ARDIAN

ARDIAN
ARDIAN BAB 187


__ADS_3

"Ethan," panggil Puri, membuat langkah kaki Ethan terhenti karna panggilan gadis itu.


"Gue nggak nyaman jalan di lapangan kayak gini, pake high heels," kata Puri lagi setelah Ethan menghampirinya.


Ethan menggelengkan kepalanya pelan, mereka baru jalan 14 menit lamanya, Puri sudah mengeluh.


"Jangan bilangin gue manja ya. Gue juga nggak tahu kalau kak Boy bakaln ngajak kita kesini, kalau gue tahu, gue bakalan pake sandal jepit," keluh Puri.


"Aku nggak bilang gitu." Ethan menundukkan tubuhnya membuat Puri tersentak,karna Ethan berjongkok dibawa kakinya.


"Lo mau apa, Than, mendingan lo berdiri," kata Puri.


Ethan medongak sehingga matanya dengan mata Puri bertemu, membuat Puri meneguk salivanya susah payah, Ethan sangat tampan malam ini.


"Aku mau lepasin high heels kamu ini, biar kamu nggak kesusahan jalanya," kata Ethan santai.


"Lo mau buat gue nyeker?" tanya Puri tidak percaya.


"Nggak, kamu pake sepatu aku," ucapnya lagi membuat Puri terdiam, sementara Ethan tengah melepaskan high heels gadis di depanya itu. Puri hanya menurut saja, saat Ethan mulai melepaskan high heelsnya itu.


"Pake sepatu aku." Ethan melepaskan sepatu mahalnya dari kakinya itu.


Ethan memasangkan sepatu miliknya di kaki Puri dengan hati-hati, tanpa mereka sadari mereka berdua menjadi pusat perhatian para pengunjung pasar malam ini, ada yang mem video aksi Ethan yang so sweett pada pasanganya, membuat kaum hawa mengigit jari malam ini.


Puri masih mematung, lalu matanya menatap ebaw, dimana sudah ad sepatu Ethan yang bertengger di kakinya itu. Ethan kembali berdiri, sembari menenteng high heels milik Puri.


"Than, lo jalan cuman pakai kaos kaki doang?" tanya Puri dan dibalas anggukan kepala oleh cowok tampan itu.


"SO SWEET BANGET SIH PACAR GUE!" pekik Puri membuat Ethan langsung menutup telinganya, karna pekikan Puri yang melengking itu.


"Sorry, sayang," kata Puri secara cengegensan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, yuk lanjut jalan." Ethan langsung menggadeng tangan Puri, sementara tangan satunya menenteng high heels gadis itu.


Mereka berdua kembali berjalan, dengan tangan mereka masih saling bersautan itu.


Pipi Puri masih setia memerah, dia masih hanyut dengan perlakuan manis Ethan malam ini.  Baiklah, Puri tidak menyesal datang ke tempt ini, karna tempat ini momen pertamanya dengan Ethan yang paling so sweet untuknya.


"Kita mau kemana, Than?" tanyaP uri, dia lelah berjalan kaki di tengah keramain pengunjung pasar malam, mereka juga menatap Puri dan Ethan secara terang-terangan, mungkin mereka berpikir dari mana asalnya pria dan perempuan cantik itu, mengapa bisa terdampar di pasar malam ini.


Rasa lelah itu sedikit berkurang, karna Ethan menggengam tanganya, seakan-akan tidak ingin lepas.


"Kita bakalan naikin salah satu wahana di pasar ini,'' kata Ethan membuat Puri melirik cowok itu.


"Seriusan?" tanya Puri dan dibalas nggukan kepala oleh Ethan, "lo nggak takut? `wahana di pasar malam itu bahaya, gue aja nggak pernah kesini apa lagi sampai naik wahananya," terang Puri.


"Yaudah, malam ini aku akan buat kamu naik salah satu wahana di sini," kata Ethan, "kita bakalan naik bianglala," lanjut Ethan menunjuk wahana yang berputar di di depan mereka.


"Gue sih takut naik gituan, tapi kalau sama lo gue nggak akan takut," kata Puri dengan tawa kecilnya.


"Gue beli tiketnya dulu," kata Ethan lalu melangkah membeli tiket.


Setelah membeli tiket, Ethan kembali menghampiri Puri, lalu kemudian mereka antri untuk naik bianglala.


Mereka langsung naik ke bianlala, mereka duduk berhadapan, banyak yang naik ke bianglala. Bukan hanya mereka berdua saja yang naik.


Melihat wajah Puri yang sedikit gelisah, membuat Ethan menggengam tanganya, "nggak usah takut, banyak bocil sd yang naik bianglala juga," kata Ethan.


"Jangan sampai gue muntah, karna ini muter-muter," gumam Puri, yang hanya dirinya saja yang mendengarnya.


Bianglala mulai berputar,, membuat Puri menggengam erat tangan Ethan, tidak terlalu buruk saat bianglala mulai berputar, untuk pertama kalinya Puri menaiki wahana yang ada di pasar malam ini, karna baru kali ini juga ia berkunjung di tempat ini.


"Nggak terlalu buruk," kata gadis itu dengan tawa kecil, membuat Ethan juga ikutan tertawa.

__ADS_1


***


Nanda mengaduk es jeruknya, hanya dia saja yang tinggal di tempat tadi bersama Rafael, karna cowok itu malas bergerak. Sementara Boy sudah berlalu pergi bersama dengan Greta, Kesya juga sudah pergi entah kemana, Leo dan Pute juga sudah pergi, mereka ingin menaiki wahana pasar malam. Cika juga sudah pergi bersama bukunya itu.


"Lo dimana, Ar?" tanya Rafael di ujung telfon, saat telfonya sudah di angkat oleh Ardian.


Nanda melirik kearah Rafael yang sedang telfonan dengan Ardian, Nanda tidak tahu mengapa Ardian tidak berangkat bersama sahabatnya. Mereka berdua duduk berdampinga, dengan spasi dua kursi kosong.


"Cewek lo ada di sini, dia aman sama gue. Buruan lo kesini."


Nanda meneguk salivanya, dia yakin jika Ardian bertanya mengenai dirinya pada Rafael, setelah itu Rafael mmutuskan telfonya, lalu kemudian Nanda mulai meminum es jeruknya. Ia pikir, Rafael tidak beranjak dari sini karna mager, namun ternyata cowok itu tidak beranjak atas perintah Ardian, menemaninya di sini hingga Ardian datang.


"Lo kalau mau pergi, pergi aja, gue yang bakalan nunggu Ardian di sini," kata Nanda seraya melirik Rafael, Nanda juga sudah tahu hubungana antara Rafael dan Salsa, dia sempat terkejut karna di detik-detik keperian Salsa ke jepang, cowok itu mengikat gadis itu.


Nanda sih ykin, Rafael tidak akan menyesal menerima Salsa, karna Salsa adalah gadis yang baik.


Rafael medongak kearah Nanda, "lo mau gue kena bogeman Ardian, karna ninggalin lo sendiri di sini?" ketus cowok itu, lalu kembali fokus pada ponselnya.


Kalian harus tahu, semenjak Salsa pergi, Rafael lebih sering memainkan ponselnya, karna ia dan Salsa bertukar kabar singkat.


"Lo takut ya sama Ardian," celetuk Nanda.


Rafael menyimpan ponselnya di saku celananya, lalu berkata, "lo belum pernah lihat Ardian marah."


Nanda bisa menangkap Rafael tersenyum misterius, membuat Nanda meneguk salivanya susah payah, karna pada kenyataanya dia belum pernah melihat cowok itu marah. Tidak marah saja, wajah Ardian sudah menyeramkan dan tampan dalam waktu bersmaan.


"Lo belum kenal Ardian sepenuhnya, karna lo baru pacaran sama Ardian. Kalau lo mau lihat dia marah, lo bisa lihat saat orang lain mengusik orang istimewah dalam hidupnya," ada jeda di ucapan Rafael, " lo harus bersyukur, lo pacaran sama Ardian setelah dia sama musuh besar anak ARIGEL udah damai."


Rafael tersenyum misterius kearah Nanda, "kalau tidak, musuh anak ARIGEL bakalan nyulik lo sebagai kelemahan ketua ARIGEL, dan di situ lo bisa lihat Ardian berubah menjadi phsyco, haus akan darah," kata Rafael dengan tawa kecilnya, membuat Nanda semakin terdiam.


Rafael membumbuhi canda ucapanya, namun tetap menyeramkan di telinga Nanda.

__ADS_1


Apakah dia bisa melihat Ardian yang sesungguhnya?


__ADS_2