ARDIAN

ARDIAN
Playboy


__ADS_3

Suasana kelas nampak ramai, murid-murid di dalam kelas sibuk dengan kegiatan unfaedah mereka masing-masing. Ada yang bergosip riah, ada yang memperbaiki make up mereka, padahal masih pagi begini.


Di kursi paling belakang ada anak ARIGEL, kecuali Ardian dan Gerald, karna Ardian hari ini tidak ke sekolah. Di dalam kelas mereka sedang sibuk di jam kosong ini, karna pagi ini ibu guru sedangrapat bersama kepala sekolah. Mereka berani ribut di dalam kelas, karna mereka tahu Ardian tidak ke sekolah. Andai cowok itu adAa, mana berani mereka ribut seperti ini.


"Leo, Ardian kenapa nggak ke sekolah? Guru nyuruh gue absen teman-teman di dalam kelas. Isi absen Ardian gue apain?" tanya Cakra yang merupakan ketua kelas IPS.


Ethan, Izam, Leo dan  Rafael bersamaan mendongakkan matanya kearah Cakra. "Kalau lo berani, lo boleh nulis di absen kalau Ardian alpa." Bukan Leo yang menjawab, melainkan cowok yang di sebelahnya, yaitu Izam.


Padahal Cakra bertanya pada Leo, karna dia tahu cuman Leo yang waras, mana berani dirinya bertanya pada Rafael, yang ada cowok itu akan menyiramnya dengan mulut pedas cowok itu.


"Mana berani sih Cakra," celetuk Ethan seraya tersenyum jahil, sementara Rafael memilih diam, karna cowok itu tengah berpikir keras, dan pikiranya saat ini terarah pada satu gadis, siapa lagi kalau bukan Salsa.


Dan ini juga alasan Cakra tidak mau bertanya pada Ethan ataupun Izam. Kedua cowok itu tertawa  yang terdengar menyebalkan di telinga Cakra. Andai saja dia tidak takut dengan anak ARIGEL, mungkin dia sudah beradu mulut dengan kedua cowok itu.


"Saran gue, mendingan lo isi absen Ardian dengan kehadiran," kata Leo seraya tersnyum kecil  kearah Cakra, "kemarin-kemarin Ardian nggak peduli soal absensi di kelas, tapi sekarang beda," lanjut cowok itu, karna Ardian pernah bercerita pada mereka jika cowok itu ingin segera menyelesaikan masa SMA mereka.


"Gimana kalau guru sampai tahu, Le? Gue harus ngomong apa, kalau gurunya nggak lihat Ardian ada di sini," kata Cakra lagi.


"Yang pegang absen 'kan lo, kalau guru ngasih alpa Ardian, lo tinggal kasi hadir kalau lo udah  balik kerumah lo!" Rafael yang tadi diam jadi sewot membuat Ethan dan Izam makin terkekeh.


"Sensi banget sih, Raf," goda Izam dengan tawanya,"padahal ketua kelas nanya baik-baik loh. Nggak ada sopan-sopanya banget sih sama ketua kelas sendiri."


"Cermin di rumah lo gede 'kan, mendingan lo bercermin juga," timpal Ethan, sementara Izam hanya mengedikkan kedua bahunya acuh.


Rafael berdengus, entah kenapa pagi ini hatinya sangat sensitif, apa karna dia memikirkan Salsa?


"Ngapain lo masih di situ, ngerusak pemandangan aja muka lo," dengus Rafael menyuruh Cakra untuk segera pergi dari sini.


Cakra hanya bisa berdengus dalam hati, karna Rafael berbicara tidak memikirkan perasaan orang lain saja, untung saja mereka dan hampir seluruh murid di sekolah ini sudah kebal dengan Rafael coba. Maka dari banyak ciwi-ciwi menyukai Rafael secara diam-diam, mental mereka tidak kuat jika Rafael menyiramnya dengan mulut cabenya itu, karna cowok itu tidak memandang jenis kelamin.


"Cak, nggak usah ambil hati ya, mereka emang gitu," kata Leo membuat Cakra mengangguk lalu kemudian cowok itu melenggang pergi meninggalkan ke empat cowok itu.

__ADS_1


Rafael kembali pada posisinya, yaitu menidurkan kepalanya di meja, seraya memejamkan mata indah milik cowok itu.


"Ada msalah apa lo?" tanya Leo, dia tahu kalau saat ini Rafael punya masalah.


"Nggak ada, gue cuman mals," jawab cowok itu.


"Kalau lo malas, ngapain lo ke sekolah geblek," gemes Izam.


Rafael menatap Izam tajam, lalu cowok bermulut tajam itu membalas ucapan Izam, "emangnya lo siapa mau larang gue?!" gerutu Rafael membuat Ethan menahan tawa.


"Lo nanya gue siapa? Gue Izam Setiawan, sahabat lo!" balas Izam menggebu-gebu.


"Lo aja nganggep gue sahabat, sementara gue nggak," kata Rafael santai membuat tawa Ethan keras, sementara Izam tersenyum kecut.


"Gitu amat lo sama sahabat sendiri," dusel Izam sementara Leo hanya menggelengkan kepalanya kecil, seraya tersenyum melihat sahabatnya, Leo ini memang tipikal cowok kalem.


Rafael tidak mengguberis ucapan Izam lagi, untung saja Izam sudah terbiasa dengan Rafael. Rafael sangat lesuh pagi ini, bawaanya pengen maki orang terus-terusan.


"Udah di bilangin lo bukan sahabatnya, masih aja lo ngaku-ngaku," ejek Ethan membuat Izam menatap cowok itu dengan tatapan sangar dan dibalas kekehan oleh Ethan saja.


"Mendingan lo berdua diam, lo berdua berisik tau nggak! lama-lama gue sembelih lo berdua!" nyolot Rafael lalu berlalu pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.


"Sensi banget sih tuh anak," dumel Ethan, "terkesan lebay anjir, cowok sensi," lanjut Izam.


"Berani lo ngomongin Rafael lebay karna orangnya nggak ada di sini, kalau mana lo berani. Palingan lo langsung kicep," ejek Ethan lagi dan dibalas cengengesan oleh Izam.


"Bukan cuman gue yang takut, lo juga `kan," balas Izam tak ingin kalah.


"Setidaknya gue nggak banci kayak lo, Zam. Omongin orang yang udah pergi," ejek Ethan lagi.


"Iyain aja deh."

__ADS_1


"Mau susul Rafael, nggak?" tanya Leo berdiri dari  kursi yang dia duduki, siap menyusul sahabatnya itu.


"Hayuk!"


"Gas!"


Ketiga cowok itu berjalan beriringan keluar kelas, dengan posisi Leo di tengan, samping kananya ada Izam dan Ethan. Baru saja cowok merea ingin keluar pintu kelas, seseorang langsung memanggil Leo.


"Leo," panggil Nita, yang merupakan sekretaris osis.


Ketiga cowok melihat Nita yang sudah berdiri di hadapanya.


"Kenapa?" tanya Leo tak lupa pula tersenyum kearah Nita, ciri khas Leo memang begitu sehingga dia di juluki Playboy karna senyumanya yang menawan mampu menghipnotis kaum hawa.


"Eh, Lele, nggak usah ngumbar senyum, Nita sukanya sama Gerald, bukan sama  lo," kata Izam melihat senyuman jenaka Leo terpatri di wajahnya itu.


"Kayak nggak tau Lele aja,'' timpal Ethan membuat Leo tertawa kecil.


"Gue `kan emang gini, sama semua oraang, bukan sama cewek doang," balas Leo santai.


"Kita tahu, Le, tapi nggak usah tebar pesona sama cewek. Lo pikir kita  nggak tahu isi otak lo itu," kata Izam lagi.


"Di depak sama Pute baru tahu rasa lo, Le," kata Ethan dan dibalas anggukan setuju oleh Izam.


"Nggak tahu deh, kenapa bisa Pute yang secantik bidadari suka sama cowok modelan kayak lo, Le," kata Izam menggebu-gebu.


"Gue setuju sama lo, Zam." Ethan membenarkan, sementara Nita menunggu ketiga cowok itu berhenti ngomong, karna dia seperti tidak terlihat di sini.


"Emang modelan gue kenapa?" tanya Leo lagi.


"PLAYBOY!!!!" jawab Ethan dan Izam bersamaan membuat Leo tertawa begitupun dengan Izam dan Ethan.

__ADS_1


"Untung aja lo ganteng, Le, jadi wajah lo dukung lo playboy," kata Izam enteng.


"Kalau muka lo burik, terus lo playboy, pasti setiap hari Rafael nyiram lo pake cabe."


__ADS_2