
Nanda dan Cika melihat dari mobil, Salsa menghampiri meja anak ARIGEL yang sedang berkumpul.
Nanda juga melihat Gerald, senyuman terbit di wajahnya melihat Gerald sahabatnya, selalu saja menampilkan wajah dingin, khas miliknya.
Ardian nampak serius menjelaskan rencana mereka untuk menculik Dika, tapi tiba-tiba ada Salsa membuatnya berhenti mengobrol.
''El.''
Suara lembut seorang gadis, menyapa gendang telinga anak ARIGEL, mereka melihat Salsa sedang membawa sesuatu.
''Uyyy, ada Salsa tuh, Raf,'' celetuk Izam kepada Rafael yang sudah menatap Salsa dengan tatapan tidak suka.
''Sini, Sal,'' panggil Leo.
''Duduk di sini,'' lanjut Izam menepuk kursi yang kosong di sebelah Rafael.
Salsa tersenyum kearah Izam dan Leo yang menyambutnya dengan hangat, sementara Ardian dan Gerald sibuk dengan ponselnya. Mereka akan melanjutkan obrolannya, jika Salsa sudah pergi.
Sementara Ethan? Dia masih menekuk wajahnya, menampakkan wajah lesuh.
''Iya, Makasih.''
''Aku kesini cuman mau bawaain El kue kacang,'' ucap Salsa dengan lembut.
Salsa menyodorkan satu toples kue kacang untuk Rafael. Rafael menatap gadis itu sejenak lalu kemudian mengambil kue itu.
''Lo boleh pergi,'' usir Rafael tanpa hati, padahal di sebelah meja mereka banyak orang.
''Buset dah lo, Raf. Main usir anak orang aja lo. Udah di bawain kue, bukanya ucapin Terimaksih malah ngusir.'' Izam menggeleng tak habis pikir dengan sahabatnya itu.
''Ajak Salsa duduk dulu,'' saran Leo kepada Rafael.
Leo tentunya kasihan kepada Salsa, gadis lembut, cantik imut, jatuh cinta kepada sosok Rafael yang notabenenya anti sama cewek.
Ethan melirik Rafael dengan wajah di tekuk, dia menggeleng pelan, tak habis pikir dengan Rafael yang main usir.
Ethan ingin menimpali, tapi untuk berbicara pun, dia sangat loyo. Jadi...dia memilih diam saja.
Ingat, dia habis putus. Jadi dia tidak semangat.
''Ngapain lo masih tinggal di situ?'' tanya Rafael dengan tatapan yang masih sama, tatapan tidak suka pada Salsa.
Dia sudah katakan, jika dia tidak ingin dekat dengan cewek manapun, termasuk Salsa tetangganya sendiri.
__ADS_1
Salsa tersenyum kearah Rafael, senyuman cinta untuk cowok itu. ''Aku cuman mau lihat, kamu cobain kue kacang buatan aku,'' ucapnya dengan senyuman mengambang di wajahnya.
''Aku jamin kok, kuenya enak,'' lanjut Salsa lagi.
''Lebih baik lo pergi, kedatangan lo gangguan tau nggak!'' gerundel Rafael kepada Salsa.
Izam menyikut perut Rafael, sehingga cowok itu melirik Izam. ''Lo tega amat sih, sama Salsa. Dia itu cewek cantik, baik dan sopan. Kurang apa lagi sih dia?'' bisik Izam kepada sahabatnya itu.
''Lo tanya kurangnya dia?'' Rafael sengaja menaikkan beberapa oktaf suaranya, agar Salsa dengar.
Izam melotokan matanya kearah Rafael, cowok itu benar-benar....
Rafael melirik Salsa, ''kurangnya dia itu nggak punya malu.'' Rafael menatap Salsa dengan senyuman sinisnya.
Matanya dan mata Salsa bertemu. Bagi Salsa, ini sudah biasa untuk dirinya. Meski ada rasa pedih yang dia rasakan, setiap ucapan Rafael. Namun dia tetap mencintai cowok itu.
''Raf...lo nggak boleh gitu. Kasian Salsa,'' tegur Leo. Dia kasihan dengan Salsa, gadis itu berhati bajak, meski berulang kali Rafael menolak, mengejek bahkan menghina dirinya, gadis itu tetap mengejar dan mencintai Rafael.
''Tau nih cabe satu! Mulutnya pedas banget!'' gerutu Izam.
''Sal, lo nggak usah dengerin ucapan Rafael. Orangnya emang gitu,'' saran Leo tersenyum hangat kepada gadis itu.
Izam mengangguk membenarkan ucapan Leo. ''Iya, Sal. Lo nggak usah ambil hati nih anak cabe. Omonganya emang pedas, tapi hatinya kayak Hello kitty.''
Bisa-bisanya sahabatnya itu melawak.
''Mendingan lo pergi.'' Kini Ardian yang angkat suara, menyimpan ponselnya diatas meja lalu menatap Salsa.
Rafael menyungkirkan senyuman jenaka, saat Ardian sudah angkat bicara.
''Daripada lo disini, lo bakalan sakit hati,'' saran Ardian.
Ada rasa kasihan untuk gadis itu, hanya rasa kasihan saja. Rafael selalu saja memberikan kesan buruk untuk Salsa. Dan ajaibnya Salsa tidak berhenti sampai di sana.
''Ayo pergi.'' Cika datang menggandeng tangan Salsa.
Terlebih dahulu, Cika menatap tajam Rafael. Cika dan Rafael beradu tatapan. Cewek tomboi itu, tidak takut sama sekali dengan Rafael.
''Cowok nggak punya hati lo!'' desis Cika kepada Rafael. ''Bisa nggak sih lo nyuruh orang pergi, tanpa memberikan kesan buruk!''
Rafael berdiri dari kursi yang dia duduki, menatap Cika dengan tatapan remeh, bergantian dengan Salsa.
''Sahabat lo emang murahan,'' jelas Rafael membuat Cika mengepalkan tanganya. ''Dia ngerti bahasa Indonesia, kan? Jadi seharusnya sahabat lo itu ngerti, kalau gue nggak suka sama dia. Jadi suruh dia berhenti ngejar gue.''
__ADS_1
Rafael menekan setiap perkataanya.
''Gue risih sama kehadiran dia !'' ucap Rafael seraya menatap Salsa.
Nafas Cika memburu, dia sangat emosi kepada Rafael saat ini.
''Cika, Salsa!''
Gerald yang fokus dengan ponselnya tadi, kini mengangkat kepalanya saat mendengar suara gadis yang tidak asing.
''Ara,'' gumam Gerald yang hanya di dengarkan oleh dirinya dan juga Ardian.
Ini yang kedua kalinya, Ardian mendengar Gerald menyebut nama Ara.
Mereka semua langsung melihat keasal suara, mereka melihat gadis cantik itu menghampiri meja mereka.
Nanda melihat satu persatu ARIGEL, lalu matanya bertemu dengan sosok Ardian, cowok preman.
''Yuk pulang,'' ajak Nanda seraya melirik jam di pergelangan tanganya. ''Kalian berdua udah buang waktu di sini, ngobrol sama orang nggak jelas.'' Nanda menekan setiap perkatanya membuat Ardian menyungkirkan senyuman.
''Sekali ngomong, dampaknya ke kita,'' dramatis Izam membuat Leo tertawa.
''El, jangan lupa kuenya dimakan, ya.'' Masih sempat-sempat nya gadis itu mengingatkan Rafael. Meski sudah di siram dengan cabe, dia masih seperti biasa.
Cika langsung menarik tangan Salsa keluar, bisa-bisa dia akan emosi kepada sahabatnya sendiri.
Gerald dan Nanda beradu tatapan, sebelum gadis itu melenggang pergi menyusul Cika dan Salsa. Hanya Ardian saja yang memperhatikan Gerald dan Ardian beradu tatapan.
Rafael duduk kembali du kursinya, menatap kue kacang yang dibawakan Salsa tadi untuknya, sedang di cicipi oleh Izam dan Leo.
''Pintar juga sih Salsa bikin kue,'' puji Izam, kue buatan Salsa sangat enak.
''Nggak usah galau-galau, maman dulu nih kue!'' Izam langsung memasukkan kue kedalam mulut Ethan, padahal cowok itu sedari tadi menghayal.
Ethan hanya mendengus kearah Izam, andai saja dia tidak galau, sedari tadi dia memaki Izam.
''Ar,'' panggil Izam.
Ardian menaikkan alisnya sebelah kearah Izam, tanda ada apa?
''Bisa lo ajak tuh Salsa kerumah lo, collab sama tante Tari buat kue. Kue mereka berdua sama-sama enak. Nggak pernah gagal,'' puji Izam.
Setiap kue yang dibawa Salsa untuk Rafael, dia yang selalu memakanya bersama Ethan dan Leo.
__ADS_1
''Malas.''