ARDIAN

ARDIAN
Apa rencana lo Kesya


__ADS_3

Cika mencengkram dagu milik Vani dengan keras, membuat gadis itu mengadu kesakitan. Cengkraman dari Cika membuat nya sulit bernafas. Dagunya yang di cengkram, namun saluran pernafasan nya yang sulit.


Dengan jarak yang lumayan deket, Vani melihat mata Cika menggelap. "Gue nggak segan-segan buat lo malu di sekolah ini. Gue cuman minta sama lo, jauhi diri lo dari sahabat gue!" Bukan sekedar ancaman untuk Vani. "Lo tinggal milih, mau gue buat lo masuk rumah sakit, atau lo berhenti gangguin sahabat gue," lanjut Cika, suaranya penuh dengan ancaman pada Vani.


"Lepasin!" bentak Vani.


"Gue suruh lo milih!" gertak Cika lagi, membuat nyali Vani menciut.


"Ok, gue bakalan berhenti gangguin sahabat lo," putus gadis itu.


Cika melepaskan cengkraman nya pada dagu Vani. "Gue nggak main-main sama ucapan gue, Van. Kalau sampai lo buat ulah sama Puri lagi, gue pastiin lo nggak akan punya muka di sekolah ini!"


Vani memicingkan matanya, "lo ngancam gue!"


"Bukan sekedar ancaman, Vani. Mungkin orang-orang di sekolah ini nggak tahu siapa lo sebenarnya." Ada jeda di ucapan Cika. "Tapi gue tahu siapa lo sebenarnya. Lo cuman jadiin Greta kambing hitam di dunia malam. Yang sebenarnya ***** itu lo, bukan Greta." Cika menatap Vani tajam, lepas itu dia pergi meninggalkan Vani.


Vani mengepalkan tangannya, lalu kemudian dia mengacak rambutnya. "Awas aja lo, Cika!" teriak Vani, dia berani meneriaki gadis itu karna Cika sudah jauh.


***


Sudah setengah jam lamanya Puri dan Pute menunggu kedatangan Cika, namun gadis itu belum menampakkan dirinya.


Mereka juga tidak tahu, Cika membawa Vani ke mana.


Pute sudah menanyai orang-orang di kantin Cika lari kemana, namun mereka mengatakan tidak tahu. Mereka hanya mengatakan jika Cika menarik Vani keluar kantin, lepas itu mereka tidak tahu Cika membawa Vani kemana dalam keadaan marah.


"Kita cek CCTV aja," usul Puri yang sudah sampai di kelas, mereka baru saja dari kantin mencari Cika namun sahabatnya sudah tidak ada di sana.


Mereka juga penasaran pelajaran apa yang akan Cika berikan pada gadis itu.


"Nggak usah, tuh orangnya udah ada," tunjuk Pute pada gadis yang baru saja memasuki kelas membuat kedua gadis itu langsung menghampiri Cika yang duduk di kursi guru.

__ADS_1


"Ci, lo nggak apa-apa 'kan?" tanya Puri dan dibalas gelengan kepala oleh Cika. "Terus.... Vani mana? Kata orang-orang di kantin lo bawa Vani keluar kantin," lanjut Puri lagi.


"Gue udah ngancem dia supaya nggak gangguin lo lagi," jawab Cika santai.


Pute datang membawa dua kursi, lalu kedua gadis itu duduk di depan Cika.


"Ngancem apa lo sama dia?" tanya Pute setelah mendudukkan bokongnya di kursi.


"Rahasia," jawab Cika acuh, "gue yakin, dia nggak berani gangguin Puri lagi."


"Gue juga kesal sama tuh anak, napa sih cari masalah sama gue. Ini yang kedua kalinya dia buat gue malu di kantin," gerutu Puri tak habis pikir, mengapa Vani cari masalah denganya.


Seingatnya dia tidak pernah berurusan dengan sosok licik seperti Vani.


"Pake nanya lagi, ini pasti ada kaitannya sama Ethan. Apa lagi lo tahu kan, kalau mereka udah putus lagi," sahut Pute menekan kata 'lagi' membuat Puri terdiam.


"Nggak malu banget jadi cewek," dumel Puri lagi, apa yang di katakan Pute ada benarnya juga.


Mereka pulang cepat hari ini, atas izin dari kepala sekolah. Banyak murid bersorak riah saat mereka di pulang kan cepat.


Cika dan kedua sahabatnya melangkah kan kakinya menuju parkiran sekolah, siang ini mereka akan ke rumah Nanda, mereka akan mengobrol di rumah gadis itu.


Jujur saja, mereka juga merindukan sosok Nanda.


"Kalian duluan ke parkiran, ada yang mau gue urus bentar." Pute memberikan kunci mobil pada Cika.


"Jangan lama-lama woy! Lu pikir kita masih kuat nungguin lo!" teriak Puri saat Pute melangkah pergi.


"Gue cuman bentar, sepuluh menit doang!" balas teriak Pute.


Puri dan Cika melanjutkan langkah kakinya menuju mobil Pute. Cika membuka mobil Pute, lalu kedua gadis itu masuk kedalam.

__ADS_1


Cika yang akan menyetir mobil, dengan Puri yang duduk di sampingnya. Kata Pute sih gadis itu ingin duduk di belakang sembari bermain game sejenak.


Sekitar sepuluh menit, Pute kembali. Gadis itu tidak datang sendiri, dia datang bersama dengan Kesya!!!


Pute dan Kesya duduk di belakang, sementara Puri masih diam melihat kehadiran Kesya di sini.


Mereka seperti orang asing saat ini, tidak ada yang memulai obrolan saat Pute mengatakan. "Jalan, Ci." Perintah Pute dan Cika mulai menjalankan mobil milik Pute menuju rumah Nanda.


"Hmmm." Puri berdehem, sehingga Cika melirik gadis itu.


"Put, orang yang di sebelah lo tahu atau nggak tahu, kalau sekarang kita mau kerumah Nanda," sembur Puri dengan suara pelan, namun masih bisa di dengar oleh mereka.


Cika dan Puri berpikir, mengapa kesya ikutan pergi bersama mereka. Apa dia tidak tahu, jika saat ini mereka ingin ke rumah Nanda.


Mereka tidak mau jika sampai ada keributan di rumah Nanda nanti, antara Kesya dan Nanda.


Niatnya ingin menjenguk Nanda bukan mengundang keributan. Bisa-bisa mereka akan di sleding dokter Boy.


"Tahu kok," jawab Pute.


"Terus ngapain ajakin dia?" tanya Puri memutar bola matanya malas. "Lo nggak mau 'kan, sampai dia buat keributan di rumah Nanda. Bisa-bisa abangnya Nanda bakalan usir kita. "


Kesya hanya diam saja, gadis itu memilih menatap keluar jendela, melihat para pengendara motor dan mobil berlalu lalang.


"Kesya nggak akan mancing keributan, Ri. Dia udah janji kok," kata Pute yakin, sementara Cika hanya menyimak saja.


Entah apa yang Kesya rencanakan sehingga gadis itu ikutan juga .


Puri memutar kepalanya menatap Pute, "kalau abang nya Nanda lihat dia ikut, kita bakalan di usir, Put. Lo tahu 'kan, abang nya Nanda nggak suka sama Kesya." Puri menekan setiap perkataan nya. Dia tidak peduli jika Kesya tersinggung. Toh, apa yang ia katakan sebuah fakta, jika Boy tidak suka dengan kehadiran Kesya, di tambah lagi gadis itu berulang kali menyakiti Nanda.


Kesya melirik Puri, lalu kemudian Puri membuang muka judes, kembali menatap ke depan.

__ADS_1


"Gue udah bilang sama Nanda juga, kalau Kesya ikut juga. Dia yang bakalan ngomong sama abangnya," jelas Pute lagi, seraya menyimpan ponselnya di saku celananya.


"Apa sih yang lo rencanain, Sya!" terang Puri tanpa menatap ke arah Kesya.


__ADS_2