
Fatur berhasil mengikat Tari di gudang, wanita itu duduk di kursi kayu, tanganya di ikat dengan tali.
Tari belum bngun dari pingsanya, membuat Fatur menanti Tari untuk membuka mata.
Sepertinya tidak terlalu buruk, karna Tari mulai menggerakkan tanganya, tanda dia sudah bangun dari pingsanya, karna obat bius berdosis rendah yang di berikan Fatur.
Tari mengerjapkan matanya, untung saja Fatur tidak melakban mulut Tari, dia hanya mengikatnya di kursi.
''Baguslah, tante sudah bangun.''
Deg
Tari langsung melihat kearah depan. Dia langsung mengenal Fatur hanya dengan foto yang dia ambil dari ponsel suaminya itu.
''Fatur....'' ucapan Tari tercekat, saat menyadari jika tanganya tidak bisa dia gerakkan karna di ikat tali.
''Kamu menculik, mama?''
‘’Hahahah!'' Fatur malah tertawa keras, saat Tari mengatakan 'Kamu menculik Mama' seakan-akan kata yang di keluarkan oleh Tari adalah sebuah lelucon untuk membuat Fatur teetawa.
''Mama?'' beo Fatur dengan sisa tawanya.
''Bagaimanapun, saya adalah mama kamu juga Fatur,'' ucap Tari membuat mata Fatur berubah menjadi tajam menatap Tari.
''Mama saya sudah mati. Dan kamu bukan mama saya, kamu adalah pelakor! Hahahah!''
''Tante bukan pelakor. Mama kamu yang mengkhianati papa kamu Fatur.'' Tari membelah dirinya, saat Fatur mengucapkan kata pelakor untuk dirinya.
‘’Bagaimanapun, tante adalah mama kamu juga,'' jelas Tari.
''Mama saya cuman Livia. Kamu adalah pelakor yang tidak pantas di sebut dengan sebutan mama!'' raung Fatur.
''Kamu tidak tahu mengenai pengkhianatan yang di lakukan mama kamu terhadap papa kamu Fatur.'' Tari mencoba menjelaskan kepada Fatur. Agar anak itu tidak benci kepadanya.
Dia bisa melihat dari tatapan anak yang beda satu tahun dengan Ardian itu.
''Jangan mem—''
''Kamu tidak tahu apa-apa Fatur. Saat itu kamu masih kecil. Kamu tidak tahu segalanya,'' potong Tari membuat Fatur terdiam, namun beberapa detik kemudian, Fatur kembali membalas ucapan Tari.
''Apa tante lupa, mama saya meninggal saat saya beranjak dewasa. Mama saya menceritakan semuanya kepada saya. Kalau tante merebut papa saya!''
''Itu pembohongan besar yang mama kamu katang. Agar kamu menjadi anak pendendam dan membalas semuanya untuk sakit hatinya mama kamu.''
''Saya bukan pelakor seperti yang kamu katakan. Mama kamu selingkuh dengan pria lebih kaya dari papa kamu. Saat itu, mama kamu sedang mengandung. Papa kamu Ibnu sedang diluar kota karna urusan kerja!''
__ADS_1
Deg...
Entah mengapa ucapan Tari membuat hati Fatur menjadi perih. Mamanya selingkuh sejak dia dalam kandungan?
‘’Jangan mengatakan jika saya bukan anak papa saya.'' dinginya kepada Tari.
''Kamu tetap anak Ibnu dan Livia,'' jelas Tari.
''Sekarang kamu lepaskan saya Fatur. Tujuan saya menemui kamu itu baik,'' ucap Tari lagi.
''Tidak akan saya lepaskan. Sampai anak tante datang sendiri,'' ucap Fatur membuat Tari menggelengkan kepalnya.
''Kamu mau buat apa sama Ardian? Dia adik kamu juga Fatur. Kamu sama Ardian masih satu ayah,'' jelas Tari.
Jangan sampai Fatur buat masalah dengan Ardian, tanpa Tari ketahui jika mereka memang saling mengintai satu sama lain.
‘’Saya nggak punya adik. Ardian telah merebut seharusnya apa yang menjadi milik saya.'' Fatur mengepalkan tanganya.
''Kasih sayang, Kebahagian yang tiada tara yang si berikan papa untuk anak tante. Semua kebutuhan Ardian tercukupi, apa yang dia minta langsung ada.'' Tentu saja Fatur irih kepada Ardian.
''Kamu yang hilang kabar. Kamu dan Ardian nggak ada bedanya. Papa kalian menyayangi kalian berdua. Bukan hanya Ardian saja,'' kata Tari membuat Fatur tersenyum sinis.
‘’Saya dan anak tante tentu ada bedanya,'' ucap Fatur menjedah ucapanya. ''Ardian lahir dari rahim pelakor. Tante sebagai pelakor tidak pantas di sebut dengan sebutan 'Mama' '' Fatur menekan setiap perkataanya.
Mata Tari memerah menahan air matanya agar tidak turun. Dia tidak suka saat Fatur mengatakan jika anaknya Ardian, lahir di rahim seorang pelakor.
Boy langsung memeriksa kondisi mamanya Greta. Dia tersenyum saat mengetahui ada perubahan dari mamanya Greta.
''Banyak-banyak bersyukur, banyak perubahan mengenai kondisi mama kamu,'' ucap Boy kepada Greta, seraya melepaskan stetoskop nya membuat Greta mengangguk.
‘’Makasih,'' ucapnya dengan datar.
''Sama-sama,'' balas Boy.
Boy menatap Greta, di wajah gadis itu ada banyak bekas cakaran, namun itu tidak membuat kecantikannya memudar, dia semakin manis menurut Boy.
Greta menaikkan alisnya sebelah, karna dokter itu menatapnya dengan tatapan lekat.
''Hmm...'' Boy berdehem lebih dulu. ''Boleh saya minta nomor wa kamu?'' tanya Boy.
''Nggak ada nomor wa,'' jawab Greta dengan dingin, membuat Boy terkekeh kecil.
‘’Terus, kamu punya nomor apa? Kalau nggak punya nomor wa,'' tanya Boy lagi.
‘’Adanya nomor rekening,'' balas Greta dengan mantap membuat Boy mengangguk kecil.
__ADS_1
‘’Yasudah sini,'' ucap Boy dengan santai.
''Saya bilang, saya nggak punya nomor wa dok,'' bohongnya, dia tentunya tidak mau memberikan nomor wa nya kepada Boy.
''Saya minta nomor rekening kamu,'' ucap Boy, membuat Greta diam.
Dengan iseng-iseng, gadis itu memberikan nomor rekeningnya kepada Boy.
Ting....
Ponsel milik Greta bunyi.
Greta langsung mengambil ponselnya, mengecek sms apa yang masuk.
''Udah saya transfer.'' Boy berkata santai, membuat Greta meneguk salivanya.
Dokter Boy mengirimkan uang sebanyak sepuluh juta untuk Greta.
‘’Tidak usah berterimakasih, Greta. Sepuluh juta itu hanya uang jajan adik saya Nanda, selama satu minggu,'' ucap Boy lagi.
Greta tidak membalas ucapan Boy.
Greta menjulurkan tanganya kearah Boy.
''Kamu minta uang cash? Saya nggak bawa uang cash,'' ucap Boy membuat Greta menahan tawanya, namun dia masih mempertahankan wajah datarnya itu.
''Minta ponselnya, bentar,'' ucap Greta membuat Boy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Greta kembali memberikan ponselnya kepada Boy, setelah dia mengetik deretan angka nomor ponselnya itu.
‘’Nomor saya sudah ada di dalam,'' ucap Greta membuat Boy mengangguk paham.
''Makasih sudah kasi harga,'' ucap Greta, membuat Boy menaikkan alisnya bingung.
‘’Maksudnya?'' ucapnya dengan bingung.
''Nomor saya seharga sepuluh juta, yang dokter Boy berikan,'' ucap Greta membuat Boy tertawa kecil.
‘’Terimaksih, saya duluan. Ada banyak pasien yang ingin saya tangani.'' Pamit Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Greta.
Gadis itu tersenyum tipis, dia pikir dokter Boy itu cuek. Namun ternyata pikiranya itu salah.
Greta duduk di dekat bansal milik orang tuanya, dia tersenyum getir melihat orang tuanya belum juga bangun.
Namun Greta legah,karna dokter Boy mengatakan ada kemajuan untuk orang tua Greta.
__ADS_1
‘’Cepat bangun, Ma. Gre nggak bisa jadi kakak yang baik. Kalau mama udah bangun, Greta mau pergi di tempat yang jauh. Greta takut, mama akan bangun dan mengetahui apa saja yang Greta lakukan, selama mama koma.''