
Ardian, Rafael dan juga Izam melihat mami nya Gerald sedang tidur di sofa panjang, ketiga cowok itu bisa merasakan, jika wanita itu sedang menangis dengan mata terpajan.
''Gerald. Jangan tinggalin, mami.''
Ketiga cowok itu sontak melihat kearah sofa, lalu ketiga nya saling bertatapan. Dia tahu saat ini Jia sedang mengigau.
‘’Kasihan mami nya, Gerald,'' gumam Ethan, dia bisa melihat kesedihan yang paling dalam menyelimuti wanita itu.
''Ayok dong, Rald. Lu harus bangun, gue sama sahabat lo yang lain, kedua orang tua lu nungguin lo buka mata, Rald.'' Izam mengajak Gerald mengobrol, meski dia tahu cowok itu tidak merespon nya.
Sementara Ardian menghembuskan nafas berat, entah mengapa ucapa papi Gerald yang tadi membuat Ardian jadi kepikiran dengan ucapan pria itu. Ardian merasa, ada yang di sembunyikan Papi Raga saat ini tentang kondisi Gerald.
Rafael menyiku lengan Ardian, dia bisa merasakan cowok itu menghembuskan Nafa berat, seperti sedang membuang segala beban dalam hidup nya.
''Lu kenapa?'' tanya Rafael sehingga Ardian membalas tatapan cowok itu.
''Gue kepikiran omongan papi nya Gerald yang tadi.'' Ardian menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini.
''Yang tadi?''
Ardian mengangguk mengiyakan. Lalu kemudian Farel menepuk pundak Ardian. ‘’Nggak usah lu pikirin, nggak mungkin juga hal penting menyangkut Gerald orang tua Gerald nggak kasi tahu kita. Dia 'kan tahu, kalau kita ini sahabat dekat anak nya,'' jelas Rafael namun tetap saja dia tidak merasa tenang.
Dia merasa ada yang di sembunyikan papi Arga mengenai kondisi Gerald dari mereka. Ardian ingin cari tahu, namun dia tidak tahu harus memulai nya dari mana.
‘’Ethan mana?'' tanya Izam, ''dia belum balik dari ngejar Vani?''
''Dia bilang mau anterin Vani pulang,'' balas Ardian dan dibalas manggut-manggut dengan Izam. Sementara Rafael hanya acuh saja, dia sudah Tidak peduli lagi dengan hubungan sahabatnya itu, selama dia melihat Ethan galau gara-gara perempuan, membuat Rafael semakin yakin dengan dirinya, jika perempuan itu sangat memyusahkan, maka nya dia tidak ingin berurusan dengan dengan Makluk yang bergelar perempuan.
***
Ethan mengantar Vani ke salah satu mall terbesar di pusat Jakarta ini, dia pikir gadis itu hanya belanja sebentar, ternyata pikiran nya salah. Karna sudah satu jam dia keliling mall namun Vani tak kunjng usai dengan belanjaan nya.
''Sayang, kamu masih lama?'' tanya Ethan membuat pergerakan tangan Vani yang memilih dres terhenti.
''Nggak tahu, emang kenapa?'' tanya gadis itu dengan santai.
''Sahabat aku di rumah sakit udah pada nungguin aku.''
‘’Jadi, kamu mau tinggalin aku di sini sendiri?''
__ADS_1
''Nggak gitu, maka nya aku nanya sama kamu, biar aku kabarin ke Ardian, berapa jam lagi aku baru kerumah sakit,'' jelas ethan, dia tidak mau jika Vani sampai salah paham dengan maksud nya itu.
''Kurang lebih dua jam lagi.''
''Kamu yakin?'' tanya Ethan memastikan, dua jam itu lama, apa lagi mereka sudah keliling mall selama satu jam, dan itu sukses membuat ketiga sahabat nya mencari nya.
''Iya.''
‘’Kamu yakin? Ini udah mau malam, nanti mama kamu nyariin kamu,'' kata ethan lagi agar Vani mengurangi waktu yang telah dia tentukan.
''Mama aku nggak akan marah, mau jam berapa aku pulang. Asal aku pergi sama kamu.''
Akhirnya Ethan pasrah dengan apa yang Vani katakan, karna hubungan mereka berdua memang sudah di ketahui kedua orang tua mereka, mama Vani juga sudah percaya pada Ethan.
Tanpa Ethan ketahui, jika selama mereka putus mama Vani tidak tahu, mama gadis itu berpikir jika hubungan anak nya baik-baik saja. Apa lagi Vani sering keluar malam nongki bersama teman-teman mereka membawa nama Ethan, dan mama nya Vani pikir, anak nya itu kelur dengan Ethan, padahal jawaban nya bukan.
Drt...
Sudah berulang kali Ardian menelfon Ethan, karna cowok itu pamit hanya sbentar saja, namun sudah satu jam lebih, Ethan belum juga balik.
''Kamu belanja dulu, aku angkat Telfon dari Ardian dulu,'' pamit Ethan pada Vani dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.
‘’Gue, Izam. Bukan Ardian.''
Ethan melihat layar ponsel nya, nama yang tertera di layar ponsel nya nama Ardian.
Cowok itu kemudian paham, lalu dia mengangguk kecil.
''Napa lo?''
''Eh, Sethan. Lu nggak balik kerumah sakit lagi? Lu belum jengukin Gerald sebelum pulang.'' Izam mengoceh panjang kali lebar di ujung Telfon.
‘’Sorry, entar malam kalau bukan besok gue jenguk Gerald lagi. Gue lagi nemenin Vani belanja. Gue nggak mau kalau dia ngambek sama gue,'' kata Ethan membuat Izam di ujung Telfon hanya memutar bola mata nya malas.
''Ok. Kalau besok mau kerumah sakit, nggak usah bawa Vani,'' peringat Ethan.
''Iya, Zam!'' balas Ethan di ujung Telfon, lalu panggilan mereka berakhir.
Ethan kembali menghampiri Vani, setelah memutuskan Telfon dengan Izam.
__ADS_1
''Ini cocok nggak di aku?'' Vani melihatkan Ethan dres berwana merah.
''Bagus, cocok buat kamu yany kulit nya putih,'' jujur Ethan.
‘’Tapi...Kamu ya yang bayarin,'' manja Vani kepada cowok itu.
''Iya, aku yang bayarin. Semua belanjaan kamu, aku yang bayarin.''
Wajah Vani nampak cerah saya Ethan mengatakan hal tersebut, satu bulan putus dengan Ethan tidak membuat cowok itu pelit pada kekasih nya. Apa lagi Vani tahu, jika Ethan itu orang nya royal.
‘’Benaran?''
''Iya, sayang. Kamu belanja aja.''
Vani makin semangat belanja, apa lagi Ethan mengaku jika dia yang akan membayar belanjaan nya.
‘’Ethan dimana?'' tanya Rafael, setelah Ethan memutuskan panggilan nya.
''Dia lagi nemenin Vani belanja. Entar malam dia bakalan jenguk Gerald kalau bukan besok,'' jelas Izam.
''Perempuan itu ribet,'' gumam Rafael.
‘’Ribet bagi lo, nggak ribet bagi orang yang bucin,'' balas Izam.
Sementara Ardian memilih keluar duluan, sedari tadi dia menunggu kedatangan Nanda di rumah sakit ini. Dia pikir gadis itu sedang berada di rumah sakit, karna dia tidak ke sekolah hari ini.
Namun saat sampai, dia tidak melihat Nanda di sini.
Indra mata Ardian melihat sosok dokter yang merupakan Kakak gadi yang dia cari.
‘’Dokter Boy,'' panggil Ardian membuat langkah kaki Boy terhenti, dia melihat sosok cowok tampan menghampiri nya, siapa lagi kalau bukan Ardian.
‘’Kenapa?'' tanya Boy.
''Nanda mana?'' Ardian langsung to the point mencari Nanda, tanpa harus basah basih kepada dokter di hadapan nya.
''Nanda lagi di rumah, satu jam yang lalu dia baru pulang dari sini. Dia lagi jagaian mama karna mama gue lagi sakit,'' jelas dokter pada Ardian membuat cowok itu nampak berpikir, lalu kemudian mengangguk.
‘’Sakit apa?'' tanya Ardian.
__ADS_1
‘’Sakit mau minta mantu.''