
Ardian William Adhiyatma
Ardian dan kelima sahabatnya sedang berada di markas saat ini.
''Gimana dengan, Dika?'' tanya Gerald.
Setahunya, cowok itu belum terlalu pulih saat mereka menculik Dika. Mereka menyandra Dika di markas mereka.
Rafael mendongakkan kepalanya. ''Udah mau sekarat,'' jawab Rafael membuat Izam tertawa keras
Rafael Cakrawala
''Kalau tuh anak mati, kita bakalan ngadain pesta!'' lanjut Izam membuat Leo hanya tertawa kecil saja.
Gerald hanya tersenyum tipis, mendengar ucapan para sahabatnya.
Gerald Argantara
''Ar,'' panggil Gerald, kepada Ardian yang sibuk menyesap rokok elektriknya.
Ardian menaikkan alisnya sebelah, tanda ada apa?
''Kita biarin Dika kayak gitu?'' tanya Gerald, dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.
''Kita bunuh secara perlahan-lahan,'' ucap Ardian santai membuat para sahabatnya bergedik ngeri dengan ucapan Ardian barusan.
‘’Nyawa orang kayak lu anggap sampah, Ar,'' ujar Leo seraya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Leo Agraham
''Emang dia sampah, bahkan lebih dari sampah,'' balas Ardian dengan seringai di wajahnya.
Sementara Ethan hanya sibuk dengan ponselnya, saja. Guna menghilangkan rasa galau nya setelah beberapa hari putus dengan Vani.
Ethan Bagaskara
Di tengah-tengah obrolan mereka, ponsel milik Ardian bergetar, menandakan adanya seseroang yang menelfon.
Ardian merogoh saku celananya, rupanya yang menelfon dirinya adalah sang mamah, Tari.
''Hal—''
Belum sempat Ardian menyelesaikan ucapanya, mamahnya lebih dulu memotongnya.
Tut...
Tari langsung mematikan ponselnya, setelah menyuruh anaknya untuk pulang.
''Kalian lanjut dulu, gue mau pulang bentar. Mamah gue nyuruh gue pulang dulu,'' pamit Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Kelima sahabatnya.
‘’Jangan lupa bawa kue, Ar!'' teriak Izam dan langsung di pletak oleh Rafael.
Izam Setiawan
Dari balkon kamar, Tari dan Ibnu melihat sosok gadis cantik di depan pagar rumah mereka, sedang berteriak memanggil nama Ardian.
__ADS_1
‘’Papah yakin, kalau gadis cantik itu pacar Ardian?'' tanya Tari tanpa mengalihkan pandanganya dari gadis cantik itu.
''Ardian!'' teriak gadis itu dengan jengkel, dia kesini untuk menyuruh cowok itu mengaku dan mengembalikan Dika kerumah sakit.
''Kayak bukan sih, Mah! Sepertinya gadis itu seperti ada dendam kepada anak kita,'' ujar Ibnu.
Nanda Raisa Arabella
''Apa jangan-jangan....''
Otak Tari sudah berkelana, mengenai gadis itu.
''Jangan-jangan apa, Mah?'' tanya Ibnu dengan rasa penasaran kepada istrinya itu.
''Gadis cantik itu, cewek yang suka sama anak kita,'' ucapTari membuat Ibnu nampak berpikir terlebih dahulu.
''Bisa jadi, mah...Bisa jadi, kan Ardian menolak gadis secantik itu, sampai dia ngamuk cari Ardian di sini,'' ujar Ibnu lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Tari.
Mereka mendengar suara motor milik Ardian, sudah singgah di depan gerbang rumah mereka. Tari dan Ibnu bisa melihat dengan jelas, gadis cantik itu menatap Ardian dengan tatapan dendam.
Ardia membuka helmnya, tanpa turun dari motornya.
‘’Balikin, Dika!'' desis Nanda kepada Ardian.
Ardian tersenyum jenaka, menatap gadis cantik itu. Setelah ucapan I Love You Ardian di kantin tadi, membuat Ardian tidak bisa menghilangkan kata-kata tersebut dari pikiranya.
Dia masih mengingat wajah gadis itu, mengucapkan kata keramat dengan santainya kepada dirinya.
Ardian turun dari motornya, mendekati Nanda yang membuat gadis itu memundurkan langkah kakinya.
Bagaimana tidak, wajah Ardian nampak menyeramkan dan tampan dalam waktu bersamaan.
__ADS_1
''I Love You To Nanda Raisa Arabela,'' ucap Ardian dengan senyuman devil.