ARDIAN

ARDIAN
ARDIAN BAB 188


__ADS_3

Ting...


Ponsel milik Rafael bunyi, menandakan adanya pesan masuk.


"Gue udah di parkiran. Cewek gue aman 'kan?"


Rafael berdecih membaca pesan dari Ardian, lalu tangan cowok itu juga bergerak membalas pesan dari Ardian.


"CEWEK LO AMAN."


Itu adalah balasan pesan yang di kirim Rafael, menggunakan huruf kapital semua.


Lalu kemudian cowok itu tersenyum tipis, sejak kapan dia berani dengan Ardian?


Tangan cowok itu kembali bergerak mengirim pesan.


"Nanda nyuruh gue ngetik pakai huruf kapital semua, Ar. Jadi gue harus dengerin ucapan cewek lo."


Itu adalah pesan kedua yang di kirim Rafael untuk Ardian.


"Basih lo, Raf." Ardian bergumam membaca pesan kedua yang di kirim Rafael.


Tidak mungkin jika Nanda menyuruh Rafael melakukan hal gabut seperti tadi.


Cowok itu memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.


Ardian tampil macho malam ini, dengan celana hitam. Sweater hitam dengan sedikit sentuhan kaos putih di dalamnya. Dia padu kan dengan sepatu converse


Membuat cowok itu sangat macho di pasar malam ini.


Ardian melangkah masuk kedalam lapangan, tempat di langsung kan nya pasar malam.


Dia teringat lagi, waktu itu dia pernah mengajak Nanda ke pasar malam, namun hal itu tiba-tiba batal, karna berita Gerald yang kecelakaan.


Sorot matanya fokus menatap jalan, sekali-kali pasang mata menatap Ardian dengan tatapan kagum, cowok tampan yang terdampar di pasar malam ini.


Bahkan, cowok itu sangat mencolok diantara pengunjung pasar malam lainya.


"Ch!" Ardian berdecih saat orang-orang menatapnya tanpa berkedip.


"Itu siapa sih."


"Kok ganteng banget."


"Tatapan matanya itu kayak di novel-novel yang pernah gue baca!"

__ADS_1


"Dia ganteng banget."


"Penampilan nya kayak badboy. Cowok idaman banget."


Itu adalah teriakan para cabe-cabe pasar malam, siapa lagi kalau bukan para c ewek-cewek.


Ardian melangkah dengan angkuh, jangan lupa tanganya dia masukkan kedalam saku celananya, membuat siapapun yang melihat nya akan menjerit-jerit.


Sungguh, tampilan Ardian sangat tampan malam ini. Cowok itu paling bersinar diantara-antara pengunjung malam ini.


Ardian sudah biasa mendapatkan tatapan memuja dari kaum hawa, membuat nya sudah terbiasa akan hal itu.


BRUK...


Seseorang menubruk tubuh Ardian, membuat Ardian memejamkan matanya, agar dia tidak terbawa emosi di tempat ini.


Siapa yang menubruk nya?


"Sorry," suara itu milik seorang gadis, dia melangkah mundur, karna sibuk bermain ponsel dia tidak fokus menatap jalan di depannya. Alhasil, dia menubruk cowok di depan nya.


Ardian menatap tajam gadis di depan nya, "kalau jalan pake mata lo!" gerutu Ardian. "Nggak usah caper jadi cewek!" Lepas itu, Ardian melangkah pergi meninggalkan gadis itu yang masih mematung, habis di semprot dengan Ardian yang mempunyai kesabaran setipis tisu..


Gadis itu menatap punggung kokoh Ardian yang sudah menjauh pergi.


Cowok itu juga tampan, namun cowok yang ia tubruk tadi 3 langkah lebih maju dari cowok manapun.


"Lo serius dia orangnya?" tanya gadis itu serius..


Cowok itu mengangguk.


"Lo tinggal bantu gue misahin dia sama Nanda. Ini tugas buat kita, buat mereka putus, dan buat mereka berdua nggak dekat lagi."


"Veer, lo yakin bisa lawan dia?" tanya gadis itu.


"Lo raguin gue? Nggak usah banyak tingkah, kita jauh-jauh datang kesini karna perintah, Lika. Lo harus ingat, jangan buat siapapun curiga. Satu lagi, lo jangan sampai suka sama cowok tadi," ucap Veer panjang kali lebar membuat Lika menaikkan alisnya sebelah.


"Kenapa? Normal-normal aja 'kan, kalau cewek suka sama cowok yang tadi." Lika membela dirinya.


Veer memutar bola matanya malas, "dia udah nolak banyak cewek, dia cuman luluh sama cewek yang sekarang. Kita pulang, kita harus kasi kabar sama dia, kalau mereka udah pacaran."


Ardian menghampiri Nanda dan Rafael, kedatangan cowok itu membuat Rafael terkejut.


"Lama banget lo, Ar," kata Rafael, "gue udah jamuran nungguin lo jalan dari parkiran."


"Lo boleh pergi," kata Ardian santai lalu duduk di dekat Nanda, wangi cowok itu langsung masuk kedalam indra penciuman Nanda, wangi parfum mint yang selalu Ardian kenakan.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, Rafael langsung pergi meninggalkan Nanda dan juga Ardian.


"Gue telat," kata Ardian dengan senyuman, lalu cowok itu mengambil minuman Nanda yang tinggal setengah, lalu cowok itu meminumnya.


"Nggak apa-apa, gue juga nggak nungguin lo," balas Nanda membuat Ardian hanya tersenyum.


"Kata Izam, dari tadi lo nyariin gue."


Nanda melirik Ardian yang duduk di samping nya, cowok itu tengah memainkan alisnya membuat nya makin keren saja.


Nanda tidak membalas ucapan Ardian lagi, dia tidak pandai berbohong, karna sejujurnya dia memang mencari Ardian tadi.


"Lo dari mana?" tanya Nanda, dia berani bertatapan dengan mata indah cowok itu.


Karna sejujurnya, dia penasaran dari mana cowok itu. Ardian juga tidak memberikannya kabar dia ingin pergi kemana.


Ardian tersenyum jenaka pada Nanda, "jadi bener kata Izam 'kan, kalau lo nyariin mas pacar lo ini?" Suara Ardian nampak menggoda gadis di depannya yang berpenampilan anggun.


Nanda melotot kan matanya, tanganya langsung memukul lengan cowok itu. "Nggak usah ikut-ikutan sama Izam deh!" kesalnya membuat Ardian terkekeh.


Lalu Nanda menghentikan pukulannya pada Ardian, karna cowok itu hanya tertawa tidak merasakan sakit.


"Cocok buat gue, jadi mas pacar nggak masalah, kan?" goda Ardian lagi membuat Nanda memanyunkan bibirnya.


"Terserah lo aja deh," pasrah nya membuat Ardian langsung mengusap rambut Nanda, membuat gadis itu mematung dengan tindakan Ardian.


Ardian menurunkan tanganya dari rambut Nanda.


"Lo tanya gue dari mana?" tanya Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


Dia menelusuri penampilan Ardian malam ini, cowok itu tampil kece di pasar malam.


"Gue habis dari club, saat tau lo ada di sini. Gue langsung nyusul lo kesini," jujurnya membuat Nanda menjauhkan dirinya dari Ardian.


"Gue kesana nggak sempat minum. Karna gue langsung kesini," jujurnya membuat Nanda mengangguk kecil saja.


"Mau naik wahana nggak?" tawar Ardian dan dibalas gelengan kepala oleh Nanda.


"Gue cuman mau lihat-lihat doang," katanya.


"Mau lihat atraksi yang menarik di pasar malam ini?" tanya Ardian membuat Nanda menatap cowok itu, lalu menaikkan alisnya sebelah.


"Emang ada?" tanya Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.


"Kita kesana, nggak lama lagi mulai," kata Ardian seraya melirik jam di pergelangan tanganya, "Rafael udah ada di sana."

__ADS_1


__ADS_2