ARDIAN

ARDIAN
Kesya memeluk Ardian


__ADS_3

Nanda masih tidak bergeming, menatap gadis di depanya yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


Nanda tidak tahu, harus apa melihat ada Kesya di rumah sakit ini. Dia datang seorang diri, entah apa tujuannya dia datang kerumah sakit.


Yang jelas, Nanda tidak berpikir jika Kesya kesini ingin menjenguk Gerald, karna dia tahu betapa bencinya gadis itu kepada Gerald. Karna video yang sudah dia sebar itu di hapus oleh Gerald.


Anak ARIGEL bahkan menatap Kesya dan Nanda, kedua gadis itu sama-sama beradu tatapan.


''Kalau dilihat-lihat, mereka emang mirip sih. Kenapa kita baru sadar ya,'' gumam Izam seraya memperhatikan Kesya dan Nanda secara bergantian.


''Iya, juga ya,'' balas Ethan, dia setuju dengan apa yang di katakan barusan Izam barusan. Dia baru sadar, jika Kesya dan Nanda itu mirip.


''Dasar gatal!'' sinis Kesya kepada Nanda, setelah beberapa menit dia diam. Berpandangan dengan Nanda yang merupakan saudaranya sendiri.


Nanda tersenyum anggun, dalam kondisi seperti dia masih tersenyum kearah Kesya. ''Lo yakin kata-kata itu cocok buat gue?'' tanya balik Nanda dengan nada suara yang santai kepada Kesya. ''Bukanya itu cocok buat lo yah,'' lanjut Nanda masih dengan senyuman melekat di wajahnya.


Kesya menatap Nanda dengan tatapan remeh. ‘’Papa gue nggak akan gue bagi sama lo, Nan. Biar lo menderita sama mama lo itu. Ch! Gimana rasanya di abaikan? Gimana rasanya nggak di pedulikan? Bahkan, papa lo yang bilang sayang sama lo itu, lebih milih gue sama mama gue. Bukan lo sama mama lo itu!'' kata Kesya dengan sinis kepada Nanda.


Nanda menatap Kesya dengan tatapan remeh, menatap gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. ''Mungkin mama lo itu terobsesi ingin kaya. Jadi....Dia merebut milik orang lain, tanpa rasa malu. Gimana yah, mama lo aja nggak punya malu. Apa lagi anaknya,'' kata Nanda menekan setiap perkataanya. ''Kalau mau ribut jangan di sini, Sya. Gue khawatir lo tambah malu dan nggak ke sekolah lagi,'' lanjut Nanda dengan sinis membuat Kesya mengepalkan tanganya itu.


''Kurang ajar lo!'' Kesya ingin menampar Nanda, namun Boy langsung datang memelintir tangan gadis itu.


''Awkh! Lepasin tangan gue!'' jerit Kesya, karna Boy memelintir tanganya begitu kuat, membuat tanganya begitu sakit.


Boy menatap Kesya dengan tatapan tajam, ''jangan pernah sentuh adik gue. Dasar anak j*l*ng!'' bentak Boy kepada Kesya. Dia tidak akan membiarkan Kesya menyentuh adiknya.


Cukup sudah dia melihat, adiknya di tampar oleh Raisa, dan sekarang anaknya itu ingin menampar adiknya.


''Anak j*l*ng kayak lo nggak pantas bersanding sama keluarga gue. Ambil papah lo itu, gue udah nggak butuh dia lagi!'' Mungkin ucapan yang Boy ucapkan merupakan suatu dosa. Karna bagaimanapun, Iksan tetap papanya.


Namun rasa sakit itu menggelapkan hati dan pikiranya. Dia lebih menyayangi mamanya dan sakit hati pada Iksan karna telah menyakiti wanita sebaik Gina.


‘’Lepasin tangan gue! Gue juga nggak sudi punya saudara kayak lo berdua! Adik lo yang ja*l*ng! Bukan mama gue!'' raung Kesya.


Plak...


Boy langsung melepaskan tangan Kesya, sehingga gadis itu langsung tersungkur dibawa lantai, seraya memegang tangan dan pipinya yang sakit.


‘’Satpam!'' panggil Boy kepada satpam yang menjaga.


Satpam itu lari mendekati Boy, menundukkan kepalanya kepada Boy. ''Iya, pak.''


''Bawa perempuan j*l*ng ini! Jangan biarkan dia masuk kerumah sakit ini!'' peringat Boy dan dibalas anggukan paham oleh satpam itu.


‘’Lepasin gue!'' Kesya mengamuk, matanya menatap Nanda dengan penuh kemarahan, gadis bernama Nanda itu telah menampar dirinya, membuat Kesya menatap Nanda dengan tatapan membunuh.


***


“Kurang ajar!''


Kesya marah saat satpam itu mendorong tubuhnya keluar dari rumah sakit. Sekarang dia tidak bisa masuk kedalam rumah sakit lagi, karna satpam yang akan mencegahnya.


Kesya kesini bukan untuk menjenguk Gerald, melainkan dia ingin melabrak Nanda, karna dia tahu jika Ardian ada di rumah sakit, dan mereka semakin dekat.


Kesya berjalan menuju mobilnya, masuk kedalam mobil miliknya lalu dia memukul stir mobilnya.


Tanganya sudah sakit karna Boy, di tambah lagi Nanda menampar dirinya.


''Gue nggak akan biarin lu bahagia!'' Kesya mengepalkan tanganya, urat-urat tanganya terlihat jelas, dia semakin dendam kepada Nanda, terlebih lagi gadis itu menampar dirinya di depan anak ARIGEL, apalagi di sana ada Ardian.


‘’Gue benci lo, Nanda. Lo udah rebut Ardian dari gue! Dasar gadis kurang ajar! Gue benci sama lo!'' raung Kesya didalam mobilnya.


Tok...


Seseorang mengetuk kaca mobil milik Kesya, sehingga gadis itu membuka kaca mobilnya dan dia tidak percaya siapa yang mengetuk kaca mobilnya itu.


''Ar....'' Kesya tidak percaya, jika sosok yang mengetuk kaca mobilnya adalah Ardian, cowok itu menatap Kesya dengan tatapan yang sulit gadis itu artikan.


Kesya merasa sedikit tenang, lalu gadis itu turun dari mobilnya, masih tidak percaya jika Ardian menghampirnya di sini.


Kesya langsung memeluk Ardian, membuat cowok itu memejamkan matanya, tangannya tidak berniat membalas pelukan Kesya atau mengusap punggung gadis itu.


''Aku di tampar, Ar. Dia nampar aku di depan kamu, Ar. Kamu masih nganggap dia baik?'' Kesya menangis dalam pelukan Ardian, menumpahkan isi hatinya dalam pelukan Ardian.

__ADS_1


Kesya Bersykur, karna Ardian tidak menolak pelukan darinya.


''Kedatangan lo udah buat diri lo sendiri malu,'' ucap Ardian, cowok itu mendorong tubuhnya menjauh dari Kesya, membuat Kesya langsung menatap Ardian sehingga mata keduanya saling bertatapan.


''Kamu mau belaian dia? Kenapa nggak ada yang belaian aku, kenapa semua belaian Nanda,'' cecar Kesya kepada Ardian, karna dia merasa semua orang membelah Nanda.


''Mama lo udah rebut suami orang,'' ucap Ardian membuat Kesya menggelengkan kepalanya, lalu gadis itu tertawa keras.


''Jadi, maksud kamu aku ini menjijikkan?'' tanya Kesya dengan tawa kecilnya, namun air matanya turun membasuhi kedua pipinya. ''Kamu pikir, aku mau dilahirin di dunia ini, dengan jalan seperti ini? Aku juga nggak mau Ar, tapi takdir udah buat aku ada di dunia ini. Aku emang anak dari pelakor, tapi mengapa mereka semua menyalahkan kehadiran aku?'' tangis Kesya.


''Peluk aku, Ar.'' Kesya tidak melihat pergerakan dari Ardian, sehingga dia langsung masuk dalam pelukan Ardian.


''Aku butuh kamu, Ar. Aku cinta kamu, aku harap, dengan kehadiran kamu di sisi aku. Aku bisa jalani hidup aku dengan tenang. Aku Nggk peduli kalau mereka mau ngata-ngantuk ain aku anak pelakor. Yang penting kamu di sisi aku, Ar,'' lanjut Kesya dengan penuh harap kepada Ardian.


Ardian menjauhkan tubuhnya dari Kesya.


‘’Gue nggak bisa. Gue udah cinta sama seseorang,'' tolak Ardian. ''Gue harap, lo bijak dalam bertindak. Tindakan lo sama Nanda tadi, udah buat lo malu sendiri. Ucapan yang seharusnya untuk diri lo sendiri, tapi lo kasi ke Nanda,'' ucap Ardian panjang kali lebar. ''Gue harus bilang, kalau lo itu salah satu gadis bodoh yang gue temuin. Ucapan lo tadi, sungguh bodoh. Seharusnya lo diam, karna yang salah di sini keluarga lo, Sya. Bukan keluarga, Nanda,'' jelas Ardian kepada Kesya membuat gadis itu menggelengkan kepalanya.


''Wajar kalau papa aku ninggalin mamanya Nanda, karna papa udah nggak sayang sama istri pertamanya itu. Papa sayang sama mama aku, karna bagaimanapun mama adalah cinta pertamanya papa aku. Seharusnya, mamanya Nanda itu nggak paksa perasaan seseorang untuk cintai dia lagi,'' balas Kesya membuat Ardian tersenyum penuh arti.


''Itu aja lo tah. Terus, kenapa lo nggak sadar sama perasaan lo itu ke gue? Gue nggak cinta sama lo, bahkan perasaan gue ke lo itu nggak ada. Tapi lo tetap maksa kehendak lo itu.'' Ucapan Ardian sukses membuat Kesya terdiam, omonganya dia makan sendiri.


Ardian tersenyum. ''Gue harap, lo bisa bedaain cinta sama obsesi lo itu. Gue nggak pernah cinta sama lo. Satu lagi, kalau lo mau bertindak, pikir-pikir lagi, jangan sampai omongan lo itu buat lo malu sendiri. Cepat sadar.'' Ardian langsung pergi meninggalkan Kesya, mengabaikan panggilan gadis itu memanggil namanya sembari menangis.


''Ardian!'' panggil Kesya di iringi dengan isakan tangis, banyak pasang mata menatap Kesya dengan tatapan kasihan, gadis cantik itu menangis di parkiran begitu piluh.


Mereka berpikir jika Kesya sedang putus dengan kekasihnya yang baru saja meninggalkanya.


***


''Mama!'' Suara milik Kesya menggemah di rumah milik Raisa dan Iksan.


''Papa!'' panggil Kesya lagi dengan suara menggelegar.


‘’Ada apa Kesya?'' Iksan terkejut mendengar suara Kesya begitu keras berteriak memanggil namanya.


Iksan menuruni anak tangga, menghampiri anaknya itu. ''Kesya, kamu kenapa, nak?'' tanya Iksan, melihat mata Kesya memerah, bahkan masih ada sisa-sisa air mata pada pipi anaknya itu.


''Papa tanya Kesya kenapa?'' sentak Kesya, membuat Iksan terkejut dengan suara milik Kesya. ''Gara-gara hubungan mama sama papa! Kesya di hina dimana-mana. Cowok yang Kesya sukai, semakin sulit Kesya gapai, Pa!'' tangis Kesya membuat Iksan menghembuskan nafas berat. ‘’Andai aja Kesya bisa minta, Kesya nggak mau di lahirin di dunia ini!''


Plak...


Kesya memegang pipinya, satu hari ini dia mendapatkan dua tamparan. Kesya tersenyum getir.


‘’Tampar Kesya lagi, Pa! Ayok tampar Kesya lagi!'' marah Kesya lagi pada Iksan, ini pertama kalinya Iksan menampar anaknya.


Kesya memgambil tangan Iksan, mengarahkan pada pipihnya agar pria yang dia panggil papa itu menampar pipinya.


''Kesya!'' sentak Iksan, melepaskan tanganya dengan kasar. ''Kamu ini kenapa Hah! Kamu harus Bersykur, karna papa lebih memilih kamu sama mama kamu itu. Daripada istri pertama papa dan kedua anak papa!'' Marah Iksan. Urat-urat wajahnya terlihat jelas, matanya memancarkan kemarahan.


''Papa selalu nurutin apa yang kamu mau, Kesya. Kamu minta mobil, papa belikan. Kamu minta kasih sayang papa berikan untuk kamu. Apa lagi yang kurang, kamu dan mama kamu itu, papa lebih utamakan,'' lanjut Iksan, dengan raut wajah masih marah.


‘’Kesya butuh cinta, Pa! Kesya mau Ardian! Gara-gara Kesya anak pelakor, Kesya semakin sulit dapetin Ardian, Pa!'' tangis Kesya. ''Kesya mau Ardian, Pa.''


''Di dunia ini bukan hanya satu laki-laki Kesya, kamu ini cantik. Apa yang kamu takutkan? Satu laki-laki menolak kamu, bukan berarti laki-laki di dunia ini akan menolak mu juga!''


***


Nanda menunduk, entahlah dia menyesal baru saja menampar Kesya atau apa. Bagaimanapun, Kesya itu saudaranya, kakaknya sama seperti Boy.


Boy menepuk pundak Nanda, gadis itu sudah tahu jika Boy yang menepuk pundaknya, hanya saja dia belum mengangkat kepalanya, dia masih setia tertunduk.


''Ra,'' panggil Boy. ''Kamu nggak perlu menyesal, yang lo lakuin itu udah benar. Kita perlu kasi pelajaran kepada gadis seperti Kesya,'' lanjut Boy. Namun Nanda belum membals ucapan saudaranya.


‘’Tamparan untuk dia itu sudah setimpal, dengan apa yang mamanya lakuin ke lo, Ra. Jadi, lo nggak perlu merasa bersalah,'' lanjut Boy lagi, bicara panjang kali lebar kepada sang adik .


Nanda menatap Boy, lalu gadis itu menghembuskan nafas berat. Dia tidak membalas ucapan Boy, dia hanya diam saja.


Rafael, Leo, Izam dan juga Ethan sudah pulang lebih dulu, sebentar malam mereka akan kembali. Mereka pulang untuk istirahat sebentar malam mereka akan kembali lagi.


Cika, Puri, Pute dan Salsa juga pamit pulang, mereka tidak tahu jika tadi ada keributan di sini antara Kesya dan Nanda.


Mereka tidak tahu, jika tadi ada Kesya datang di sini.

__ADS_1


Mereka bertempat pamit pulang.


''Pulang naik apa kalian?'' tanya Ethan kepada Puri, membuat gadis itu melirik Ethan.


''Naik mobil, Pute,'' jawab Puri.


''Mau naik motor bareng gue?'' tawar Ethan membuat sahabatnya langsung berdehem mendengar cowok itu menawarkan pada Puri untuk naik motor bersama .


''Hmm...'' Ini adalah deheman milik Izam. ''Ciri-ciri udah move on nih sama mantan,'' celetuk Izam.


Ke empat gadis itu bertemu, Izam, Leo, Ethan dan Rafael di parkiran rumah sakit.


''Boleh juga,'' ucap Puri. ''Put, nggak apa-apa'kan kalau gue pulang bareng sama Ethan.'' Terlebih dahulu, Puri meminta izin pada Pute, karna bagaimanapun dia kesini bersama dengan Pute.


‘’Terserah lu aja, gue mah terserah,'' ucap Pute membuat Puri mengangguk.


Sedari tadi, Leo mencuri pandang kearah Pute, dan sekali-kali mereka bertatapan mata, namun Pute itu selalu memutuskan kontak mata pada Leo.


Dia masih tidak terima, cowok itu mengatai jika dirinya ini bukan levelnya, membuat Pute menjadi sakit hati dengan omongan cowok itu.


Gadis itu menyesal, tidak mendengarkan omongan dari para sahabatnya, dia harus pura-pura punya pacar.


''Gue pinjam sahabat kalin dulu,'' ucap Leo menarik tangan Pute menjauh dari mereka. ''Kalian boleh pulang duluan, nggak usah tungguin gue,'' lanjut Leo kepada sahabatnya itu.


''Ok!''


''Apaan sih! Lepasin tangan gue!'' berontak Pute, berusaha agar terlepas dari Leo saat ini.


Dia masih sakit hati kepada Leo, namun seenak jidat cowok itu memegang tanganya menjauh dari temanya.


''Lo tenang aja, Leo nggak akan ngapa-ngapain sahabtat kalian,'' ucap Izam kepada sahabat Pute, lalu ketiga cowok itu memasang helmnya untuk segera pergi.


''Pakai helmnya dulu,'' ucap Ethan kepada Puri.


''Thanks,'' ucap Puri dan dibalas anggukan kepala oleh Ethan.


Puri naik keatas motor milik Ethan, lalu gadis itu melambaikan tanganya kepada sahabtnya, jika dia pulang duluan bersama Ethan.


''Gue pulang duluan,'' ucap Puri.


''Hati-hati,'' ucap Cika dan Salsa bersamaan.


''Kita pulang duluan atau gimana? Atau kita nungguin Pute?'' tanya Cika, membuat Salsa nampak berpikir sejenak.


''Kita pulang duluan aja, gue percaya kok sama Leo. Kalau dia nggak akan macam-macam sama Pute.'' Salsa berkata dengan yakin, sehingga kedua gadis itu pulang lebih dulu meninggalkan Pute dan Leo.


Dan di sinilah Leo dan Pute, dia berada di roftop rumah sakit. Sungguh sial, kenapa pula Leo membawa Pute di sini.


Pute ingin pergi, namun Leo menghalangi jalan gadis itu.


''Gue mau minta maaf,'' ucap Leo, membuat Pute menyungkirkan senyumannya kepada Leo.


''Lo pikir, dengan lo minta maaf, gue bisa lupa omongan lo tadi? Asal lo tahu, ucapan lo itu udah nyakitin hati gue. Kalau emang gue bukan selera lo, nggak usah di perjelas di depan banyak orang. Gue malu, tau nggak!'' Suara milik Pute bergetar, dia masih ingat dengan jelas ucapan cowok itu kepadanya.


''Lo udah buat gue malu sebagai perempuan,'' dengus Pute lagi, seraya menahan agar dia tidak menangis.


''Ok. Gue minya maaf. Karna gue tahu gue salah, makanya gue minta maaf sama lo, Put.'' Leo memperjelas lagi, membuat Pute tertawa renyah.


''Dengan segampang itu lo minta maaf,'' ucap Pute. Gadis itu menarik nafasnya panjang. ''Minggir, gue mau pulang!'' Pute melewati Leo membuat Leo langsung menahan tangan Pute dan membawa gadis itu dalam pelukanya.


Pute membeku, dia tidak tahu, apakah dia harus memberontak atau membalas pelukan dari Leo. Jujur saja, pelukan dari Leo membuat gadis itu seakan-akan di berikan kode untuk menangis dalam pelukan Leo.


''Gue minta maaf, Put. Sorry, gue udah nyakitin hati lo,'' ucap Leo dengan penuh penyesalan, membuat Pute langsung menumpahkan tangisnya di dalam dekapan Leo.


''Gue tahu, kalau lo itu punya banyak cewek. Tapi seenggaknya jangan gituin gue. Gue malu,'' tangis Pute membuat Leo semakin mengeratkan pelukanya, Pute juga semakin mengeratkan pelukanya seakan-akan tidak ingin melepaskan Leo.


Pute sudah sedikit tenang, setelah menangis dalam pelukan Leo. ''Gimana, lo maafin gue?'' tanya Leo membuat Pute berpikir sejenak.


Leo tertawa melihat tingkah Pute. ‘’Ayolah, maafin gue. Gue udah pinjamin pelukan nyaman gue buat lo,'' celetuk Leo membuat Pute menghentakkan kakinya kesal.


''Gue tahu, gue buka gadis pertama yang lo peluk. Udah berapa banyak betina yang lo tipu, pake omongan manis lo itu sama pelukan nyaman lo,'' sindir Pute, sedangkan yang di sindir hanya menaikkan kedua bahunya acuh, tidak peduli.


''Asal lo tahu, lo cewek pertama yang gue sentuh sampai gue peluk. Gue emang Playboy, tapi untuk kontak fisik sama cewek sembarangan, gue nggak mau,'' ucap Leo dengan yakin, membuat Pute langsung terlena dengan apa yang barusan cowok itu katakan. ‘’Terserah lo aja, mau percaya gue atau nggak. Yang jelas, lo cewek pertama yang gue peluk.'' Pute menatap mata Leo, dia bisa melihat kejujuran di mata cowok itu.

__ADS_1


Namun dia tidak bisa langsung percaya dengan omongan Leo. Bisa aja'kan, Leo itu menipunya dengan kata-kata manis yang membuat lawan jenisnya semakin tertarik dengan cowok itu.


__ADS_2