ARDIAN

ARDIAN
Boy kesal


__ADS_3

Huft...


Hembusan nafas berat keluar dari mulut gadis cantik itu. Sudah pukul 1 dini hari, matanya belum juga terpejam. Rasa kantuk yang lenyap begitu saja, saat dia memikirkan kondisi Gerald.


Entah mengapa, dia berpikir jika Gerald akan benar-benar pergi dari pandangannya.


Nanda berdiri dari tempat tidurnya, kakinya melangkah menuju balkon kamar. Hembusan angin malam, langsung menerpah wajahnya yang di selimuti kekhawatiran.


Nanda menatap keatas langit, tidak ada bintang malam ini, tidak ada pula bulan malam ini, sehingga langit kesepian tanpa cahaya bintang dan bulan, sama seperti hari-harinya tanpa Gerald.


"Rald... Maafin gue ya. Ucapan yang lo bilang di mimpi gue, nggak gue lakuin. Karna gue yakin, itu hanya bunga tidur. Bukan berarti gue harus percaya sama omongan lo yang datang di mimpi gue," menolog gadis itu, netra matanya masih setia menatap langit malam, dia tersenyum tipis tatkala mengingat momen kebersamaannya dengan Gerald.


"Rald... Gue yakin, lo masih ada. Gue yakin, bukan cuman raga lo aja yang di rumah sakit. Gue yakin, jiwa lo juga masih ada 'kan, Rald?" Nanda terkekeh kecil, rasa sakit memasuki relung hatinya, kala mengingat mimpinya waktu itu.


Tok... Tok.. Tok


Nanda melirik kearah pintu kamarnya, dia yakin pelakunya adalah Boy.


"Gue kira, cuman gue belum tidur. Ternyata bang Boy juga," gumam Nanda.

__ADS_1


"Ra! Lo udah tidur belum?" teriak Boy.


"Belum!" jawabnya, lalu melangkah menuju pintu kamar, membukakan Boy pintu kamar.


Ceklek.


Nanda melihat abangnya itu tengah bersedekap dadah kearahnya, "ganggu aja," gumam Nanda, masih di dengar jelas oleh Boy.


"Gue tahu lo belum tidur, makanya gue kesini nyuruh lo buat tidur," balas Boy dengan tegas. "Ini udah jam 2 malam, Ra. Masa lo nggak ngantuk sih," lanjutnya seraya mengecek jam di pergelangan tangannya, lalu menggeleng kecil.


"Gue belum ngantuk, bang. Gue lagi--"


Boy menarik nafasnya panjang. "Sekarang lo tidur, Ra. Ini udah tengah malam. Besok lo lanjut mikirin Gerald, malam ini lo harus tidur," ujar Boy tanpa ingin di bantah.


"Iya-iya." Nanda hanya mengiyakan ucapan Boy.


"Yaudah balik sana, Bang. Gue mau tidur." Nanda langsung megusir Boy pergi dari depan kamarnya.


"Bentar!" kesal Boy, kakinya dia hentakkan kebawa lantai, membuat Nanda tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Apa lagi?"


"Ponsel lo nggak aktif dari kemarin?" tanya Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


"Gue malas aktifin ponsel gue."


Boy manggut-manggut. "Pantas aja Ardian dm gue di ig," kata Boy. "Dia nanyain kabar lo."


Nanda terdiam, dia melupakan sosok cowok yang baru saja menjadi pacarnya itu. Jujur saja, tidak ada sama sekali nama Ardian terbesit di pikiran Nanda, karna pikirannya sepenuhnya di penuhi oleh satu nama, yaitu Gerald.


Nanda hanya bisa membatin, dia lupa memberikan kabar kepada Ardian, karna dia larut dengan satu nama.


"Terus lo balas apa?" tanya Nanda penasaran, dia berharap Boy mengatakan jika dia baik-baik saja. Sehingga Ardian tidak perlu khawatir. Ok, mungkin Nanda kepedean jika Ardian akan khawatir dengan dirinya.


"Gue cuman bilang, gue nggak mau jawab pertanyaan lo. Gue kesel sama tuh anak satu, dia dm gue, nggak follow gue dulu, seleb banget sih. Gue juga lihat, followers ig nya banyak juga. Baru following-nya kurang lebih sepuluh orang!" decak Boy. "Udah kek seleb aja tuh bocah, dia cuman ikutin kurang lebih 10 orang di ig." Boy antara takjub dan kesal. Kesal karna curut Ardian itu sangat seleb namun sedikit sombong.


"Ardian emang selebgram, hehehe," ucap Nanda dengan tawa kecilnya. "Orang yang dia follow di ig cuman teman dekatnya. Definisi cowok idaman, nggak ada cewek lain yang dia follow di ig, kecuali gue sama mamanya." Nanda menekan setiap perkataannya dengan senyuman merekah, tentu saja dia bangga.


Boy hanya berdengus kesal.

__ADS_1


__ADS_2