ARDIAN

ARDIAN
Ikhlas


__ADS_3

Nanda menaikkan alisnya sebelah, saat ini dia sedang duduk di kursi panjang, di samping pintu ruangan ICU. Dia tidak sengaja melihat sosok gadis bernama Nita, gadis yang Nanda ketahui menyukai sahabtnya itu, namun Gerald selalu menolaknya.


Nanda melihat gadis bernama Nita itu berjalan kearahnya, lebih tepatnya di ruangan ICU. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah, sudah di pastikan jika pulang sekolah tadi, dia tidak pulang kerumahnya lebih dulu, dia langsung menuju rumah sakit.


''Lo Nanda'kan?'' tanya Nita, setelah jaraknya dengan Nanda sudah tidak jauh lagi.


Nanda hanya mengangguk sebagai jawaban. ‘’Gimana kondisi, Gerald?'' tanya Nita lagi, masih dengan raut wajah khawatir.


''Belum ada perubahan, masih koma,'' jawab Nanda pelan. Karna dia begitu lemas, sedari pagi dia belum ganti pakaian, belum makan, dan tentunya dia belum mandi. Gadis itu juga tidak ke sekolah, dia memilih tinggal di rumah sakit, melihat Gerald dari jendela.


Dari semalam Nita ingin kesini, hanya saja semalam hujan deras, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk kerumah sakit, karna tidak di beri izin oleh papanya.


‘’Cuman sendiri?'' Kali ini Nanda yang bertanya pada Nita. Dia bertanya, karna Nita hanya seorang diri kesini, padahal dia anggota osis, sudah pasti yang lainya ikut.


Nita mengagngguk pelan. ''Dio sama anggota osis lainya lagi perjalanan kesini,'' jawab Nita dan dibalas anggukan mengerti oleh Nanda.


Nita melihat Gerald di dalam, dari kaca jendela ruangan ICU. Tentu saja dia tidak berani untuk masuk kedalam, dia tidak berani melihat cowok yang dia sukai sejak dulu, di pasangkan alat penunjang kehidupan.


''Gue lihat, lo dekat sama Gerald,'' ucap Nita, tanpa melirik kearah Nanda yang sedang memejamkan matanya.


Nanda tersenyum tipis, lalu membalas ucapan Nita. ‘’Gue sama Gerald nggak dekat lagi. Tapi lebih dari dekat,'' ucap Nanda meninggalkan jejak tanda tanya pada pikiran Nita.


‘’Maksud lo?'' tanya Nita, kali ini dia melihat Nanda.


‘’Gerald sahabat gue, sahabat masa kecil. Bahkan, gue sama dia makin dekat semenjak kami berdua beranjak dewasa,'' ucap Nanda dengan senyuman bangga pada dirinya sendiri.


Ucapan Nanda barusan membuat Nita terdiam, dia tidak menyangka jika Gerald yang dingin itu mempunyai sahabat cewek yang sangat cantik.


Nita tidak bertanya lagi kepada Nanda, dia takut jika dia akan kena mental dengan jawaban gadis itu.


Teman-teman osis Gerald sudah datang, ada Cika dan Salsa juga.


''Nanda!'' panggil Cika dan Salsa, sehingga Nanda melihat kearah depan. Kedua temanya itu langsung memeluknya dengan pelukan erat.


Dia tahu, saat ini Nanda semakin terpuruk. Belum selesai masalah keluarganya, yang membuatnya berpikir keras, berita mengenai Gerald lagi membuatnya semakin sulit untuk berpikir dan mencernah keadaan sekarang ini.


''Sabar ya, Na.'' Salsa mengusap punggung milik Nanda.


Nanda hanya mengangguk kecil.


Cika berdiri di depan jendela, melihat Gerald di dalam terbujur kakuh. Alat-alat medis sudah terpasang pada tubuhnya.


Cika memegang kacang jendela. ''Jangan pergi dulu, Rald. Gue belum sampaikan perasaan gue ke lo, Rald.'' Tanpa terasa, air mata Cika jatuh.


Gadis itu langsung mengusap air matanya, orang-orang tidak boleh tahu jika dia menangis karna Gerald.


''Bertahan demi orang tua lo, Rald. Dan....demi sahabat masa kecil lo, Nanda. Gue mohon bangun. Perjuangim cinta lo ke Nanda, meskipun gue suka sama lo.''


Tidak lama kemudian, anak ARIGEL datang.


''Ardian,'' panggil Raga, sehingga Ardian menjentikkan langkah kakinya itu.


''Kalian duluan,'' ucap Ardian kepada sahabatnya.

__ADS_1


Ardian langsung menghampiri Raga. ''Kenapa, Om?'' tanya Ardian.


''Coba lihat kesana.'' Raga menunjuk kearah Nanda dan Salsa. ''Nanda dari tadi malam sampai sekarang belum makan. Om udah bujuk dia buat makan, tapi dia menolak,'' lanjut Raga. ''Om mau, kamu yang mencobanya, kalau Gerald sampai bangun, dia tahu Nanda sakit. Dia akan menyalahkan dirinya sendiri.''


Ucapan Raga sukses membuat Ardian terdiam, begitu dalamnya kha hubungan mereka berdua? Seperti tidak ada celah untuknya.


Ardian mengangguk paham. ''Baik, om. Saya coba dulu. Kalau gitu, saya ke kantin dulu.'' Pamit Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Raga.


''Ara.'' Gina langsung memeluk tubuh anaknya, Gina baru bisa datang kerumah sakit bersama dengan Boy.


''Ma,'' panggil Nanda dalam pelukan Gina. ‘’Kenapa ujian buat Ara begitu banyak, Ma.'' Nanda menangis dalam pelukan Gina.


Sebenarnya dia malu untuk menangis, apa lagi di sini banyak teman sekolahnya, namun kali ini dia tidak ingin menahan air matanya.


Sahabatnya sedang berada di ambang kematian, dia tidak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi pada sahabat baiknya itu.


‘’Gerald akan bangun,'' ucap Gina menguatkan anaknya itu.


Gina merapikan rambut milik Nanda. ''Udah beberapa hari ini tidur kamu bertankan, Ra, karna mikirin masalah mama dan papa. Berita kecelakaan Gerald, membuat kamu semakin susah tidur.'' Gina mengecup kening milik anaknya begitu lembut.


Nanda tersenyum getir. ‘’Berita Gerald jauh membuat Ara sakit, Ma.''


Gina kembali memeluk anaknya, sementara Salsa dan Cika hanya menyimak saja, Nita dan yang lainya juga ikutan mendengar ucapan Nanda dan mamanya.


Sudah di pastikan, hubungan Gerald dan Nanda begitu dekat. Buka hanya sahabat, mungkin ada cinta tumbuh diantara mereka.


Persahabatan mereka sejak kecil, jadi besar kemungkinan jika mereka mempunyai hubungan lebih dari sahabat, itulah yang di pikirkan mereka.


Terutama Nita, memiliki Gerald semakin terasa jauh saat dia tahu jika Gerald mempunyai sahabat masa kecil. Nita yakin, jika Gerald dingin sama cewek lain, dia tidak akan dingin pada sahabatnya sendiri.


Dia akan membeli makanan untuk Nanda, terlebih lagi saat dia tahu jika Nanda dari semalam tidak makan, membuat cowok itu khawatir.


Ardian memesan nasi ayam untuk Nanda, lalu memesan es teh. Dia harap, Nanda akan memakanya, meski dalam kondisi terpuruk seperti ini.


''Beliin makanan buat siapa?''


Ardian membalikkan tubuhnya, dia melihat Boy kakak Nanda tengah duduk di kursi seraya menunggu pesanannya.


‘’Buat, Nanda.''


Boy mengangguk paham, sudah dia duga jika Nanda akan mogok makan saat dia dalam kondisi seperti ini.


''Paksa dia makan,'' ucap Boy.


''Iya, tanpa lu bilang gue bakalan paksa dia makan,'' ucap Ardian dengan senyuman tipis.


Kali ini Ardian melihat dokter Boy berada di lingkungan rumah sakit, tanpa menggunakan jas dokternya.


Boy akan menjenguk Gerald setelah teman-teman sekolahnya pulang, terlebih dulu dia akan bicara pada dokter yang semalam menangani Gerald.


Ardian membayar makanan yang sudah dia pesan, lalu berpamitan pada Boy untuk segera pergi membawa makanan untuk Nanda.


Gina sedang menghampiri Jia, bagaimanapun mereka pernah dekat sebelum mereka berjauhan karna mengikuti suami kerja.

__ADS_1


''Jia,'' panggil Gina.


Jia melirik Gina. Wanita itu langsung duduk di dekat Jia, sebagai seorang ibu Gina paham apa yang sekaran Jia rasakan saat ini.


‘’Anak saya sedang berjuang di dalam, antara hidup dan mati,'' ucap Jia dengan lirih, matanya menatap kosong kedepan.


Gina mengusap punggung milik Jia. ''Kamu yang sabar, saya yakin. Gerald kuat, kita sama-sama mendoakan Gerald.''


Jia hanya mengangguk kecil, dia hanya berharap jika anak kesayanganya itu akan segera sadar.


Raga memejamkan matanya, Jia istrinya masih berharap jika Gerald akan kembali padanya. Dia tidak bisa mengatakan hal ini kepada Jia, tentang kenyataanya yang akan sangat sulit untuk di terima istrinya.


Jika Jia tahu ini, maka dia akan histeris, gila dan sebagainya.


''Ku pasrahkan semua pada mu Tuhan. Jika Gerald ingin menemui mu lebih dulu, tolong beri aku kekuatan dan kesabaran bersama istriku Jia.''


''Hmm.'' Ardian berdehem kearah Salsa dan Cika.


Gadis itu yang peka, langsung menjauh dari Nanda.


''Makan,'' ucap Ardian seraya menyerahkan kotak makanan itu kepada Nanda. ‘’Dari semalam lo nggak makan, om Raga yang kasi tahu gue,'' lanjut Ardian.


Nanda menolak makanan itu, lalu berkata. ''Gue nggak lapar.'' Nanda menjawab dengan suara parau, semalam dia melampiaskan semuanya dengan tangisan.


''Kalau lo nggak makan, sama aja lo buat Gerald khawatir.'' Nanda langsung melirik Ardian, sehingga mata keduanya beradu. ‘’Makan-makanan ini demi, Gerald. Lo nggak kasihan sama dia, dia lagi berjuang di dalam. Masa lo tega sama dia, berjuang sambil mikirin lo. Mungkin di dalam sana Gerald ngomong 'Ara gue udah makan belum, ya' Lo mau buat di kepikiran?'' Ardian berbicara panjang kali lebar kepada Nanda.


‘’Orang koma nggak bakalan mikirin itu semua,'' balas Nanda.


‘’Kata siapa? Bahkan di saat orang ingin menghembuskan nafas terakhirnya, dia akan memikirkan orang kesayanganya.''


Nanda menghembuskan nafas berat, ucapan Ardian barusan tidak masuk dalam otaknya. Dia sulit mencernah setiap perktaan orang-orang padanya, dalam kondisi seperti ini.


''Gue nggak mau tahu, lo harus makan. Gue nggak mau sahabat gue sedang berjuang di dalam, sambil mikirin lo.''


''Udah gue bilang, gue nggak lapar.''


''Yakin lo nggak lapar?'' Perlahan-lahan Ardian membuka kotak makanan itu. Di dalam kotak makanan itu berisi paha ayam dan nasi.


Nanda meneguk salivanya, jujur saja dia lapar. Hanya saja, dia yakin jika dia memasukkan makanan itu kedalam perutanya, akan sangat susah untuk dia telan.


''Mau gue suap?'' goda Ardian membuat nanda memutar bola matanya malas kearah cowok itu.


‘’Gue bisa sendiri,'' ucap Nanda, seraya mengambil kotak makanan itu. ‘’Sekarang lo boleh pergi,'' lanjut Nanda membuat Ardian tertawa kecil.


''Ok, awas aja lo sampai nggak makan tuh makanan. Bakalan gue paksa lo jadi pacar gue.'' Ardian bicara begitu ambigu, untung saja Nanda hanya mengabaikan ucapan cowok itu.


''Na,'' panggil Ardian, sebelum dia melangkah pergi meninggalkan Nanda.


''Kenapa?'' tanya Nanda.


‘’Gue harap, lo bisa sadari perasaan lo ke Gerald,'' ucap Ardian seraya tersenyum miris. ''Gue tahu, lo suka sama Gerald, cuman lo selalu nolak dia. Lo nggak mau'kan, sampai lo jadian sama dia, kemudian lo sama Gerald berantem, terus putus dan ujung-ujungnya akan menjadi asing. Lo percaya sama gue, Gerald cowok langkah di muka bumi ini. Jangan sampai lo menyesal. Gue harap, setelah Gerald sadar, terima cinta dia. Nggak ada yang perlu lo khawatirin, kalau lo udah sama Geraldu. Gue bakalan kubur perasaan gue ke lo, Na.”


Ardian langsung melenggang pergi meninggalkan Nanda, kebetulan ke empat sahabtanya juga memanggilnya untuk ke kantor polisi.

__ADS_1


Sudah pukul 7 malam, teman-teman Gerald sudah berpamitan pulang kepada Raga dan juga Jia.


Jia hanya mengangguk saja, karna dia masih syok dengan situasi yang menimpa anaknya.


__ADS_2