
''Gawat!'' gumam Cika saat melihat kedua cowok berjaket hitam menghampiri mobil milik mereka.
''Sejak kapan juga di sini menjadi tempat tongkrongan,'' decak Cika lagi.
Kedua cowok itu mengetuk kaca mobil milik Cika dengan tidak sabaran!
''Woy! Turun lo!'' teriak orang itu dari luar.
''Kalau nggak turun! Siap-siap kaca mobil kalian akan pecah!'' ancamnya membuat Nanda dan Cika langsung memberikan tatapan satu sama lain.
''Lo mau turun?'' tanya Nanda melihat Cika yang sudah siap ingin membuka pintu mobil.
''Iya, jangan sampai mereka beneran pecahin kaca mobil gue,'' ucap Cika membuat Nanda diam sejenak.
''Ok, gue ikutan turun.''
Cika dan Nanda membuka pintu mobil membuat kedua cowok itu mundur.
''Wow!'' ucap mereka berdua dengan takjub, saat melihat kedua gadis cantik turun dari mobil.
Mereka melihat Cika dengan wajah garangnya , sementara mereka melihat Nanda dengan wajah juteknya.
''Cewek cantik woy!'' teriak cowok itu kepada teman-temannya.
Fatur menaikan alisnya sebelah, saat melihat sosok gadis yang dia kenal.
''Cika,'' gumam Fatur melihat Cika dengan gadis yang baru dia lihat.
Tentu saja Fatur mengenalinya, karna Cika merupakan sepupu dari Salsa.
Kurang lebih lima orang ingin maju, saat kedua temannya mengatakan cewek cantik. Namun Fatur langsung menyuruh mereka tetap di sini.
''Jangan kesana,'' perintah Fatur membuat teman-temannya tidak melanjutkan langkah kakinya.
Sementara Arya yang sudah mengenal kedua gadis itu hanya diam di tempat saja. Tentu saja Arya sangat mengenal gadis itu.
Arya pula yang mengatakan saat Nanda mengucapkan kata 'I Love You Ardian' di kantin, dia yang memberikan info tersebut kepada Fatur.
Cika langsung memelintir tangan cowok itu hingga terjatuh kebawa tanah.
Tindakan Cika membuat teman-teman Fatur terkejut, sementara Arya yang sudah tahu, jika Cika pandai bela diri hanya diam saja.
''Jangan main sentuh-sentuh aja Lo!'' geram Cika.
Bagaimana tidak, jika cowok kurang ajar itu mencolek dagu milik Cika, membuat gadis itu tidak terima dengan tindakan cowok itu.
''Dasar cewek kurang ajar!'' Frizal ingin memberikan pelajaran kepada Cika, namun suara Arya langsung menghentikannya.
Nanda menggeleng, saat cowok itu ingin memukul Cika.
''Jangan, Zal. Dia cewek!''
Arya berjalan menghampiri mereka, sehingga Nanda langsung melihat kearah cowok yang menghentikan pergerakan tanganya karena cowok itu.
''Arya,'' gumam Cika, melihat Arya ada di sini.
Beberapa detik kemudian, Cika langsung paham jika mereka memasuki kawasan anak VAGOS.
Dia tahu, jika Arya adalah bagian dari anak VAGOS.
''Awas aja Lo!'' desis Frizal kepada Cika lalu pergi.
''Gue nggak takut sama Lo!'' desis Cika kepada Frizal.
''Lebih baik Lo pergi dari sini, sebelum teman-teman gue menggila,'' perintah Arya kepada Cika.
Nanda dan Cika tau jika mereka sedang minum-minuman beralkohol di sini, terbukti dengan aroma minuman yang mereka cium dari mereka, di tambah lagi dengan mata mereka memerah.
''Tanpa lo bilang, gue udah tau kalau teman-teman lo itu gila!'' balas Cika kepada Arya.
__ADS_1
Nanda bisa melihat, jika Cika dengan cowok itu lumayan dekat. Untung saja cowok bernama Arya itu datang, jika tidak Nanda tidak tau apa yang akan terjadi saat cowok bernama Frizal melayangkan tangannya kepada Cika.
Bisa saja Cika tidak tinggal diam, karna Nanda bisa melihat Cika pandai jaga diri. Namun tetap saja, tenaga cowok tidak akan sebanding dengan tenaga milik cewek.
Arya tidak membalas ucapan Cika..
Cika langsung masuk kedalam mobil, di susul oleh Nanda. Cika mulai menyalakan mobilnya lalu berlalu pergi meninggalkan tempat ini.
Sementara Arya masih setia menatap mobil milik Cika yang sudah pergi dari sini.
Arya langsung menghampiri teman-temanya.
''Kenapa kita biarin mereka lolos, Tur. Bagaimana kalau kedua cewek itu melapor sama anak ARIGEL, kalau markas baru kita di sini,'' ujar salah satu teman Fatur.
''Iya, Tur. Apa lagi cewek itu satu sekolah sama anak ARIGEL,'' sahut temanya yang satu.
Fatur membuang puntung rokoknya, ''biar Arya yang mengurus ini semua,'' ucap Fatur dengan santai.
Dia percayakan tugas ini kepada Arya, jangan sampai cewek tadi memberitahukan kepada anak ARIGEL, jika markas baru mereka di sini.
Arya ikut bergabung dengan teman-temannya. ''biar cewek yang tadi biar gue yang urus di sekolah besok,'' ucap Arya membuat teman-temannya mengangguk percaya, jika Arya bisa mengancam Nanda dan Cika untuk tidak bocor.
Mereka berdua langsung pulang, mereka tidak jadi mengikuti anak ARIGEL karna terhalang oleh anak VAGOS tadi.
''Lo kenal sama mereka?'' tanya Nanda membuat Cika meliriknya lalu gadis itu mengangguk mengiyakan ucapan Nanda barusan.
''Mereka anak VAGOS,'' jawab Cika. ''Mereka adalah musuh anak ARIGEL,'' lanjut Cika membuat Nanda langsung terdiam.
''Itu berarti mereka teman-temannya, Dika. Cowok yang udah gue tolongin. Mereka juga yang udah nyulik Dika,'' ucap Nanda membuat Cika kembali meliriknya.
''Mereka nggak nyulik, Dika. Mereka cuman ngambil kembali Dika dari anak ARIGEL yang menculik teman mereka,'' jelas Cika membuat Nansa menarik nafasnya berat.
Ada benarnya juga yang di katakan Cika, namun apa benar jika Dika sudah aman? Itu yang di pikir oleh Nanda saat ini.
''Lo akrab ya sama anak VAGOS itu,'' ujar Nanda membuat Cika hanya diam saja.
''Maksud Ki cowok yang tadi?'' tanya Cika tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
''Dia Arya, salah satu anak VAGOS yang satu sekolah sama kita.'' Cika menjelaskan membuat Nanda kembali terdiam.
''Pantas aja kalian kayak akrab gitu,'' ucap Nanda membuat Cika tersenyum tipis.
''Hm.. Sebenernya Arya itu mantan gue pas SMP.''
Lagi-lagi Nanda terdiam. ''Jangan bilang sama siapa-siapa, cuman Lo yang tau sama Salsa.'' Cika kembali menjelaskan kepada Nanda.
''Ter_''
''Termasuk Kesya, Puri dan Pute nggak tahu,'' potong Cika membuat Nanda mengangguk paham.
Tenyata, Meski mereka sudah bersahabat lama, nggak semua apa yang mereka rahasiakan dia beritahukan kepada sahabat mereka.
''Jadi lo nggak usah khawatirkan Dika lagi. Dia udah aman sama teman mereka. Yang perlu lo khawatirkan itu, kalau Dika di tangan anak ARIGEL.''
Lagi-lagi Nanda hanya mengangguk mengiyakan ucapan Cika barusan. ''Lo mau gue anterin balik atau gimana?'' tanya Cika.
Nanda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ''Gue boleh nginep di rumah Lo? Soalnya gue udah ambil alasan sama Abang gue kalau gue mau tinggal di rumah lo,'' jelas Nanda.
''Ok, nggak masalah,'' ujar Cika.
Nanda menguap di dalam mobil, sepertinya ini sudah lewat jam 10 malam, karna dia sudah mengantuk.
''Tidur aja, nanti gue bangunin kalau udah sampe,'' saran Cika kepada Nanda, lalu kemudian anak itu mengangguk mengiyakan ucapan Cika.
Nanda mulai tidur di dalam mobil Cika.
🦋
Rafael melihat teman-temannya sudah menunggu dirinya di tempat biasa.
__ADS_1
Rafael membuka helmnya. Melihat sahabatnya semua masih duduk diatas motor merek masing-masing.
''Gimana?'' tanya Rafael kepada Leo.
''Anak VAGOS sialan udah nyulik Dika!'' Bukan Leo yang menjawab, melainkan Ethan.
''Bukan nyulik, dia cuman ngambil temanya dari kita,'' jelas Leo membuat Etahan berdesis.
''Sama aja menurut gue,'' protes Ethan.
''Lu dari kemarin emosi mulu, Sethan!'' Izam menyentil jidat milik Ethan, membuat cowok itu semakin cemberut.
''Mungkin efek putus dari Vani,'' ejek Rafael. ''Sampai sekarang belum balik,'' lanjutnya seraya tertawa membuat Etahan semakin kesl.
''Jangan bahas Vani lah, gue capek kalau terus-terusan ingat tuh cewek. Dia udah berhasil buat gila!'' gerundel Ethan membuat sahabatnya tertawa, sementara Ardian sibuk dengan ponselnya.
Rafael turun dari motornya, lalu menghampiri Ardian yang sibuk dengan ponsel genggamnya.
''Kita bisa cari mereka lain waktu,'' kata Rafael menepuk pundak Ardian, sehingga cowok itu melirik Rafael lalu menghembuskan nafas berat.
''Balas dendam gue ke mereka belum selesai, Raf,'' curhat Ardian. ''Mereka udah lukain lo,'' lanjutnya membuat Rafael mengangguk mengerti.
''Gue janji sama lo, secepatnya kita nemuin mereka.'' Rafael berjanji kepada Ardian.
''Gue nggak perlu janji semacam itu dari lo. Gue cuman mau lo nggak kasi tubuh lo ke mereka dengan cuma-cuma,'' peringat Ardian kepada Rafael membuat cowok itu tertawa.
''Ok.''
''Mau tinggal di mana lo, Raf? Dirumah Lo atau markas?'' tanya Etahan seraya memakai helmnya, karna mereka ingin langsung balik.
''Kalau kalian dimana?'' tanya Rafael kepada kaliman temanya.
''Markas,'' jawab mereka serentak.
''Ok, gue ikut kalian,'' ucap Rafael.
''Eh, Raf. Gimana sama mama lu? Dia nyuruh Lo jagaian tuh rumah gedenya,'' tanya Izam membuat mereka berenam tertawa.
''Kenapa gue harus peduli sama rumah merek? Mereka aja nggak peduliin gue,'' pedas Rafael lalu memakai helmnya.
''Anak durhaka lo, Raf!'' tawa Izam.
🦋
Salsa sudah berganti pakaian, saat seluruh bajunya basah karena hujan. Sedari tadi dia berdiri di balkon kamarnya seraya melihat kearah bawa.
Dia menunggu Rafael pulang. Sudah dua jam lamanya cowok itu belum juga pulang, membuat Salsa masih setia menunggu Rafael untuk pulang.
''Apa El nggak balik kerumahnya lagi?'' gumam Salsa.
Dia melirik jam di dinding kamarnya, sudah menunjukan pukul 12 malam, Rafael belum juga pulang.
Salsa melihat keatas langit, malam ini langit begitu gelap. Tidak ada bintang maupun Bulan yang menerangi langit malam ini, karna hujan tadinya turun membasahi Bumi.
''Apa mungkin aku sama El itu kayak langit dan bumi? Nggak bakalan bisa bersatu,'' ucapnya dengan lirih mengingat bagaimana Rafael kepada dirinya yang mengharapkan cowok itu lebih.
''Rafael nggak mungkin pulang, perintah tante Lita aja dia bantah,'' menolog gadis itu lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.
Salsa mulai mengunci jendela kamarnya, lalu menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuk.
''Tidur Salsa, nggak bakalan Rafael nyuruh kamu untuk tidur,'' gumam gadis itu dengan tersenyum kecut.
Dia juga penasaran ingin tahu isi hati Rafael, apakah cowok itu benar-benar tidak menyukainya atau bagaimana.
Ting...
Ponsel Salsa bergetar, dia langsung melihat siapa yang mengirimkannya pesan.
Rafael 😘
__ADS_1
"Gue nggak pulang ke rumah gue."