
Cika dan Salsa saling berpandangan satu sama lain, di saat Nanda mencari sosok cowok bernama Ardian.
‘’Ngapain cari Ardian? Ayo ngaku, kamu suka, kan sama dia.'' Salsa menyipitkan matanya kearah Nanda, membuat Nanda berusaha mencari alasan yang bagus.
‘’Nggak. Gue cuman cariin dia, karna tumben nggak gabung sama mereka.'' Nanda menunjuk kearah meja anak ARIGEL menggunakan dagunya, sehingga Cika dan Salsa melihat kearah yang di tunjuk oleh Nanda.
Benar saja, mereka hanya melihat mereka berlima, tidak ada cowok yang menggunakan tindik itu.
''Mungkin belum gabung,'' ujar Cika sehingga kedua sahabatnya mengangguk.
Deg
Mata Cika bertemu dengan mata salah satu anak ARIGEL, membuat gadis itu langsung mengalihkan pandangnya.
Cika tidak menyangka, jika cowok yang dia kagumi itu, membalas tatapannya, membuat dirinya langsung memalingkan wajahnya itu.
''Kamu kenapa?'' tanya Salsa, melihat sepupunya itu seperti menghindari tatapan seseorang.
''Nggak apa-apa.''
Mereka bertiga melanjutkan makanya, dengan jantung Cika berdetak kencang, dia tidak menyangka jika cowok yang dia kagumi, membalas tatapan matanya.
‘’Benar-benar sih Ardian, dia sampai nggak ke sekolah,'' gumam Izam.
‘’Emang itu anak pulang jam berapa?'' tanya Ethan.
''Jangan lirik gue, karna semalam kita tidur di lantai atas. Tanya aja sama mereka bertiga, Ardian, kan tidur sama mereka.'' Izam menunjuk kearah Gerald dan juga Rafael.
Sementara Leo sedang memesan makanan, untuk mereka berlima.
''Kita juga nggak tahu, emangnya mata gue sama Gerald melek setiap malam?'' ketus Rafael kepada Ethan dan Izam.
‘’Nyolot banget sih, gue comot nih!'' dengus Izam kepada Rafael. Sehingga Leo yang datang membawa makanan tertawa melihat adu mulut antara Rafael dan Izam.
''Makan nih, udah gue bawakan,'' ucap Leo, meletakkan makanan yang di pesan oleh para sahabatnya itu.
‘’Makasih Lele paling baik,'' ucap Ethan membuat Leo hanya tertawa kecil saja.
Mereka berlima langsung makan dengan khidmat.
''Segar.'' Izam meminum es jeruknya setelah cowok itu kepedisan karna makananya begitu pedas.
''Sok jago lo makan pedas,'' cibir Rafael.
''Eh, Raf. Kalau gue bandingin lu sama cabe, lebih pedas mulut lo itu,'' jengkel Izam membuat Gerald menggeleng mendengar ucapan Izam barusan.
Sementara Rafael hanya masa bodoh saja.
__ADS_1
🦋
Nanda tidak bisa konsentrasi dalam kelas, pikiranya di penuhi dengan nama Ardian, kenapa cowok itu tidak sampai masuk sekolah.
Huft
Nanda menghembuskan nafas gusar, andai saja Ardian tidak mengucapkan kata suka pada dirinya, dia tidak akan memikirkan cowok itu.
‘’Kamu kenapa?'' tanya Salsa, melihat Nanda menghembuskan nafas berat, seperti seorang gadis yang di datangi banyak masalah.
''Nggak apa-apa,'' jawab gadis itu dengan senyuman melekat di wajahnya membuat Salsa tidak percaya dengan apa yang Nanda barusan katakan.
''Kamu khawatir, ya. Karna Ardian nggak ke sekolah hari ini,'' bisik Salsa membuat Nanda menggelengkan kepalanya.
‘’Ngapain gue khawatirin dia,'' balas Nanda seraya berbisik. Jangan sampai Cika, Pute dan Puri mendengar obrolan mereka berdua.
''Kamu belum jelasin ke aku, kenapa kamu bisa nyariin Ardian semalam?'' tanya Salsa.
‘’Bisinis,'' jawab gadis itu dengan santai.
''Oh.''
Nanda dan Salsa kembali fokus kedepan, mendengar guru menerangkan mata pelajaran siang ini.
Jujur saja, sepanjang guru menjelaskan Nanda tidak konsentrasi.
''Mending kamu cuci muka dulu, mungkin kamu ngantuk, jadi gelisah gitu,'' saran Salsa yang ada benarnya juga.
Nanda berjalan menuju toilet, namun seseorang mencekal tanganya, menariknya bersembunyi di belakang dinding sekolah.
‘’Gerald.''
Gerald tersenyum kearah gadis itu. ‘’Gimana? Kamu suka coklat nya?'' tanya Gerald membuat Nanda tertawa kecil.
‘’Rasanya masih sama. Masih rasa coklat,'' ucap Nanda membuat Gerald juga tertawa.
''Aku mau ngomong serius.''
Nanda meredahkan tawanya, dia tahu sosok Gerald jika serius.
‘’Ngomong aja, Rald.''
‘’Gimana perasaan kamu ke aku?'' tanya Gerald. ''Kita nggak selamnya menjadi sahabat, kan?'' tanya Gerald dengan penuh harap membuat Nanda menjadi diam.
Entahlah, Nanda tidak tahu. Mengenai perasaanya pada Gerald.
''Rald, sampai kapanpun, kita cuman bisa jadi sahabat.''
__ADS_1
Ucapan Nanda barusan, sukses membuat Gerald menjadi diam. Sudah lama dia menyukai gadis itu, bahkan dia tidak tertarik dengan cewek manapun karna Nanda.
Namun, mendengar ucapan Nanda barusan, membuat Gerald menjadi bingung, apakah harus berjuang lagi, atau kata sahabat itu akan tetap melekat pada dirinya dan juga Nanda.
Gerald tersenyum tipis, lalu Nanda menepuk pundak cowok itu. ''kamu tetap sahabat aku paling baik, Rald.''
Nanda langsung memeluk Gerald, membuat cowok itu menghembuskan nafasnya berat, Gerald membalas pelukan Nanda, setelah cowok itu memantapkan hatinya, mungkin dia dan Nanda hanya bisa sebatas sahabat.
Namun entahlah, kedepanya seperti apa.
‘’Tetap jadi Ara yang aku kenal.''
Mereka berdua bepelukan, tanpa Nanda dan Gerald ketahui, jika ke empat sahabatnya mendengar obrolannya dengan Nanda.
Bahkan. Cika mendengar Gerald menembak Nanda.
‘’Jangan cemburu, lo cuman kagum sama Gerald, bukan suka.'' Cika berusaha meyakinkan dirinya.
Meski Nanda sudah menolak Gerald, namun tetap saja Cika cemburu melihatnya.
Ke empat sahabat Gerald, langsung pergi dari tempat di mana dia melihat dan mendengar, obrolan dan tindakan antara Gerald dan Nanda.
Begitupun, dengan Cika langsung pergi, gadis itu tidak jadi menuju toilet. Dia kembali memutar badan nya menuju kelas.
Nanda dan Gerald, melepaskan pelukan nya. “Gue duluan, Rald.”
Gerald menganguk mengiyakan ucapan Nanda, seraya menatapa punggung gadis itu semakin menjauh.
Huft
Gerald menghembuskan nafas berat nya, lalu mengusap wajah nya dengan kasar. Gerald langsung prgi dari tempat nya tadi untuk menuju kelas nya.
“Loh, Nanda mana?” tanya Salsa kepada CIka yang masuk ke dalam kelas seorang diri .
“Masi di toilet,” jawab Cika dan di balas anggukan kepala oleh Salsa.
Cika tidak fokus di dalam kelas saat ini, karna pikiran nya berkecamuk, mengenai apa yang dia dengar dan dia lihat tadi.
Sementara Nanda membasuhi wajah nya dengan air, ucapan Gerald tadi masi terngiang-ngiang di kepala nya.
Lepas itu, Nanda langsung keluar dari toilet untuk segera ke kelas.
Karna dia sudah lama berada di sini, dia takut guru yang mengajar d kelas nya marah karna dia keluar begitu lama.
Sementara itu, Leo, Rafael, Izam dan Ethan sibuk dengan pikiran mereka masing-masingi.
Sementara Rafael yang sudah tau sebagian, dia hanya diam. karna beberapa hari ini, dia curiga mengenai kedekatan Gerald dan Nanda.
__ADS_1
‘’Nggak nyangka gue, kalau Gerald sama Nanda itu dekat. Apa lagi mereka sampai sahabat dekat,'' gumam Ethan dan dibalas anggukan kepala oleh Izam.
''Gue bisa lihat, kalau Gerald tulus cintanya dengan Nanda,'' gumam Leo.