
"Udah pulang Ar."
Itu adalah suara milik Tari, saat melihat anak nya muncul dari pintu utama.
Ardian langsung menghampiri sang mama, mencium punggung tangan orang tua nya yang tengah duduk di sofa, sembari memesan barang online menggunakan ponselnya.
"Mama sama papa yang nyuruh Ardian langsung pulang," jawab Ardian sembari duduk di samping sang mama.
Tari terkekeh pelan, "gimana rencana liburan kalian?" tanya Tari sembari meletakkan ponsel nya diatas meja, setelah dia melakukan check out di aplikasi orange tersebut. "Nanda ikut, 'kan? Jangan lupa ya, Ar. Harus jaga anak gadis orang, meskipun mama nggak lihat kamu. Jangan lampaui batas," peringat wanita itu membuat Ardian langsung melirik sang mama.
"Nanda belum pasti ikut, Ma. Mama, 'kan, tahu. Kondisi mama nya Nanda sekarang gimana, dia harus jaga mama nya," jelas Ardian membuat Tari manggut-manggut.
"Kalau Nanda nggak pasti ikut, kamu juga nggak ikut?" tanya Tari memastikan dan dibalas gelengan kepala oleh Ardian.
"Tetap ikut, Ma. Ardian nggak enak sama sahabat Ardian," jelas nya, karna tidak mungkin dia mengatakan tidak ikut bersama para sahabat nya, karna Nanda tidak ikut.
"Oh gitu. Mama lupa kasi tahu kamu. Kalau Fatur bakalan ikut liburan sama kalian," kata Tari dengan semangat membuat Ardian langsung menaikkan alis nya sebelah.
"Pasti mama yang paksa kak Fatur ikut, 'kan?" Ardian menyipitkan mata nya kearah Tari membuat wanita itu langsung mencubit pelan lengan sang anak.
"Kali ini bukan inisiatif Mama, Ar. Kak Fatur sendiri yang ngomong sama Mama. Kalau dia mau ikutan liburan ke bali sama kamu. Dia suntuk kalau tinggal di rumah selama libur," jelas Tari lagi. "Tapi ya, Ar. Kak Fatur bawa pacar nya juga loh."
"Pacar?" tanya Ardian.
"Nggak tahu juga, tapi kata Kak Fatur, dia ngajakin cewek juga, biar nggak jadi obat nyamuk kalau di bali nanti."
"Bukan nya Naya sama kak Fatur udah putus, jadi siapa yang bakalan Kka Fatur ajak?" tanya Ardian penasaran.
Tari menjentikkan tangan nya, lalu berkata, "mama tahu, Ar! " kata Tari dengan heboh.
"Siapa?"
"Cewek yang malam itu tinggal di rumah, Ar. Namanya Kesya, dia saudaranya Nanda, 'kan. Ya ampun, mama nggak bisa sembunyiin kebahagiaan mama. Kedua anak mama suka sama gadis yang tepat," kata Tari menggebu-gebu membuat Ardian tertawa dengan ucapan Tari barusan.
Seperti nya, Tari sangat mendukung jika Fatur dengan Kesya. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang mendukung Fatur dengan Kesya.
Jika Fatur dan Kesya jadian, ada untung nya untuk Ardian juga. Gadis itu akan berhenti mengejar nya, dan hidup Ardian akan damai.
"Mama setuju kalau kak Fatur sama Kesya?" tanya Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Tari.
"Mama lihat Kesya itu gadis baik, Ar. Cuman keadaan saja yang membuat nya jadi gadis egois. Kalau mama lihat Kesya, mama jadi inget sama Nanda, karena mereka sedikit mirip," ungkap nya membuat Ardian mengangguk setuju dengan ucapan sang mama.
"Ardian juga setuju banget, Ma. Kalau kak Fatur jadian sama Kesya, itu berarti mama bakalan punya dua calon menantu adik kakak," balas Ardian dengan semangat empat lima.
Bukan hanya dia yang akan mendorong kedekatan Fatur dan Kesya, tapi mama nya juga akan ikut berperang dengan hal ini.
"Mama udah nggak sabar, punya mantu yang cantik-cantik. Kayak Kesya sama Nanda. Semoga kedua anak mama jodoh dengan Nanda dan Kesya. Ardian untuk Nanda, kak Fatur untuk Kesya." Tari begitu semangat membahas hal ini.
Ardian mengangguk setuju, "Ardian setuju banget,Ma. Pokoknya, Ardian dukung mama buat deketin kak Fatur sama Kesya."
"Nggak usah kompor-komporin, Mama!"
Nah, kalian bisa tebak, 'kan, siapa yang datang. Tebakan kalian benar, karna yang datang adalah sosok Fatur yang berjalan menghampiri mereka, Fatur bisa mendengar dengan jelas obrolan Ardian dan Tari, bisa Fatur lihat Tari begitu semangat jika dirinya dengan Kesya, padahal malam itu Fatur membawa gadis cantik bernama Salsa, yang jelas Tari tahu, jika gadis itu yang Fatur sukai, tapi mengapa wanita itu malah mendukung nya dengan Kesya?
"Anak mama panjang umur. Sini, Tur!" panggil Tari, menyuruh Fatur untuk duduk di samping kanan nya, sementara di samping kiri nya ada Ardian.
Fatur duduk di samping Tari, tak lupa pula dia menatap Ardian tajam, sementara cowok itu hanya menahan tawa.
"Omongan Ardian nggak usah di dengar, Ma," ujar Fatur, membuat Tari tertawa anggun.
"Saran adik kamu bagus kok, Tur. Nggak salah juga, kalau kamu sama Kesya," kata Tari.
__ADS_1
"Nah, Ardian setu--"
"Kita tukaran, lo mau nggak. Gue sama Nanda, lo sama Kesya," nyolot Fatur yang berhasil menggantung ucapan Ardian.
"Kalau Nanda nya mau sama lo," balas Ardian tak kalah nyolot nya membuat Fatur makin menatap tajam Ardian.
Skakmat.
Fatur terdiam, dia tidak tahu harus membalas apa ucapan Ardian. Karna apa yang di katakan Ardian memang sangat benar.
"Lagian, Kesya juga cantik. Apa nya yang nggak lo sukai?" tanya Ardian menaik turunkan alis nya.
Fatur memicingkan matanya kearah Ardian. "Sebelum tanya ke gue, apa yang nggak gue sukai dari Kesya. Mendingan lo tanya sama diri lo sendiri, apa yang nggak lo sukai dari Kesya!"
Skakmat, kali ini Ardian terdiam dengan apa yang Fatur ucapkan. Jika tadi nya Ardian yang membuat Fatur skakmat, kini giliran Fatur melakukan hal yang lebih dulu Ardian lakukan.
"Apa cantik nya Kesya, buat lo suka? Jawabanya, nggak, 'kan? Itu juga jawaban dari gue," lanjut Fatur dengan senyuman kemenangan karna Ardian tidak membalas ucapan nya.
Tari menggelengkan kepala nya, melihat perdebatan kedua anak nya seperti anak kecil saja.
"Kamu suka sama cewek yang malam pertama itu kamu bawa kesini?" tanya Tari kepada Fatur.
Ardian tersenyum, kini ada celah untuk nya angkat bicara, agar Fatur tidak meremehkan dirinya.
"Cewek yang mana, Ma? Kasi jelas dong. Kan mama tahu sendiri, kalau bukan cuman satu cewek yang Fatur bawa kerumah ini, beda sama Ardian ma. Ardian baru bawa satu cewek di rumah ini," kata Ardian dengan bangga, tak lupa pula di selingi dengan senyuman tampan milik nya.
Wajah Fatur memerah, bukan karna marah. Tapi karna dia malu. Jika di ingat-ingat, dia sudah membawa lima cewek kerumah ini. Pertama, dia membawa Naya saat makan malam keluarga, saat putus dengan Naya dia membawa dua cewek berbeda untuk makan malam bareng keluarga nya juga. Dia hanya mengisi waktu gabut nya memainkan seorang cewek.
Lalu cewek yang ke empat Fatur bawa, adalah Salsa. Cewek ini adalah cewek spesial yang Fatur bawa.
Meskipun tujuan Salsa datang kesini bukan karna dirinya, melainkan gadis itu ingin belajar buat cake bersama Tari, namun itu cukup membuat Fatur bahagia, karna kedatangan Salsa kerumah ini.
Dan yang terakhir adalah Kesya. Dia tidak sengaja membawa Kesya kesini, karna saat pasar malam itu, dia tidak bisa mengantar gadis itu pulang.
Sementara Tari asik tertawa mendengar apa yang Ardian katakan.
"Jadi, yang Fatur sukai siapa, nak? Cewek pertama, atau cewek kedua, ketiga, empat atau cewek kelima?" tanya Tari sembari menggoda anak nya.
Bahkan, Tari membuat Fatur malu. Mengapa dia bisa sebodoh itu, membawa bermacam-macam gadis tidak jelas. Hanya Salsa yang jelas.
"Fatur suka sama cewek ke empat, Ma," jawab Fatur, membuat Tari mengingat wajah gadis ke empat yang ia bawa kerumah, "gadis yang malam itu buat kue bareng mama."
"Mama jadi ingat, nama nya Salsa, 'kan?"
Fatur mengangguk semangat mengiyakan.
"Gadis yang paling cantik diantara cewek yang Fatur bawa kerumah ini, cewek yang polos," jelas Fatur dengan bangga.
"Mama akuai, dia cantik, manis dan menggemaskan. Tapi menurut mama ya, Tur. Kamu lebih cocok sama Kesya."
"Fatur nggak cocok juga sama Salsa, Ma. Kak Fatur ada-ada aja. Kak Fatur 'kan tahu, kalau Salsa udah punya pacar. Bahkan dia udah di ikat sama sahabat Ardian, namanya Rafael." Ardian menjelaskan dengan detail, di selingi dengan ejekan kearah Fatur.
"Mendingan lo diam, Ar! Mereka belum tentu jodoh!" sengit Fatur, dia selalu kalah dalam beradu argumen secuil ini dengan Ardian.
"Emangnya yang Ardian bilang salah, Ma?" tanya Ardian meminta kebenaran dari Tari, dia mengabaikan tatapan tajam dari Fatur yang siap menguliti dirinya ini.
"Udah-udah, mama nggak bakalan maksa, Fatur mau pacaran sama siapa," kata Tari menengahi kedua anak nya itu. Fatur tentu saja tersenyum bahagia, setidaknya Tari mendukung diri nya dengan pilihan yang akan Fatur pilih. "Tapi.... Fatur harus ingat ya nak. Jangan berharap sama orang yang udah punya pacar, apa lagi kalau kamu tahu, dia sangat mencintai pasangan nya. Itu sangat sulit untuk di tembus, nak." Sambung Tari dengan bijak, dan itu sukses membuat Ardian tidak bisa menahan tawa, setidaknya Fatur bisa mencerna baik-baik ucapan sang mama.
"Fatur udah tahu kali, Ma. Gimana bucin nya Salsa sama sahabat Ardian," celetuk cowok itu lalu pergi, takut-takut jika bola mata Fatur menggelinding di depan nya, itu sangat mengerikan bagi Ardian.
Ardian pergi dengan tawa keras, dan suara tawa itu suskes membuat darah Fatur benar-benar mendidih.
__ADS_1
Untung saja Ardian adalah adik nya. Andaikan saja Ardian masih berstatus sebagai musuh nya, maka dia akan menghajar Ardian habis-habisan.
Fatur menghembuskan nafas berat, lalu melirik Tari yang tersenyum hangat kearah nya.
"Mama nggak paksa Fatur, mau sama siapa. Asal Fatur jangan sama perempuan yang tidak suka sama Fatur. Karna seumur hidup bersama pasangan itu lama," kata Tari bijak dan dibalas anggukan paham oleh Fatur.
"Iya, Ma." Hanya itu saja yang Fatur bisa balas kan.
"Maafin adik kamu, ya. Dia udah ngejekin kamu," kata Tari lagi dengan senyuman tipis.
Fatur membalas nya dengan senyuman, "nggak apa-apa, Ma. Karna apa yang Ardian bilang emang bener."
***
BRAK...
Suara pecahan menggemah dibawah lantai. Vas bunga besar di banting oleh papa gadis itu dengan penuh amarah.
"Papa nggak pernah ajar kamu hal salah seperti ini Putri!" teriak pria paruh baya itu.
Gadis yang di panggil Putri itu adalah Pute.
Gadis itu hanya menangis dibawa lantai, melihat amarah sang papa memuncak. Dia hanya mengeluarkan isak tangis nya, tidak berani mengucapkan sepatah katapun saat ini.
"Maafin Putri, Pa." Setelah lebih satu jam sang papa marah, akhirnya gadis itu berani mengucapkan kata-kata tersebut.
Pri paruh baya itu mengusap wajah nya kasar, dia telah gagal menjadi orang tua, karna anak nya kini tengah mengandung. Dia juga salah sebagai orang tua.
"Siapa yang menghamili mu?" tanya pria itu dengan suara berat.
Gadis itu mendongak menatap sang papa, "pacar Putri, Pa."
"Suruh dia temui papa Besok." Lepas itu, pria itu meninggalkan ruangan tamu. Dia baru saja pulang dari luar kota, karna anaknya menghubungi nya sembari menangis, hal yang tidak pernah anak nya lakukan, membuat pria itu langsung pulang ke Jakarta, menemui sang anak.
Dengan pernyataan yang di berikan sang anak, membuat nya emosi, anak yang membuat nya sibuk bekerja mati-matian tengah hamil diluar nikah.
Pute mengusap air matanya, berjalan lunglai menaiki anak tangga, untuk segera ke kamar nya, dia akan menghubungi Leo untuk menemui sang papa besok.
***
Nanda tengah tersenyum bahagia, melihat Gina makan dengan lahap, membuat nya bahagia tentunya.
"Ara senang, lihat mama makan dengan lahap," kata gadis itu dengan senyuman mengambang, sembari membimbing sang mama untuk minum.
Gina tersenyum hangat kearah anak nya itu, "mama juga sudah merasa lebih sehat," jelas Tari, "sebentar lagi mama akan segera sembuh."
"Amin, asal mama rajin makan dan minum obat nya. Dengerin juga apa yang bang Boy katakan," balas Nanda dan dibalas anggukan paham oleh sang mama.
Pintu ruangan yang di tempati Gina dibuka oleh Greta, dia hanya datang sendiri membawa buah-buahan di tangannya.
"Sini," panggil Gina, membuat Greta tersenyum tipis, lalu gadis itu meletakkan buah diatas nakas tersebut.
Greta mencium punggung tangan wanita yang baru saja menjadi mertuanya itu.
"Suami kamu mana?" tanya Gina, tidak melihat Boy di sini.
Nanda pikir, Greta menghabiskan waktu nya dengan Boy di rumah, ternyata dugaannya salah ternyata.
Mendengar kata suami, membuat Greta menjadi kikuk, "dia lagi keruangan dokter Ivan," jawab Greta dan dibalas anggukan kepala oleh Gina.
Nanda hanya tersenyum tipis saat Greta tersenyum kearah nya.
__ADS_1
"Kamu udah makan?" tanya Gina dan dibalas anggukan kepala oleh Greta.
"Kamu sama Ara ngobrol aja dulu, jangan sungkan-sungkan sama Ara. Kalian adalah ipar. Mama istirahat dulu ya," kata Gina dan dibalas anggukan kepala oleh kedua gadis itu.