ARDIAN

ARDIAN
ARDIAN BAB 194


__ADS_3

Ardian tidak bertanya lagi, hingga Ardian menyuruh pemilik Ayunan Putar ini untuk menghentikan putaran nya. Karna Ardian melihat gadis itu bergerak gelisah.


"Kita turun." Ardian menarik tangan Nanda pelan untuk segera turun.


Sementara anak-anak yang tadi turun dari Ayunan Putar, kini kembali naik dengan bahagia. Ardian bahkan membayar kan tiket-tiket mereka untuk naik.


"Ngapain cari Izam?" tanya Ardian setelah menjauh dari Ayunan Putar.


"Buka HP lo sendiri," kata Nanda membuat cowok itu menurut saja.


Ardian tidak bereaksi berlebihan melihat Izam meng-tag dirinya. Dengan santainya, Ardian malah menambahkan sebagai stori nya juga, membuat Nanda melotot, dia pikir cowok itu akan sama dengannya, tidak merepos stori tersebut.


"Kok lo malah stori sih, Ar," kata Nanda setelah cowok itu memasukkan kembali HP nya kedalam saku jaket nya.


"Nggak masalah buat gue. Lo 'kan pacar gue. Jadi ok-ok aja kalau gue repost balik," balas Ardian membuat Nanda menghembuskan nafas berat.


"Orang-orang bakalan tahu, kalau kita pacaran," kata Nanda lagi.


"Itu yang emang gue mauin. Biar orang tahu, kalau kita berdua pacaran," balasnya dengan santai, "banyak hati yang bakalan terluka, tapi gue nggak peduli," lanjut Ardian seraya tersenyum tipis, salah satu nya adalah Kesya. Tentu saja gadis itu akan terluka.


Drt...


Ponsel milik Nanda bergetar, dia melihat nama yang tertera di layar ponsel nya, lalu tangannya yang lentik mulai menekan ikon berwarna hijau tersebut.


"Halo, bang," sapa Nanda di ujung telfon.


"Udah mau jam 11, Ra. Kita balik kerumah," kata Boy di ujung telfon.


"Yang lain udah ada?" tanya Nanda lagi seraya melirik Ardian.


"Puri sama Ethan udah ada. Sisa lo sama Ardian, Leo, Pute, Rafael sama sih anak pelakor itu," jelas Boy di ujung telfon tanpa berniat menyebut nama Kesya.


Dari dalam mobil, Greta tersenyum tipis mendengar ucapan Boy. Pria itu menelfon Nanda di luar, namun suaranya sangat jelas masuk kedalam indra pendengaran Greta.

__ADS_1


Bahkan, menyebut nama Kesya saja, Boy tidak mau.


Nanda di seberang sana memutar bola matanya malas, sampai kapan coba Boy akan memandang Kesya orang jahat. Padahal Boy tahu, jika adiknya bukan hanya dirinya saja, ada Kesya juga.


"Telfon gue balik, kalau mereka udah pada di sana."


Tut...


Nanda langsung memutuskan sambungan telfon nya. Ia pikir teman-temanya sudah berada di parkiran.


Boy mendengus kesal, adiknya langsung mematikan sambungan telfon nya begitu saja.


"Giman, dokter Boy?" tanya Ethan yang duduk di kursi kayu, berdekatan dengan motornya, dengan Puri yang duduk di samping nya. Mereka berdua tengah menikmati somay, lebih tepatnya lagi Ethan, karna Puri hanya sekali-kali mengigit nya.


"Bentar lagi Nanda nyusul kesini, kalau yang lain udah ada. Rafael sama Leo udah lo telfon?" tanya Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Ethan.


"Mereka lagi jalan ke sini, berempat sama Pute dan Izam," jawab Ethan seraya menyantap somay nya yang ia beli pada abang gerobak.


"Anak pelakor itu, lo udah telfon?" tanya Boy lagi melirik kearah Puri.


Greta melirik Boy yang duduk di sebelah nya.


"Kamu nggak apa- apa 'kan, nungguin yang lain? Atau perlu saya antar kamu pulang dulu?" tanya Boy dan dibalas gelengan kepala oleh Greta.


"Biar nunggu aja," jawab gadis itu dan dibalas anggukan kepala oleh Boy.


***


Entah mengapa Kesya mau-mau saja mengikuti Fatur, sampai cowok itu makan di tengah-tengah pasar malam, dia ikutan duduk di samping cowok itu.


Mungkin karna yang lain pada sibuk, sehingga dia tidak mempunyai pilihan lain. Tadinya, Kesya ingin mengajak Pute untuk naik wahana yang ia sukai, namun niatnya dia urungkan saat melihat sahabat nya itu tengah asik dengan Leo.


"Lo yakin nggak lapar?" tanya Fatur menyuapi mulut nya satu sendok nasi goreng.

__ADS_1


"Gue nggak lapar," balas Kesya dengan suara pelan.


"Nggak lapar atau nggak doyan?"


Kesya hanya mengabaikan ucapan Fatur, sementara cowok itu kembali menikmati nasi goreng nya.


Karna kepergian Salsa ke Jepang, membuat cowok itu menghibur diri dengan mengunjungi pasar malam.


"Lo 'kan sama Ardian saudara. Sampai sekarang lo nggak akrab sama dia?" tanya Kesya seraya melirik Fatur.


Fatur membalas tatapan Kesya, "akrab?" gumam Fatur, lalu kemudian cowok itu tersenyum nyaris tak terlihat, "gue sama Ardian itu musuhan. Anak VAGOS sama anak ARIGEL tepatnya," jelas Fatur lalu kembali melanjutkan kunyahan nasi goreng nya.


"Itu 'kan dulu," balas Kesya lagi.


"Yayaya, itu emang dulu. Tapi sampai sekarang gue nggak akrab sama dia. Walaupun sekarang gue tinggal satu atap sama dia," jelas Fatur lagi. "Emang kenapa?"


Kesya menghembuskan nafas berat, "gue cuman mau cari tahu, Ardian beneran suka sama Nanda atau cuman iseng," kata Kesya, dia berharap seperti itu, namun nyatanya Ardian serius pada gadis itu.


Fatur tertawa, membuat Kesya menaikkan alisnya sebelah. Perasaan tidak ada yang lucu, namun Fatur malah tertawa.


"Sebenarnya lo udah tahu jawabannya, Kesya. Cuman lo aja nggak nerima jawaban yang sebenarnya," seloroh Fatur membuat Kesya diam.


Apa yang di katakan Fatur apakah benar? Jika dia sudah tahu jawabannya, namun dia menolak kenyataan itu.


"Apa sih yang buat cewek-cewek suka sama dia?" Fatur bertanya acuh, "padahal orang ganteng bukan cuman dia."


Kesya memutar bola matanya malas, "dia punya sesuatu yang nggak di punyai cowok manapun, kalaupun dia tampan," jelas Kesya.


"Maksud lo kekayaan?" Fatur tersenyum sinis membuat Kesya menggeleng.


"Ardian itu punya aura yang luar biasa. Matanya buat siapapun jatuh cinta natap dia," kata Kesya sembari mengingat mata indah Ardian, "lo sama Ardian emang saudara. Lo berdua juga sama-sama tampan. Bedah sebelas sama dua belas. Yang buat gue ataupun cewek lain suka sama Ardian, karna dia emang pantas di sukai atau di kagumi."


Fatur mengangkat kedua bahunya acuh, dia memang mengakui jika adiknya itu satu langkah lebih tampan dari nya, di tambah lagi tatapan matanya yang indah. Fatur saja yang cowok menyukai mata indah seperti milik Ardian.

__ADS_1


Padahal mereka sama-sama anak Ibnu, namun mengapa mata Ardian jauh lebih indah ketimbang Ibnu.


Kesya mengetuk-ngetuk meja kayu di depannya, lalu kemudian berkata, "gue nggak tahu, kenapa hati gue tetap berlabuh sama Ardian. Meskipun gue tahu, dia udah punya pacar." Kesya menghembuskan nafas lelah. "Nanda beruntung dari segi apapun." Suara akhir kesya memelan.


__ADS_2