
Ucapan Ardian sukses membuat Nanda melototkan matanya, dengan gamblang nya cowok itu berkata seperti tadi.
''Ardian, lo apa-apaan sih!'' marah gadis itu lalu pergi meninggalkan Ardian membuat Ardian menaikkan alisnya sebelah.
''Padahal gue nggak ngomong aneh-aneh,'' gumam cowok itu setelah Nanda masuk kedalam meninggalkan dirinya di depan pintu kelas.
''Ardian.''
Suara guru yang akan mengajar di kelas ini memasuki gendang telinga cowok itu, Ardian membalikkan tubuhnya dan bertatapan dengan guru tersebut.
''Buat apa kamu di sini? Kelas kamu di sebelah,'' kata guru itu.
''Lihat penyemangat,'' balas Ardian lalu melenggang pergi membuat guru tersebut mencernah apa yang barusan Ardian katakan.
''Aneh, siapa penyemangat anak nakal itu,'' gumam guru tersebut lalu masuk kedalam kelas.
Guru yang mengajar siang ini langsung mengajarkan pelajaran yang dia bawakan, yaitu pelajaran bahasa Indonesia.
Ardian masuk kedalam kelasnya, untung saja guru yang mengajar di kelas cowok itu belum masuk, sehingga Ardian tidak perlu berhadapan dengan guru yang banyak tanya.
Semenjak tidak ada Gerald ke sekolah, Leo selalu duduk sendiri di kursi paling depan.
Ardian langsung menghampiri sahabtanya, duduk di bangkunya bersama dengan Rafael.
''Bucin terus,'' cibir Izam dan di hadiakan tatapan tajam oleh Ardian.
‘’Gimana bisa lo sampai jadian sama Nanda?'' tanya Rafael penasaran begitupun dengan sahabatnya yang lain, mereka memperbaiki posisi duduknya untuk mendengar cerita dari Ardian langsung.
Kabar mengenai Ardian dan Nanda yang jadian, membuat para sahabat Ardian tidak percaya. Pasalnya, Nanda selalu memberikan penolakan pada Ardian, namun mengapa tiba-tiba mereka jadian?
Mereka pikir, yang mendapatkan Nanda kelak adalah Gerald, sahabat masa kecil gadis itu.
Leo yang melirik kebelakang, dia melihat ke empat sahabatnya sedang mode serius, seperti ada yang ingin mereka dengarkan dari Ardian.
''Kalau mau ngomong sesuatu, panggil gue!'' teriak Leo membuat mereka semua terkekeh.
''Sorry, Lele. Kita lupa, lo sih duduk paling depan. Jadinya ketinggalan. Mendingan lu duduk di kursi yang kosong itu, entar kalau Gerald udah bangun, lo bisa kembali duduk di depan,'' jelas Izam dan dibalas anggukan setuju yang lainya.
‘’Ok..'' Leo mengambil tasnya di kursi depan, lalu meletakkan di kursi kosong yang di tunjuk izam tadi.
''Lanjut,'' kata Leo setelah bergabung dengan sahabatnya.
‘’Lanjut apa?'' ketiga sahabatnya kompak bertanya dengan wajah pura-pura bingung.
‘’Gue dengerin kalian tadi, gue nggak budek. Gue dengar kalian omongin Nanda kenapa bisa jadian sama Ardian,'' jelas Leo dan dibalas 'Oh' riah oleh ketiga sahabatnya itu.
''Omong dong, Ar. Masa gitu aja lo sembunyiin dari kita. Nggak solid lo sama kita,'' dramatis Izam dan dibalas anggukan setuju oleh yang lainya.
''Kalian mau tau?'' tanya Ardian menatap satu-persatu para sahabatnya, keempat sahabatnya itu mengangguk mengiyakan ucapan Ardian, seperti anak kecil saja yang ingin di berikan permen oleh Ardian.
‘’Karna gue adalah pemenangnya,'' singkat, padat dan jelas. Hanya itu yang Ardian katakan pada ke empat sahabatnya itu.
''Iya, kita tau lo pemenangnya. Tapi cara lo dapetin Nanda gimana? Sementara kita udah tau, kalau Nanda itu berulang kali nolak lo.'' Ethan memperjelas membuat Ardian berdengus kesal.
Dia tau Nanda berulang kali menolaknya, tapi jangan di perjelas juga.
''Nah, gue setuju dengan omongan, Sethan.'' Rafael setuju dengan apa yang Ethan katakan barusan. ''Apa jangan-jangan lo pakai dukun,'' tebak Rafael dengan asal membuat Ardian langsung menginjak kaki cowok itu.
''Asal ngomong aja lo,'' dengus Ardian.
''Makanya jelasin ke kita, gimana caranya? Siapa tau aja dengan cara lo dapetin Nanda, bisa gue lakuin. Biar gue dapetin cinta Greta juga,'' kata Izam seraya membayangkan wajah galak nan cantik milik Greta.
‘’Dramatis banget lo. Pikiran lo udah di penuhi nama Greta,'' cibir Rafael membuat Izam menatap Rafael dengan tatapan datar.
''Lo juga, Raf. Kenapa nggak suka sama cewek sih lo? Lo nggak lihat, Ardian yang anti sama cewek aja udah luluh sama satu cewek. Masa iya lo nggak,'' timpal Ethan. ''Apa mungkin hati lo sekeras batu. Tapi lo perlu tau, dia itu kayak air, yang bakal siram hati lo kayak batu itu, biar hancur juga. Lo nggak tau, batu karang yang kuat saja hancur karna di tindas ombak.''
__ADS_1
''Rafael itu es batu, dia udah lulus sama satu cewek. Es nya udah mencair,'' timpal Leo lagi membuat Rafael menatap Leo dan Ethan dengan sangar.
‘’Nggak jelas lo berdua. Kita bahas Ardian sama Nanda, bukan malah bahas Salsa,'' ketus Rafael.
''Nah!'' Ke empat sahabat Rafael langsung tertawa secara bersmaan membuat Rafael tidak tau mengapa dengan ke empat sahabatnya itu.
''Apa sih kalian, nggak jelas!' desis Rafael sementara sahabatnya masih tertawa, bahkan Ardian saja peka.
''Udah ketahuan lo, Raf. Kalau lo udah meleleh karna Salsa!'' kata Izam dengan tawa kerasnya, sehingga seluruh teman kelasnya menatap kearah ke empat cowok itu, karna ketawa tidak jelas.
Mereka mau menegur? Tentu saja dia tidak bisa, karna mereka takut pastinya dengan cowok itu.
Rafael masih tidak paham, apa maksud sahabatnya itu.
''Masih nggak paham lo?'' tanya Leo dan dibalas anggukan kepala oleh Rafael, karna dia masih belum paham.
''Kita nggak nyebut nama Salsa. Tapi lo langsung peka, kalau yang kita maksud itu Salsa,'' kata Leo membuat Rafael diam sejenak.
''Nggak jelas lo pada!'' dengus Rafael.
''CIE RAFAEL!'' heboh Izam. Setidaknya dia tau, kalau Rafael nggak sebenci itu di deketin Salsa.
''Lo mau kemana,Raf!'' panggil Izam melihat sahabatnya itu pergi meninggalkan mereka.
Rafael membalikkan tubuhnya, melihat kearah sahabatnya itu. ''Mau bolos gue, malas gue belajar sama kalian!'' Lepas itu Rafael kembali melanjutkan langkah kakinya membuat para sahabatnya masih tertawa.
‘’Ternyata Rafael malu-malu kucing, ngakuin kalau dia mulai suka sama Salsa,'' kata Izam dengan sisa tawanya.
''Kalian baru tau?'' tanya Leo dan dibalas anggukan oleh para sahabatnya.
''Kalian nggak lihat sikap Rafael di kantin tadi ke Salsa. Dia bukan malas pesenin Salsa Mie ayam, karna Mie itu nggak baik di konsumsi setiap hari, makanya Rafael ganti menunya samaan sama kita, yaitu bakso. Mumpung dia yang bertugas mesen makanan, jadi dia bebas,'' jelas Leo membuat para sahabatnya manggut-manggut.
''Apa mungkin ada sangkut pautnya sama es teh juga?'' tebak Ethan dan dibalas anggukan kepala oleh Leo.
‘’Padahal es masih banyak, tapi Rafael malah ngaku kalau es nya udah habis. Padahal, niat dia ke Salsa baik. Cuman gitu, Rafael nggak mau memperlihatkan semuanya kepada Salsa. Kalaua Rafael pake cara terbuka, lo tau apa reaksi Salsa?''
''Kalau gue nebaknya, Rafael itu malu-malu kucing,'' timpal Izam.
''Lebih tepatnya lagi, Rafael itu gengsi,'' kata Leo.
''Kalau menurut lo apa, Ar?'' tanya Ethan, lalu ketiga sahabatnya menatap Ardian.
''Nggak ada yang tau jelas, kecuali Rafael sendiri,'' jawab Ardian mantap membuat para sahabatnya langsung memberikan acungan jempol pada Ardian.
‘’Andai aja jempol tangan gue ada sepuluh, Ar. Gue bakalan kasi lo jempol sepuluh, tapi sayang jempol gue cuman dua. Jadi gue kasi dua,'' kata Izam membuat Ardian memutar bola matanya jengah, smentara Leo tertawa kecil.
''Apa beritanya beneran, kalau Ardian sama Nanda pacaran?'' Nita ikut menimpali membuat mereka semua menatap Nita heran, tiba-tiba saja gadis itu menyahut di sini. Padahal mereka tidak akrab, hanya Gerald saja yang akrab dengan gadis itu, karna dia sesama osis di sekolah ini.
''Untung aja sih Rafael mulut pedas nggak ada,'' gumam Izam.
‘’Emangnya kenapa?'' tanya Ethan pada gadis itu.
''Ya nggak apa-apa. Kalau Ardian sama Nanda jadian, itu bagus buat gue. Karna nggak akan ada lagi saingan gue buat dapetin Gerald,'' kata Nita percaya penuh percaya diri membuat Ethan dan Izam berepresi ingin muntah dengan apa yang Nita katakan baruan.
''Nita, andai Rafael ada di sini, mungkin lo udah di cibir sama dia, karna terlalu kepedean jadi cewek,'' kata Izam dengan senyuman kecutnya.
‘’Emang lo yakin Gerald suka modelan kayak lo?'' tanya Izam lagi.
''Modelan caper kayak lo, nggak akan buat Gerald oleng,'' timpal Ethan lagi.
Sementara Leo hanya menyimak, sementara Ardian memilih masa bodoh, karna ini tidak penting menurutnya.
‘’Setidaknya, Nanda sama Ardian pacaran. Itu berati saingan gue buat dapetin Gerald udah nggak ada,'' kata Nita lagi.
''Lo yakin nggak punya saingan?'' tanya Leo dan dibalas anggukan mantap oleh Nita.
__ADS_1
''Lo langkahi Cika dulu, baru ngomong kalau lo nggak punya sainga,'' kata Izam lagi.
''Cika suka sama, Gerald?'' Nita tentunya syok mendengar ucapan Izam barusan.
''Lo sama Cika mau bersaing, tentu aja lo kalah,'' jelas Ethan lagi membuat Nita langsung pergi dari sana.
Dia tidak menyangka jika cewek tomboi itu menyukai Gerald juga. Dia pikir, hanya Nanda sahabat masa kecilnya Geral yang menjadi sainganya. Ternyata dugaannya salah.
''Sok kenal banget sih tuh cewek,'' cibir Izam setelah Nita pergi dari sini.
''Modal caper mau deketin Gerald, nggak akan dia dapat,'' tambah Ardian dan dibalas anggukan setuju oleh sahabatnya.
‘’Gue setuju-setuju aja kalau Gerald sama Cika, mereka berdua cocok,'' kata Leo.
Mereka kembali mengobrol kecil, hingga kedatangan seorang guru membuat mereka langsung fokus kedepan untuk mendengar ibu guru itu menjelaskan.
''Ardian, Rafael mana?'' tanya guru tersebut yang tidak melihat Rafael di dalam kelas.
''Biasa bu, bolos,'' sahut Izam, karna dia tau Ardian malas menjawab guru tersebut.
***
Saat ini Rafael sedang berada di taman sekolah, menikmati semiliar angin menerpah wajah tampanya itu.'
Siang ini, cowok yang dikenal bermulut pedas itu tengah bolos.
Rafael tersenyum tipis, seraya membuka matanya perlahan-lahan, dia tidak tau mengapa dia begitu sensitif pada Salsa. Gadis cantik, lembut, tutur bahasanya yang sopan. Membuat siapapun yang mendengar suarany akan damai.
''El, kamu ngapain di situ?''
Deg...
Rafael terkejut saat mendengar suara salsa, karena baru saja dia memikirkan salsa. Namun gadis itu langsung ada di sini membuat Farel terkejut dengan kedatangan gadis itu.
Salsa langsung menghampiri Rafael, yang tengah duduk di kursi panjang cat putih.Sedari tadi salsa memperhatikan Rafael dia pikir dia hanya salah lihat ternyata tidak.
Gadis itu langsung duduk, tanpa meminta persetujuan Rafael, Membuat Rafael langsung menjaga jarak dari salsa, karena garis itu duduk disampingnya.
“Ngapain lo di sini,'' Ketus Rafael kepada salsa.
Salsa tersenyum ke arah Rafael, sebelum menjawab pertanyaan cowo itu. ''Aku nggak sengaja lihat kamu di sini. Aku pikir Salah lihat ternyata tidak.”
Rafael yang tidak menggubris ucapan salsa, dia memilih diam, Dan menjaga jarak dari salsa dan itu semua di rasakan oleh salsa. Jika Rafael tidak nyaman jika dia ada di sini. Ah, lebih tepatnya lagi jika Rafael memang tidak nyamanJika dirinya ada di sini. Namun mengapa dia harus berfikir jika Rafael tidak nyaman jika dia ada di sini?
Salsa bisa melihat Rafael memenjamkan mata nya, tidak mempedulikan dengan dirinya yang ada di sini. Tapi salsa bersyukur, karena Rafael tidak mengusirnya dari sini.
''El, Apa guru di kelas kamu nggak masuk, sampai sampai kamu ada di sini?'' Tanya salsa kepada Rafael nama cowo itu tidak menjawab pertanyaan dari gadis di sampingnya.
Rafael memilih diam dan mengacuhkan salsa, membuat Salsa tersenyum kecut.
''El,'' Panggil salsa kepada cowok itu lagi, namun panggilan itu tidak mampu membuat Rafael membuka matanya Dan melirik salsa.
''Sebenarnya kamu Pura-pura nggak suka sama aku atau beneran nggak suka.'' Pernyataan yang diberikan salsa mampu membuat Rafael diam, lalu cowo itu membuka matanya secara perlahan lahan lalu melirik salsa.
''Menurut lo?'' Bukannya menjawab Rafel malah balik bertanya kepada salsa.
''Aku tanya sama kamu kenapa malah tanya balik,'' Ucap salsa seraya menatap manik mata Rafael, Namco itu hanya tersenyum sinis senyuman yang selalu Rafael berikan kepada salsa.
''Kalo gue bilang sama lo kalo gue benar benar nggak suka sama lo, apa lu mau jaga jarak dari gue?'' Rafael bertanya kepada salah sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.
Salsa menarik nafas nya panjang, lalu kemudian gadis itu mengembuskan nya secara perlahan lahan. Dia menatap Rafael, mencari jawaban di bola mata cowo itu, apakah Rafael benar benar tidak menyukainya atau hanya pura pura saja.
''El, Kamu udah tahu dari dulu, kalo aku suka sama kamu. Aku nggak tahu apa yang nggak kamu sukain dari aku. Sampai sampai kamu menyuruh aku buat jauhin kamu. Apa karena aku suka sama kamu jadi kamu risih?''
Rafael tertawa airnya, mendengar ucapan salsa. ''Apa lo yakin kalau gue suka sama lo?'' Tanya Rafael dan dibalas anggukan kepala oleh salsa.
__ADS_1
''Aku beneran suka sama kamu Rafael, andai aja aku enggak suka sama kamu, dan nggak setulus ini sama kamu, aku nggak akan ngejar-ngejar kamu, Sampai aku dengar segala cibiran dari kamu.'' Salsa tersenyum manis kearah Rafael. ''Aku nggak tahu, aku yang bodoh atau karena aku yang obsesi sama kamu,'' jelas Salsa dengan senyuman melekat di wajahnya.