ARDIAN

ARDIAN
Penanganan khusus


__ADS_3

Ardian dan ke empat sahabatnya sedang berada di markas mereka. Mereka baru saja pulang dari kantor polisi menanyakan mengenai kecelakaan yang menimpa sahabat mereka.


Polisi mengatakan kecelakaan Gerald ini murni, tanpa campur tangan orang lain untuk mencelakainya.


Polisi juga mengatakan, jika Gerald membawa motor begitu laju, hingga dia tidak bisa mengendalikan motornya dan menabrak mobil truk. Apa lagi menurut saksi mata saat itu, mengatakan jika Gerald ingin melambung mobil di depanya padahal jelas dia tahu, di depan ada tikungan tajam.


‘’Jadi kecelakaan Gerald itu murni karna kesalahannya?'' tanya Leo memastikan, dia cowok paling berantakan diantara sahabanya. Rambutnya acak-acakan serta bau alkohol cowok itu menyeruak.


Sahabatnya sudah memastikan, jika Leo mampir ke bar setelah mereka pulang dari kantor polisi. Leo tidak terlalu mendengar jelas penjelasan dari pihak polisi tadi, sehingga dia kembali memastikan pada sahabatnya.


''Iya, Le. Ini murni, nggak ada campur tangan dari orang lain,'' ucap Izam seraya menepuk pundak Leo.


Leo menghembuskan nafas berat. ''Gue pikir ini ada sangkutan nya sama anak-anak VAGOS, ternyata gue salah.'' Leo menyandarkan punggungnya di kursi, seraya memejamkan matanya.


‘’Bukan cuman lo yang berpikir kesana, kita juga berpikir kalau ini ada hubungannya sama anak VAGOS. Ternyata kita salah semua,'' timpal Ethan.


Ardiam mengetuk-ngetuk jemarinya diatas meja, seraya berpikir keras. Sementara Rafael sibuk dengan pikiranya, ''yang buat gue penasaran, kenapa Gerald bawa kendaraan begitu kencang? Padahal kita tahu, kita nggak sedang kedatangan musuh.''


Mereka semua diam, mendengar penjelasan dari Rafael. Yang ada benarnya juga.


''Iya, juga ya,'' gumam Ethan, yang setuju dengan ucapan Rafael barusan.


''Mungkin urusan pribadi yang kita nggak tahu. Kalian tahu sendiri'kan. Gimana tertutupnya Gerald selama ini,'' ucap Ardian dan mereka mengangguk secara bersamaan.


''Lo nggak tahu?'' tanya Rafael kepada Leo. ''Lo sama Gerald 'kan duduknya sama di kelas. Gerald nggak pernah ngomong atau curhat saka lo?'' tanya Rafael, sehingga semua tatapan mata tertuju kepada Leo.


Leo menggeleng. ''Gue nggak tahu. Meskipun gue duduk sama Gerald. Dia nggak pernah curhat soal pribadinya. Dia cuman bahas tentang kita sama organisasi yang dia ketuai,'' ucap Leo. Seraya memikirkan sesuatu. ''Tapi ada satu....'' Leo menggantung ucapnya. Dia seperti sungkan meneruskan ucapanya itu.

__ADS_1


''Apa?'' tanya sahabtanya hampir bersaman.


''Yang jelas kita tahu tentang Gerald dan Nanda sahabat masa kecil. Hmmm...Kalian masih ingat'kan, dimana kita lihat Gerald nembak Nanda di belakang sekolah, namun gadis itu menolak Gerald sahabatnya sendiri. Waktu itu, lo nggak ada, Ar.'' Leo menjelaskan panjang kali lebar kepada sahabatnya.


Ucapan Leo barusan ada benarnya juga, mereka menyimpulkan jika ini ada hubungannya dengan Nanda, sehingga cowok itu tidak bisa mengontrol dirinya membawa motor.


Huft...


Ardian menghembuskan nafas berat. ''Ini semua salah gue,'' ucap Ardian membuat sahabatnya menggeleng.


Dia yakin, saat ini Ardian menyalakan dirinya karna kecelakaan Gerald.


''Ini bukan salah lo,'' ucap Rafael santai. ''Lagi pula, Nanda nolak Gerald bukan karna lo juga, Ar. Mungkin aja Nanda ngggak mau pacaran, apa lagi mereka udah sahabatan sejak lama,'' lanjut Rafael, dia tidak mau melihat jika Ardian menyalahkan dirinya sendiri.


‘’Gue setuju dengan omongan Rafael. Ini bukan salah lo kok, Ar. Jadi stop salahain diri lo sendiri,'' ucap Leo.


Dia menaiki anak tangga, untuk segera naik keatas kamar miliknya. Besok, dia akan menjenguk Gerald sebelum mereka berangkat sekolah.


‘’Gue nggak setuju sih, kalau Ardian nyalahin dirinya sendiri soal ini. Lagian alasanya udah jelas, Nanda nolak Gerald bukan karna dia suka sama Ardian,'' ucap Ethan menggebu-gebu.


''Tahu dari mana lo, kalau Nanda nggak suka balik sama Ardian?'' Izam sengaja memberikan pertanyaan ini pada Ethan.


Ethan menatap kesala kearah Izam.''Lo nggak lihat, gimana respon Nanda kalau di deketin Ardian? Gue akui, kalau Nanda itu spek cewek mahal. Buktinya aja, dia nggak buka hati sudah di tembak sama Gerald sahabat masa kecilnya. Kalau mau di pikir, Gerald itu hampir sempurna dari segi fisik. Tapi tetap aja di tolak sama Nanda. Terus Ardian, Nanda juga nolak Ardian dengan secara halus. Entahlah, gue susah menjabarkannya, tapi intinya Nanda nggak suka sama Ardian. Meskipun Ardian ganteng dan menjadi bahan rebutan di sekolah, terutama sih Kesya sama Greta. Tetap aja Nanda nolak pesona seorang Ardian. Jadi.....Nggak mungkin Nanda nolak Gerald karna Ardian. Itu namanya definis cewek mahal sulit buat di dapetin.''


''Bdw, cewek modelan kayak Nanda ada nggak yah di jual di tiktok?''


Pletak...

__ADS_1


Izam langsung menjitak kening Izam. Sementara Rafael dan Leo hanya tersenyum tipis saja.


***


Ruangan Intensif VVIP...


Gerald sudah di pindahkan di ruangan vvip, didalam sana Gerald bernafas dibantu dengan peralatan khusus dan dokter yang sudah terlatih untuk menangani pasien intensif seperti Gerald, dengan dibantu alat-alat khusus.


''Jangan terlalu banyak orang menjaga pasien di dalam, cukup dua orang saja, keluarga kandung pasien. Jika ada yang ingin menjenguk pasien jangan terlalu lama,'' peringat dokter Ivan dan dibalas anggukan kepala oleh Raga dan juga Jia.


''Besok, dokter Boy yang akan menangani anak bapak dan ibu sampai seterusnya. Dia salah satu dokter yang sudah terlatih menangani pasien seperti anak bapak dan ibu,'' lanjut dokter Ivan lag.


‘’Terimakasih, dok,'' ucap Raga dan dibalas anggukan kepala oleh dokter Ivan.


Dokte itu langsung pamit kepada kedua orang tua Gerald. Besok dan seterunya Boy yang akan menangani Gerald. Tentu saja Jia dan Raga mengenalnya.


Boy gagal liburan bersama dengan Nanda dan juga Mamanya. Bisa saja dia menyuruh dokter lain untuk menangani Gerald, agar dia bisa liburan di Swiss. Namun, tetap saja sama, karna bagaimanapun Nanda tidak akan pergi liburan sementara sahabatnya sedang berada diambang kematian.


Jadi, dokter khusus yang menangani Gerald adalah dokter Boy sendiri.


Nanda dan Boy pamit pada kedua orang tua Gerald, sebenarnya Nanda masih ingin menemani Gerald namun Boy menyuruhnya untuk pulang dulu.


Karna dia tahu, adiknya saat ini letih, dan harus banyak istirahat. Soal liburan yang batal, Nanda tidak memikirkan itu, yang dia pikirkan bagaiamana bisa agar Gerald sadar.


Dia tidak mau, jika sampai Gerald pergi meninggalkan dirinya.


Cukup papa yang ninggalin gue, jangan sampai lo ikutan pergi, Rald.

__ADS_1



__ADS_2