
Jantung Boy seakan-akan ingin berhenti berdetak saja. Saat Nanda mengatakan jika Gerald tersiksa saat ini.
''Lu ngomong apa sih, Ra,'' kilah Boy, dia berusaha menghindari kontak mata adiknya itu.
''Bang...Jangan bohongin gue lagi. Apa lagi ini soal keselamatan, Gerald. Gue punya hak nanyain yang sebenarnya tentang dia, bang. Gerald sahabat gue. Seharusnya lu bilang sama gue, yang sebenarnya,'' ucap Nanda seraya mengusap air matanya. ''Jangan simpan ini sendiri, bang. Gue butuh penjelasan tentang kondisi, Gerald. Dia udah dua minggu lebih nutup mata, nggak ada tanda-tanda kalau dia bakalan bangun dari tidurnya.''
Boy menahan nafas saat Nanda mengutarakan isi hatinya saat ini.
''Jujur sama gue, bang. Cukup lu sembunyiin sesuatu tentang, papa. Kalau Gerald jangan,'' pintah Nanda. ''Bang...Sebenarnya Gerald masih hidup'kan? Gerald yang di rawat itu jiwa nya masih ada'kan sama raga nya?'' Nanda memberikan pertanyaan beruntun, dia berharap Boy kembali membantah omonganya itu, dia sungguh berharap jika mimpi yang dia alami itu tidak benar.
Boy berani menatap adiknya, mata Nanda memerah karna menangis. Boy lebih dulu menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskanya secara perlahan-lahan.
''Ini semua keinginan orang tua Gerald.''
Deg...
Boy mulai ingin menjelaskan yang sebenarnya, membuat Nanda menggeleng pelan dengan ucapan Boy barusan.
Boy lebih dulu menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya, menatap langit-langit ruanganya sebelum melanjutkan ucapanya.
''Saat Gerald di larikan kerumah sakit, dia udah nggak ada. Dia udah pergi, Ra.''
Deg...
Ucapan Boy mampu membuat jantung Nanda berdetak tidak karuan, dunianya seakan-akan berhenti saat ini, ucapan Boy membuatnya lemas, bahkan kakinya gemetaran.
Mulutnya tidak mampu mengucapkan sepatah katapun, hanya air mata yang bisa menjelaskannya.
Nanda menggelengkan kepalanya. ''Nggak mungkin,'' gumam gadis itu dengan air mata mengalir begitu saja. ''Gue minta kebenaran, tapi kebenaran ini buat gue sakit. Hiksss!'' tangis gadis itu pecah, dia meremas ujung bajunya, menundukkan kepalanya di meja Boy.
''Lo nyuruh gue ngomong yang sebenarnya'kan, itu yang sebenarnya, Ra. Kalau Gerald udah nggak ada. Raganya ada di rumah sakit ini, berada di ruangan ICU, dengan berbagai alat penunjang hiudp, namun jiwanya udah mau pergi. Hmmm. Bisa dikatakan, jiwanya udah mau pergi, tapi kita malah tahan dia di sini. Mungkin yang lo bilang itu benar, kalau Gerald tersiksa. Lo mimpi'kan, Ra? Udah pasti kalau itu petunjuk dari Gerald buat kita ikhlaskan saja dia,'' jelas Boy. Pria itu mengusap air matanya kasar, menjelaskan kondisi Gerald membuat air mata Boy ikutan jatuh.
Apa lagi dia mengenal baik anak itu, Gerald adalah sahabat masa kecil adiknya, sudah pasti Boy saat itu akrab dengan Gerald dan menganggap Gerald seperti adiknya sendiri.
''Gue pikir ...Gue pikir ini cuman mimpi. Gue kesini minta penjelasan ke lo bang, siapa tahu lo aja bisa bantah apa yang gue sampaikan. Ternyata gue salah, karna mimpi gue emang nyata,'' lirih Nanda.
Gadis itu menatap kedepan, mengusap air matanya dengan kasar. ''Tapi gue yakin, Gerald pasti bangun,'' ucap Nanda dengan senyuman tipis. ‘’Gue masih kurang percaya sama mimpi gue,'' lanjut gadis itu membuat Boy menatap Nanda dengan tatapan tidak percaya.
''Ra...Lo boleh nggak percaya sama mimpi lo itu. Tapi lo harus percaya sama gue. Gue dokter, Ra,'' ucap Boy, pria itu berpikir jika Nanda sama seperti kedua orang tua Gerald, belum menerima semua ini.
Nanda menggeleng pelan. ''Gue tunggu keajaiban, bang. Gue yakin, Gerald pasti bangun. Oiya, gue ingat, omongan Gerald. Dia bilang, dia pengen banget bangun, bang. Tapi matanya nggak bisa dia buka. Setiap kali dia mau buka mata, dia terlempar begitu saja,'' crita Nanda dengan air mata membanjiri kedua pipinya itu.
Boy menghembuskan nafas berat, gadis itu tersenyum kearah Boy. ''Gue mohon, jangan cabut alat-alat itu dari tubuh Gerald, bang. Gue mohon,'' pintah gadis itu.
''Ra....''
Boy tidak percaya, dia pikir dengan adiknya memimpikan Gerald, dia akan merelakan cowok itu juga, karna Gerald mengatakan jika dia sedang tersiksa.
‘’Bang, jangan patahin keyakinan gue tentang, Gerald, bang. Seharusnya lo dukung gue, bukan malah sebaliknya. Gue yakin...Gerald pasti bangun.oi
Jia menyandarkan tubuhnya, tanpa sengaja dia mendengarkan obrolan Boy dengan Nanda, dia mendengarnya dari awal dengan seksama.
Jia meremas dadanya, rasanya sangat sakit, saat mengetahui kenyataan ini. Rasanya sangat sakit, anak yang dia harap untuk bangun, sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
''Anak ku,'' tangis Jia, wanita itu langsung pergi dari depan ruangan Boy. Dia berjalan menuju ruangan anaknya.
Dengan tangisan dan rasa sakit, Jia membuka pintu ruangan anaknya, dia menatap anaknya yang terbaring diatas brankar, alat-alat menempel pada tubuh anaknya, yang Jia tidak tahu untuk apa saja alat itu.
''Anak ku, Gerald.'' lirih Jia berjalan mendekati brankar milik anakannya. Tangan Jia bergetar memegang kepala milik anaknya. Dia tidak bisa berkata-kata lagi saat ini.
Dia terisak, kala mengingat obrolan Boy dan Nanda, tentu saja dia mendengar dengan jelas obrolan keduanya.
Jia hanya ingin ke ruangan Boy tadi, untuk menanyakan kondisi anaknya lebih lanjut, padahal dia berharap saat menemui Boy, dokter itu akan memberikan kabar baik padanya mengenai anaknya.
''Anak ku, sayang, kenapa takdir begitu kejam pada mu, nak. Kamu masih muda, nak. Andai Tuhan mau, mama saja yang menggantikan kamu, jangan kamu yang ninggalin mama. Gerald, anak ku.'' Jia memeluk Gerald dengan erat tangisnya pecah memeluk anaknya.
''Gerald, anak ku. Papi, anak kita!'' tangis Jia memeluk erat Gerald.
Wanita itu semakin terisak, mengingat ucapan Boy, jika Gerald sudah ingin pergi, namun mereka menahannya hingga sampai sini.
''Gerald, jangan tinggalin mami, nak. Gerald! Jangan tinggalin mami!'' tangisan Jia begitu pilu, siapapun yang mendengarkannya akan ibah dengan wanita itu.
Jia mengusap air matanya, tersenyum pada anaknya yang masih setia memejamkan matanya itu. ''Anak mami nggak pergi'kan?'' tanya Jia dengan senyuman melekat di wajahnya, air matanya begitu setia turun, siapapun yang melihat senyumanya, akan menebak jika senyuman itu adalah senyuman kepedihan.
Jia mencium kening anaknya begitu lama, air mata membasahi wajah Gerald. Jia kembali terisak melihat wajah anaknya yang sudah memucat.
''Gerald. Anak mami!'' Jia kembali menangis histeris, hanya dia saja di ruangan Gerald saat ini, karna suaminya sedang pulang kerumah, ada yang dia urus sebentar.
''Anak mami yang paling ganteng, anak mami yang paling baik, selalu nurutin permintaan mami. Kali ini, mami mau minta sama kamu, tolong bangun. Tolong bangun ya, nak. Kamu harus patahkan keyakinan dokter tadi, kalau sebenarnya kamu masih hidup. Mami juga yakin, kalau kamu masi hidup.'' Jia menangis. Mulutnya mengatakan yakin, jika anaknya masih hidup, namun tidak dengan hatinya saat ini.
Jia terus-terusan terisak, dia berharap tidak ada yang mengganggunya di sini. Dari kaca pintu ruangan Gerald, Nanda melihat Jia memeluk Gerald dengan erat.
__ADS_1
Nanda kembali menitihkan air matanya, bukan hanya dia saja yang tidak ikhlas, tapi kedua orang tue Gerald yang tidak ikhlas untuk melapskan anaknya untuk saat ini.
Nanda mengusap air matanya, padahal dia ingin kembali memeluk Gerald, sebelum dia pulang kerumah, karna Gina menelfonya untuk pulang, karna mamanya juga sakit.
Namun melihat Jia di dalam, membuat Nanda mengurungkan niatnya itu, dia tidak mau menganggu mami Gerald. Nanda hanya bisa menangis dari luar, dia sangat ingin memeluk Gerald namun Jia berada di dalam.
Nanda memegang kaca pintu ruangan Gerald. ''Rald, aku tahu. Kamu pasti dengerin aku. Aku mohon sama kamu, untuk bangun. Kasihan mami kamu,'' menolog Nanda dengan rasa sesak.
''Aku sayang sama kamu, Rald. Kamu adalah sahabat aku, teman cerita paling baik. Nggak ada orang lain yang bisa aku percaya, selain kamu, Rald. Gerald, aku mohon, kamu bangun. Please.''
Boy datang menepuk pundak gadis itu, sehingga dia membalikkan tubuhnya, Boy juga melihat Jia dari dalam memeluk Gerald begitu erat. Meski suara tangis Jia dari dalam terdengar samar.
''Kita pulang, mama udah nungguin kita,'' ajak Boy, kaki Nanda begitu berat melangkah pergi dari depan ruangan Gerald saat ini. ‘’Besok pulang sekolah lo kesini lagi, sekarang kita pulang dulu. Kasihan mamah di rumah sendiri.''
Pada akhirnya Nanda mengangguk mengiyakan ucapan Boy, gadis itu melangkah dari depan pintu ruangan Gerald, ingin sekali Nanda menenangkan Jia di dalam, tapi dia tidak bisa, karna mamanya sedang membutuhkan nya saat ini.
Nanda dan Boy berjalan di koridor rumah sakit, kaki Nanda melemas, kakinya tidak kuat untuk melangkah, setelah tahu mengenai Gerald.
Gadis itu hampir saja terjatuh, bukan hanya satu atau dua kali, tapi dia terjatuh berulang kali, untung saja Boy selalu sigap jika Nanda kembali oleng.
Boy memaklumi, karna dia tahu bagaimana sakitnya adiknya saat ini, gadis itu hanya menatap kosong kedepan, dunianya seperti runtuh saat ini juga.
Nanda langsung masuk kedalam mobil, dengan Boy yang menyetir mobil. Mobilnya langsung meninggalkan rumah sakit untuk segera pulang kerumah.
Padahal, Boy sudah meminta cuti, namun mamanya mnegatakan untuk datang kerumah sakit, karna dia mempunyai kewajiban yang besar di rumah sakit.
Pada akhirnya Boy mengiyakan permintaan mamanya itu. Sampai saat ini, hanya satu permintaan Gina tidak bisa Boy laksanakan, yaitu menikah.
Boy tidak tahu, umur berapa dia akan menikah, mamanya kerap kali memaksanya untuk menikah. Namun dia menolak, dengan alasan jika dia belum menemukan gadis yang cocok untuk dia jadikan istri, padahal Gina berulang kali menawarkan Boy pada anak temanya, namun Boy menolaknya terus-menerus.
***
Puri langsung menghampiri Pute yang sedang menunggunya.
''Dari mana aja lo, Ri. Lama banget, padahal cuman balikin buku doang di perpustakaan,'' ucap Pute membuat gadis itu berdehem.
‘’Biasalah, gue cuci mata dulu sama cowok tampan, anak-anak ARIGEL. Lo'kan tahu, kalau mereka semua tampan-tampan, kebetulan mereka lewat di lapangan, jadi gue lihat mereka dulu,'' bohong gadis itu pada Pute, sementara Pute mengangguk percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
‘’Bukanya hati lo udah kepincut sama, Ethan,'' goda Pute.
''Nggaklah, gue jatuh cinta sama setiap cowok ganteng yang gue lihat, seperti Ethan. Bukan berarti gue punya niatan mau pacaran sama dia,'' kata Puri lalu masuk kedalam mobil, dia tidak mau jika Pute bertanya mengenai Ethan lagi.
Cukup sudah dia terperdaya dengan omongan Ethan. Apa lagi saat cowok itu mengatakan dengan sungguh-sungguh di kelas waktu itu, jika dia sudah move on. Ternyata mulutnya tidak sejalan dengan apa yang dia perbuat, karna Puri melihat dengan mata kepala nya sendiri, mendengar dengan jelas Ethan mengajak Vani untuk balikan.
Para sahabat Cika sudah tahu, jika cowok yang selama ini Cika kagumi adalah Gerald. Mereka tidak heran, jika Cika kagum pada Gerald, karna cowok itu emang pantas untuk di kagumi.
''Put,'' panggil Puri.
''Hmmm,'' balas Pute dengan deheman, karna gadis itu fokus menyetir.
''Kita mau langsung balik?'' tanya Puri.
''Lo mau kemana? Gue sih ngikut aja, dirumah gue juga suntuk. Kalaupun gue pulang lambat, nggak akan ada yang nyariin gue,'' kata Pute dengan senyuman tipis di wajahnya.
''Put...'' Puri langsung memeluk sahabat nya itu, dia kasihan pada Pute. Dia sudah tahu jika gadis itu selalu kesepian, Pute hanya merasa hidup jika dia ke sekolah bertemu dengan para sahabatnya.
''Gue lagi nyetir, Ri,'' sesak Pute, karna Puri memeluknya begitu erat.
‘’Heheheh, Sorry.''
‘’Yaudah, kita mau kemana?'' tanya Pute lagi.
‘’Gimana kalau kita ke Mall,'' ajak Puri dan dibalas anggukan setuju oleh Pute.
Mobil Pute melaju untuk ke Mall, kebetulan dia ingin membeli alat make up, karna stok alat make up nya sudah menipis.
Tidak butuh waktu lama, mobil milik gadis itu parkir di area parkiran Mall. Mall yang mereka kunjungi salah satu mall terbesar di kota.
Masih dengan menggunakan seragam sekolah, gadis itu melangkah masuk kedalam.
Pute dan Puri pisah, mereka akan bertemu kembali setelah barang yang mereka cari sudah mereka dapatkan.
Ting...
Sms m-bangking masuk, membuat Pute mengecek ponselnya, dia melihat sejumlah uang yang di kirim papanya untuknya.
Gadis itu tersenyum miris, lalu kemudian dia melanjutkan langkah kakinya untuk mencari alat make up.
Drt...
Ponsel milik Pute bergetar, membuat gadis itu menghentikan kembali langkah kakinya, dia pikir yang menelfon adalah papa nya, ternyata pikiran gadis itu salah.
__ADS_1
Karna yang menelfon nya adalah Leo, senyuman Kebahagian langsung terpancar di wajah gadis itu. Dia tidak menyangka, jika Leo akan menelfonya.
Dengan cepat, gadis itu langsung menekan ikon berwarna hijau itu.
‘’Gue senang, lo nelfon gue.'' Pute lebih dulu bicara.
''Lihat kebelakang,'' kata Leo di ujung Telfon, membuat Pute menaikkan alisnya sebelah.
‘’Maksud lo apa?'' tanya Pute sedikit bingung.
''Lihat kebelakang,'' perintah Leo lagi.
''Ok...''
Pute membalikkan tubuhnya..
Deg...
Dia tidak menyangka, jika ada Leo di belakangnya, membuatnya saling bertatapan dengan Leo. Cowok itu tersenyum hangat pada Pute, membuatnya tidak bisa menahan senyuman.
‘’Leo,'' beo Pute.
Dia melihat Leo berjalan menghampirnya.
''Mau beli apa?'' tanya Leo, setelah dia berhadapan dengan Pute dengan jarak tidak sejauh tadi.
Sementara gadis itu tidak bergeming.
''Put,'' panggil Leo.
‘’Gue nggak nyangka, kalau kita ketemu di sini,'' ucap Pute dengan suara pelan membuat Leo tertawa kecil.
''Ini bukan kebetulan, Put. Gue emang ngikutin lo dari sekolah sampai sini. Lo nya aja nggak sadar,'' jelas Leo membuat Pute tersenyum kecil.
''Mau belanja apa? Biar gue temenin lo,'' kata Leo lagi.
''Gue cuman mau beli make up doang, make up di rumah gue udah habis.'' Pute melanjutkan langkah kakinya di ikuti oleh Leo.
''Cuman itu?'' tanya Leo lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Pute.
''Lo ngapain ngikutin gue sampai sini?'' tanya Pute memastikan.
''Lo udah termasuk tanggung jawab gue.''
Deg...
Pute langsung menghentikan langkah kakinya, membuat Leo ikutan menghentikan langkah kakinya.
''Tanggung jawab?'' tanya Pute dengan suara pelan, Leo mengangguk mengiyakan. ''Lo nggak salah omong'kan?''
''Nggak,'' balas Leo. ''Semenjak gue ambil apa yang selama ini lo jaga, lo udah termasuk tanggung jawab gue, Put. Gue bakalan jagain lo,'' lanjut Leo dengan suara pelan, jangan sampai ada yang mendengarkan obrolannya dengan Pute saat ini.
Pute bingung dan tidak paham, arah pikiran Leo itu seperti apa. Cowok itu mengatakan ingin menjaganya, semenjak Leo mengambil apa yang seharusnya tidak dia berikan, namun cowok itu tidak mau menjalin ikatan pacaran denganya, Leo hanya ingin menikah tanpa pacaran. Terus, apa bedanya?
‘’Gue nggak tahu, arah pikiran lo kemana.'' Pute menghembuskan nafas berat, jujur saja dia tidak paham dengan jalan pikiran Leo.
‘’Gue ajak lo jalin hubungan pacaran, tapi lo nggak mau. Tapi lo mau jagain gue,'' lanjut Pute.
''Nggak usah bahas itu, Put. Yang penting niat gue baik mau jagaian lo. Kalau lo butuh atau mau minta tolong, lo tinggal ngomong sama gue,'' kata Leo lagi'
Lagi-lagi Pute menghembuskan nafas berat.
Tangan cowok itu bergerak mengusap rambut gadis cantik di depanya. ''Lo nggak usah mikirin itu. Yang terpenting, gue bakalan tanggung jawab, Put. Setelah gue ambil yang seharusnya nggak gue rusak. Gua janji sama lu, gue bakalan tanggung jawab dan nikahin lo, setelah gue dapetin kerja yang baik setelah lulus SMA,'' kata Leo lagi dengan yakin, dia berhasil membuat Pute yakin dengan ucapan cowok itu.
Karna Leo memang tidak punya niatan untuk kuliah, seperti para sahabatnya, lulus sekolah dia akan kerja.
‘’Gue pegang omongan lo,'' kata Pute dan dibalas anggukan kepala oleh Leo.
Mereka kembali melanjutkan langkah kakinya, Leo menemani Pute untuk belanja make up.
Setelah tiga puluh menit mencarinya, akhir nya mereka tiba di kasir. Untuk membayar belanjaan.
‘’Totalnya, 3.850.000.'' Kasi tersebut menjumlah belanjaan Pute'
‘’Biar gue yang bayar,'' kata Leo.
''Nggak usah,'' tolak Pute saat Leo ingin menyerahkan atm nya pada kasir.
‘’Gue nggak mau di bayarin sama cowok, kalau lo udah jadi suami gue. Baru lo bisa bayarin belanjaan gue,'' celetuk Pute seraya memberikan kartunya kada mbak kasir itu.
Leo hanya tertawa kecil saja. ''Selain cantik, lo juga nggak matre,'' goda Leo. ‘’Siapapun yang dapetin lo nanti, dia bakalan beruntung.''
__ADS_1
''Lo yang udah dapetin gue, jadi lo beruntung?'' Mereka mengobrol seakan-akan kasir di depanya patung.
''Gue beruntung, Put.''