
Boy tidak bisa menahan senyumnya, saat melihat wajah gadis remaja yang ia bawa di tekuk. Ada yang memanyunkan bibirnya kesal, ada yang bertopang dagu, ada yang lesuh dan ada juga yang sangat kecewa.
Sementara anak cowoknya juga mendengus kesal diatas motor, belum turun dari motor yang di naiki. Yang paling kesal adalah Izam, penampilannya sudah keren begini malah di ajak kesini.
"Ini dokter Boy serius ngajak kita di sini?" Izam melemparkan pertanyaan nya kepada sahabat nya.
"Sekali-kali lah kita main kesini," celetuk Leo yang tidak terlalu bermasalah seperti Izam, jika mereka malah kesini.
"Mau nya dokter Boy bilang ke kita dulu. Kita mau kemana, biar styles kita di sesuaikan. Penampilan gue udah keren kayak gini, malah nyungsep kesin," gerutu Izam.
"Yaudah lepas aja baju sama celana lo. Biar lo nggak keren lagi. Gitu aja ribet lo! Kayak anak cewek aja rempong!"
Suara itu adalah milik Rafael, akhrinya cowok itu ngomong juga, setelah diam-diam sejak tadi.
Leo terkekeh, sementara Ethan sudah tertawa keras melihat wajah kecut milik Izam.
"Sekali ngomong, bawaannya cabe lima kilo," balas Izam.
"Ayok turun." Boy mengajak mereka untuk turun mobil, lebih dulu pria itu turun menunggu mereka diluar.
"Ini seriusan, kak Boy ngajak kita kesini?" suara Puri nampak lemas.
"Gue pikir, kak Boy ngajak kita ke mall gitu. Biar kita nonton di bioskop. Apa lagi ada film jomblo Fisabilillah, udah tayang di bioskop," celetuk Pute, "gue pengen lihat Ricky Harun hehehe, dia ganteng banget tau nggak. Dia udah punya anak, tapi masih kelihatan remaja gitu." Pute memang suka dengan sosok Ricky. Dia merasa, pria itu tidak dimakan usia, dia tetap awet muda.
Puri memutar bola matanya malas, "nggak usah nonton, dia aja nggak kenal lo. Dia juga nggak tahu, lo itu ada di dunia atau kagak ada."
"Namanya fans, Ri. Iri banget sih lo."
Mereka berdua berdebat, dengan Puri yang sedikit sensitif karna dibawa di tempat seperti ini, sementara Pute berharap mereka nonton di bioskop saja dari pada kesini.
__ADS_1
Sementara Nanda senang-senang saja, karna dia memang suka tempat seperti ini. Tidak selamanya tempat mewah itu menyenangkan.
Kalau Greta sudah keluar sedari tadi, di susul oleh Nanda. Sementara Cika hanya diam saja, tidak menimpali perdebatan Puri dan Pute. Gadis itu juga berangjak keluar.
Cika juga tidak masalah, jika mereka kesini. Sekali-kali jalan-jalan di tempat, yang jarang orang kaya injaki.
"Bisa diam nggak sih lo!" gertak Kesya, sehingga Pute langsung diam, dia tahu suasana hati Kesya makin buruk karna adanya Greta di sini, di tambah lagi dokter Boy mengatakan jika Greta musuh bebuyutan Kesya adalah calon istrinya.
Pute memilih diam....
"Dih, lo. Siapa nyuruh kita diam? Teman aja bukan lo!" Puri ngerocos pada Kesya.
Mereka berdua beradu pandang, mata Kesya memerah menahan amarah, amarahnya sudah di puncak karna Greta, di tambah lagi Puri.
"Yuk turun, kak Boy udah nungguin kita." Pute turun dari mobil, di susul oleh Kesya yang telah menghembuskan nafas berat.
Di dalam mobil hanya ada Puri saja, dia menatap kakinya dibawa, dia mengenakan high heels warna hitam. Lalu ia tersenyum kecut, andai ia tahu di ajak di tempat ini, dia akan menggunakan baju tidur saja dan sandal jepit, tidak perlu dandan dan memilih dres terbaik.
Ya malam ini, Boy mengajak mereka ke pasar malam. Perjalanan yang memakan waktu satu jam itu, ternyata menuju pasar malam.
Tok.. Tok... Tok..
Seseorang mengetuk pintu mobil, sehingga tangan Puri begerak membuka pintu mobil tengah, dia melihat cowok yang baru menjadi pacar nya itu.
"Kenapa nggak turun?" tanya Ethan, dia bisa melihat wajah cemberut milik Puri saat ini. "Kamu nggak suka pasar malam?" tanya nya lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Puri lalu kemudian gadis itu menggeleng membuat Ethan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kamus perempuan memang sulit di pahami.
"Gue emang kurang suka sama pasar malam. Gue pengen turun, tapi gue nggak pd. Gue pake mini dres di tambah lagi gue pake high heels." Jujurnya, memakai pakaian seperti ini menurut nya tidak cocok untuk ke pasar malam. Sementara penampilan orang yang datang kesini tidak terlalu mencolok.
__ADS_1
"Pakaian kamu nggak terlalu mencolok banget," kata Ethan, pakaian gadis itu emang tidak terlalu mencolok, tapi jika berada di sini bisa jadi ia akan menjadi pusat perhatian karna memakai dres dan high heels.
Puri masih diam, "kamu bakalan pd, kalau jalan sama aku, " kata Ethan lagi membuat Puri tertawa kecil.
"Kalau kaki gue sampai lecet, gara-gara pakai high heels gimana? Apa lagi tempat nya di lapangan, Than. Pasti ada aja yang ngehalangin high heels gue." Puri sengaja memakai high heels, karna ia pikir Boy akan mengajak mereka ke mall, cafe atau tempat nongki lainya.
Namun ternyata dugaannya salah, karna mereka terdampar di pasar malam.
"Kalau kaki kamu sampai lecet, tenang aja aku bakalan gendong kamu," candanya membuat Puri tertawa. "Yaudah turun, yang lain udah pada masuk," kata Ethan lagi, dia masih menunggu Puri keluar dari dalam mobil.
Setelah berpikir matang, akhrinya gadis itu memutuskan untuk keluar, membuat senyuman Ethan mengambang.
Pasar Malam, mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Tempat hiburan rakyat yang menyajikan berbagai macam permainan dan juga aneka dagangan. Semua tersaji dalam kemeriahan, dalam suasana malam yang hingar dan penuh keceriaan. Ada ciri khas berupa permainan-permainan untuk anak-anak dan juga dagangan yang digelar membuat pasar malam menjadi khas dan mudah dikenali.
Ethan dan Puri berjalan beriringan, dua sijoli yang baru jadian itu menyusul mereka semua.
"Kamu mau jajan yang itu? tanya Ethan, menunjuk ke arah penjualan somay.
Dengan cepat Puri menggeleng, gadis itu tidak sembarangan memakan makanan di tempat asing.
" Gue pikir lo nggak akan turun, Ri," kata Pute setelah Ethan dan Puri menyusul mereka semua berjalan mengikuti Boy yang memimpin jalan.
Hampir seluruh pengunjung pasar malam menatap mereka, karna kehadiran mampu membuat atensi tertarik menatap mereka semua, yang berjalan beriringan degan posisi Boy yang memimpin.
Mereka semua menjadi pusat perhatian malam ini. Sungguh, gadis itu cantik-cantik dan ganteng-ganteng di mata pengunjung pasar malam.
Penampilan mereka juga paling mencolok, diantara pengunjung lainya. Mereka seperti salah memasuki tempat dengan styles keren mereka.
"Berasa jadi artis aja gue," kekeh Izam dan dibalas toyoran kepala oleh Rafael.
__ADS_1
"Tai lo aja nggak mirip artis!" cercah Rafael.