
Izam tertawa, saat Ethan dengan wajah lesuhnya meminta mereka, untuk membantunya balikan dengan Vani.
''Udah gue bilang, cewek itu hanya buat kita lemah,'' cibir Rafael. Itulah alasanya, seorang Rafael tidak ingin dekat sama cewek manapun, apa lagi sampai pacaran.
''Lo nggak tau, Raf. Gue sama Vani udah pacaran bertahun-tahun. Nggak semudah itu gue mau pisah sama dia,'' lesuh Ethan.
Rafael tertawa kecil, ''Eh, Than. Suami istri aja, yang udah nikah, bertahun-tahun lamanya bisa cerai. Apa lagi kalau cuman pacaran.''
Leo mengangguk setuju dengan ucapan Rafael barusan. ''Maka dari itu, gue nggak pernah serius sama cewek. Karna perjalanan gue masih panjang. Gue bakalan serius sama cewek, kalau gue udah mapan, biar langsung nikah,'' sahut Leo dengan senyuman di wajahnya.
''Lo nggak usah nungguin jodoh lo datang,'' ejek Rafael. ''Karna yang datang sama lo nanti itu karma, bukan jodoh.''
Jleb
Leo menjadi lembek, ucapan Rafael barusan membuatnya ngeh.
''Hahhahahah!'' Izam tertawa terbahak-bahak.
Pagi ini, dua sahabatnya terkena cipratan cabe dari Rafael.
''Lucu juga, ya,'' tawa Izam.
Ardian mengeluarkan rokok elektriknya, seraya berpikir. Rencana apa yang akan mereka lakukan untuk menculik cowok yang di selamatkan oleh Nanda.
Dia juga tidak tau, dimana ruangan Dika. Jadi bagaimana ia bisa menculik cowok itu. Lalu kemudian, senyuman terbit di wajahnya yang tampan dan menyeramkan dalam waktu bersmaan.
Izam menyiku lengan Rafael dan Leo, melirik kearah Ardian yang tersenyum menyeramkan dengan santai mengisap rokok elektriknya.
''Rald,'' panggil Ardian membuat cowok dingin itu melirik Ardian.
''Lo akrab sama dokter Boy, kan?'' tanya Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.
Ardian menyimpan rokok elektriknya, sebelum melanjutkan perkataanya. ''Lo bisa minta sama dokter Boy, buat nunjukin ruangan cowok yang di bawa Nanda. Gue yakin, dia dokter yang nanganin cowok yang dibawa Nanda.''
Gerald mengangguk kecil, paham dengan apa yang Ardian ucapkan. ''Entar gue usahain,'' putus Gerald.
Ardian bisa saja menyuruh papahnya turun tangan, apa lagi Ibnu merupakan seorang investor terbesar di rumah sakit, tempat Boy bekerja.
Jika Ardian dan sahabatnya masih bisa melakukannya, dia tidak akan meminta bantuan kepada papahnya mengenai ini.
''Jadi...kalau kita udah tau ruangan itu cowok, kita langsung culik dia?'' tanya Ethan dengan suara yang tidak bersemangat.
''Nggak,'' jawab Ardian singkat.
''Terus, apa?'' timpal Izam.
‘’Langsung habisin dia,'' jawab Ardian santai, membuat Ethan dan Izam meneguk salivanya.
__ADS_1
Sementara Leo tersenyum seperti biasa.
***
Boy sedang mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja, saat dia tau mengenai Dika, cowok yang di tolong adiknya itu.
''Jadi gimana, bang?'' tanya Gerald kepada Boy.
Dia sudah menjelaskan secara detail kepada Boy, jika Dika merupakan musuh mereka.
''Kamar vvip nomor 2.'' Boy langsung menberitahukan, kamar yang di tempati oleh Dika.
''Makasih, bang,'' ucap Gerald.
Gerald berdiri dari kursi, saat ini mereka mengobrol di ruangan Boy. Di rumah sakit. Setelah pulang sekolah, Gerald langsung kerumah sakit menemui Boy.
''Ingat, Rald. Jangan sampai Ara tau. Bukan cuman lo yang kena, gue juga bakalan kena,'' terang Boy kepada Gerald.
''Iya, bang. Gue bakalan sembunyiin ini dari Ara.''
Boy mengangguk kecil. ''Ok.''
Gerald melajukan motornya, untuk segera ke markas memberitahukan hal ini, kepada Ardian dan sahabatnya.
“Maafin, Abang Ra. Gue nggak mau lo sampai masuk dalam kehidupan ARIGEL dengan menolong Dika. Mereka bakalan ngincer lo, Ra. Sekali lagi, maafin Abang. ARIGEL banyak musuh, gue nggak mau lo sampai dijadikan umpan.”
***
Mereka bertiga di mobil Cika, ingin menemani Salsa, yang belum memberitahukan sahabatnya ingin kemana.
''Kita mau kemana sih, Sal?'' tanya Cika.
Nanda duduk di belakang, sementara Salsa duduk di samping Cika. Sedari tadi, Nanda memikirkan cowok bernama Dika.
Dia takut, jika ucapan Ardian akan dia buktikan, dengan menculik Dika. Nanda kasihan pada Dika, bukan karna ada perasaan.
Ditambah lagi, Dika sudah tidak mempunyai kelurga lagi, membuatnya semakin kasihan dengan cowok bernama Dika itu.
''Ke cafe Ethan.''
Stttt....
Cika langsung mengerem mendadak, membuat Nanda memejamkan matanya, dan mengumpat dalam hati.
''Ngapain kesana?'' tanya Cika.
Salsa menautkan kedua tanganya, gadis cantik itu menatap Nanda dan Cika bergantian.
__ADS_1
''Gue mau ketemu El,'' jawab Salsa membuat Cika menepuk jidatnya.
''Ayolah, Ci, temenin gue,'' mohon Salsa memegang pergelangan tangan Cika, seperti seorang anak meminta uang.
''Nan, lo mau kan, nemenin gue?'' tanya Salsa membuat Nanda tersenyum kecut.
''Kalau Cika mau, gue juga bakalan mau,'' jawab Nanda.
''Ayo, Ci,'' bujuk Salsa.
''Sal, lo kesana cari malu?'' tanya Salsa membuat Salsa memanyunkan bibirnya, membuat gadis itu semakin menggemaskan.
''Gue cuman mau ketemu, El,'' terangnya.
''Ketemu El, siap-siap lo di maki,'' desis Cika mengingat, bagaiamana mulut cabe Rafael itu.
''Gue udah biasa sama sikapnya, El. Gue cuman mau kasi ini ke dia,'' ucap Salsa seraya mengeluarkan satu toples kue kacang untuk Rafael. ''Dia suka makan kue kacang.''
''Sal...''
''Ok, terserah lo!''
Salsa tersenyum, karna Cika mulai menjalankan mobilnya menuju cafe Ethan. Salsa tau, jika ARIGEL sedang nongkrong saat ini dia cafe Ethan.
Mobil Cika sudah masuk kedalam parkiran cafe Ethan yang lumayan ramai oleh pengujung. ''Tungguin gue di sini, ya,'' ucap Salsa kepada Nanda dan Cika. ''Gue cuman mau kasi kue kacang ini sama El.''
Salsa turun dari mobil, setelah menutup pintu mobil dia melangkah masuk.
''Salsa,'' panggil Cika, sehingga gadis itu membalikkan tubuhnya. ''Ingat ya, cuman kasi kue kacang itu. Lepas itu balik kesini, jangan ngajak ngobrol Rafael, kalau nggak mau sakit hati!''
Nanda melihat gadis itu mengangguk mengiyakan ucapan Cika. Dari dalam mobil, Cika dan Nanda bisa melihat ARIGEL sedang duduk santai, seperti sedang mengobrol hal penting.
''Ci,'' panggil Nanda.
''Iya, kenapa?'' jawab Cika.
''Salsa udah lama suka, Rafael?'' tanya Nanda dengan penasaran.
Cika mengangguk. ''Mereka berdua itu udah kenal dari smp. Salsa udah ngejar Rafael sejak lama. Tapi..Lo udah tau, kan, Rafael anti sama cewek,'' jelas Cika.
''Mereka juga tetangga,'' lanjut Cika lagi.
‘’Tetangga?'' gumam Nanda.
''Salsa sama Rafael emang tetangga, mungkin ini yang di bilang. Tentangku, idaman ku,'' tawa Cika membuat Nanda juga ikutan tertawa.
''Mata Rafael katarak atau kenapa sih, bisa-bisanya dia nolak cewek secantik Salsa,'' ucap Nanda menggelengkan kepalnya tak habis pikir, dengan Rafael.
__ADS_1
Cika tertawa kecil dengan ucapan Nanda barusan. ''Salsa juga hatinya buta, udah di tolak berulang kali, masih aja kekeh ngejar Rafael,'' ucap Cika.