
Sudah dua jam berlalu, sejak kedatangan Iksan dan Raisa di rumah Gina. Pria bernama Boy itu sudah tidak kembali ke rumah sakit lagi. Dia tidak ingin meninggalkan Gina dan Nanda.
Saat ini Boy sedang mengompres pipi milik mamanya, pipi milik wanita itu memerah karna tamparan dari Iksan begitu keras, sampai-sampai Gina mengeluh pipinya begitu perih.
‘’Mama harus mendengarkan, Boy. Besok Boy akan menemani mama ke pengadilan agama. Untuk menceraikan papa. Pria seperti papa nggak pantas di sebut pria, karna dia sudah main tangan dengan mama.'' Boy mengepalkan tanganya, seraya menyimpan air hangat untuk mengompres pipi milik Gina.
''Luka ini,'' Boy menunjuk pipi Gina, lalu dia memeluk Gina begitu kuat. ''Papa udah nggak sayang mama lagi, lantas apa yang mama ingin pertahankan didalam rumah tangga mama? Mama mengharapkan cinta dari papa? Itu nggak akan ada lagi, Ma. Andai papa masih cinta dengan mama, dia nggak akan menampar wanita yang dia cintai,'' jelas Boy dalam dekapan Gina.
Gina mendongakkan kepalanya, air matanya turun begitu saja. Perih di pipinya tidak seperih hatinya saat ini. Suaminya tega menampar dirinya.
Ya Tuhan, apa rumah tangga yang ku bina dengan mas, Iksan. Akan berakhir sampai di sini? Apa rumah tangga yang sudah berusia 27 tahun harus berakhir?
Gina menangis seraya memeluk Boy begitu erat, ini yang kesekian kaliannya Boy menyuruh dirinya untuk segara pisah dengan Iksan.
Namun wanita itu masih menunggu Iksan, bahkan saat dia tahu jika Iksan sudah menikah tanpa sepengetahuannya, dia tetap menunggu suaminya itu.
Namun sepertinya, Gina akan mendengar ucapan Boy. Dia akan bercerai dengan Iksan, dia akan memenuhi permintaan anaknya.
Rasa sakit yang di dapatkan tadi, membuat Gina sudah berpikir mantap, jika dia harus mengakhiri pernikahannya yang sudah berjalan 27 tahun itu bersama Iksan.
Boy melepaskan pelukanya. Mengusap air mata wanita yang sudah melahirkan dirinya.
''Mama adalah wanita hebat, mama Boy sama Ara hebat. Papa yang akan menyesal karna telah mengkhianati cinta mama. Bukan mama yang akan menyesal, kalau mama menggugat cerai papa,'' jelas Boy kepada mamanya itu.
Boy kembali memeluk Gina, karna kejadian ini membuat Boy sudah tidak kembali ke rumah sakit. Pikiranya di penuhi dengan dendam kepada Raisa dan Ibnu.
Nanda menelengkupkan wajahnya di kedua kakinya, menangis dalam kamar, mengunci kamar hingga Gina dan Boy tidak bisa masuk kedalam kamarnya.
Pipi gadis itu menjadi memar, karna tamparan dari Raisa. Kemungkinan besar besok gadis itu tidak akan ke sekolah.
''Papa jahat! Papa udah nampar mama!''
BRAK....
Gadis itu melempar seluruh barang-barang yang ada diatas nakas. Hingga vas bunga jatuh dibawa lantai menciptakan suara ribut.
''Ahk! Gue benci papa sama pelakor itu! Gue benci anak papa juga bersama anak pelakor itu!' Tangis gadis itu pecah, jika kemarin-kemarin dia tidak menangis, lain dengan ini.
Gadis itu menangis histeris dalam kamarnya. Dia Pikir dirinya kuat dan tidak akan menangis, namun nyatanya itu salah!
Dia menangis begitu keras, hingga dia menghamburkan seluruh barang-barang didalam kamar.
Ini tidak akan terjadi, jika Raisa dan Iksan tidak datang kerumahnya, dan membuat sesuatu itu meledak. Melihat mamanya di tampar oleh papanya sendiri membuat dadah gadis itu bergemuruh.
‘’Gue benci sama papa!'' Menangis mungkin adalah jalan yang baik untuk dia lewati saat ini.
Tamparan Iksan untuk mamanya masih terngiang-ngiang dalam benak gadis itu.
Dengan penuh air mata, membanjiri kedua pipinya, gadis itu berjalan menuju meja belajarnya, di sana ada bingkai fotonya dan Iksan tiga bulan yang lalu.
Wajah keduanya di penuhi dengan Kebahagian. Nanda tidak tahu, sudah berapa lama Gina memendam hal menyakiti kan ini seorang diri.
BRAK...
Nanda mengucurkan bingkai foto itu, lalu air matanya semakin deras keluar. ''Gue benci sama papa. Hiks...Sakit, Pa. Anak-anak papa sakit melihat papa menampar mama dan membelah wanita kotor itu!''
Kamar gadis itu berantakan, rambutnya sudah acak-acakan, keringat membanjiri seluruh tubuhnya, keringat dan air mata itu berstu, tanganya terkepal hebat, kala mengingat tamparan itu.
Nanda terduduk di lantai, baru saja kemarin dia mengatakan pada Boy. Jika dia bukan gadis lemah, dia bukan gadis cengeng.
Dan sekarang? Dia menangis seperti anak kecil saat ini. Mama yang dia sayang mendapatkan tamparan dari pria yang merupakan suami mamanya sendiri.
Nanda tersenyum getir. ''Gue benci sama papa.'' Mengusap air matanya dengan kasar, lalu kemudian matanya itu kembali mengeluarkan bulir air mata.
''Gue benci papa, hiks!''
‘’Gue benci Kesya!''
‘’Gue benci pelakor itu!''
''Gue benci kalian!''
''Papa tega nampar mama Ara!''
Gadis itu kembali terisak, siluet matanya melihat sebuah boneka besar, yang tersusun rapih diatas kamarnya.
Nanda berdiri dalam keadaan sempoyang, tanganya meraih boneka itu. Bahkan, boneka itu lebih besar dari dirinya.
Boneka itu adalah boneka hadiah dari papahnya, saat umurnya 16 tahun saat itu, Iksan memberikan hadiah padanya.
“Ara tahu kenapa papa hadiahkan boneka besar ini untuk kamu?”
“Biar kalau papa keluar kota bekerja. Ada yang bisa kamu peluk. Kalau kamu rindu.”
Itu adalah kata-kata yang Iksan berikan kepada Nanda. Saat dia memberikan hadiah itu padanya.
__ADS_1
‘’Bulshit!'' cecar wanit itu. ‘’Nyatanya, papa nyaman dalam pelukan pelakor. Buka keluar kota bekerja. Rasa sakit ini udah nggak bisa Ara bendung, Pah.''
Nanda berjalan menundukkan tubuhnya, mengambil pecahan vas bunga dibawa lantai.
‘’Gue benci papa!'' Gadis itu merusak boneka pemberian Iksan menggunakan pecahan vas bunga yang dia buang.
''Sakit, Pa! Skit lihat papa nampar mama!'' Isakan gadis itu semakin terdengar jelas, membuat Boy yang berada di dalam kamarnya beranjak cepat.
''Ra! Apa yang lo lakuin!'' teriak Boy dari luar, tanganya mengetuk keras pintu kamar Nanda.
Sehingga pergerakan tangan Nanda, merusak boneka itu terhenti. Nanda mengabaikan suara Boy, dia kembali menangis lalu kembali merusak boneka itu dengan penuh kebencian, sehingga isi-isi dari boneka itu keluar, memenuhi lantai kamarnya.
''Papa bodoh! Kenapa nampar mama!' Tangisan gadis itu semakin menggemah, membuat Boy menjadi khawatir.
Dia takut jika Nanda akan berbuat diluar nalar.
''Ra, dengerin gue! Buka pintunya! Jangan buat hal yang buat mama makin sedih, Ra!'' Mata Boy memerah, mendengar suara isakan tangis Nanda dari dalam begitu piluh, mulutnya setia mengeluarkan nama Iksan yang dia benci.
Gina jalan tergopoh-gopoh, karna mendengar suara tangisan Nanda.
''Ra, apa yang kamu lakuin, nak. Jangan buat mana khawatir!'' panggil Nanda.
Nanda semakin terisak dari dalam.
''Gue benci papa!''
''Ra. Gue bilang buka pintunya!”
Boy dan Gina semakin khawatir. Saat mendengar suara pecahan dari dalam. Entah apa lahi yang Nanda pecahkan.
Gina khawatir. Karna Nanda belum juga membuka pintunya. Berulang kali Boy mendobrak pintu Nanda, namun tidak bisa terbuka.
“Tante, ada apa?” Suara milik Gerald dari lantai bawa membuat Boy langsung menyuruh cowok untuk naik kesini.
“Kenapa, bang?” tanya Gerald.
Gerald diam membisu saat mendengar suara tangisan Nanda dari dalam.
“Bantu gue dobrak pintunya,” pintah Boy kepada cowok itu.
Gerald dan Boy mundur secara perlahan-lahan, lalu keduanya mendobrak pintu kamar gadis itu.
“1.''
''2.''
BRAK
Dalam hitungan ketiga, mereka mendobrak pintu kamar Nanda, mereka terkejut melihat kamar yang selalunya rapih menjadi berantakn seperti ini.
Nanda masih terisak. Gadis itu kembali menelengkupkan wajahnya, dia malu dilihat Boy menagis.
''Ra..'' Boy mendunduk, namun Nanda menggeleng.
‘’Keluar, bang. Gue malu, gue nangis!'' ucap gadis itu membuat Boy terkekeh dengan adiknya itu.
‘’Tapi lo harus janji, jangan lukain diri lo,'' ucqp Boy.
Gina menangis melihat kondisi anaknya yang jauh dari kata baik-baik saja.
‘’Jangan tinggalin, Ara. Sampai dia tidur,'' ucap Boy kepada Gerald. Takut-takut jika adiknya itu akan berbuat sesuatu diluar akal.
Gerald mengangguk paham dengan ucapan Boy, lalu Boy keluar kamar Nanda seraya menggandeng tangan mamanya untuk kesana.
Gerald menutup kamar Nanda, berjalan menuju jendela untuk membuka jendela kamar gadis itu. Agar udara segar masuk kedalam kamar gadis itu.
Nanda mengangkat kepalanya, saat siluet sinar matahari masuk kedalam kamarnya, padahal kamarnya sedikit gelap. Namun karna Gerald membuka jendela kamarnya membuat gadis melihat Gerald tengah tersenyum padanya.
Gerald sudah tahu semuanya, melalui Boy. Jika Iksan dan Raisa datang kesini, dan yang membuat Nanda menjadi histeris menangis seperti ini karna Iksan menampar Gina.
''Rald,'' panggil Nanda.
‘’Peluk aku, Rald,'' pintah gadis itu membuat Gerald diam sejenak, lalu cowok itu melangkah mendekati Nanda.
''Kamu yang sabar, Ra.'' Hanya kata itu saja yang mampu Gerald katakan. Jika dia yang berada di posisi gadis itu, dia akan mengalami sakit yang di alami oleh gadis itu.
Gerald setia memeluk tubuh Nanda, sementara gadis itu terisak dalam pelukan cowok yang saat ini memberikanya kehangatan.
Nanda tertidur dalam pelukan Gerald, lalu kemudian cowok itu mengangkat tubuh Nanda yang masih bergetar diatas tempat tidur.
Untung saja tempat tidur gadis itu tidak berantakan. Gerald tersenyum getir, melihat gadis yang dia cintai saat ini menanggung beban yang sangat menghancurkan hati dan pikiranya.
Deruh nafas gadis itu tidak beraturan, membuat Gerald menghembuskan nafas berat. Melihat Nanda seperti ini. Membuatnya ikutan merasakan sakit, gadis yang dia cintai, sahabatnya, sekarang tidak baik-baik saja.
Cup...
__ADS_1
''Maaf, Ra. Heheh.'' Gerald tertawa kecil, karna mencium pipi gadis itu.
Gerald menatap sekliling kamar ini, begitu berantakan. Beberapa pecahan kaca tersebar di lantai kamar.
Cowok itu bergerak membersihkan serpihan kaca itu dibawa lantai. Takut-takut jika Nanda bangun gadis itu menginjak serpihan kaca dibawa lantai.
Ceklek.
Boy membuka pintu kamar Nanda, sehingga Gerald langsung mendongakkan kepalanya melihat pria itu.
Boy melihat kearah tempat tidur, adiknya itu sedang tertidur pulas. Mungkin karna kecapaen jadi dia langsung tertidur.
‘’Nggak usah di beresin, Rald. Nanti bibi yang beresin,'' ucap Boy kepada Gerald, dia akan menyuruh Art di rumah ini untuk membersihkan kamar Nanda.
Pria itu berjalan menuju kursi sofa, duduk di sana seraya menyandarkan tubuhnya.
''Pecahanya gue pindahin, bang. Takut aja kalau Ara bangun, dia nginjak,'' jelas Gerald dan dibalas anggukan kepala oleh Boy.
Gerald bernafas legah, karna Boy datang setelah dia mencium pipi milik gadis itu, hampir saja dia mendpatakan amukan dari Boy.
Drt...
Ponsel Boy bergetar, dia melihat kepala rumah sakit tengah menelfon dirinya. Karna Boy sempat menelfon kepala rumah sakit namun dia tidak mengangkatnya, jadi Boy di Telfon balik.
''Halo, pak.'' Boy menyapa kepala rumah sakit di ujung Telfon, seraya berjalan menuju balkon kamar Nanda, sementara Gerald keluar kamar Nanda untuk membuang kaca itu.
''Iya, pak. Saya mau minta cuti selama satu minggu,'' pintah Boy kepada kepala rumah sakit di ujung Telfon.
''Mulai besok, pak.''
‘’Terimaksih, pak.''
Tut...
Panggilan berakhir, Boy sudah meminta izin kepada kepala rumah sakit, jika dia akan mengambil cuti selama satu minggu.
''Tuh anak kemana?'' gumam Boy, saat membalikkan tubuhnya Gerald sudah tidak ada di sini.
Cup...
Boy mencium pipi milik adiknya, mengusap rambut adiknya penuh kasih syang.
''Kita bakalan buat papa menyesal, dia udah milih wanita yang salah dan membuang mama kita,'' ucap Boy seraya tersenyum getir.
Pria itu langsung pergi dari kamar Nanda, menutup pintu kamar sang adik, lalu berjalan menuruni anak tangga, karna dibawa sana ada Gerald sedang duduk santai.
Air mata Nanda kembali mengenang, saat Boy mengucapkan kata barusan.
''Ini belum jam pulang sekolah, kenapa udah balik lo, Rald?''
''Bolos, karna gue lihat lu bang jemput Nanda. Jadi gue berpikir, kalau Nanda lagi nggak baik-baik aja.''
''Lah, ketua osis bolos? Ini ceritanya gimana sih,'' gumam Boy.
‘’Ketua osis juga manusia bos, bisa bolos kayak manusia lainya.''
***
Ardian berjalan menuju kelas IPA, dia ingin melihat Nanda.
Cowok itu langsung masuk kedalam kelas IPA, menelusuri setiap sudut kelas ini, namun dia tidak melihat gadis yang dia cari.
Teman kelas Nanda menatap Ardian dengan tatapan kagum.
''Lo lihat, Nanda?'' tanya Ardian kepada Salsa.
Sehingga Kesya, Puri, Pute dan Cika langsung mendongakkan kepalanya menatap Ardian.
Mereka terkejut melihat ada Ardian di sini, jangan lupa cowok itu mencari Nanda. Membuat Kesya semakin panas.
‘’Nanda tadi pulang, lagi sakit,'' jawab Salsa dan dibalas anggukan kecil oleh Ardian.
''Ngapain kamu cari, Nanda.'' Pertanyaan itu keluar dari mulut Kesya.
Sehingga mereka melihat kearah gadis itu. Cika memutar bola matanya malas. ''Emang salah kalau dia nyariin Nanda?''
Kesya menatap Cika dengan tatapan nyalang. ''Diam lo!'' desis Kesya kepada Cika.
''Udah, weh,'' ucap Pute agar Cika dan Kesya berhenti berdebat.
''Lo tanya kenapa gue nyariin, Nanda?'' Ardian tersenyum simpul kearah Kesya. ‘’Karna gue suka sama dia.''
Deg...
Pernyataan dari Ardian membuat jantung Kesya tidak karuan, jangan lupa sahabatnya diam mematung saat cowok itu mengatakan jika dia menyukai Nanda.
__ADS_1
Ardian langsung pergi meninggalkan kelas IPA, diluar ada para sahabatanya menunggu dirinya.
‘’Nanda mana?'' tanya Izam kepada Ardian. ''Kok keluar dengan tangan kosong,'' lanjutny dengan tawa keras, membuat sahabatnya ikutan tertawa.