ARDIAN

ARDIAN
Truth or Dare?


__ADS_3

Hari ini, Nanda tidak ke sekolah. Dia ingin menjaga Gina, meski kondisinya Gina sudah membaik gadis itu tetap tidak ingin ke sekolah.


''Ara, kenapa nggak ke sekolah?'' tanya Gina, seraya mengoleskan selai di roti Nanda.


Nanda hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Gina, membuat wanita cantik itu terlihat bingung.


Sementara Boy sudah berangkat kerumah sakit, satu jam yang lalu. Jadwalnya sangat padat membuat nya harus kerumah sakit dengan cepat.


Ting…


Ponsel Nanda bunyi, menandakan adanya pesan masuk, dia tersenyum saat melihat yang mengirimkan dirinya pesan adalah Iksan.


Saat membaca pesan dari Iksan, senyuman di bibirnya langsung hilang.


''Kenapa? Kok mukanya murung begitu,'' tanya Gina melihat perubahan raut wajah anaknya itu.


Kondisinya sudah membaik, bahkan Gina sudah melakukan aktivitasnya seperti biasa, yaitu menyiram bunga-bunganya di taman belakang.


''Mah...Ara kalau berangkat ke sekolah sekarang, lambat nggak yah?'' tanya gadis itu seraya melirik jam di pergelangan tanganya.


Gina melirik jam di pergelangan tanganya, masih ada 10 menit untuk anknya bergegas ke sekolah.


''Nggak sih kayaknya, Ra. Kenapa tiba-tiba mau ke sekolah?'' ujar Gina lagi berlibat heran putrinya.


Setelah memberikan alasan yang sedikit logis untuk di percaya Gina, akhirnya gadis itu mulai memakai seragam sekolahnya.


Untung saja dia sudah mandi, sehingga tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah siap dengan pelengkapan sekolahnya.


Pak Budi langsung membukakan pintu mobil untuk Nanda, di sepanjang perjalanan Nanda mendapatkan pesan dari kelima temanya menunggunya di kelas.


Para temanya itu mengatakan, jika pagi ini jam kosong, karna kepala sekolah sedang mengadakan rapat.


Pesta sekolah minggu ini tertunda menjadi bulan depan, sehingga anak osis tidak terlalu sibuk karna acaranya di undur.


''Kita tunggu Nanda dulu, baru main. Dia udah Di jalan,'' ucap Pute setelah dia menelfon Nanda menyuruh gadis itu cepat datang.


''Ok.'' Jawab mereka.


Karna pagi ini jam kosong, membuat Kesya dan ke empat sahabatnya gabut dengan jam kosong ini.


Teman kelas mereka sudah keluar, ada yang ke kantin, ada yang ke perpustakaan dan ada juga ke kelas pacar mereka untuk lending.


Sehingga di dalam kelas ini, hanya ada Kesya dan ke empat sahabtanya yang menunggu kedatangan Nanda.


Karna Iksan gagal datang, membuat Nanda memutuskan untuk ke sekolah saja, daripada dia di rumah boring, lebih baik dia ke sekolah saja.


Iksan tidak jadi pulang hari ini, kemungkinan besok dia akan datang. Dengan alasan, dia tertinggal pesawat.


''Makasih, pak.'' Nanda keluar dari mobil berjalan menuju ke kelasnya, jangan lupa gadis itu berjalan seraya mengunyah permen karetnya.

__ADS_1


Nanda melihat anak ARIGEL berjalan menuju kantin, mereka sudah lengkap. Karna Nanda melihat ada Ethan di sana.


Meski wajah cowok itu masih nampak murung karna habis putus dengan Vani.


Para sahabat Ethan bertanya, apa alasan Vani memutuskan dirinya, tentunya Ethan tidak menjawab. Karna dia putus dengan Vani karna tidak mampu memenuhi keinginan gadis itu saat memintanya menberikan pelajaran kepada Kesya.


''Sorry, gue lambat,'' ucap Nanda saat sudah sampai di depan pintu kelas.


Salsa langsung menarik tangan Nanda, yang dengan santainya mengunyah permen karet.


''Kita mau main Truth ke dare,'' ucap Salsa.


Nanda hanya mengangguk, lalu ikutan duduk di bawa lantai yang sudah bersih. Mereka duduk melingkar dengan botol yang berada di tengah-tengah mereka.


''Kalian udha nggak asing dengan permainan ini, kan?' tanya Kesya dan dibalas anggukan kepala oleh para sahabatnya.


''Karna lagi jam kosong, kita main truth ke dare. Permainannya kayak gini, kalau botol di tengah kita di putar, lalu berhenti di antara kita. Harus memilih truth atau dare. Kejujuran atau tantangan,'' jelas Kesya dan mereka semau mengangguk paham.


Tidak sulit untuk Nanda, karna dia sudah bermain ini bersama dengan Gerald. Mereka mulai duduk dengan baik, Kesya yang akan memutar botol itu.


''1…2…3!''


Botol berputar di tengah-tengah mereka, membuat keenam gadis itu harus siaga.


''Yey!'' Mereka bersorak saat botol itu berhenti pada Cika.


''Truth or dare?'' tanya Salsa dengan semangat empat lima kepada Spupu sekaligus sahabatnya itu.


''Siapa cowok yang kamu suka?'' Mereka semua saling bertatapan, menunggu jawaban dari Cika.


''Jawab, katanya pilih kejujuran ,'' colek Pute.


Dia juga penasaran kepada sahabatan tomboi nya itu, apakah dia menyukai sosok cowok atau tidak.


Cika diam, dia menyesal memilih kejujuran , andai dia tau akan seperti ini, dia lebih memilih tantangan saja.


Cika menarik nafasnya, sebelum menjawab .


''Gue nggak bisa sebut namanya, yang intinya dia sekolah di sini,'' ucapnya dengan ketus, berusaha menjaga Cika sih anti cowok.


''OMG! Cika? Siapa cowok yang lu suka?'' sudah kalian tahu siapa suata itu, kalau bukan suara Puri.


‘’Nanti kita bahas, kita lanjut dulu,'' ucap Kesya dan mereka semua mengangguk.


Cika yakin, habis ini dia akan di goda oleh sahabatnya, terutama Puri. Gadis itu harus memikirkan cara agar terhindar.


Pastinya, sahabtanya akan menuntut dirinya untuk memberitahukan, siapa yang dia suka.


Kini giliran Cika yang memutar botol itu, botol tersebut langsung berhenti dan terarah kepada Pute.

__ADS_1


Mereka tertawa.


''Nan...'' panggil Kesya, memberikan kode kepada sahabat barunya itu.


Nanda yang paham langsung mengangguk.


‘’Truth or dare?'' tanya Nanda kepada Pute.


‘’Gue milih dare,'' jawab Pute.


‘’Kenapa nggak ada yang milih tantangan sih,'' celetuk Puri.


''Lo aja nanti pilih tantangan,'' dumel Kesya membuat mereka tertawa.


''Lo suka sama Leo atau cuman sebatas teman mabar doang?'' tanya Puri membuat mereka langsung menggoda Pute menjadi gelagapan.


''Harus jujur, yah. Nggak boleh bohong,'' lanjuta Salsa membuat Pute nampak berpikir.


‘’Gue emang suka sama dia, tapi gue nggak punya niatan jadi deretan mantan sih, Leo. Suka ada, tapi yah....gitu deh.''


Mereka tertawa, dia yakin Pute berusaha menjaga perasaan itu, agar tidak kebeberan kemana-mana, dan menjadi korban sih Leo Playboy.


''Lanjut,'' ucap Kesya lagi.


Kini Puri yang memutar bola itu, membuat mereka menjadi sedikit waspada. Mereka takut jika Puri akan aneh dalam permainan ini.


Mereka bernafas legah, saat botol tersebut terarah kepada Nanda. Puri tersenyum penuh arti.


''Tantangan atau kejujuran?'' tanya Puri.


Puri berharap jika Nanda memilih tantangan, dia ingin memberikan tantangan yang mencengangkan.


Puri tersenyum penuh arti.


''Karna Nanda sahabat baru kita. Jadi...kita buat spesial,'' ujar Puri.


''Kita diskusi dulu, buat tantangan yang akan di kasi Nanda,'' lanjut Puri lalu kelimanya berdiskusi.


‘’Gimana?'' tanya Puri setelah beberapa menit berdiskusi mengenai tantangan untuk Nanda.


Nanda sungguh penasaran, tantangan apa yang akan di berikan temanya untuk dirinya ini.


''Lo harus ucapin 'I Love You Ardian' di depan Ardian.


***


Jangan lupa mampir di karya teman aku🥰


After One Night Mistake

__ADS_1



__ADS_2