valentine, seharusnya papa pulang buat rayain sama mama,'' menolog gadis itu, seraya menekan nomor Iksan, papanya.


Drt....


Raisa yang sedang menjaga anaknya seorang diri melirik ponsel Iksan yang dia tinggalkan, karna suaminya ke kantin.


Dia menjaga Kesya seorang diri, karna sahabatnya belum datang, sebentar lagi mereka akan datang.


Raisa mengambil ponsel milik Iksan, lalu dia tersenyum sinis melihat nama yang terterah ''Princes' tentu saja Raisa tahu, itu pasti anak perempuan suaminya, seumuran dengan anak mereka.


''Kok nggak du angkat sih!'' Lama-lama Nanda kesal sendiri.


Ting…


Pesan masuk, membuat Raisa langsung membaca pesan tersebut.


''Pa, papa nggak pulang? Seharusnya papa pulang, ini hari Valentine, seharusnya papa pulang untuk mama dan anak-anak papa. Mama nungguin papa.''


Raisa geram membaca pesan itu. Rasanya dia ingin memberitahukan kepada gadis itu, jika papanya sudah tidak di luar kota.


Papanya sedang bersama dengan kelurga yang seharusnya sudah lama bersama, andai saja perjodohan itu tidak ada.


Ting...


Nanda kembali mengirimkan pesan wa untuk Iksan, yang sialnya yang membaca pesan itu adalah Raisa, istri keduanya yang tidak di ketahui oleh Nanda.


Raisa membaca pesan kedua itu, lalu dia tersenyum seperti antagonis dalam tv. ''Enak saja, suami saya tidak akan datang menemui mama mu itu,'' gumam Raisa, seraya menghapus pesan itu, agar Iksan tidak membacanya.


Nanda melempar ponselnya keatas tempat tidur, bagaimana tidak, jika Iksan hanya membaca pesannya lalu off di wa, tanpa berniat membalas pesanya.


''Sebenarnya papa sesibuk apa, sih.'' Nanda mulai curiga kepada papanya itu.


Tok...Tok...Tok


Pintu kamar Nanda di ketuk.


''Ra, ini mama,'' panggil Gina, membuat Nanda langsung melangkah menuju pintu untuk membukakan mamanya pintu.


Ceklek.


Pintu terbuka, Nanda melihat Gina membawa coklat di bentuk Love. Begitu cantik, hanya ada sepuluh coklat yang di bentuk menjadi Love.


''Coklat dari, Gerald,'' ucap Gina, seraya menyodorkan coklat Love itu kepada Nanda.


‘’Geraldnya mana, ma?'' tanya gadis itu, seraya mengambil coklat itu.


''Tadi ada, dia cuman nyuruh mama kasi ke kamu coklat ini, dia nitip,'' jelas Gina.


‘’Kenapa nggak langsung kasi ke, Aras sih. Pake gaya-gayaan nitip lagi,'' cemberut Nanda, membuat Gina tertawa kecil.


''Gerald buru-buru, Ra. Makanya dia nggak sempat mau tinggal dulu. Katanya sih, dia bakalan kerumah setelah urusannya sudah selesai,'' jelas Gina, dan dibalas anggukan kecil oleh Nanda.


''Ma, kok mata mama merah? Mama habis nangis?'' tanya Nanda dengan khawatir membuat Gina menjadi gelagapan, dia lupa mencuci wajahnya sebelum menemui Nanda.


''Mama ng—''


''Mama nggak usah bilang, kalau mama nggak nangis. Ara bukan anak kecil lagi, Ma. Ara udah tahu, mana mata yang menagis karna sesuatu, dan mata yang menangis karna di masuki debu,'' jelas Nanda membuat Gina tersenyum tipis.


‘’Sekarang mama bilang sama, Ara. Mama kenapa nangis?'' tanya gadis itu.


‘’Mama nggak apa-apa, Ra. Mama cum—''


''Mama nangis karna papa nggak pulang, kan?'' tebak gadis itu tepat sasaran, membuat hati Gina menjadi melow.


‘’Seharusnya papa pulang, karna ini hari Valentine. Seharusnya papa pulang, untuk ajak mama jalan-jalan, atau saling tukar kado,'' cecar Nanda.


Nanda menepuk pundak mamanya itu. ''Ma, Ara merasa, kalau papa banyak berubah semenjak kita pindah ke Jakarta,'' curhat gadis itu membuat Gina langsung memeluk anaknya itu.


Mereka berdua saling berpelukan. ''Mama sama papa baik-baik aja, kan, Ma?'' tanya gadis itu membuat Gina mengangguk bohong.


''Mama sama papa kamu baik-baik aja. Mungkin papa Nggk bisa rayain hari ini, seperti tahun lalu. Karna pekerjaan papa kamu yang banyak,'' jelas Gina, agar Nanda berhenti berpikir mengenai papanya itu.

__ADS_1


''Mama nggak bohong, kan?'' tanya Nanda memastikan, seraya melapaskan pelukanya.


Menatap kedua bola mata milik sang mama, kedua bola matanya yang redup, seakan-akan Kebahagian itu telah hilang pada dirinya.


Nanda yakin mamanya, sedang tidak baik-baik saja.


''Ara yakin, ada sesuatu yang besar, mama sembunyikan dari Ara. Nggak apa-apa kalau mama nggak mau bilang, cepat atau lambat, Ara akan tahu semuanya,'' ucap gadis itu membuat Gina menitihkan air matanya.


Nanda tidak ingin memaksa mamanya untuk mengatakanya, dia sendiri yang akan mencari tahu soal ini.


Dia yakin, papanya ada dibalik semua ini.


Gina pergi meninggalkan Nanda, dengan alasan dia belum menyiram keseluruhan tanaman bunganya.


Nanda meletakkan coklat pemberian Gerald berdekatan dengan buket yang dibawa oleh Ardian tadi.


Gadis itu menghembuskan nafas berat, papanya masih belum membalas pesanya. Membuat Nanda semakin yakin. Jika kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Drt...


Ponsel Nanda bergetar, dia pikir Iksan yang menelfonya, ternyata yang menelfon adalah temanya, Salsa.


''Halo, Nan,'' sapa Salsa di ujung Telfon.


''Iya,'' balas Nanda.


‘’Kamu sibuk nggak? Kalau nggak, kita kerumah sakit jengukin Kesya,'' ucap Salsa.


''Sekarang?'' tanya Nanda.


''Iya, aku udah di jalan sama Cika. Kalau kamu mau pergi, kita singgah di rumah kamu, kita barengan kesana,'' ujar Salsa di ujung Telfon, membuat Nanda berpikir sejenak.


Mamanya sendiri di rumah, Boy menyuruhnya untuk tidak kemana-mana dulu, termasuk ke rumah sakit tanpa seizinya.


‘’Entar malam gue kesana, ya. Soalnya, mama gue sendiri di rumah, gue nggak bisa ninggalin,'' jelas Nanda.


''Oiya, deh. Ok.''


Tut...


Panggilan berakhir.


''Gimana?'' tanya Cika.


‘’Entar malam baru kerumah sakit, soalnya mamanya sendiri di rumah,'' jelas Salsa dan dibalas anggukan kepala eh Cika.


Sampai detik ini, Puri belum juga ingin mengobrol dengan Salsa, mungkin karna kejadian di rumah sakit itu.


Boy mencengkeram kertas yang berada diatas mejanya, hingga kertas itu tidak berbentuk lagi.


Dia baru tahu, jika nama istri kedua papanya itu adalah Raisa.


Yang membuat Boy marah, karna nama adiknya adalah Nanda Raisa Arabela. Itu berarti, Iksan sengaja memberikan nama tersebut untuk nama lengkap nanda.


Boy tahu, jika Raisa lebih dulu mengenal papanya. Daripada mamanya Gina, namun tetap saja papanya dan wanita itu salah.


''Taik!'' marah Boy, pantas saja Boy merasa janggal dengan nama pemberian papanya itu.


''Nama adik gue, ada nama perempuan pelakor itu. Kalau mama sampai tahu ini, mama bakalan tambah sedih,'' decak Boy.


Orang tua mana yang tidak sedih, jika nama anaknya ada nama pelakor.


Ingin sekali Boy mencakar wajah milik Raisa itu, nama pelakor yang membuat papanya bertekuk lutut.


Boy dengan penuh kemarahan, keluar dari ruanganya, dia berjalan menuju ruangan Kesya.


Dia yakin, asa istri kedua papanya di sana.


Di koridor rumah sakit Boy berjalan menuju ruangan Kesya, namun langkah kaki dokter tampan itu langsung tehenti, karna seseorang mencekal tanganya.


''Saya mau ganti uang dokter.''


Greta, dia adalah gadis yang mencekal tangan Boy.


Gadis itu memberikan amplop coklat itu kepada Boy. Waktu itu, Greta tidak punya uang, untuk membayar biaya rumah sakit, namun dokter Boy itu langsung menolongnya.


‘’Tidak usah menggantinya, mending uangnya kamu simpan untuk keperluan mama kamu kedepanya,'' ucap dokter Boy. ''Saya ikhlas membantu kamu, apa lagi kamu adalah teman adik saya,'' lanjutnya dengan senyuman, namun tidak mampu membuat wajah datar Greta berubah.


''Ok, Terimakasih.'' Lepas itu Greta pergi, membuat Boy menatap punggung Greta tidak bergeming.


Dia pikir akan terjadi obrolan yang lumayan panjang, seperti sinetron-sinetron. Yang dimana, jika uang itu di tolak maka yang di tolong akan memaksanya untuk menerima kembali uang itu, namun ini beda.


Boy menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh jatuh cinta sama bocil seumuran adiknya. Bisa-bisa Nanda akan mengejeknya habis-habisan.


Boy tersenyum, seraya menggeleng kecil. ''Greta, lo lahirnya lambat. Andai aja lo nggak lahir lambat,'' gumam Boy dengan ambigu.


Boy ingin kembali melanjutkan langkah kakinya, namun dia melihat arah berlawanan. Teman-teman Kesya membelokkan langkah kakinya, dia tentunya yakin, jika dia ingin menjenguk Kesya.


Huft


‘’Mungkin ini belum saatnya,'' gumam Boy, dia ingin membalikkan tubuhnya, namun langsung terkejut, karna di belakangnya ada Greta, jangan lupa gadis itu memasang wajah datarnya, membuat Boy bergedik ngeri dengan gadis itu.


''Ada apa?'' tanya Boy.


‘’Suster menyuruh saya untuk memanggil dokter ke ruangan mama saya.''

__ADS_1


__ADS_2