
Boy langsung memarkirkan mobilnya di parkiran khusus dokter, yang bekerja di rumah sakit ini.
"Kenapa belum turun?" tanya Boy, karna Greta masih setia di dalam mobil. "Apa kamu mau saya bukain pintu?" lanjut nya seraya menaikkan alisnya sebelah, menatap Greta yang balas menatap nya.
Greta mendelik kearah Boy, "saya cuman risih, kalau mereka lihatin saya jalan sama dokter Boy."
Boy manggut-manggut, dia tahu apa yang Greta pikirkan saat ini. Tatapan sinis gadis itu dapatkan di rumah sakit, semenjak dirinya semakin dekat dengan dokter Boy.
Terutama tatapan para dokter menatap Greta siap santap, mereka Terang-terangan menatap dirinya tidak suka. Bukan hanya dokter saja, bahkan perawat dan para pengunjung rumah sakit juga.
Sudah jelas bukan, jika pria di samping nya sungguh di kagumi di rumah sakit ini. Bukan hanya tampan, dokter itu terkenal ramah dan tentunya dia cerdas.
Dia di nobatkan di rumah sakit tempat nya bekerja, sebagai dokter jenius di usianya yang beranjak 27 tahun ini.
"Anggap saja mereka irih sama kamu," tutur Boy, tanpa mengalihkan pandangannya dari Greta.
"Bukan di anggap lagi, memang mereka iri sama saya," balas Greta, tentu saja Greta tahu jika tatapan benci itu karna iri, karna dirinya hanya gadis SMA yang berhasil dekat dengan pria di samping nya.
Apa lagi Boy di rumah sakit tidak dekat dengan wanita manapun. Dan tiba-tiba saja pria itu dekat dengan gadis yang masih menyandang gelar anak SMA.
Boy lebih dulu turun dari mobil, sebenarnya Greta bisa saja acuh, seperti dia acuh pada tatapan teman sekolah nya, saat dia membuat Kesya masuk rumah sakit. Hanya saja, saat ini ia berhadapan dengan wanita berkelas, dia tidak mau merusak citra Boy jika dia lepas kendali atas dirinya, dan membuat nama pria itu buruk.
Boy membukakan Greta pintu mobil, "yuk, turun," ajak Boy, membuat Greta mau tidak mau harus menjadi pusat perhatian, dari wanita berkelas dokter rumah sakit ini.
Greta turun dari mobil, lalu Boy menutup pintu mobil. Mereka berjalan beriringan masuk kedalam rumah sakit. Ingin sekali rasanyaa Boy menggandeng tangan Greta, namun ia khawatir jika gadis itu makin risih.
Benar saja apa katanya, saat berjalan di loby rumah sakit, banyak pasang mata menatap nya tajam. Ada pula yang berbisik-bisik mengatakan jika gadis berseragam SMA itu hanya memanfaatkan kepopuleran dokter Boy dan kekayaannya.
Banyak dari mereka menatap Boy dengan tatapan memuja, pria itu semakin tampan dengan stylesnya yang jauh dari kata formal. Tidak seperti biasanya. Mereka makin jatuh cinta pada dokter tampan itu.
Lalu dari mereka juga menatap Greta dengan tatapan benci.
Apa lagi para dokter di rumah sakit ini, sudah mengenal Greta. Satu tahun belakangan gadis itu sering ke rumah sakit, mengenakan seragam sekolah. Karna setiap pagi ingin ke sekolah gadis itu datang ke rumah sakit menjenguk sang mama.
__ADS_1
Jadi banyak mengatakan jika Greta memanfaatkan Boy. Karna orang tuanya sakit dan perlu biaya banyak, sehingga gadis itu menggoda dan memohon pada dokter Boy. Padahal kenyataannya malah sebaliknya.
Tapi pada intinya, mereka berdua sama-sama saling memanfatkan.
"Nggak usah di ambil pusing," bisik Boy membuat bulu kuduk Greta meremang, lalu kemudian Boy menjauhkan dirinya, mereka berdua berjalan beriringan.
Andai saja Greta tidak memikirkan Boy, Greta sudah membalas tatapan mata mereka.
"Selamat siang dokter Boy," sapa salah satu perawat, tersenyum lembut ke arah Boy, lalu senyuman sinis ia berikan pada Greta.
"Siang juga." Boy membalas di sertai senyuman, dia di kenal sebagai dokter yang ramah di rumah sakit ini.
Banyak dari mereka menyapa dokter Boy di Koridor. Dan Boy hanya membalasnya dengan anggukan kecil di sertai senyuman manisnya, membuat para perempuan makin jatuh cinta pada dokter itu.
"Satu minggu lagi, mama kamu akan saya bawa ke rumah sakit luar negeri."
Ucapan Boy sukses membuat Greta tercengang. Begitu cepat?
Mereka sudah sampai di depan pintu ruangan Gina. Saat Boy mengatakan hal tadi.
"Kamu mau 'kan, mama kamu cepat sembuh dari penyakitnya itu?" tanya Boy. "Jika kita biarkan tanpa terapi khusus, mama kamu bisa saja lumpuh seumur hidup. Kamu tidak mau 'kan hal itu sampai terjadi?" Boy menatap lekat gadis itu. "Kamu setuju 'kan, Gre?"
Greta diam seribu bahasa, lalu kemudian gadis itu menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskan nya pelan.
"Baik, saya setuju."
Boy tersenyum, lalu kemudian dia mengacak rambut Greta gemas. Hal ini sering kali Boy lakukan pada Nanda, jika adiknya itu menurut padanya.
Dan sekarang dia melakukan itu juga pada Greta. Greta hanya diam saja di perlakuan seperti itu. Lalu kemudian Boy mengajak Greta masuk kedalam ruangan milik sang mama.
Ceklek.
Pintu ruangan Gina di buka, sehingga Gina dan perawat yang sedang mengobrol kecil, melihat kearah pintu yang di buka oleh sang anak.
__ADS_1
Boy menggandeng tangan Greta menghampiri sang mama, gadis itu tidak menolak sama sekali.
Perawat yang bertugas menjaga Gina pamit undur diri, karna sudah ada Boy. Perawat itu akan kembali jika dia di perintahkan oleh Boy lagi.
Gina tersenyum hangat melihat kedatangan anaknya, dia mengusap rambut Boy, setelah anaknya mencium punggung tangannya..
Greta juga mencium punggung tangan wanita itu. Wanita yang memiliki wajah pucat, Greta tidak tahu sakit apa sebenarnya orang tua Boy.
"Terimakasih sudah datang," kata Gina lembut, di iringi dengan senyuman tulus untuk nya.
Sekarang Greta tahu, dari mana Boy mendapatkan senyuman hangat itu.
"Sama-sama, Tan," balas Greta sopan, dia tersenyum tak kala manisnya. Ini pertama kalinya Boy melihat gadis itu tersenyum tulus seperti ini.
Gina mengusap rambut Greta, dia mengingat anak gadisnya juga, apa lagi melihat seragam sekolah yang di kenakan Greta.
Gina menyuruh Greta untuk duduk dulu..
"Gimana perasaan mama?" tanya Boy, ia mencium punggung tangan mama dengan kasih sayang.
"Perasaan mama senang, karna kamu bawa calon istri kamu kesini lagi," jawab Gina dengan bahagia, seraya melirik Greta yang hanya senyum-senyum saja.
Boy hanya tertawa pelan saja, dia sudah duga jika mama nya akan senang.
"Boy, adik kamu nggak ikut? Udah dua hari mama nggak lihat adik kamu," kata Gina, karna dia merindukan Nanda.
"Tadinya Nanda mau kesini, Ma. Tapi dia nggak enak ninggalin teman di rumah kerja tugas," bohong nya membuat Gina hanya mengangguk kecil saja.
"Boy," panggil Gina lembut.
"Kenapa, Ma?" tanya Boy.
Gina menatap Greta dan Boy bergantian.
__ADS_1
"Mungkin mama egois," kata Gina membuat Boy tidak mengerti apa yang akan mama nya katakan. "Mama mau, kamu dan Greta menikah di ruangan ini. Di tempat mama di rawat, Boy. Mama mau lihat kamu menikah bulan ini."
Deg.... Jantung Greta tidak aman.